Gereja Manggarai dan Perhatiannya terhadap Petani Lokal

Gereja Manggarai dan Perhatiannya terhadap Petani Lokal
Sumber: Dokumentasi Penulis

Manggarai dikenal sebagai salah satu wilayah agraris, di Flores, NTT, di mana mayoritas penduduknya bekerja/berprofesi sebagai petani.

Kehidupan masyarakat di Manggarai sangat dekat dengan alam dan sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup dari hasil pertanian, baik itu menanam padi, kopi, cengkeh, maupun hasil bumi lainnya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Data menunjukkan lebih dari 80% umat Katolik di Keuskupan Ruteng bekerja sebagai petani, yang artinya berbicara tentang kesejahteraan umat di Manggarai tidak lepas dari kesejahteraan petani.

Dan dalam konteks ini, gereja bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga sebagai mitra penting dalam memperjuangkan kehidupan petani lokal.

Sebagian besar, petani di Manggarai masih banyak menghadapi tantangan-tantangan yang beragam di antaranya, yaitu:

Pertama, penggunaan pupuk kimia yang berlebihan selama puluhan tahun. Ini menyebabkan tanah semakin tidak subur dan perubahan iklim yang menyebabkan musim tanam dan curah hujan tak menentu.

Kedua, perubahan iklim membuat musim tanam tidak menentu. Kekeringan yang panjang sering mengurangi hasil panen.

Ketiga, dan hal ini berdampak langsung pada ekonomi keluarga, petani Manggarai juga kesulitan dalam akses pasar.

Baca Juga: Jeratan Utang dan Ketergantungan Tengkulak: Kisah Nyata Petani Kita

Banyak hasil pertanian yang tidak bisa dipasarkan dengan harga baik karena masuknya produk dari luar daerah. Misalnya, di Labuan Bajo sebagian besar masih didatangkan dari luar NTT.

Gereja Manggarai memiliki posisi strategis dan mandat moral, bukan hanya merawat kehidupan rohani umat, tetapi juga membela martabat petani kecil sebagai bagian dari panggilan sosial iman.

Bila gereja bergerak nyata bukan hanya melalui doa, dan bakti sosial, tetapi dengan intervensi, struktural maka dampaknya tak akan sebentar, tetapi menciptakan perubahan yang lama.

Dalam hal ini, gereja di Manggarai tidak tinggal diam ketika para petani menghadapi tantangan, gereja membuat beberapa program, contohnya seperti sejumlah paroki bekerja sama dengan lembaga keagamaan dan kelompok tani untuk mengembangkan pertanian berkelanjutan.

Misalnya, program yang dijalankan oleh para Fransiskan di Flores yang mendorong pelatihan pertanian organik.

Program ini tujuannya untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan memulihkan kesuburan tanah karena masih banyak petani di Manggarai yang menjual hasil panen secara individual dan langsung ke tengkulak.

Dari hal ini, gereja dapat berperan sebagai fasilitator pembentukan tani yang kuat agar petani memiliki posisi tawar yang lebih tinggi dan membuat mereka menjadi lebih semangat untuk bertani.

Baca Juga: Ketahanan Pangan Dimulai dari Konsumen: Mengapa Kita Perlu Peduli pada Produk Lokal?

Selain itu, dengan membentuk program pendidikan pertanian yang berkelanjutan, lembaga pendidikan Katolik di Manggarai bisa menjadi pusat pelatihan bagi para petani.

Tidak hanya mengajarkan tentang iman, tetapi juga mengajarkan keterampilan bertani modern, pengolahan hasil pasca panen, hingga manajemen hasil usaha tani.

Supaya para petani tidak tidak memandang sawah mereka sebagai “beban keluarga”, tetapi memandangnya sebagai lahan masa depan.

Tidak hanya aspek teknis pertanian, gereja juga berperan pada advokasi, misalnya gereja di Manggarai menjadi suara kritis menolak pertambangan yang merusak lingkungan hidup.

Gereja memiliki kekuatan moran untuk bersuara lantang, lewat mimbar dan forum publik, gereja bisa mendorong pemerintahan daerah agar lebih serius melindungi petani, memperbaiki infrastruktur pertanian, dan menjamin stabilitas harga hasil panen.

Hal ini sejalan dengan panggilan gereja untuk melindungi kehidupan, terutama kepada mereka yang paling rentan, yaitu petani kecil yang menggantungkan hidupnya dari tanah dan air.

Perhatian gereja terhadap petani bukanlah hal yang baru, dalam ajaran sosial gereja ada prinsip “preferential option for the poor” atau keberpihakan pada kaum kecil dan lemah.

Petani di Manggarai jelas termasuk kelompok ini sebab mereka sering kali berada pada posisi ekonomi dan sosial yang lemah.

Baca Juga: Karya Profetik Gereja Untuk Ekonomi Membunuh

Dalam ensiklik Laudato Si’ (2015) dari Paus Fransiskus juga menegaskan pentingnya untuk merawat bumi sebagai “rumah bersama” dan memperhatikan mereka yang paling terdampak kerusakan lingkungan, yaitu kaum miskin.

Bagi masyarakat Manggarai para petani adalah pihak yang paling rentan ketika alam rusak.

Karena itu, setiap upaya dan cara gereja dalam mendukung pertanian berkelanjutan sebenarnya adalah wujud nyata dari ajaran Laudato Si’.

Gereja juga menegaskan melalui Gaudium et Spes bahwa “suka duka kaum miskin adalah juga suka duka gereja.”

Melalui pesan ini, sudah sangat jelas gereja tidak hanya diam ketika umat-Nya yang petani tidak mendapatkan keadilan.

Dan perhatian gereja terhadap petani lokal adalah bagian dari spiritualitas iman itu sendiri, Yesus sering menggunakan gambaran petani dalam perumpamaan-Nya beni, ladang, gandum, dan panen yang artinya dunia petani bukan hanya urusan ekonomi tetapi juga pintu masuk untuk memahami iman yang konkret.

 

Penulis: Anastasia Nunut
Mahasiswa Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik, Stipas St. Sirilus Ruteng

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses