Hijrah di Media Sosial: Antara Kesalehan dan Komodifikasi Dakwah di Era Digital

dakwah di era digital
Sumber: Penulis

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, transformasi nilai-nilai keagamaan telah mengalami pergeseran yang signifikan di kalangan generasi muda Indonesia. Fenomena hijrah, yang awalnya dipahami sebagai perubahan spiritual personal, kini telah bertransformasi menjadi gerakan sosial-keagamaan yang membentuk gaya hidup baru.

Komunitas Shift, yang juga dikenal sebagai Pemuda Hijrah, resmi dibentuk pada Maret 2015 di Bandung. Dipimpin oleh Ustadz Hanan Attaki dan berkantor di Masjid Al-Latief, Cihapit, Bandung, komunitas ini dengan cepat berkembang menjadi salah satu platform dakwah digital paling berpengaruh di Indonesia.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Menurut data dari Republika Infographics (berdasarkan riset ISEAS -Yusuf Ishak Institute, 2022), komunitas ini telah mengumpulkan hingga dua juta pengikut di berbagai platform media sosial (Republika, 2022).

Berdasarkan pengamatan aktivitas digital komunitas Shift dan konten dakwah Ustadz Hanan Attaki, tampak bahwa gerakan hijrah ini menciptakan lanskap kesalehan baru yang berbeda dari model-model tradisional.

Jika sebelumnya sesi kajian agama bersifat rutin dan konvensional, dakwah di media sosial kini telah menjadi ruang baru bagi pembinaan spiritual, yang menyajikan nilai-nilai Islam dengan gaya modern, estetis, dan relevan.

Baca Juga: Gerakan Dakwah Menggunakan Media Sosial Perspektif Hadis

Dakwah dan Algoritma

Salah satu keberhasilan komunitas Shift yang paling menonjol adalah kemampuannya menciptakan ruang aman bagi kaum muda Muslim yang merasa terpinggirkan oleh budaya populer dan model-model Islam konservatif. Di ruang digital ini, kaum muda bebas mengekspresikan pencarian spiritual mereka tanpa takut dihakimi.

Gaya dakwah Ustadz Hanan Attaki yang santai dan empatik, yang memanfaatkan narasi kehidupan sehari-hari seperti kegagalan, jatuh cinta, atau kecemasan hidup membangkitkan ikatan emosional yang kuat. Inilah daya tarik utama yang membedakan dakwah digital Shift dari khotbah-khotbah tradisional.

dakwah di era digital

Hijrah sebagai Gaya Hidup

Selain bentuk kajiannya, identitas gerakan hijrah juga dikonstruksi melalui simbol-simbol visual dan gaya berpakaian. Merchandise resmi komunitas seperti kaos, hoodie, tas kanvas, dan stiker bertuliskan “Hijrah itu Keren” atau “Pemuda Syari itu Keren” dijual dan dipromosikan secara luas di media sosial.

Menurut Baudrillard (1998), simbol-simbol ini tidak lagi merepresentasikan makna spiritual transenden, melainkan telah menjadi objek tanda yang dikonsumsi untuk membangun citra diri. Dakwah telah bergeser menjadi identitas gaya hidup yang dapat dibeli, dikenakan, dan ditampilkan kepada publik.

Strategi promosi juga menggunakan pendekatan khas dunia influencer: testimoni pelanggan, hitung mundur peluncuran produk, penawaran terbatas waktu, dan estetika visual yang menarik.

Akibatnya, kesalehan menjadi performatif, bergantung pada algoritma media sosial dan tren digital. Faktanya, persepsi tentang kualitas dakwah seseorang seringkali lebih ditentukan oleh tampilan video, penyuntingan, dan jumlah tayangan daripada kedalaman kontennya (Slama, 2017).

Baca Juga: Gen Z, Islam, dan Perkembangan Teknologi

Spiritualitas di Bawah Bayang-Bayang Pasar

Ambiguitas merupakan inti dari dinamika ini. Di satu sisi, gerakan hijrah digital menawarkan ruang spiritual yang baru, membebaskan, dan menyentuh. Namun, disisi lain, gerakan ini berjalan beriringan dengan mekanisme pasar yang menempatkan agama dalam kerangka komoditas.

Validitas spiritual tidak lagi diukur semata-mata oleh ketulusan atau kontemplasi, tetapi juga oleh penampilan luar, aksesori, dan keterlibatan dalam ekosistem digital.

Situasi ini menciptakan paradoks keagamaan di era digital. Agama, yang awalnya mengajarkan kesederhanaan dan kedalaman batin, kini terjebak dalam estetika, visualisasi, dan nilai-nilai pasar.

Namun, kita tidak bisa begitu saja mengabaikan bahwa banyak anggota komunitas ini sedang mengalami perubahan hidup yang nyata merasa diperhatikan, diperkuat secara emosional, dan terdorong untuk lebih dekat dengan nilai-nilai Islam, meskipun dalam bentuk yang lebih populis.

Oleh karena itu, fenomena hijrah digital, seperti yang dialami komunitas Shift, perlu dipahami secara lebih holistik. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan komodifikasi agama, tetapi juga mewakili kebutuhan spiritual generasi muda yang mencari arah di tengah gempuran modernitas yang cair, disrupsi sosial, dan krisis identitas.

Namun, fenomena ini bukannya tanpa kompleksitas. Modernisasi dakwah tidak hanya mengubah cara penyampaian pesan-pesan keagamaan, tetapi juga menciptakan bentuk-bentuk baru struktur sosial keagamaan yang berorientasi kelas.

Beberapa program studi keagamaan eksklusif di komunitas ini, misalnya, mewajibkan biaya masuk sebesar Rp100.000 hingga Rp150.000 per orang (Muzakki, 2020). Fenomena ini menciptakan hambatan ekonomi terhadap akses siapa yang dapat berpartisipasi dalam pengalaman spiritual secara langsung, dan siapa yang hanya dapat mengamatinya melalui layar ponsel.

Dakwah yang dulunya inklusif dan terbuka, perlahan-lahan terfragmentasi oleh logika konsumsi yang menyerupai konser atau seminar motivasi.

Baca Juga: Podcast sebagai Pilihan Media Dakwah Kreatif di Tengah Pandemi Covid-19

Kesimpulan dan Refleksi

Fenomena migrasi digital menandai fase baru dalam perkembangan dakwah Islam di Indonesia. Ia tidak lagi terbatas pada mimbar-mimbar atau majelis-majelis tradisional, melainkan hadir dan beradaptasi dalam ruang-ruang algoritmik, menjangkau khalayak yang hidup dalam lanskap digital yang cair dan cepat berubah.

Komunitas Shift, dengan segala inovasi dan kontroversinya, telah menjadi simbol bagaimana agama diproses, ditafsirkan, dan dipraktekkan di tengah budaya konsumsi dan logika pasar.

Namun, di tengah euforia gaya dakwah kontemporer, kita juga perlu kembali pada pertanyaan mendasar: mampukah transformasi spiritual tetap bermakna dalam batasan estetika komersial? Apakah agama, yang dikemas dan dijual, masih mampu menembus relung terdalam jiwa manusia? Di sinilah refleksi penting dibutuhkan: bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memastikan bahwa praktik keagamaan tetap berlandaskan nilai-nilai ketulusan, kerendahan hati, dan pencarian makna sejati.

Kesalehan digital adalah realitas baru yang tak terelakkan. Tugas kita sebagai masyarakat adalah mengkritik tanpa mengutuk, memahami tanpa menormalkan, dan mendorong ruang spiritual di era digital agar tetap menjadi tempat pertumbuhan, bukan sekadar tontonan.

Referensi

Baudrillard, J. (1998). The consumer society: Myths and structures. London: Sage Publications.

Muzakki, A. (2020). Islamic preaching and commodification of religion in Indonesia: From creative dakwah to religious pop culture. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 24(1), 1-14. https://doi.org/10.22146/jsp.46521

Republika. (2022). Infografis: Daftar komunitas hijrah dengan pengikut terbanyak. https://visual.republika.co.id/berita/sqy0tu320/Slama,

  1. (2017). Social media and the construction of religious authority in Indonesia. Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde, 173(2-3), 268-290. https://doi.org/10.1163/22134379-1730200468-290

 

Penulis: Asep Saydul Qolbi
Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia

Editor: I. Khairunnisa
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Daftar Isi dan Poin-Poin Artikel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses