Di tengah kompleksitas persoalan ekonomi mahasiswa dan masyarakat sekitar kampus, zakat hadir bukan hanya sebagai kewajiban religius, tetapi juga sebagai solusi nyata.
Hal ini tercermin dari peran Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Al-Hurriyah di Institut Pertanian Bogor (IPB), yang secara aktif mengelola dan menyalurkan dana zakat untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Menurut salah satu perwakilan UPZ Al-Hurriyah Bapak Oktama Forestian, zakat yang dihimpun digunakan untuk menjawab kebutuhan paling mendesak.
“Zakat itu kita arahkan ke kebutuhan jangka pendek dulu, seperti makanan, tempat tinggal, dan biaya pendidikan,” ujarnya.
Bantuan ini menyasar langsung mustahik yang berada dalam kondisi rentan, termasuk mahasiswa yang kesulitan membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Dampaknya memang tidak selalu besar secara angka, tetapi terasa nyata bagi penerima.
“Kalau diukur, mungkin peningkatannya dari 0,1 persen ke 0,2 persen. Tidak besar, tapi ada perubahan,” tambahnya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa zakat bekerja sebagai ‘penolong awal’ yang menjaga agar mustahik tidak semakin terpuruk.
Tidak hanya berhenti pada bantuan konsumtif, UPZ Al-Hurriyah juga mulai mendorong program yang lebih produktif. Salah satunya melalui skema qardhul hasan, yaitu pinjaman tanpa bunga untuk modal usaha.
Program ini diharapkan bisa menjadi jalan bagi mustahik untuk bangkit secara ekonomi. Namun, di balik potensi tersebut, masih ada tantangan yang perlu dihadapi.
“Kami belum punya kapasitas untuk melakukan pendampingan usaha, jadi belum bisa memantau apakah usahanya berkembang atau tidak,” ungkap narasumber.
Keterbatasan ini berdampak pada efektivitas program, bahkan dalam beberapa kasus, penerima bantuan menganggap dana tersebut sebagai hibah, bukan pinjaman. Hal ini menunjukkan pentingnya edukasi dan pendampingan agar tujuan pemberdayaan dapat benar-benar tercapai.
Dari sisi kelembagaan, UPZ Al-Hurriyah tidak bekerja sendiri. Seluruh dana zakat yang terkumpul terlebih dahulu disetorkan ke BAZNAS Provinsi Jawa Barat. Setelah itu, UPZ mengajukan kembali program dan daftar penerima untuk mendapatkan persetujuan pendanaan.
“Sistem ini sebenarnya cukup efektif, terutama untuk menjaga akuntabilitas karena semuanya mengikuti standar dari BAZNAS,” jelas narasumber.
Baca Juga: Zakat Terpusat: Kunci Keadilan Distribusi Ekonomi Umat
Dengan mekanisme ini, pengelolaan zakat menjadi lebih tertib dan transparan. Namun, ada konsekuensi yang harus diterima, yaitu keterbatasan dalam merespons kebutuhan mendesak di tingkat lokal secara cepat.
Menariknya, UPZ Al-Hurriyah tidak berhenti pada sistem zakat yang hanya mengumpulkam dan menyalurkan. Mereka juga berinovasi di era digital dengan mengembangkan aplikasi yang memungkinkan muzakki memantau riwayat donasi hingga 10 tahun ke belakang.
Transparansi ini menjadi nilai tambah yang meningkatkan kepercayaan publik. Atas inovasi tersebut, UPZ Al-Hurriyah bahkan berhasil meraih penghargaan sebagai Unit Pengumpul Zakat dengan Pengelolaan Terbaik di Jawa Barat.
Selain itu, upaya pemberdayaan juga diwujudkan melalui program pelatihan kerja. Bekerja sama dengan perusahaan mitra, UPZ Al-Hurriyah mengadakan pelatihan bagi pemuda putus sekolah di sekitar kampus. Dalam tiga tahun terakhir, program ini telah dilaksanakan empat kali dengan puluhan peserta di setiap angkatan.
“Peserta yang lulus pelatihan biasanya lanjut magang tiga bulan, lalu bisa direkrut jadi pegawai tetap di tempat mitra,” terang narasumber.
Program ini membuka peluang nyata bagi mustahik untuk mendapatkan pekerjaan dan meningkatkan taraf hidup mereka secara berkelanjutan.
Melihat berbagai program yang dijalankan, UPZ Al-Hurriyah menunjukkan bahwa pengelolaan zakat bisa berkembang menjadi sistem yang tidak hanya membantu, tetapi juga memberdayakan.
Meski masih menghadapi tantangan dalam pendampingan dan fleksibilitas program, langkah-langkah yang dilakukan sudah mengarah pada model pengelolaan zakat yang lebih modern dan berdampak luas.
Pada akhirnya, zakat bukan sekadar angka yang disalurkan, melainkan harapan yang dipindahkan dari mereka yang mampu kepada mereka yang membutuhkan. Dan di UPZ Al-Hurriyah, harapan itu terus diupayakan untuk tumbuh menjadi kesejahteraan yang lebih nyata.
Penulis:
1. Friscawati Hidayah
2. Ammar Luthfi Rahman
3. Nanda Aditya
4. Sella Putri Oktavia Ramadina
5. Shaliha Mufida
6. Mellia Cahyani
Mahasiswa Ilmu Ekonomi Syariah IPB University
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












