Hasil Bumi, Klik dan Dapatkan

Ilustrasi: istockphoto, karya: PrathanChorruangsak.

Digitalisasi pertanian adalah langkah maju yang sangat potensial untuk meningkatkan hasil panen dan efisiensi produksi. Dengan pemanfaatan teknologi, hasil pertanian dapat meningkat secara signifikan, dan para petani dapat bekerja dengan lebih efektif.

Meskipun terdapat tantangan, manfaat dari digitalisasi ini dapat dirasakan dalam jangka panjang, terutama jika pemerintah, swasta, dan petani terus bekerjasama dalam menghadapi hambatan yang ada. Digitalisasi pertanian adalah investasi yang menjanjikan untuk ketahanan pangan di masa depan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Digitalisasi di sektor pertanian telah menjadi salah satu inovasi penting untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Dengan perkembangan teknologi digital, para petani kini dapat mengelola lahan dengan lebih presisi dan menghasilkan panen yang lebih melimpah.

Big data dan analitik di sektor pertanian mengacu pada penggunaan data dalam jumlah besar (big data) dan teknik analisis lanjutan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan  kegiatan pertanian.

Dengan menggunakan sensor, perangkat IoT, satelit, drone, dan sistem digital lainnya, data yang dikumpulkan dapat dianalisis untuk membuat keputusan yang lebih tepat. 

Peran Big Data dalam Pertanian Pengumpulan Data Skala Besar Data diperoleh dari berbagai sumber seperti:

  1. Sensor tanah dan tanaman (pH, kelembaban, kandungan unsur hara).
  2. Satelit dan drone (citra daratan, pemetaan iklim dan vegetasi).
  3. Data cuaca (curah hujan, suhu, pola angin).
  4. Data historis (hasil panen sebelumnya, rotasi tanaman).
  5. Penyimpanan dan Pengelolaan Data 

Big Data menggunakan infrastruktur penyimpanan berbasis cloud untuk menyimpan data dalam jumlah besar secara efisien dan aman.

Analisis dan Prediksi Algoritma analitik, termasuk kecerdasan buatan (AI) dan pembelajaran mesin, digunakan untuk:

  1. Memprediksi waktu tanam dan panen yang optimal.
  2. Identifikasi kemungkinan penyakit tanaman.
  3. Mengoptimalkan penggunaan pupuk dan pestisida.

IoT dalam sektor pertanian adalah langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan di Indonesia. Dengan populasi yang terus bertambah dan tekanan terhadap sumber daya alam, adopsi teknologi ini dapat membantu mewujudkan ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan. 

Baca Juga: Pengembangan Teknologi Air Bawah Tanah sebagai Sistem Irigasi dalam Penanggulangan Musim Kemarau

Internet of Things (IoT) atau pertanian pintar memiliki banyak manfaat dalam bidang pertanian, di antaranya Peningkatan efisiensi IoT dapat membantu petani dan peternak menghemat waktu dan tenaga.

Misalnya, petani tidak perlu berkeliling lahan untuk menyemprot pestisida, mengalirkan air, dan memberi makan ternak,Pemantauan lingkungan dan tanaman.

IoT dapat membantu petani memantau kondisi tanaman dan lingkungan secara real-time. Misalnya, petani dapat menggunakan drone untuk memantau kesehatan tanaman secara detail.

Prediksi cuaca dan kondisi pertanian IoT dapat membantu petani memprediksi cuaca dan kondisi pertanian secara real-time. Pengumpulan data IoT dapat membantu petani mengumpulkan data tentang tanah, pertumbuhan tanaman, dan kesehatan ternak secara real-time.

Pengelolaan biaya IoT dapat membantu petani mengelola biaya dengan tepat. Pemantauan ternak IoT dapat membantu petani memantau kondisi kesehatan dan perilaku ternak secara real-time.

Peningkatan produktivitas IoT dapat membantu petani meningkatkan produktivitas dan efisiensi pertanian. Pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan IoT dapat membantu petani mengelola sumber daya secara berkelanjutan.

Baca Juga: Big Data: Solusi Efisien untuk Pengelolaan Sumber Daya Air di Sektor Pertanian

Penerapan IoT untuk Mengoptimalkan Irigasi oleh Petani di Indonesia

Seorang petani hortikultura di daerah Malang, Jawa Timur, memiliki lahan seluas 2 hektar yang ditanami berbagai sayuran seperti cabai, tomat, dan selada.

Tantangan utama yang dihadapi adalah penyiraman yang tidak efisien, baik karena penyiraman berlebihan yang menyebabkan pemborosan air maupun penyiraman yang kurang optimal yang menurunkan hasil panen.  

Solusi yang Diterapkan Petani tersebut memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) untuk mengoptimalkan irigasi. Berikut adalah langkah-langkah yang dilakukan:

1. Pemasangan Sensor IoT

  • Sensor kelembaban tanah ditempatkan di beberapa titik strategis di lahan. Dipilih berdasarkan variasi tanah dan topografi: Tanah di suatu lahan mungkin memiliki karakteristik yang berbeda (misalnya, di bagian yang lebih rendah mungkin lebih lembap dibandingkan area yang lebih tinggi). Dekat dengan tanaman utama: Sensor diletakkan di dekat tanaman untuk memastikan pengukuran kelembaban relevan dengan kebutuhan tanaman tersebut. Mencakup area luas: Penempatan di beberapa titik membantu mendapatkan data yang lebih akurat dan representatif, terutama di lahan yang luas.
  • Sensor ini mampu mendeteksi kadar air di dalam tanah secara real-time dan mengirimkan data ke sistem cloud melalui koneksi internet. sensor mendeteksi bahwa kadar air tanah turun di bawah ambang batas. Data ini langsung dikirim ke cloud, dan sistem memberikan peringatan atau otomatis mengaktifkan sistem irigasi untuk menyiram tanaman. Semua ini terjadi tanpa perlu intervensi langsung dari petani.

2. Integrasi Perangkat Lunak Analitik

  • Data yang dikumpulkan oleh sensor diolah menggunakan perangkat lunak analitik berbasis cloud. data yang dikumpulkan oleh sensor-sensor (seperti sensor suhu, kelembaban, gerakan, atau lainnya) dikirim ke server di cloud untuk diproses menggunakan perangkat lunak analitik.
  • Perangkat lunak ini menganalisis data kelembaban tanah, cuaca, dan jenis tanaman.

3. Rekomendasi Penyiraman

  • Sistem memberikan panduan otomatis melalui aplikasi seluler mengenai waktu penyiraman yang ideal, jumlah air yang dibutuhkan, dan durasi penyiraman.
  • Jika kelembaban tanah turun di bawah ambang batas, sistem memberikan notifikasi.

4. Otomatisasi Irigasi

  • Petani juga memasang katup irigasi otomatis yang dikendalikan oleh sistem IoT. Saat kelembaban tanah mencapai ambang kritis, irigasi diaktifkan tanpa campur tangan manusia.

5. Hasil yang Didapat

  • Efisiensi Air: Penggunaan air menurun hingga 30%, karena penyiraman hanya dilakukan saat dibutuhkan.
  • Peningkatan Hasil Panen: Produktivitas tanaman meningkat hingga 20% karena tanaman selalu mendapatkan kadar air optimal.
  • Penghematan Biaya Operasional: Mengurangi tenaga kerja manual untuk memantau dan menyiram lahan.

Baca Juga: Teknologi Mesin Pemotong Padi Otomatis terhadap Industri Pertanian

Kasus ini menunjukkan bagaimana teknologi IoT dapat membantu petani dalam pengelolaan irigasi yang lebih cerdas dan efisien. Solusi ini juga mendukung praktik pertanian berkelanjutan di tengah tantangan ketersediaan air yang semakin terbatas.

Penulis:

Aurel Shahwa Pradigta (NIM: 202110200110039)
Mahasiswa Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Malang

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses