Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki banyak keberagaman. Perbedaan yang beragam seperti suku, ras, etnik, agama, budaya, bahasa, dan adat istiadat di dalamnya. Perbedaan yang dimiliki bangsa Indonesia sesungguhnya merupakan aset bangsa yang tak ternilai harganya, hal ini karena tak banyak negara yang memilikinya.
Namun, perbedaan itu sendiri tentunya memiliki dampak negatif, beberapa dampak negatif yang dapat muncul, yaitu:
- Perbedaan kepercayaan yang akan memunculkan pikiran negatif;
- Dapat memunculkan sifat egoisme dan primordialisme pada diri seseorang;
- Diskriminasi terhadap suku, ras, agama minoritas;
- Masyarakat yang majemuk atau beragam cenderung lebih sulit diatur;
- Munculnya anggapan bahwa suku bangsanya lebih unggul dibanding yang lain;
- Memudarnya semangat nasionalisme karena tidak ada rasa persatuan antar masyarakat.
Baca Juga: Implementasi Bhinneka Tunggal Ika pada Anak Sekolah Dasar
Salah satu cara menjaga agar perbedaan yang beragam tersebut tidak menimbulkan permasalahan seperti di atas adalah dengan Bhinneka Tunggal Ika.
Bhinneka Tunggal Ika (berbeda beda tetapi tetap satu jua) berarti “Unity in Diversity” atau “Kebersamaan dalam Keragaman”.
Kata-kata ini digunakan sebagai simbol persatuan dan toleransi di negara yang memiliki beragam etnis, agama, dan budaya, di mana kita harus menerapkannya dalam kehidupan sehari hari, yakni dengan cara hidup saling menghargai satu sama lain.
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika diambil dari Kitab Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular yang ditulis sekitar abad 14 zaman Kerajaan Majapahit di Indonesia. Semboyan ini juga terdapat dalam lambang negara dalam Garuda Pancasila yang berupa pita putih bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika.
Hal tersebut tentu menandakan bahwa betapa penting dan mendasarnya semboyan ini. Kecocokan semboyan ini juga bisa kita rasakan dengan realitas kondisi Indonesia yang memang terlahir dari banyak jenis suku, budaya, ras, agama, dan golongan.
Semboyan ini mengisyaratkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang atau pemecah, melainkan menjadi pemersatu seluruh perbedaan yang ada.
Negara Indonesia juga berbentuk kepulauan yang memungkinkan tumbuhnya keragaman bahasa dan budaya sehingga jelas dibutuhkan prinsip yang dijunjung bersama untuk mempertahankan kesatuan negara ini.
Maka dari itu kita sebagai rakyat Indonesia harus tetap menjaga keutuhan dalam kebersamaan membangun negara kesatuan yang majemuk.
Sepanjang era reformasi Indonesia menampilkan banyak peristiwa yang memperlihatkan perubahan dalam kehidupan masyarakat, baik secara individu maupun kelompok, dalam berkehidupan kemasyarakatan, kehidupan berkenegaraan, dan kehidupan berkebangsaan.
Faktor utama dari perubahan ini tentunya karena pengaruh pola pikir terhadap nilai-nilai Bhinneka Tungga Ika, hal ini terjadi tidak hanya di kalangan rakyat, bahkan pemimpin atau penguasa mengindikasikan gejala memudar.
Baca Juga: Sejarah tentang Pendidikan di Indonesia dalam Aspek Pancasila Kewarganegaraan
Kondisi ini dapat dilihat dari kecenderungan terjadinya konflik antar individu, kelompok masyarakat yang berbeda agama, ras, suku/ etnik, budaya, dan berbeda kepentingan.
Berkaitan dengan pemahaman nilai-nilai ke-Bhinneka Tungal Ika-an yang syarat dengan integrasi nasional dalam masyarakat multikultural, nilai-nilai budaya bangsa sebagai keutuhan, kesatuan, dan persatuan negara bangsa harus tetap dipelihara sebagai pilar nasionalisme.
Hal ini tentunya membuat masyarakat Indonesia harus lebih sadar dan siaga terhadap konflik perpecahan yang mungkin terjadi. Untuk itu Bhinneka Tungga Ika penting ditanamkan pada masyarakat agar memperkuat identitas nasional dan tetap menjaaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
Kesadaran untuk memahami dan menerapkan filosofi Bhinneka Tunggal Ika perlu ditumbuhkan dalam diri setiap individu masyarakat Indonesia, mengingat Bhinneka Tunggal Ika dipandang sebagai semboyan negara yang proses kelahirannya dimulai dari kesadaran akan keberagaman dan toleransi. Beberapa cara yang bisa dilakukan guna menjaga persatuan bangsa, yaitu:
- Saling menghormati dan menghargai perbedaan;
- Toleransi antar sesama;
- Kesadaran untuk saling menolong satu sama lain;
- Tidak egois.
Bagi generasi muda, Bhinneka Tunggal Ika dapat menjadi sumbu pikir untuk membangun relasi dengan harapan relasi yang terbangun adalah relasi yang saling mendukung dan bekerjasama.
Sebagai pemuda sudah seharusnya menjaga kokohnya Bhinneka Tunggal Ika dengan memanfaatkan teknologi yang sudah maju di era globalisasi ini.
Sebisa mungkin pemuda memiliki peranan yang cukup penting dalam menyikapi perkembangan zaman tersebut untuk dapat lebih mengambil sisi positifnya agar dapat dimanfaatkan untuk kehidupan.
Tim Penulis:
- Putri Wadda Nabila
- Irham Hamdi Nasution
- Miftahul Zannah
- Tioara Monika Simarmata
- Nova Ronauli Silalahi
Jurusan:
- Arsitektur
- Teknik Lingkungan
- Ekonomi Pembangunan
- Sastra Batak
- Teknik Kimia
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













