MBG atau singkatan dari Makan Bergizi Gratis adalah Program yang dicetuskan dan dilaksanakan saat ini di tahun 2025 di masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Program MBG sendiri adalah pemberian makanan bergizi secara gratis sebanyak satu kali sehari kepada seluruh siswa mulai dari jenjang pendidikan siswa PAUD, SD, SMP, SMA sederajat, dari sekolah negeri dan juga swasta di seluruh Indonesia, bahkan penerapannya di SR (Sekolah Rakyat) MBG diberikan hingga sebanyak tiga kali dalam sehari.
MBG memiliki tujuan untuk melakukan pemerataan gizi, menurunkan tingkat stunting dan malnutrisi atau kurang gizi pada siswa di Indonesia. Menu MBG terdiri dari menu 4 sehat 5 sempurna yang dianggap cukup memenuhi kebutuhan gizi siswa di Indonesia.
Dapur MBG sendiri sebenarnya sudah dibuat sangat teratur yaitu harus memenuhi standar fisik dan operasional yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) yang berarti seharusnya kualitas makanan yang dimasak untuk para siswa sudah terjamin kualitas, gizi, kebersihan serta kesehatannya dan aman dikonsumsi oleh seluruh siswa.
Namun seiring berjalannya program MBG ternyata menimbulkan banyak polemik yang terjadi di masyarakat dan cukup membuat ketegangan yang menyita perhatian publik terutama akhir-akhir ini.
Menurut data JPPI (Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia) mencatat mencatat sebanyak 8.649 anak menjadi korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG), data tersebut per 27 September 2025.
Kasus keracunan MBG yang dialami siswa bukan kasus biasa karena mengancam keselamatan dan nyawa siswa yang mengkonsumi MBG yang seharusnya menjadi program yang menguntungkan dan mensejahterahkan bagi siswa di Indonesia.
Banyak juga kita temui kasus makanan yang disajikan dalam kondisi tidak layak pada pelaksanaan di lapangan terkait program MBG, misalnya makanan yang disajikan dalam kondisi berbau tidak sedap atau tidak layak konsumsi bagi siswa.
Kekhawatiran mengkonsumi makanan dari program MBG bukan hanya dialami oleh para siswa, namun juga orang tua siswa dan juga tenaga pendidik karena dikhawatirkan makanan dari program MBG tersebut jika dikonsumsi justru akan meracuni para siswa atau anak-anak mereka dan mengancam nyawa mereka.
Hal ini wajar dialami karena timbul akibat efek traumatis dari banyaknya kasus makanan tidak layak dan banyaknya kasus siswa yang mengalami keracunan dari makanan MBG.
Sebenarnya yang harus diubah adalah kualitas makanan yang disajikan oleh program MBG sendiri, seperti yang kita tahu jika ada dapur MBG yang memasak makanan ini dan sudah memiliki standar serta tersertifikasi hingga dianggap layak untuk melaksanakan program menyiapkan makanan MBG.
Langkah yang seharusnya diambil adalah adanya audit terkait standar pelaksanaan dalam menyiapkan makanan MBG, mulai dari proses memasaknya, penyajian makanannya, kualitas makanan, kebersihannya, menu makanannya harus sesuai gizi yang dibutuhkan serta harus ada prosedur yang jelas dalam penyiapan makanan MBG, misalnya di dapur MBG harus ada bagian Quality Control yang menjamin makanan yang dimasak di dapur MBG layak dan memenuhi standar sebelum didistribusikan ke seluruh siswa, kemudian harus ada jam disiplin kurir atau petugas pengantar makanan MBG harus on time dan makanan harus diantar dan sampai ke para siswa dalam kondisi yang layak dan aman dikonsumsi bagi para siswa, sehingga ada bagian khusus yang bertanggung jawab memastikan kualitas makanan MBG aman dan tidak beracun serta sudah sesuai standar makanan produk MBG.
Baca Juga: Menimbang Makan Bergizi Gratis berdasarkan Prinsip Subsidiaritas
Dan harus ada laporan atau report harian pelaksanaan MBG setiap dari dari tiap dapur MBG ke instansi terkait misalnya Badan Gizi Nasional, serta harus ada MONEV atau monitoring dan evaluasi rutin program pelaksanaan MBG dari tiap dapur MBG minimal rutin setiap bulan, report bukan hanya terkait alokasi biaya MBG, tetapi juga menu harian yang disajikan serta kondisi siswa yang mengkonsumsi MBG selama periode program berlangsung minimal setiap bulan.
Kemajuan teknologi akan sangat memudahkan proses monitoring dan evaluasi tersebut karena proses pelaporan dan Monev dapat dilakukan secara online dan laporan bisa diserahkan berupa file tanpa harus print kertas dan ini sangat memudahkan bagi semua pihak.
Sehingga ada transparansi proses serta hasil pelaksanaan program MBG di lapangan, sehingga ada jaminan mutu dari produk makanan hasil MBG ini dan tujuan MBG dapat benar-benar tercapai.
MBG adalah adaptasi program pendidikan dari luar negeri yang sudah sejak lama diterapkan oleh negara-negara maju dan sudah terbukti berjalan sukses bukan hanya membentuk sumber daya manusia yang berkualitas unggul tapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi bagi orang tua siswa, negara maju yang sukses menerapkan program MBG misalnya China.
Berdasarkan data Brief Report Badan POM tertanggal 15 Juli 2024 yang berjudul Review: School Feeding Program in China yang ditulis oleh Susan Gracia Arpan dan Alfi Sophian menyatakan jika program makan siang gratis di China atau dikenal dengan “School Feeding Program” merupakan inisiatif penting dalam upaya meningkatkan gizi dan kesejahteraan anak-anak di negara tersebut.
Diluncurkan pada awal tahun 2000-an sebagai bagian dari kebijakan nasional untuk mengatasi kesenjangan gizi dan pendidikan, program ini telah berkembang menjadi salah satu program bantuan pangan terbesar di dunia.
Fokus utama program ini adalah menyediakan makanan bergizi bagi jutaan siswa, terutama di daerah pedesaan dan kurang berkembang di Cina.
Dengan menyediakan makan siang gratis, pemerintah Cina bertujuan tidak hanya untuk memperbaiki status gizi anak-anak, tetapi juga untuk meningkatkan tingkat kehadiran di sekolah, performa akademik, dan pada akhirnya, kualitas hidup generasi muda.
Program ini mencerminkan komitmen Cina dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam hal pengentasan kemiskinan, penghapusan kelaparan, dan peningkatan kualitas pendidikan.
Baca Juga: Makan Bergizi Gratis: Antara Keadilan Sosial dan Kepentingan Politik
Meskipun menghadapi berbagai tantangan dalam implementasinya, program makan siang gratis ini telah menunjukkan dampak positif yang signifikan dan terus menjadi fokus kebijakan pemerintah Cina dalam pembangunan sumber daya manusia.
Berdasarkan ulasan tersebut dapat disimpulkan jika program MBG adalah program yang tepat yang dilakukan oleh pemerintah bukan hanya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia namun juga aksi nyata pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan yang ada di negara ini.
Sebagai warga negara kita sudah seharusnya melihat program tersebut dari sudut pandang positif, MBG adalah suatu program jadi pasti ada kendala yang ditemui dan pola pikir kitalah yang harus diubah bukan bersikap pasif apalagi apatis terhadap program tersebut namun lebih kepada mencari solusi bersama untuk menanggulangi masalah yang ada agar program tersbut kedepannya dapat berjalan dan memberikan manfaat secara optimal bagi banyak orang.
Transformasi mindset kita sebagai masyarakat cerdas adalah upaya paling sederhana dalam upaya mendukung program pemerintah untuk kesejahteraan bangsa.
Penulis: Fitria Nisail Laily
Mahasiswa S1 PJJ Hukum Universitas Siber Muhammadiyah Yogyakarta
Dosen Pengampu: Muhammad Rizal, S.H., M.H., CSA, C.FLS.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












