Faktor Penyebab Fenomena Hikikomori terhadap Kalangan Remaja di Jepang

opini
Sumber:

Istilah hikikomori mungkin masih terdengar asing di telinga masyarakat Indonesia. Fenomena ini awalnya dianggap sebagai fenomena unik di masyarakat Jepang. Namun belakangan ini kasus serupa banyak diberitakan di negara lain dan di media internasional.

Dilansir dari laman Universitas Darma Persada, hikikomori muncul pada sekitar tahun 1990-an. Pada tahun 2003, terdapat 14.069 kasus hikikomori yang dikonfirmasi oleh Kementerian Kesehatan Perburuhan dan Kesejahteraan Jepang. Sehingga fenomena ini kerap menjadi perbincangan di tengah penduduk Negeri Matahari Terbit (Jepang).

Istilah hikikomori diciptakan oleh seorang psikolog Jepang, yaitu Tamaki Saito. Saito menulis istilah hikikomori  dalam bukunya yang berjudul Social Withdrawal Adolescence Without End yang terbit pada tahun 1988.

Bacaan Lainnya
DONASI

Istilah hikikomori ini dipakai untuk menggambarkan orang-orang yang memilih untuk menarik diri dari masyarakat, memilih menjalani kehidupan yang tertutup menjauh dari kehidupan yang normal seperti berbaur dengan masyarakat pada umumnya. Mereka memilih menghabiskan waktunya di dalam kamar.

Secara umum, fenomena hikikomori lebih banyak terjadi pada remaja dan orang dewasa, terutama laki-laki. Namun perlu diperhatikan bahwa hikikomori juga dapat terjadi pada wanita dari berbagai usia, termasuk lansia.

Terdapat dua jenis hikikomori, yaitu hikikomori primer dan hikikomori sekunder. Hikikomori primer, yaitu orang yang terisolasi tanpa disertai gangguan jiwa, dan hikikomori sekunder, yaitu orang yang mengalami gangguan jiwa yang memengaruhi perilakunya dan mendorongnya untuk hidup terisolasi.

Penyebab fenomena hikikomori saat ini belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diyakini tidak hanya disebabkan oleh diri sendiri, tetapi juga faktor eksternal. Adapun faktor penyebabnya adalah:

Pertama Lingkungan Sekolah, salah satunya beberapa anak di Jepang mengalami bullying, anak yang mengalami bullying ini lebih memilih untuk memendamnya sendiri dibandingkan mengadukannya ke pihak sekolah ataupun keluarganya.

Tak hanya itu, anak juga tidak mau berkomunikasi dengan teman-temannya di sekolah yang pada akhirnya tidak mau bersekolah. Selain bullying, Jepang memiliki Tookoo Kyohi atau sistem pendidikan pra-universitas. Saat itu, anak-anak diharapkan melanjutkan studi ke perguruan tinggi di lembaga pendidikan yang berkualitas.

Harapan yang tinggi tersebut menyebabkan anak menjadi stres dan putus sekolah hingga menjadi seorang hikikomori. Tuntutan akademis yang berlebihan dan ekspektasi yang tinggi dari sistem pendidikan dapat menciptakan beban emosional yang sulit diatasi.

Kedua Faktor Keluarga, masalah dalam lingkungan keluarga, seperti konflik atau tekanan dari anggota keluarga, bisa berdampak negatif, hubungan orang tua dan anak, baik terlalu dekat maupun karena tuntutan orang tua.

Banyak orang tua yang menaruh harapan besar terhadap anaknya, mulai dari memulai usaha, mengenyam pendidikan tinggi, hingga mengurus orang tuanya saat sudah tua kelak. Namun, beberapa keluarga Jepang melindungi anggota keluarga hikikomori mereka dengan memberi mereka ruang dan makanan.

Ini sebenarnya menyenangkan bagi hikikomori untuk melepaskan diri dari lingkungan. Padahal, keluarga seharusnya menjadi pendukung agar anak bisa kembali berinteraksi dengan masyarakat.

Ketiga Faktor Lingkungan Sosial, faktor lingkungan sosial tersebut bisa berupa tetangga, informasi dari media, bahkan tradisi.

Contohnya adalah media, di mana seorang anak terbiasa sendirian di kamarnya sambil menonton TV, bermain game, membaca buku, dan mengikuti dunia media sosial. Melakukan hal-hal tersebut terus-menerus membuat seseorang sulit bersosialisasi dan terbiasa menyendiri.

Keempat Faktor Individu, pengalaman isolasi sosial atau kesulitan dalam berinteraksi sejak dini dapat menjadi faktor yang memperburuk hikikomori. Faktor individual ini menentukan apakah seseorang akan menjadi hikikomori atau tidak, yang mungkin disebabkan oleh depresi.

Banyaknya tuntutan membuat seseorang stres dan menjadi depresi. Dengan demikian, Hikikomori merupakan jalan yang ditempuh seseorang ketika mengalami depresi.

Kelima Faktor Teknologi, jumlah hikikomori di Jepang semakin bertambah seiring dengan berkembangnya teknologi. Pasalnya, segala hal bisa dilakukan dengan mudah melalui ponsel tanpa bantuan orang lain.

Itu sebabnya banyak orang lebih memilih menghabiskan waktu di kamar dengan bermain media sosial dibandingkan berinteraksi dengan orang di sekitarnya.

Namun perlu diketahui fenomena ini tidak hanya terjadi di Jepang saja, bisa terjadi pada siapa saja. Hikikomori, kondisi isolasi sosial ekstrem memiliki dampak yang signifikan, termasuk isolasi sosial, masalah kesehatan mental, keterbatasan keterampilan sosial, pengaruh negatif pada pendidikan dan karier, beban keluarga yang tinggi, tingkat ketergantungan yang tinggi, dan dampak sosial yang luas pada masyarakat.

Penting untuk memahami kompleksitas faktor penyebab dan dampak ini dalam merancang pendekatan yang efektif untuk membantu individu yang mengalami hikikomori.

Penulis: 

Putri Hendriyani
Mahasiswa PAI STAI Riyadhul Jannah Subang

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI