Di era media sosial, remaja tumbuh dalam dunia yang serba cepat dan terbuka.
Mereka belajar, berinteraksi, dan mencari jati diri melalui layar namun tidak selalu dalam lingkungan yang aman.
Tubuh, seksualitas, dan identitas diri menjadi topik yang sering muncul di media sosial, tetapi tidak jarang pula dibalut dengan stigma, kekerasan verbal, hingga kesalahan informasi.
Oleh karena itu, penting untuk menata ruang digital yang aman dan suportif bagi remaja, terutama ketika mereka mulai bicara tentang tubuh dan hak-haknya.
Remaja memiliki hak untuk mengetahui dan memahami tubuhnya sendiri dari perubahan biologis, identitas gender, hingga hak atas perlindungan diri.
Sayangnya, banyak remaja yang tidak mendapatkan ruang aman untuk bertanya atau berdiskusi.
Media sosial kemudian menjadi alternatif, tetapi justru di sinilah mereka sering dihadapkan pada body shaming, pornografi terselubung, atau komentar yang menjatuhkan.
Padahal, bicara tentang tubuh bukanlah sesuatu yang kotor atau tabu itu adalah bagian dari hak dasar untuk mendapatkan edukasi dan rasa aman terhadap diri sendiri.
Ruang aman bukan berarti membatasi kebebasan berekspresi, melainkan menciptakan lingkungan digital yang ramah, inklusif, dan edukatif.
Ini bisa dimulai dari konten kreator, aktivis, hingga lembaga pendidikan yang membagikan informasi kesehatan reproduksi secara komprehensif, empatik, dan tanpa menghakimi.
Algoritma media sosial juga harus diarahkan untuk melindungi pengguna muda dari konten berbahaya atau predator digital.
Lebih dari itu, pengguna media sosial baik remaja maupun dewasa perlu diberdayakan untuk mampu berkata tidak, membela diri, dan saling menjaga dalam komunitas digitalnya.
Orang tua, guru, konselor, dan tokoh masyarakat memiliki peran penting untuk tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga digital aware.
Banyak remaja merasa lebih nyaman bertanya kepada internet ketimbang orang tua mereka ini adalah sinyal bahwa pendekatan lama perlu berubah.
Dengan dukungan yang terbuka dan tidak menghakimi, remaja akan lebih berani berbicara tentang tubuh, batasan, dan rasa tidak nyamannya di dunia maya.
Ketika mereka bicara, kita harus siap mendengar dan memastikan bahwa suara mereka tidak dibungkam oleh stigma atau ketakutan.
“Bicara tubuh, bicara hak” bukan sekadar slogan. Ini adalah panggilan untuk menciptakan dunia termasuk dunia digital yang mengakui bahwa setiap remaja berhak merasa aman, dimengerti, dan dihargai.
Menata ruang aman di media sosial bukan tanggung jawab satu pihak saja, melainkan gerakan kolektif.
Karena tubuh bukanlah aib, dan suara remaja bukan untuk dibungkam.
Mari jaga ruang digital agar menjadi tempat tumbuh, bukan tempat luka.
Penulis: Deslyana Tricia Putri
Mahasiswa Magister Sains Agribisnis, IPB University
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












