Cerita di Balik Pakaian Basket Putri di Sekolah

pakaian basket wanita
Cerita di Balik Pakaian Basket Putri di Sekolah. Gambar: MMI.

Peraturan permainan basket memang cukup rumit dan beragam, namun aturan berpakaian tidak menjadi sorotan utama dalam permainan basket.

Untuk pertama kali masalah ini muncul di sekolahan yaitu tentang cara berpakaian yang menimbulkan berbagai tanda tanya besar karena sekolah ini merupakan sekolah negeri yang sangat terkenal karena prestasinya yang menonjol di bidang non-akademik yang selalu mencetak atlet-atlet berbakat di daerahnya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Karena peraturan yang dibuat oleh pihak sekolah perlu dipertanyakan oleh para atlet basket wanita kepada pihak sekolah yang membuat aturan/larangan tentang pembatasan berpakaian. Karena aturan ini menimbulkan dampak yang signifikan terhadap atlet.

Dalam 2 bulan pertama latihan basket putra dan putri sangat normal tanpa ada kendala, terutama tim putri yang menggunakan jersey basket yang pada umumnya. Pada saat latihan 2 bulan pertama ada teguran ringan dari salah satu guru yang menjabat sebagai guru tata tertib di lingkungan sekolah tersebut.

Beliau berkata, “Cek celananya, lain kali jangan pendek-pendek ya”. Para atlet putri pada saat itu menanggapinya dengan biasa saja, menganggap teguran seperti itu adalah hal yang biasa dilakukan oleh guru tata tertib.

Di situ saya juga mengingatkan kepada tim putri agar menggunakan celana jersey yang tidak terlalu pendek agar tidak ditegur lagi oleh pihak tata tertib yang ada di sekolah tersebut.

Baca Juga: Atlet Basket Kebanggaan Bina Darma

Setelah terkena teguran agar tidak menggunakan celana jersey yang terlalu pendek, tim basket putri menaati larangan yang disampaikan oleh salah satu guru tata tertib di sekolah tempat saya mengajar. Pada saat tim putri melaksanakan latihan dengan menggunakan pakaian latihan dengan jersey yang sudah dibilang sopan.

Di seberang lapangan basket tempat tim basket sekolahan tersebut melaksanakan latihan, ada salah satu guru yang sedang memperhatikan. Tatapan yang sangat tajam dan membuat saya merasa curiga dan bertanya ke diri saya sendiri, “Apa ada yang salah lagi ya dengan jersey yang di pakai tim putri?”

Ternyata setelah guru tersebut memperhatikan tim putri latihan. Salah satu pemain bagian tim dipanggil ke ruang tata tertib dan diberi peringatan lagi untuk memakai pakaian yang dianggap lebih sopan saat latihan berikutnya. Pada saat itu pihak tata tertib merekomendasikan agar memakai legging dan kaos setiap latihan di area sekolahan.

Sebagai pelatih, saya perlu menjelaskan kepada tim putri mengenai perubahan aturan tersebut. Di satu sisi, saya paham bahwa jersey basket dirancang agar atlet dapat bergerak lebih leluasa dan optimal, sehingga penggunaan pakaian yang terlalu tertutup dapat mengurangi kenyamanan dan ruang gerak.

Namun di sisi lain, saya juga harus mempertimbangkan bahwa latihan berlangsung di lingkungan sekolah yang memiliki regulasi berpakaian yang harus ditaati oleh seluruh siswa.

Saya bertanya kepada kapten tim putri, “Bagaimana pengaruh pembatasan berpakaian pada atlet basket wanita di lingkungan sekolah?”

Baca Juga: Lantai Lapangan Basket: Tipe, Biaya, dan Panduan Memilih Material Terbaik

Menurutnya, “Pembatasan berpakaian ini tergantung konteksnya, misalnya ada aturan untuk membuat kita memakai celana panjang atau kewajiban untuk menutup aurat itu juga mendapat pengaruh positif, yaitu mendorong kedisiplinan serta kekompakan tim, terus menjaga norma dan agama, serta ada juga pengaruh negatifnya dapat membatasi kebebasan gerak atau kenyamanan dan menimbulkan rasa kurang percaya diri sebagai atlet karena tidak nyaman,” Afriza Bunga Desyifa, 2025.

Bagi atlet, peraturan berpakaian memiliki dua sisi yang memang ada keuntungannya dan ada kekurangan. Di sisi keuntungannya atlet bisa mendorong kedisiplinan, kekompakan tim, serta penghormatan terhadap norma sekolah.

Di sisi kekurangannya dapat membatasi kebebasan bergerak, menurukan kenyamanan, dan membuat atlet kurang percaya diri ketika berlatih. Pandangan tersebut membuat saya semakin memahami bahwa situasi ini tidak sekadar persoalan pakaian, tetapi juga menyangkut performa atlet.

Untuk memperoleh perspektif lain, saya juga mewawancari pelatih senior sekaligus guru PJOK di sekolah. Di saat wawancara dengan pertanyaan yang sama seperti pertanyaan kepada kapten tim putri tetapi dari pandangan seorang pelatih, menurut pelatih senior saya dan juga seorang guru olahraga di sekolahan tersebut.

“Baik, menurut saya untuk pakaian atau jersey basket itu kita harus menyesuaikan dengan di mana kita berada. Di lembaga kami, SMA Negeri 1 Turen memang ada aturan yang mengharuskan siswa harus berpakaian rapi dan sopan. Kalau saya melihat di pertandingan basket memang ada beberapa kostum itu yang maaf itu agak ketat dan agak pendek untuk perempuannya. Itu memang di pandangan kami sebagai guru itu kurang pas. Makanya untuk siswa terutama putri saat latihan memang harus menggunakan istilahnya double-an, biar apa? Biar tidak sampai kelihatan aurat, yang auratlah seperti itu,” Mulyanto Tri, 2025.

Baca Juga: Tim Basket Jawa Barat Siap Uji Kemampuan di Filipina, Persiapan Menuju PON XXI Aceh-Sumut

Pendapat ini sangat berbeda dengan pandangan atlet, namun dapat dimengerti karena beliau melihat masalah ini dari perspektif seorang guru yang terikat aturan sekolah.

Dari dua sudut pandang antara atlet dan pelatih senior. Pandangan atlet menekankan kenyamanan gerak, serta pandangan pelatih senior yang menekankan norma sekolah.

Saya akhirnya memahami bahwa persoalan ini bukan sekadar soal panjang celana, tetapi soal bagaimana menjaga keseimbangan antara aturan sekolah dan kebutuhan atlet.

Meskipun pembatasan pakaian sempat menganggu semangat latihan, pada akhirnya saya dan tim perlu menyadari bahwa latihan dilakukan di lingkungan sekolah yang memiliki standar yang harus diikuti.

Sebagai kesimpulan, bahwa aturan pembatasan berpakaian yang diterapkan di sekolah, jika dilihat dari nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, etika, empati, dan komunikasi yang baik, diharapkan tidak hanya membentuk atlet yang lebih dewasa dan bisa menyesuaikan diri dengan norma sekolah, tetapi juga dapat mempererat kerja sama antara atlet, pelatih, dan pihak sekolah untuk menciptakan suasana latihan yang teratur, nyaman, dan tetap mendukung kebebasan bergerak, rasa percaya diri, serta peningkatan performa, sehingga proses pembinaan olahraga bisa berjalan lebih sehat, manusiawi, dan sesuai dengan tujuan pendidikan.

Penulis: Li Ulin Nuha Syatoto (240631601633) 
Mahasiswa Pendidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Negeri Malang (UM)

Dosen Pengampu: Nurrul Riyad Fadhli, S.Pd., M.Or.

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses