Dinamika Penyampaian Wahyu: Dari Lisan ke Tulisan pada Masa Nabi

Dinamika Penyampaian Wahyu
Al-Qur'an (Sumber: Media Sosial dari freepik.com)

Penyampaian wahyu merupakan salah satu peristiwa sejarah yang sangat penting bagi peradaban islam. Wahyu pada hakikatnya tidak dapat diketahui manusia biasa, selain oleh Nabi dan rasul yang mendapat wahyu itu sendiri.

Wahyu merupakan pembicaraan tersembunyi yang dapat ditangkap dengan cepat, wahyu tidak tersusun dari huruf yang memerlukan gelombang suara. Sementara proses turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW melibatkan berbagai cara, mulai dari mimpi yang benar, bisikan hati, hingga penampakan langsung malaikat Jibril.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Penulis akan membahas dinamika penyampaian wahyu, dengan menguraikan bagaimana wahyu diturunkan, proses kodifikasi al-qur’an serta tantangan yang dihadapi saat proses tersebut.

Rekaman sejarah menunjukan jejak risalah Nabi Muhammad, sifat dan kaitannya dengan ajaran para Nabi terdahulu. Allah meniupkan sifat naluri ke dalam jiwa manusia untuk menghantarkan rasa penghambaan kepada-Nya sejauh tidak ada campur tangan pihak luar.

Untuk mengatasi adanya kemungkinan pengaruh dari luar, Allah mengutus Rasul yang ditujukan kepada masyarakat tertentu dan berlaku pada masa tertentu pula agar terhindar dari penyembahan berhala, atau khurafat dan membimbing manusia pada penyembahan yang benar.

(Al-A’zami, 2005) Sebagai Rasul terakhir dan penutup para Nabi (al-ahzab:40), nabi Muhammad menerima wahyu yaitu al-Qur’an yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan wahyu lainnya yang diterima oleh Nabi terdahulu. Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang shalih lii kulli zaman wa makan, tidak terbatas waktu tertentu, suatu kepercayaan yang tidak mungkin dihapus karena relevan dengan setiap zaman.

 

Dinamika Turunnya Wahyu kepada Nabi Muhammad

Al-Qur’an merupakan kalamunnafsi. Al-Qur’an disimpan di tempat yang terjaga yaitu di lauhil mahfudz ( al-buruj 21-22). Setelah itu al-Qur’an diturunkan secara sekaligus menuju baitul izzah (langit dunia) pada malam lailatul Qadr (al-Qadr:1) untuk memberitahu kepada malaikat terkait keagungan al-Qur’an tersebut.

Selain itu, turunnya al-Qur’an secara sekaligus juga sebagai petunjuk kepada manusia dan pembeda antara sesuatu yang hak dan yang batil (al-Baqarah:185).

Selanjutnya, Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad selama dua puluh tiga tahun sesuai dengan kondisi yang dihadapi Nabi sejak diutusnya menjadi rasul hingga wafat (periode Mekkah selama 12 tahun 5 bulan 13 hari dan periode Madinah selama 9 tahun 9 bulan 9 hari). (Athaillah, 2010)

Peranan Nabi Muhammad dalam menerima wahyu di persiapkan secara berkala, di mana Malaikat Jibril berulang kali memperkenalkan diri di suatu masa yang penuh kebimbangan dalam berbagai kejadian untuk mematangkan jiwa Nabi Muhammad.

Malaikat Jibril pertama kali muncul dihadapan Nabi Muhammad saat beliau sedang berada di Gua Hira’, yang di mana peristiwa tersebut adalah turunnya wahyu pertama kali. Jibril memerintahkan Nabi Muhammad untuk membaca meskipun awalnya Nabi Muhammad bingung karena tidak bisa membaca.

Malaikat jibril mengulangin perintahnya hingga tiga kali dan ikuti oleh nabi walaupun dengan kondisi bingung dan takut. Wahyu pertama itu adalah surat al-Alaq ayat 1-5, dengan awalan iqra’ (bacalah!).

Mengutip pertanyaan al-Harith bin Hisyam, Nabi SAW menerima wahyu dari Jibril a.s. dalam dua keadaan: Pertama, datang kepadanya suara seperti dencingan lonceng dan suara yang amat kuat yang mempengaruhi faktor-faktor kesadaran, sehingga ia dengan segala kekuatannya siap menerima pengaruh itu hingga lenyap dan Nabi dapat mengulanginya.

Cara ini yang paling berat buat Rasul. Apabila wahyu yang turun kepada Rasulullah s.a.w. dengan cara ini, maka ia mengumpulkan segala kekuatan kesadarannya untuk menerima, menghafal dan memahaminya. Kedua, malaikat menjelma kepada Rasul sebagai seorang laki-laki dalam bentuk manusia.

Proses pemerimaan wahyu Nabi juga sering disertai gejala fisik yang sangat luar biasa, seperti berat dan berkeringat dingin seperti yang dikatakan oleh istri Nabi muhammad, Yaitu A’isyah (HR. Bukhari).

 

Proses Penyampaian Wahyu secara Lisan

Wahyu yang diterima Nabi Muhammad selalu dihafal dan diucapkan dengan tepat. Namun, untuk memelihara ingatan Nabi Muhammad secara konstan, Malaikat jibril selalu berkunjung kepada Nabi setiap tahunnya.

Proses membaca Al-Qur’an yang secara bergantian antara Nabi Muhammad dan malaikat Jibril disebut dengan Mu’arada yang dilakukan sekali setiap tahunnya, dan di tahun terakhir sebelum Nabi Muhammad wafat, mereka membaca dua kali.

Setiap wahyu yang turun selalu disampaikan secara lisan, dan Nabi Muhammad tidak hanya menghafalnya, Nabi Muhammad juga berperan dalam proses pegajaran Al-Qur’an kepada para sahabat, ia memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk mendengarkan dan menghafal wahyu tersebut.

Para sahabat tidak hanya menghafal wahyu, tetapi juga memahaminya dengan konteks dan situasi yang ada, dan sahabat yang memiliki kemampuan menghafal yang kuat dikenal sebagai huffaz.

 

Transisi Baca ke Tulisan

Proses penulisan al-Qur’an dimulai sejak masa Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad menunjuk kurang lebih enam puluh lima sahabat sebagai juru tulis Al-Qur’an, di antara mereka adalah Abbān bin Sa’id, Abū Umāmā, Abū Ayyüb al-Anşārī, Abū Bakr aş-Şiddīq, Abū Hudhaifa, Abū Sufyan, Abū Salāmā, Abū ‘Abbās, Ubayy bin Ka’b, al-Arqam, Usaid bin al-Hudair, Aus, Buraida, Bashir, Thabit bin Qais, Ja’far bin Abi Talib, Jahm bin Sa’d, Suhaim, Hatib, Hudhaifa, Husain, Hanzala, Huwaitib, Khalid bin Sa’id, Khalid bin al-Walid, az-Zubair bin al-‘Awwām, Zubair bin Arqam, Zaid bin Thabit, Sa’d bin ar-Rabi’, Sa’d bin ‘Ubada, Sa’id bin Sa’id, Shurahbil bin Hasna, Talha, ‘Amir bin Fuhaira, ‘Abbās, ‘Abdullah bin al-Arqam, ‘Abdullah bin Abi Bakr, ‘Abdullah bin Rawāha, ‘Abdullah bin Zaid, ‘Abdullah bin Sa’d, Abdullah bin ‘Abdullah, ‘Abdullah bin ‘Amr, ‘Uthman bin ‘Affan, Uqba, al- ‘Alā bin ‘Uqbā, ‘Ali bin Abi Talib, ‘Umar bin al-Khattab, ‘Amr bin al-‘Āş, Muhammad bin Maslama, Mu’adh bin Jabal, Mu’awiya, Ma’n bin ‘Adī, Mu’aqib bin Mughīra, Mundhir, Muhaājir, dan Yazīd bin Abi Şufyan. (Al-A’zami, 2005) Zaid bin Tsabit sebagai sekretaris pribadi Rasulullah sering dipanggil untuk menulis wahyu yang didiktekan langsung oleh Nabi Muhammad. SAW.

Penulisan wahyu tersebut menggunakan media pelepah kurma, lempengan batu, potongan tulang, daun lontar dan kulit. Saat proses penulisan al-Qur’an, Nabi Muhammad melarang para sahabat untuk menulis selain al-Qur’an untuk menghindari adanya campur aduk dan kekeliruan (HR.Muslim, bab zuhud).

Pada Masa Rasulullah Al-Qur’an belum menjadi satu jilid utuh, seperti yang ditegaskan oleh Zaid bahwasanya “saat Nabi Muhammad wafat, al-Qur’an masih belum dirangkum dalam satuan bentuk buku” (Ibn Hajar, Fathul Barri,ix.).

Penulisan Al-Qur’an dalam bentuk tertulis yang terorganisir baru dimulai setelah wafatnya Nabi Muhammad. Proses pengumpulan wahyu ini dimulai pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar, terutama setelah pertempuran Yamamah pada tahun ke-12 H, di mana banyak penghafal Al-Qur’an (huffaz) gugur dalam pertempuran tersebut.

Hal ini membuat Umar ibn al-Khattab risau tentang masa depan Al-Qur’an. Sebab itu beliau mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakr untuk melakukan pengumpulan Al-Qur’an.

Dalam masa kompilasi ini, Abu Bakar atas saran dari Umar bin Khattab menginstruksikan kepada Zaid untuk menuliskan Al-Qur’an. Zaid tidak semata-mata menuliskannya, dalam proses pengumpulan Al-Quran zaid memiliki prinsip.

Prinsip tersebut adalah: Pertama, apa yang ditulis di hadapan Rasul. Kedua, apa yang dihafalkan oleh para sahabat. Ketiga, tidak menerima sesuatu dari yang ditulis sebelum disaksikan (disetujui) oleh dua orang saksi, bahwa ia pernah ditulis di hadapan Rasul. Keempat, hendaknya tidak menerima dari hafalan para sahabat kecuali apa yang telah mereka terima dari Rasulullah saw. (Ar-Rumi, 1999)

Proses kompilasi dilanjutkan pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Pada masa ini terdapat keragaman dalam cara pembacaan Al-Qur’an (qira’at) yang disebabkan oleh adanya perbedaan dialek (lahjah) antar suku yang berasal dari daerah berbeda-beda.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijakan untuk membuat sebuah mushaf standar yang mengacu pada suhuf hasil Kompilasi masa Abu Bakar yang dititipkan oleh Umar kepada Hafsah dan mengambil perbandingan dengan suhuf A’isah. Penulisan tersebut dikenal dengan sebutan Rasm Utsmani. (Khaeroni, 2017) Rasm Utsmani adalah standarisasi Mushaf yang saat ini digunakan.

 

Tantangan Saat Proses Turunnya Wahyu

Nabi Muhammad SAW mengalami tantangan yang luar biasa dalam menerima wahyu. diantaranya guncangan fisik dan psikologis yang luar biasa ketika menerima wahyu seperti dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah RA, disebutkan bahwa wahyu sering kali datang dengan berat, seperti bunyi lonceng yang mengguncang tubuh Nabi.

Namun tantangan tidak hanya berhenti pada kondisi fisik. Penolakan dari masyarakat sekitar, terutama kaum Quraisy, menjadi ujian tersendiri. Mereka menuduh Nabi sebagai penyair, dukun, bahkan orang gila, karena membawa pesan yang dianggap mengancam tradisi dan kekuasaan mereka.

Di sisi lain, masyarakat juga mempertanyakan mengapa wahyu tidak diberikan kepada tokoh-tokoh besar seperti pemimpin Mekah atau Taif (QS. Az-Zukhruf: 31).

Ada juga gangguan dari jin dan setan juga menjadi tantangan yang harus dihadapi. Jin berusaha mencuri dengar wahyu untuk menyesatkan manusia, tetapi Allah melindungi wahyu tersebut dengan penjagaan ketat, seperti yang dijelaskan dalam QS. Al-Jin: 8-9. Nabi Muhammad SAW pun diberi kemampuan untuk membedakan wahyu dari Allah dengan bisikan setan, sehingga wahyu tetap terjaga kemurniannya.

Selain itu, Nabi juga menghadapi tantangan dalam memastikan wahyu diterima, dihafalkan, dan ditulis dengan benar. Pada masa itu, wahyu dihafal oleh para sahabat dan dicatat di berbagai media sederhana, seperti tulang, kulit, atau pelepah kurma.

Proses ini sangat penting untuk menjaga kemurnian wahyu, meskipun seringkali menghadapi ancaman seperti perbedaan hafalan atau tulisan. Tantangan ini berhasil diatasi pada masa para khalifah, terutama ketika wahyu dikodifikasi menjadi mushaf yang kita kenal saat ini.

Nabi Muhammad dengan penentangnya pernah diminta berdebat tentang keesaan Allah karena Al-Qur’an,bukan ciptaan manusia, cukup sebagai bukti secara akal tentang wujud keesaan Allah SWT.

Namun demikian, karena bacaan yang awalnya dari keheningan malam dan berubah menjadi pada siang hari dan didengar oleh orang banyak, maka rasa kekhawatiran orang Mekah semakin menjadi-jadi. Tantangan-tantangan tersebut menunjukkan bahwa proses turunnya wahyu bukan hanya soal menerima pesan dari Allah, tetapi juga perjuangan berat dalam menyampaikannya kepada umat manusia.

Dalam semua itu, Nabi Muhammad SAW selalu mendapat pertolongan dan bimbingan dari Allah SWT, yang menjadikan wahyu tetap terjaga hingga hari ini.

 

Penulis: Kelompok 5

  1. Fariha Akmaliatu Sholihah
  2. Imelda Zumi Fatimatuzzara
  3. Alfinda Najwa Sahila
  4. Nurul Afifah
  5. Moh. Ariqul Mahfudz
  6. Andramika Priastyo Fahrezi
  7. Hasan Abdullah

Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Institut Agama Islam Negeri Kudus

 

Referensi

Al-A’zami, P. D. (2005). The History of The Qur’anic Text From Revelation to Compilation. Jakarta: Gema Insani.

Ar-Rumi, F. B. (1999). Ulumul Qur’an; Studi Kompleksitas Al-Qur’an, terj. Amirul Hasan dan Muhammad Halabi. Yogyakarta: Titian Ilahi Press.

Athaillah. (2010). Sejarah Al-Qur’an: Verifikasi Tentang Otensitas al-Qur’an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Khaeroni, C. (2017). SEJARAH AL-QUR’AN (Uraian Analitis, Kronologis, dan Naratif tentang Sejarah Kodifikasi Al-Qur’an). Jurnal HISTORIA Volume 5, Nomor 2,ISSN 2337-4713 (e-ISSN 2442-8728), 6.

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses