Berbisnis Bukan Hanya Mencari Cuan, Tetapi Eksistensinya

Berbisnis Bukan Hanya Mencari Cuan
Penulis: Almiyah Damayanti (Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah Pascasarjana IAIN Pontianak)

Bisnis biasanya dikaitkan dengan hitungan untung dan rugi. Satu-satunya ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan dalam koteks pasar bebas yang dominan adalah “cuan”, atau kentungan finansial.

Filosofi ini membentuk pola pikir wirausaha yang tertuju pada laba jangka pendek dan efisiensi biaya yang bisa dilakukan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Akan tetapi, perspektif yang terasa sempit ini kurang relevan di tengah gempuran perubahan sosial dan teknologi yang kian maju.

Sebuah bisnis yang cerdas dan visioner menyadari bahwa meningkatkan keuntungan tidak lagi cukup untuk bertahan dan berkembang di masa depan.

Agar menjadi nyata, eksistensi membutuhkan hubungan yang mendalam, dampak positif yang dapat diukur, dan kemampuan untuk beradaptasi lebih dari neraca keuangan.

Berorientasi pada keuntungan juga menjadi hal yang penting akan tetapi mengejar profit oriented saja harus punya tujuan yang jelas, seperti tidak merugikan konsumen atau pun lingkungan.

Baca juga: Cara Berdagang dan Berbisnis Seperti Nabi Muhammad Saw

Ucapan Dato Sri Tahir pendiri Mayapada Group yang mengatakan “Jangan hanya mengejar kekayaan tetapi juga manfaat yang luas” di mana bisnis menggunakan strategi kepada laba jangka pendek yang cenderung mencari jalan pintas baik itu mengorbankan kualitas produk, mengurangi upah karyawan atau meremehkan dampak lingkungan.

Orientasi ini mungkin menjadikan cuan yang melimpah di permulaan tetapi menjadi kesuksesan yang berbisa. Di masa sekarang di mana konsumen sangat peka dan memiliki pengetahuan yang tinggi tidak hanya melihat sebuah harga akan tetapi nilai etis pada produk yang mereka beli.

Bisnis memiliki dua dimensi yang tidak dapat diabaikan ada dimensi ekonomi yaitu profit dan dimensi sosial baik pada kesejahteraan sebuah komunitas atau lingkungan.

Sehingga dalam eksistensi sebuah bisnis memiliki fondasi esensial seperti Produk (P), Etika bisnis(E), dan Dampak positif (D), contohnya menciptakan inovasi pada produk (P) dilakukan dengan pengembangan dan riset meskipun akan mengurangi margin pada keuntungan tetapi hal ini akan berdampak kepada penciptaan produk yang lebih kreatif dan inovatif di masa depan.

Begitu juga dalam etika (E) dan dampak positif (D) dicontohkan perusahaan skincare dan kosmetik yang berkomitmen dengan terbuka untuk menggunakan label cruelty-free.

Maka dengan komitmen ini memberikan sebuah benteng pertahanan dalam menghadapi kompetitor baru yang dampaknya bisa kepada loyalitas pelanggan yang mencari produk dengan nilai lebih tidak hanya harga tapi dampak kepada alam.

Pada gilirannya hal tersebut menjadi jalan memperkuat basis konsumen dan eksistensi jangka panjang.

Baca juga: Tata Cara Berbisnis Sesuai Tuntunan Rasulullah saw.

Eksistensi merupakan jaminan jangka panjang, ketika sebuah bisnis benar-benar eksis dalam hati dan pikiran pelanggan serta masyarakat luas karena ada kontribusi nyata maka cuan akan datang secara berkelanjutan dan stabil.

Di masa ini mendefinisikan bisnis sukses dari banyak cuan yang masuk bukan poin utama melainkan besarnya kontribusi dan jejak kebaikan yang luas. Bisnis mengejar cuan akan mati, bisnis yang berjuang untuk eksis akan abadi.

Penulis: Almiyah Damayanti
Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah Pascasarjana IAIN Pontianak

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses