Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah pada dasarnya merupakan langkah baik untuk meningkatkan kualitas gizi anak bangsa. Dengan penyediaan makanan sehat di sekolah, diharapkan siswa dapat lebih fokus belajar, tumbuh optimal, serta terbebas dari masalah malnutrisi.
Namun, maraknya kasus keracunan makanan gratis di beberapa daerah belakangan ini justru memunculkan persoalan baru yang tak kalah penting: menurunnya kepercayaan orang tua dan siswa terhadap program tersebut.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyampaikan bahwa sejak awal 2025 hingga September tercatat 6.517 orang mengalami keracunan akibat MBG. Ia menegaskan bahwa “masih banyak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tidak mematuhi SOP dalam pengolahan dan distribusi makanan.”
Kasus keracunan massal akibat makanan MBG bukan hanya sekadar peristiwa teknis terkait higienitas pangan. Lebih dari itu, kasus tersebut menimbulkan trauma dan kekhawatiran mendalam. Orang tua yang sebelumnya mendukung penuh program ini kini ragu: apakah anak mereka benar-benar aman saat mengonsumsi makanan yang disediakan sekolah?
Demikian pula dengan siswa, sebagian besar merasa takut mengonsumsi makanan gratis karena pernah mengalami atau hanya sekedar mendengar berita terkait keracunan.
Jika dicermati lebih dalam, persoalan utama yang muncul bukan hanya soal kandungan gizi, melainkan hilangnya rasa percaya. Kepercayaan merupakan fondasi penting dalam setiap kebijakan publik.
Ketika orang tua kehilangan keyakinan terhadap program MBG, maka tujuan awal program untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui gizi sehat bisa terganggu. Anak-anak mungkin enggan mengonsumsi makanan yang disediakan, sementara orang tua bisa saja menolak program sekolah, bahkan memilih membekali anak mereka dari rumah.
Baca juga: MBG (Makan Bergizi Gratis): Program Mencerdaskan Bangsa, Bukan Meracuni Bangsa
Situasi ini kemudian menjadi tantangan besar bagi pemerintah dan pihak sekolah. Kasus keracunan yang terjadi seolah menjadi tamparan bahwa pengawasan keamanan pangan belum sepenuhnya maksimal.
Ketidakcermatan dalam proses distribusi, kebersihan penyimpanan, hingga keterbatasan pengawasan kualitas menu bisa menjadi celah terjadinya masalah. Di sisi lain, membangun kembali kepercayaan orang tua dan siswa tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Kasus ini kemudian mendesak pemerintah untuk berbenah kembali dengan mengambil langkah yang diperlukan seperti memperketat standar higienitas dengan melibatkan ahli gizi dan tenaga kesehatan dalam setiap tahapan. Selain itu, penting juga adanya evaluasi terbuka terhadap kasus keracunan, bukan sekadar menyalahkan pihak tertentu, tetapi sebagai pembelajaran bersama agar kejadian serupa tidak terulang.
Maraknya kasus keracunan makanan bergizi gratis telah memberikan pelajaran berharga bahwa sebuah program pendidikan tidak hanya soal teknis pelaksanaan, tetapi juga menyangkut rasa percaya masyarakat.
Pemerintah, sekolah, dan penyedia makanan harus menyadari bahwa kepercayaan orang tua dan siswa adalah modal utama keberhasilan program MBG. Tanpa itu adanya kepercayaan tersebut maka tujuan baik program ini tentu akan sulit direalisasikan.
Penulis: Julia Kurniasari
Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Sriwijaya
Dosen Pengampu: Dr. Esti Susiloningsih, M.Si. dan Dwi Cahaya Nurani, M.Pd
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












