Belajar Fisika Radiasi Secara Langsung di Balai Pengamanan Fasilitas dan Alat Kesehatan Surabaya: Dari Teori ke Praktik Keselamatan Medis

Belajar Fisika Radiasi
Proses kalibrasi surveymeter. (Foto: Dok. Penulis)

Surabaya, MMI – Dalam rangka mendukung program Magang Mandiri Merdeka Belajar Kampus Merdeka, mahasiswa Program Studi Fisika, Fakultas Teknik dan Sains, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur melaksanakan kegiatan magang di Balai Pengamanan Fasilitas dan Alat Kesehatan (BPAFK) Surabaya, Januari hingga Mei 2026. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran aplikatif dalam bidang pengamanan alat kesehatan dan keselamatan radiasi berbasis fisika medis.

Mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini adalah Sovi Anggraini Armita Dewi (23037010017) di bawah bimbingan dosen pembimbing akademik Primasari Cahya Wardhani, S.Si., M.Sc., serta pembimbing lapangan Arie Chintya Martania, S.Si.. Selama menjalani magang, penulis memperoleh pengalaman komprehensif dalam menerapkan konsep fisika radiasi secara langsung di lingkungan kerja profesional.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Pada tahap awal, penulis mendapatkan pembekalan mengenai sejarah, fungsi, visi, dan misi BPAFK Surabaya. Ia memahami, lembaga ini memiliki peran strategis dalam pengamanan fasilitas dan alat kesehatan, khususnya yang menggunakan radiasi pengion. Pemahaman itu memperkuat kesadarannya, bahwa fisika tak hanya berkembang di ruang kelas, tapi juga berkontribusi nyata dalam sistem pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu.

Di Instalasi Pemantauan Dosis Perorangan (PDP), penulis mempelajari sistem pemantauan dosis radiasi menggunakan TLD (Thermoluminescent Dosimeter), baik TLD badge maupun TLD mata. Ia mengamati proses pembacaan TLD menggunakan TLD reader, mulai dari pengelompokan berdasarkan wilayah, pencatatan nomor seri, hingga analisis hasil pembacaan. Ia juga mempelajari proses annealing, yaitu pemanasan TLD untuk menghapus radiasi tersimpan agar dapat digunakan kembali. Melalui praktik ini, konsep energi yang terperangkap dalam material dan dilepaskan dalam bentuk cahaya saat dipanaskan menjadi lebih konkret dan aplikatif. Pengalaman menegaskan, bahwa dosimetri perorangan merupakan elemen krusial dalam perlindungan pekerja radiasi.

Pada Instalasi Proteksi Radiasi dan Uji Kesesuaian (PRUK), penulis dikenalkan dengan Uji Kesesuaian pesawat sinar-X seperti General X-Ray, CT-Scan, Dental Radiografi, Fluoroskopi, dan Mammografi. Ia mempelajari metode uji akurasi tegangan (kVp) pada pesawat sinar-X radiografi umum. Dan dari itu semua , ia memahami, bahwa besar tegangan tabung menentukan energi sinar-X yang dihasilkan. Ketidaksesuaian parameter ini dapat memengaruhi kualitas citra diagnostik serta dosis radiasi yang diterima pasien. Konsep energi foton dan interaksi radiasi dengan materi yang sebelumnya dipelajari secara teoritis diterapkan secara langsung dalam prosedur teknis pengujian alat medis.

Belajar Fisika Radiasi
Proses kalibrasi dan pembacaan personal dosimeter (pendose) manual. (Foto: Dok. Penulis)

Di Instalasi Kalibrasi Alat Ukur Radiasi (KAUR), Penulis mempelajari proses kalibrasi berbagai dosimeter seperti TLD HP(10), TLD mata HP(3), surveymeter, serta dosimeter saku (pendose) manual dan digital. Ia juga terlibat dalam pengujian dosimeter bermerek Mirion Technologies dengan pengaturan jarak tertentu dan laju dosis standar. Dalam proses ini, prinsip hukum kuadrat terbalik (inverse square law) diaplikasikan secara nyata untuk memastikan akurasi pengukuran radiasi sesuai standar nasional.

Selain kegiatan laboratorium, penulis juga mengikuti visit ke rumah sakit dalam rangka pengukuran dosis keluaran LINAC (Linear Accelerator) yang digunakan untuk terapi radiasi kanker. Pada kegiatan ini dilakukan verifikasi dosis keluaran menggunakan dosimeter standar dan ionization chamber pada kondisi referensi tertentu.

Pengukuran dosis keluaran LINAC sangat penting karena berkaitan langsung dengan ketepatan dosis terapi yang diterima pasien. Dari pengalaman itu, penulis memahami, bahwa ketelitian dalam kalibrasi dan verifikasi jadi faktor kunci dalam menjamin keselamatan serta efektivitas terapi radiasi.

Belajar Fisika Radiasi
Visit pengujian dan kalibrasi dosis keluaran LINAC di rumah sakit. (Foto: Dok. Penulis)

Selain praktik teknis, penulis juga mempelajari pedoman dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir terkait standar pelayanan, perizinan fasilitas kesehatan, dan keselamatan radiasi dalam penggunaan sumber radiasi pengion. Hal ini menegaskan, bahwa penerapan fisika radiasi di bidang kesehatan harus selaras dengan regulasi nasional dan prinsip keselamatan yang ketat.

Melalui seluruh rangkaian kegiatan itu, penulis memperoleh pemahaman mendalam mengenai efek deterministik dan stokastik akibat paparan radiasi, pentingnya akurasi instrumen pengukuran, serta penerapan prinsip ALARA (As Low As Reasonably Achievable) dalam pengendalian dosis radiasi. Implementasi prinsip ini terlihat dalam pemantauan dosis pada perangkat diagnostik seperti X-ray dan CT-scan maupun pada peralatan terapi seperti LINAC guna mendukung keselamatan pasien dan tenaga kesehatan.

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, kegiatan magang ini berkontribusi pada Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dan Tujuan 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur). Kalibrasi dan verifikasi dosis yang tepat jadi bagian integral dari sistem manajemen mutu fasilitas pelayanan kesehatan. Sehingga kualitas layanan dapat terjaga sekaligus meminimalkan risiko paparan radiasi berlebih.

Bagi penulis, pengalaman magang di BPAFK Surabaya memperlihatkan, bahwa fisika bukan hanya teori di ruang kelas. Konsep tentang radiasi pengion, interaksi materi-radiasi, deteksi, kalibrasi, dan pengukuran presisi menjadi fondasi utama dalam menjaga keselamatan penggunaan teknologi medis. Peran fisikawan dan tenaga teknis berbasis fisika menjadi garda belakang yang memastikan setiap alat radiasi bekerja akurat, aman, dan sesuai standar.

“Saya merasa sangat bersyukur dapat mengikuti magang di BPAFK Surabaya. Pengalaman ini membuat saya benar-benar memahami bahwa fisika radiasi bukan hanya teori di kelas, tetapi ilmu yang berperan langsung dalam menjaga keselamatan pasien dan tenaga kesehatan. Dari pembacaan TLD hingga pengukuran dosis keluaran LINAC di rumah sakit, saya belajar bahwa ketelitian dan akurasi adalah tanggung jawab besar dalam bidang ini,” ungkap Sovi.

Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh tim BPAFK Surabaya atas bimbingan dan kesempatan belajar selama periode magang. Penulis berharap, kerja sama antara UPN “Veteran” Jawa Timur dan BPAFK Surabaya dapat terus berlanjut melalui program magang, penelitian, maupun kolaborasi akademik lainnya. Besar harapan agar semakin banyak mahasiswa fisika memperoleh kesempatan terjun langsung ke dunia kerja teknis. Sehingga mampu mengintegrasikan teori dan praktik secara profesional demi peningkatan mutu keselamatan radiasi di Indonesia.

Dengan demikian, melalui keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pengujian dan kalibrasi ini, lahir generasi muda fisika yang tidak hanya memahami rumus. Tapi mereka juga mampu menerapkan ilmunya untuk perlindungan kesehatan masyarakat. Di era teknologi medis yang terus berkembang, kolaborasi antara sains fisika dan layanan kesehatan menjadi semakin penting. Tujuannya, agar diagnosis tepat dan keselamatan terjamin.


Penulis : Sovi Anggraini Armita Dewi

Mahasiswa Program Studi Fisika, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur


Dosen Pengampu: Primasari Cahya Wardhani, S.Si., M.Sc.


Editor: Nilam Indahsari

Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses