Kanker Bukan Hanya Sekedar Penyakit Fisik?

Kanker sebagai Penyakit Fisik dan Mental
Ilustrasi Penderita Kanker (Sumber: MMI)

Kanker sebagai diagnosis yang mengancam jiwa dan ditakuti, sekaligus menjadi sumber tekanan yang hebat bagi penderitanya. Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2025) menunjukkan bahwa di Indonesia terdeteksi sekitar 400 ribu kasus baru kanker setiap tahunnya, dengan angka kematian mencapai 240 ribu kasus dan Indonesia menempati urutan kedua dari klaim ke BPJS pada tahun 2024 dengan pembiayaan kanker mencapai 6,5 Triliun.

Apabila tidak adanya deteksi dini dan langkah pencegahan yang kuat, diprediksi kasus kanker terus meningkat hingga lebih dari 70 persen pada tahun 2050. Sebagian besar penderita kanker tidak hanya mengalani penyakit fisik, tetapi, banyak dari mereka juga mengalami hal yang berhubungan dengan kesehatan mental.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Banyak pasien kanker yang harus mengalami tantangan emosional, salah satunya adalah depresi, dimana kondisi tersebut dapat menjadi hambatan dalam proses penyembuhan. Sehingga, dapat dilihat bahwa kesehatan mental menjadi hal yang sangat krusial bagi penderita kanker.

Ikkyu (2024) menyebutkan bahwa kondisi kesehatan mental juga berpengaruh pada proses perawatan yang sedang dijalani oleh pasien kanker, kondisi mental yang lebih stabil dapat membuat pengobatan berjalan lebih lancar. Perhatian khusus diperlukan terutama dalam memperhatikan kesehatan mental karena mental yang stabil dibutuhkan untuk menunjang kesehatan fisik pasien kanker.

Kanker merupakan penyakit kronis yang sangat memengaruhi penderitanya, tidak hanya faktor fisik, kondisi psikologis pun menjadi tantangan yang memungkinkan depresi dapat menjadi salah satu penyerta dari penyakit ini. Penelitian Grassi, dkk. (2023) menemukan bahwa tingkat depresi diperkirakan terdapat pada sekitar satu dari empat pasien kanker, dan lima kali lebih mungkin mengalami depresi dibandingkan dengan populasi umum.

Banyak hal akan dilalui selama hidup oleh penderita kanker, keadaan seperti kecemasan dan ketakutan bukan hal yang asing lagi.

Kecemasan pada diagnosis dan pengobatan, pemikiran terhadap stigma sosial pada penyakit kanker, perubahan gaya hidup, serta ketakutan akan hilangnya kendali dan masa depan diri sendiri. Di mana semua hal tersebut menjadi faktor pemicu yang dapat menjuruskan penderita kanker kepada suatu keadaan terganggunya kesehatan mental seperti depresi.

Menurut Fereidouni, dkk. (2024) depresi pada pasien kanker tidak hanya sebatas kesedihan, melainkan perasaan putus asa yang tiada henti, hilangnya minat pada aktivitas yang disenangi, perubahan nafsu makan maupun berat badan, gangguan tidur, kelelahan, kesulitan berkonsentrasi, serta pikiran mengenai kematian yang semakin meningkat.

Depresi pada pasien kanker disebabkan oleh faktor yang datang dari kecemasan pada diagnosis dan pengobatan yang memakan waktu yang panjang. Salah satu pengobatan kanker yaitu kemoterapi. Kemoterapi menjadi salah satu terapi kanker yang memiliki banyak efek samping sehingga berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien.

Efek samping kemoterapi dapat berupa mual, muntah, gangguan kekebalan tubuh, rambut rontok, perubahan warna kulit, dan lain-lain (Gliwska dkk., 2024). Efek samping yang ditimbulkan ini dapat memicu kecemasan dan overthinking atas perubahan yang akan dialami, serta ketidakpastian akan hasil akhir pengobatan.

Stigma masyarakat terhadap penderita kanker juga memengaruhi kondisi psikologis mereka. Masih banyaknya masyarakat yang memandang kanker sebagai suatu hukuman akibat dari gaya hidup yang tidak sehat. Stereotipe tentang “kanker sebagai penyakit yang tidak dapat disembuhkan” terus dipercaya dan dapat memicu ketakutan bagi penderitanya.

Baca juga: Berjuang demi Kesehatan Mental dan Fisik

Padahal, faktanya penyakit kanker dapat disembuhkan dan tidak selalu berakhir pada kematian. Dilansir dari laman Rumah Sakit Pondok Indah, seorang dokter bernama Sonar Soni Panigoro Dr. Sp. B, Subsp. Onk. (K), M.Epid, MARS menyatakan bahwa penyakit kanker dapat disembuhkan, sesuai dengan stadium dan jenisnya (Panigoro, 2024).

Pandangan yang salah ini dapat memicu penderita merasakan takut akan penilaian keluarga, teman, serta lingkungan disekitarnya dan berakibat penarikan diri dari lingkungan sosial sehingga berkurangnya dukungan sosial yang diperoleh.

Perubahan gaya hidup yang dialami penderita juga dapat menjadi pendorong terganggunya kondisi psikologis individu, seperti perubahan pola hidup yang tidak sehat, aktivitas, dan pola makan yang berubah setelah ditegakkannya diagnosis kanker.

Perasaan tidak terbiasa ini dapat mengguncang individu yang dapat menimbulkan gangguan seperti penurunan nafsu makan, hilangnya minat kepada aktivitas tertentu, dan sulit berkonsentasi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Faktor selanjutnya berasal dari ketakutan pasien akan hilangnya kendali dan masa depan diri sendiri. Diagnosis penyakit kanker merupakan penyakit serius membuat penderitanya mengalami emosional yang buruk, kondisi tidak berdaya, dan kebingungan yang terus menyertai. Hal ini berhubungan dengan ketakutan akan kematian dan tidak dapat berjalannya masa depan seperti yang mereka harapkan.

Sejalan dengan penelitian Walbaum, dkk. (2024) yang menunjukkan bahwa kecemasan menjelang kematian merupakan masalah umum dan signifikan secara klinis pada pasien kanker stadium akhir dan berkaitan juga dengan keluarga pasien, dimana mereka mengalami ketakutan yang sama, yaitu kematian pasien.

Seluruh faktor-faktor tersebut mendorong perasaan sedih, putus asa, murung, kehilangan minat terhadap aktivitas, serta banyak gangguan lain yang mengarah pada gangguan kesehatan mental yaitu depresi. Depresi pada penderita kanker dapat memberikan banyak dampak buruk.

Kepatuhan dalam menjalani pengobatan dapat mengalami penurunanan pada pasien dengan depresi, karena mereka cenderung mengalami perasaan putus asa yang menyebabkan hilangnya harapan untuk sembuh.

Penelitian Santosa, dkk. (2023) menemukan bahwa hasil pengobatan yang lebih buruk dan menyebabkan angka kematian lebih tinggi disebabkan oleh kepatuhan pasien kanker dengan depresi dalam melakukan pengobatan. Proses pengobatan kanker yang memerlukan konsistensi akan terganggu akibat dari gejala depresi yang muncul dan membuat pengobatan menjadi terganggu dan berjalan tidak optimal.

Keadaan depresi juga berkaitan dengan penurunan kualitas hidup pasien. Penderita kanker dengan depresi akan mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Banyaknya pemicu yang memperburuk kondisi depresi dan semakin parahnya penyakit kanker akibat dari pengobatan yang kurang maksimal akan membuat pasien kanker dengan depresi dapat menurun kondisi fisik, gangguan tidur, perubahan nafsu dan pola makan.

Penelitian Dewi & Widari juga menunjukkan bahwa tingkatan kualitas hidup dimensi fisik dan lingkungan pada pasien kanker berada pada tingkat rendah.

Kasus yang diberitakan di laman jembranaexpress.jawapos pada 27 Agustus 2025, seorang laki-laki berusia 61 tahun bernama I Gusti Putu Adnyana ditemukan tewas gantung diri di rumahnya di Jembrana, Bali.

Putu nekat mengakhiri hidupnya akibat depresi dengan penyakit kanker usus yang dideritanya tak kunjung sembuh” ucap keluarga Putu. Keluarga menyebutkan bahwa selama ini korban sering mengeluhkan rasa sakit yang luar biasa dan kondisi kesehatannya yang tidak kunjung membaik (Warmadewa, 2024).

Berita ini menjadi bukti nyata bahwa depresi yang dialami oleh pasien kanker bukan hal yang bisa diabaikan. Jika tidak diwaspadai dan diberi penanganan sejak awal, depresi yang diderita oleh pasien kanker dapat menurunkan kondisi fisik maupun psikologis yang berakibat pada kualitas hidup pasien secara menyeluruh, dan menjadikan proses penyembuhan lebih berat bahkan keadaan paling fatal berupa kematian.

Intervensi diperlukan untuk menangani kondisi depresi yang dimiliki oleh pasien kanker. Pengobatan medis saja tidak cukup menangani pasien kanker yang disertai dengan depresi. Intervensi guna menyembuhkan atau mengurangi dampak negatif dari depresi yang menurunkan optimalisasi proses pengobatan penyakit. Pendekatan medis dan psikologis dibutuhkan bersamaan untuk menangani kondisi ini.

Contohnya yaitu pendekatan psikologis berupa psikoterapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dengan berfokus pada pola pikir penderita yang merasa hidupnya sudah tidak berguna, membantu pasien mengenali dan mengatasi pemikiran negatif terhadap penyakit dan dirinya sendiri.

Penerapan CBT terbukti dapat mengatasi berbagai masalah keperawatan akibat efek samping kanker dan pengobatannya yang meliputi masalah depresi yang dialami pasien kanker (Tisnasari dkk., 2022).

Dukungan sosial menjadi hal yang sangat diperlukan, Kehadiran orang-orang terdekat akan mendorong pasien mendapatkan dukungan fisik serta emosional. Perasaan kesepian, kesedihan yang mendalam, setidaknya dapat dikurangi dengan adanya dukungan sosial melalui perasaan dihargai dan bermakna.

Kolaborasi antar profesi kesehatan juga menjadi intervensi yang dibutuhkan. Dalam menangani masalah psikologis yang dialami oleh pasien kanker, peran pskiater sangat dibutuhkan yaitu membantu pasien dalam manajemen stress serta mendukung kondisi mental yang stabil pada pasien kanker, dimana hal ini menunjang pengobatan yang semakin efektif.

Sesuai dengan kutipan “Pengobatan berbasis multidisiplin dapat memberi dampak besar pada pelayanan kanker karena juga bisa meningkatkan usia harapan hidup,” ucap Prof. Deborah A Kuban selaku direktus medis klinik kanker prostat multidisiplin dari MD Anderson Cancer Center (Anna, 2025).

Hal ini menunjukkan bahwa aspek penunjang seperti harapan hidup dapat mulai diatasi dengan pendekatan multidisiplin. Demikian dengan semua tenaga kesehatan yang berkolaborasi diharapkan dapat menciptakan pengobatan yang jauh lebih efektif dibandingkan pengobatan konvensional.

Depresi pada pasien kanker merupakan masalah serius yang perlu segera ditangani, baik dengan intervensi medis maupun psikologis.

Kesehatan mental pada pasien penyakit kronis seperti kanker ini tidak dapat diabaikan, faktor-faktor yang awalnya terlihat kecil dapat berkembang menjadi hal yang besar dan mengganggu kehidupan pasien kedepannya. Berbagai dukungan dibutuhkan guna menjaga kualitas hidup pasien, serta proses pengobatan yang lebih efektif.

 

Penulis: Bunga Lestari (G1C124026)
Mahasiswa Psikologi, Universitas Jambi 

Dosen Pengampu:

  1. Agung Iranda, S.Psi., M.A.
  2. Annisa Dianesti Dewi, S.Psi., M.Psi. Dr.
  3. Nofrans Eka Saputra, S.Psi., M.A.
  4. Azkya Milfa Laensadi, S.Psi., M.Si.
  5. Ayu Ulivia, M.Pd.

 

Referensi

Anna, L. K. (2025, September 27). Kendala Penerapan Tim Multidisiplin dalam Pengobatan Kanker. Kompas.Com.

Dewi, E. U., & Widari, N. P. (n.d.). FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS HIDUP PASIEN KANKER PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI YAYASAN KANKER INDONESIA SURABAYA. STIKes William Booth Surabaya.

Fereidouni, Z., Abnavi, S. D., Ghanbari, Z., Gashmad, R., Zarefour, F., Samani, N. K., Sharma, A. R., & Ghasemi, A. (2024). The Impact of Cancer on Mental Health and the Importance of Supportive Services. GMJ, Ghalen Medical Jurnal, 13.

Gliwska, E., Głąbska, D., Zaczek, Z., Sobocki, J., & Guzek, D. (2024). Multifactorial Analysis of Influences on Quality of Life in Cancer Patients. Nutrients, 16(18). https://doi.org/10.3390/nu16183207

Grassi, L., Caruso, R., Riba, M. B., Lloyd-Williams, M., Kissane, D., Rodin, G., McFarland, D., Campos-Ródenas, R., Zachariae, R., Santini, D., & Ripamonti, C. I. (2023). Anxiety and depression in adult cancer patients: ESMO Clinical Practice Guideline. ESMO Open, 8(2). https://doi.org/10.1016/j.esmoop.2023.101155

Ikkyu, T. (2024, August 8). Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Pasien Kanker. Adi Husada Cancer Center.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Kasus Kanker Diprediksi Meningkat 70 Persen pada 2050, Kemenkes Perkuat Deteksi Dini.

Panigoro, S. S. (2024, August 27). Apakah Kanker Bisa Sembuh? Jangan Khawatir, Kanker Bisa Diobati. Rumah Sakit Pondok Indah Group.

Santosa, I. M. E., Nazamudin, AP, E. B., Cahyono, W., & Sumartyawati, N. M. (2023). Gambaran Tingkat Stres, Kecemasan, dan Depresi pada Penderita Kanker Payudara yang Menjalani Kemoterapi di Ruang Gili Asahan RSUD Provinsi NTB. PRIMA, 9(2).

Tisnasari, I. A. M. A. S., Nuraini, T., & Afiyanti, Y. (2022). Penerapan Cognitive Behaviour Therapy pada Pasien Kanker. Journal of Telenursing (JOTING), 4(1), 177–187. https://doi.org/10.31539/joting.v4i1.3429

Walbaum, C., Philipp, R., Bokemeyer, C., Härter, M., Junghans, J., Koch, U., Oechsle, K., Schilling, G., & Vehling, S. (2024). Death Anxiety in Patients With Advanced Cancer and Their Family Caregivers. Journal of Pain and Symptom Management, 68(6), 622–631. https://doi.org/10.1016/j.jpainsymman.2024.08.027

Warmadewa, I. G. R. (2024, August 27). Diduga Depresi Akibat Sakit Kanker Usus, Putu Adnyana di Jembrana Tewas Gantung Diri. JEMBRANAEXPRESS.JAWAPOS.

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses