Insomnia: Ketika Pikiran Menolak Beristirahat

Insomnia
Ilustrasi Insomnia (Sumber: Penulis)

Apa yang pertama kali kamu pikirkan ketika mendengar kata “insomnia”? Sulit tidur? Tidur terganggu? Atau hanya begadang di malam hari?

Ya, mungkin itulah yang akan banyak orang pikirkan terkait insomnia. Tapi kamu tahu nggak sih kalau sebenarnya insomnia tidak sesederhana itu?

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Memang, insomnia merupakan salah satu gangguan tidur yang paling umum dan sekitar 6-10% orang dewasa pernah mengalami insomnia, dengan mayoritas berusia 40 tahun ke atas. Tetapi, remaja dan dewasa muda juga cenderung mengalami insomnia, yang diakibatkan oleh stres akademik, penggunaan gadget yang berlebihan, atau gaya hidup yang tidak teratur.

Lalu, apakah kamu tahu? Apa sih yang menyebabkan seseorang dapat mengalami insomnia?

Mari kita bahas sama-sama!

 

Definisi Gangguan Insomnia

Insomnia Disorder atau gangguan insomnia adalah gangguan tidur yang ditandai dengan kesulitan untuk memulai tidur, mempertahankan tidur, atau tidak mendapatkan tidur yang cukup dan nyenyak. Dalam situasi ini, meskipun seseorang tersebut memiliki kesempatan untuk tidur, mereka tetap tidak bisa menjalani tidur yang baik.

Ketika kamu mengalami kesulitan tidur yang berlangsung lama, dan sudah sampai mengganggu kehidupan serta fungsi sosial kamu sehari-hari, segera tangani dengan pihak profesional atau psikolog. Jika tidak segera ditangani, bisa-bisa kesulitan tidur tersebut dapat menjadi masalah klinis yang berkepanjangan.

 

Penyebab dari Gangguan Insomnia

Adapun faktor-faktor penyebab dari insomnia, sebagai berikut:

  1. Tubuh dan pikiran yang terlalu aktif, sehingga seseorang mengalami stres tinggi dan akhirnya mengalami kesulitan untuk tidur.
  2. Ketidakseimbangan zat kimia otak (GABA, serotonin, melatonin, oreksin) yang menyebabkan tidur terganggu.
  3. Kurangnya durasi tidur dapat menurunkan fungsi sistem otak, sehingga racun otak pun menumpuk dan memicu kesulitan pada tidur.
  4. Adanya faktor genetik APOE-ε4. Individu dengan genetik tersebut lebih rentan dalam mengalami gangguan tidur dan mengalami penurunan fungsi otak lebih awal.
  5. Adanya faktor usia, jenis kelamin, dan kondisi kesehatan mental. Orang yang sudah berusia lanjut, wanita, serta individu dengan gangguan mental atau fisik, lebih berisiko untuk mengalami insomnia.

 

Gejala pada Gangguan Insomnia

Mengacu pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, edisi ke-5 (DSM-V), gangguan insomnia memiliki beberapa gejala, yaitu:

  1. Kualitas tidur yang buruk. Contohnya, pada anak-anak ialah seorang anak yang tidak bisa memulai tidur, jika tidak ditemani oleh orang tua atau pengasuhnya.
  2. Gangguan pada fungsi sosial seperti perilaku, pekerjaan, akademik, dan fungsi-fungsi penting lainnya.
  3. Terjadi setidaknya 3 kali dalam seminggu dan berlangsung selama minimal 3 bulan.
  4. Mengalami kesulitan tidur meski sudah memiliki waktu dan kesempatan yang cukup.
  5. Tidak disebabkan oleh gangguan tidur lainnya, seperti narkolepsi, parasomnia, dan lain-lain.
  6. Tidak disebabkan oleh efek obat-obatan, alkohol, atau zat tertentu.

Jika kamu mengalami beberapa hal di atas dan berlangsung dalam waktu yang lama, segera konsultasikan kepada pihak profesional atau psikolog terdekat di daerah kamu dan jangan lakukan self-diagnose.

 

Upaya Pencegahan pada Gangguan Insomnia

Ada beberapa cara untuk mencegah insomnia, beberapa di antaranya, yaitu:

  1. Pada lansia, senam secara rutin akan menurunkan skala kemungkinan pada lansia untuk tidak terkena gangguan insomnia.
  2. Pada remaja, dapat dilakukan edukasi melalui poster terkait sleep hygiene yang baik, agar mencegah adanya gangguan insomnia pada siswa.
  3. Pada seseorang yang telah mengalami insomnia kronis, intervensi psikologis dengan terapi CBT-I dapat dilakukan dengan bertujuan membuat lingkungan tidur yang nyaman dan dengan membatasi konsumsi kafein.

Baca juga: Memahami Insomnia sebagai Gangguan Tidur yang Serius dan Kompleks

 

Dampak dari Gangguan Insomnia

Gangguan insomnia memiliki beberapa dampak, baik kepada diri sendiri, maupun kepada orang lain dan lingkungan sekitar, yaitu:

  1. Konsentrasi otak dan memori yang lemah. Kurang tidur menyebabkan seseorang menjadi sering lupa dan sulit memusatkan perhatian pada sesuatu.
  2. Kemampuan berpikir melemah. Kurangnya tidur membuat seseorang sulit dalam merencanakan, mengambil keputusan, hingga memecahkan masalah.
  3. Risiko depresi meningkat. Kurang tidur membuat hormon stres dan emosi tidak stabil, sehingga seseorang lebih rentan untuk mengalami depresi.
  4. Kerusakan otak. Kurang tidur menyebabkan adanya peradangan dan radikal bebas, sehingga dapat memicu kerusakan pada sel saraf otak.
  5. Pada lansia, memicu alzheimer dan demensia. Kurangnya tidur menyebabkan penumpukan protein berbahaya yang memicu penyakit alzheimer dan demensia.

 

Pengobatan untuk Gangguan Insomnia

Untuk mengatasi gangguan insomnia, intervensi psikologis melalui psikolog klinis dan farmakoterapi yang diberikan oleh psikiater terbukti efektif.

Pada intervensi psikologis, dapat dilakukan terapi yang bertujuan untuk mengubah lingkungan tidur menjadi lebih nyaman, membentuk siklus dan jadwal tidur yang baik, serta relaksasi tubuh dan pikiran agar lebih siap untuk tidur. Sedangkan pada farmakoterapi, klien dapat diberikan obat-obatan yang sudah terbukti aman dalam mengatasi insomnia. Kedua hal tersebut harus dilakukan di bawah pengawasan pihak profesional.

Jika cerita tentang insomnia ini terasa seperti menggambarkan dirimu, ingatlah bahwa kamu tidak sendiri. Banyak orang mengalami hal yang sama, dan ada banyak cara untuk mengatasinya. Yang terpenting, jangan menunda untuk mencari bantuan. Berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan bisa menjadi langkah pertama untuk mendapatkan kembali tidur yang nyenyak dan hidup yang lebih seimbang.

Karena tidur bukan sekadar istirahat, tetapi juga salah satu pondasi paling penting bagi kesehatan tubuh dan pikiranmu.

 

Penulis:

  1. Alya Salshabilla (G1C124088)
  2. Manuella Zara Klista (G1C124097)
  3. ⁠Putu Arya Prananda Putra (G1C124106)

Mahasiswa Psikologi, Universitas Jambi

Dosen Pengampu:

  1. Mindy Maghfira, S.Psi., M.Psi., Psikolog
  2. Hanna Widya Gultom, S.Psi., M.Psi., Psikolog
  3. Nurul Hafizhah, M.Psi., Psikolog

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses