Piren Sewu: Kilau Batik Tulis dari Perut Lebakharjo

Di sebuah sudut tenang di selatan Kabupaten Malang, tepatnya di Desa Lebakharjo, sebuah kain menyimpan lebih dari sekadar warna dan motif.

Ia memuat cerita, alam, dan semangat juang seorang perempuan desa.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Ia bernama Batik Piren Sewu, warisan baru yang tumbuh dari akar lama, dirintis oleh tangan yang terbiasa menggenggam cangkul dan mencanting malam.

Menenun Cerita dari Bumi dan Budaya

Desa Lebakharjo dikenal sebagai kawasan agraris subur yang dikelilingi oleh hamparan kebun kopi dan pohon durian.

Di tengah kesibukan bertani, ada sosok Ibu Yanik Fitrianing Dwi Astutik, anggota aktif dari Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat, yang melihat peluang untuk mengubah hasil bumi menjadi inspirasi budaya.

Beliau memberi nama “Piren Sewu” untuk usaha batiknya, gabungan dari kata “Piren” yang berarti kopi dan durian, serta “Sewu” yang berarti seribu.

Nama ini tak hanya merepresentasikan identitas lokal, tapi juga harapan agar batik yang diciptakan bisa dikenal oleh seribu, bahkan sejuta orang di luar desa.

Baca juga: Warisan Budaya dan Identitas Bangsa Batik yang Diakui UNESCO

Warna, Motif, dan Warisan

Batik Piren Sewu tak hanya menjual kain dengan warna-warna cerah. Ia menawarkan kisah dalam setiap motifnya.

Beberapa Motif Unggulan yang Telah Dikembangkan Antara Lain:

  1. Durian Kopi Salak: Memvisualkan kekayaan hasil bumi Desa Lebakharjo.
  2. Garudeya Piren Sewu: Terinspirasi dari kekuatan dan kebanggaan lokal.
  3. Pantai Licin: Menggambarkan eksotisme pantai tersembunyi yang masih berada dalam kawasan desa.

Batik Piren Sewu mengadopsi berbagai metode pembuatan, seperti batik cap, batik tulis untuk sentuhan artistik yang mendalam, serta eco-print, teknik pewarnaan alami yang belakangan populer karena ramah lingkungan dan menghadirkan pola yang lebih organik.

Setiap kain yang dihasilkan bukan hanya hasil keterampilan tangan, tapi juga refleksi dari alam sekitar, tanah, daun, udara, dan budaya yang terus hidup.

Baca juga: Workshop Batik Tulis di Desa Banyuanyar: Kolaborasi Mahasiswa MBKM ISI Surakarta dan Masyarakat untuk Pelestarian Budaya

Di Antara Ladang dan Impian

Namun membangun mimpi dari desa tidaklah mudah. Ibu Yanik masih harus membagi waktu antara ladang dan proses membatik.

Pekerjaan rumah tangga dan kewajiban sebagai petani membuat waktu untuk berproduksi terbatas.

Belum lagi, dalam hal pemasaran, beliau masih bergantung pada penjualan langsung dari mulut ke mulut yang jangkauannya terbatas.

Kondisi ini membuat produksi batik berjalan lambat, dan potensi yang besar ini belum sepenuhnya bisa diakses oleh masyarakat luas.

Sebuah ironi, ketika kualitas batik yang tinggi justru tersembunyi karena keterbatasan sistem distribusi.

Langkah Kecil, Mimpi Besar

Sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya ini, kelompok KKNT Inovasi IPB Desa Lebakharjo berinisiatif membuat e-commerce khusus berupa akun TikTok Shop dan Shopee untuk Batik Piren Sewu.

Kelompok KKNT Inovasi IPB Desa Lebakharjo juga membuat katalog digital, etalase produk, dan video promosi di TikTok, agar masyarakat luas lebih mudah mengenal dan membeli batik ini.

Harapannya, batik khas Lebakharjo ini tak hanya menjadi identitas lokal, tapi juga simbol nasional tentang bagaimana budaya dan alam bisa bersatu dalam sehelai kain.

Batik dan Perempuan: Dua Pilar Kekuatan Desa

Batik Piren Sewu bukan sekadar produk tekstil. Ia adalah simbol perlawanan terhadap keterbatasan dan wujud keberdayaan perempuan desa.

Dari tangan Ibu Yanik, lahir bukti bahwa perempuan bisa berdaya tanpa harus meninggalkan ladang, rumah, atau identitasnya.

Baca juga: Merawat Tradisi, Menyongsong Pasar Global Herbal Nusantara

Dari Lebakharjo untuk Nusantara

Piren Sewu lebih dari sekadar nama. Ia adalah kisah. Ia adalah harapan. Ia adalah suara dari desa kecil yang ingin didengar oleh negeri.

Dalam setiap helai kainnya, terdapat dedikasi, ketekunan, dan cinta terhadap budaya yang nyaris terlupakan.

Kami berharap, semakin banyak orang yang mengenal batik ini bukan karena motifnya saja, tetapi karena kisah di baliknya.

Karena budaya bukan untuk dipajang, tapi untuk dihidupi dan Batik Piren Sewu telah membuktikannya.

 

Penulis: Lutpia Khansa

Mahasiswa Jurusan Sekolah Bisnis IPB University

Editor: Anita Said

Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses