Berjuang demi Kesehatan Mental dan Fisik

Kesehatan Mental dan Fisik
Ilustrasi Perempuan Bersepeda (Sumber: MMI)

Ternyata dibalik ruang-ruang rumah sakit, terdapat banyak kenyataan yang selalu disepelekan. Pasien dengan penyakit kronis tidak hanya berjuang melawan rasa sakit tetapi juga menanggung beban mental yang berat.

Di sinilah pendekatan multidisiplin menjadi kunci, bukan hanya sekedar sebagai strategi medis, tetapi sebagai sistem yang menyatukan banyak pengetahuan karena penyakit kronis ini memberikan rasa yang tidak berdaya, kekhawatiran, dan tekanan sosial yang menggerogoti mental.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Dalam penelitian Almeida dkk. (2020) menunjukan bahwa prevelensi Major Depressive Disorder (MDD) pada pasien penyakit kronis seperti diabetes, kanker, parkinson, dan lain-lainnya. Mencapai 20%-40%, depresi bukan hanya memperburuk kondisi fisik pasien, tetapi juga menjadi faktor penurunan kualitas hidup dan meningkatkan risiko kematian dini.

Terkadang diagnosis sering terlewat karena sistem pelayanan kesehatan yang bekerja secara terpisah-pisah, misalnya dokter menangani gejala fisik sementara psikiater yang jarang terlibat dalam tahap penanganan awal pasien. Saat inilah, pendekatan, multidisiplin diperlukan untuk menyatukan berbagai profesi agar diagnosis lebih cepat dan intervensi lebih tepat sasaran.

Di Indonesia sendiri, dalam penelitian Suwandono, Setiawan dkk. (2020) menunjukan bahwa hasil penelitian mendapatkan 23,47% orang di Indonesia memiliki gejala depresi, 20,04% memiliki penilaian kesehatan diri yang buruk, 55,93% memiliki fungsi fisik yang buruk, dan 32,37% memiliki setidaknya satu penyakit kronis.

Orang yang memiliki penilaian kesehatan diri yang buruk, memiliki fungsi fisik yang buruk, atau memiliki kondisi kronis semuanya memiliki peluang yang signifikan lebih tinggi untuk mengalami gejala depresi.

Pendekatan multidisiplin yang menggabungkan beberapa ahli seperti dokter, perawat, psikolog, psikiater, apoteker, ahli gizi, hingga pekerja sosial ikut serta didalamnya. Pendekatan ini tidak hanya mendiagnosis gejala penyakit, tetapi juga mencari tahu bagaimana tubuh, pikiran, dan lingkungan saling memengaruhi.

Menurut Rosenstock (1974) dalam Health Belief Model, seseorang akan mencari bantuan kesehatan jika dia melihat manfaatnya lebih besar daripada hambatannya. Maka, tanpa kolaborasi yang efektif antar tenaga kesehatan, keyakinan itu akan sulit untuk tumbuh.

Berdasarkan kasus yang terjadi di indonesia, di mana pasien dengan penyakit kronis, tidak hanya berjuang melawan sakit fisik, tetapi juga rasa cemas, takut dan kesepian akibat minimnya dukungan psikologis.

Secara pribadi dari sudut pandang saya, saya melihat banyak pasien penyakit kronis merasa kesulitan beradaptasi secara emosional selama menjalani proses penyembukan karena fokus utama rumah sakit masih pada aspek medis saja, tidak adanya perhatian psikologis dalam penanganan menyembuhan akan menyebabkan penderitaan psikis pada pasien yang tak terlihat namun nyata.

Baca juga: Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental di Era Digital: Pentingnya Penggunaan Internet yang Bijak 

Dalam pengobatan kanker, artikel Anna (2025) di Kompas.com menggambarkan bagaimana tim medis multidisiplin meningkatkan akurasi diagnosis kanker hinnga 35% dan mempercepat penetapan stadium sebesar 20%-60%.

Pertemuan antar spesialis dalam Multidisciplinary Team (MDT) memungkinkan diskusi kasus konferhensif, di mana setiap dokter memberikan perspektif berbeda untuk satu pasien. Pendekatan ini memperkuat argumentasi bahwa kerjasama lintas profesi bukan sekedar untuk koordinasi saja, tetapi juga menjadi bagian penting untuk upaya meningkatkan kualitas hidup pasien.

Penerapan Multidisiplin juga diterapkan dalam perawatan anak dengan penyakit ginjal kronis di Indonesia. Penelitian Putri dkk. (2025) menyatakan bahwa perawatan yang melibatkan dukungan keluarga, perawat dan tenaga kesehatan meningkatkan kualitas hidup anak.

Anak-anak yang sedang menjalani pengobatan, sering menghadapi tekanan mental dan sosialnya. Dengan perawatan di rumah sakit, dan dampingan psikolog, anak-anak dapat beradaptasi lebih baik terhadap rutinitas medis yang panjang.

Tetapi, penelitian ini juga menyoroti kendala yang nyata, yaitu kurangnya tenaga medis, beban kerja yang tinggi, dan standar prosedur operasional (SOP) yang belum sama. Kendala ini mengingatkan bahwa pendekatan multidisiplin ini memerlukan dukungan yang sangat baik, demi keberhasilan yang sangat memuaskan.

Pendekatan multidisiplin ini juga berperan, pada kasus yang ada dalam ranah sosial dan psikologis secara mendalam. Krause (2021) dalam penelitiannya terhadap Perempuan dengan Obstetric Fistula di Uganda dan Bangladesh.

Tercatat ada 95%-100% pasien mengalami gangguan kesehatan mental. Ada sekitar 42% pasien ditolak dengan pasangan mereka karena stigma sosial dan keterbatasan layanan medis. Perawatan yang dilakukan oleh dokter, bidan dan pekerja sosial, terbukti mampu memulihkan mental mereka. Dari sini terlihat bahwa penyembuhan tidak bisa dibatasi pada bagian biologis saja tetapi juga nutuh dukungan sosial dan psikoedukasi di dalamnya.

Sementara itu, penelitian kasus oleh Kosim dkk. (2025) menunjukan pendekatan Counsultation Liaison Psychiarty (CLP) membantu pasien dengan penyakit kulit autoimun yang juga menderita gangguan cemas dan depresi. Melalui kombinasi terapi kognitif perilaku (CBT), farmakoterapi, dan psikoedukasi.

Gejala depresi menurun, tidur membaik, dan hubungan sosial pasien kembali stabil. Penelitian ini sejalan dengan pandangan dalam teori atribusi, bahwa individu akan menduga penyakitnya berdasarkan sebab yang mereka percayai. Dengan demikian, pendekatan multidisiplin akan menjadi langkah awal untuk pemulihan pasien.

Penelitian Sicca (2024) yang dibuat di Kompas menyoroti temuan studi internasional dari The Lancet Psychiatry, menyatakan individu dengan penyakit mental yang berat beresiko dua kali lebih tinggi berpotensi mengalami dua atau lebih penyakit kronis dibandingkan populasi umum.

Untuk kelompok usian 40 tahun, risikonya bisa mencapai empat kali lipat. Hal tersebut bisa menurunkan harapan hidup hingga 10–20 tahun lebih rendah dibandingkan populasi sehat.

Kasus ini memperlihatkan siklus yang saling memperburuk. Penyakit mental menurunkan motivasi, sementara penyakit kronis memperparah keadaan pasien. Maka dari itu, pendekatan multidisiplin menjadi sangat penting agar pasien tidak jatuh dalam jurang perawatan yang tidak jelas arahnya.

Kolaborasi antar profesi tenaga medis, sangat memungkinkan pemantauan yang terstruktur. Dengan demikian, pasien tidak hanya mendapatkan obat, tetapi juga dukungan yang membantu pemulihan fungsi sosialnya.

Dari sini kita menjadi tahu bahwa, pendekatan multidisiplin itu membawa perubahan pada suatu komponen yang akan mempengaruhi keseluruhan sistem. Maka, untuk intervensi juga membutuhkan koordinasi antar lintas bidang agar semuanya berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Tanpa arah yang jelas maka intervensi akan tidak sesuai dan sering gagal dalam menghasilkan perubahan yang berarti.

Pendekatan multidisiplin bukan sekedar tren saja dalam pelayanan kesehatan, melainkan kebutuhan yang menentukan masa depan sistem medis yang modern. Setiap pasien membawa cerita yang berbeda-beda. Dengan mengabaikan salah satu aspek saja akan sangat mengurangi peluang kesembuhan bagi pasien.

Dari pasien kanker yang mendapatkan dukungan dari psikolog, hingga perempuan dengan dengan Obstetric Fistula yang kembali percaya diri setelah melalui perawatan. Semua ini menunjukkan bahwa kekompakan sangat dibutuhkan demi penyembuhan sejati melalui kolaborasi antar profesi.

Oleh karena itu, pelatihan, kekompakan, komunikasi dan kerja sama antar tenaga kesehatan perlu ditingkatkan dan dikembangkan. Pendekatan multidisiplin ini bukan hanya sekedar strategi pengobatan saja, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap kemanusiaan keseluruhan.

 

Penulis: Dyan Ayu Fitria
Mahasiswa Psikologi, Universitas Jambi

Dosen Pengampu:

  1. Annisa Dianesti Dewi, S.Psi., M.Psi.
  2. Dr. Nofrans Eka Saputra, S.Psi., M.A.
  3. Azkya Milfa Laensadi, S.Psi., M.Si.
  4. Ayu Ulivia, M.Pd.
  5. Agung Iranda, S.Psi., M.A.

 

Referensi 

Almeida, S. S., Zizzi, F. B., Cattaneo, A., Comandini, A., Di Dato, G., Lubrano, E., Pellicano, C., Spallone, V., Tongiani, S., & Torta, R. (2020). Management and treatment of patients with major depressive disorder and chronic diseases: A multidisciplinary approach. Frontiers in Psychology, 11, 542444. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.542444

Anna, L. K. (2025, Februari 12). Pentingnya tim medis multidisiplin dalam penanganan kanker. Kompas.com. https://www.kompas.com/

Kosim, H., Wardani, I. A. K., Ariani, N. K. P., & Mahardika, I. K. A. (2025). Gangguan campuran cemas dan depresi pada pasien pemfigus foliaceus: Laporan kasus dengan pendekatan psikiatri liaison. PAEDAGOGY: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi, 5(1), 216–223.

Krause, H. (2021). A multidisciplinary approach is needed to improve mental health and social connectedness in women with obstetric fistula, chronic 4th degree tear and severe POP. Australian and New Zealand Continence Journal, 27(4), 93–96.

Putri, M. A., Kartika, K., Widhi, B. W., & Diliyana, Y. F. (2025). Pendekatan holistik keperawatan anak dengan gagal ginjal di Indonesia. Jurnal Keperawatan Widya Gantari Indonesia, 9(2), 179–189.

Sicca, S. P. (2024, Mei 17). Penderita penyakit mental parah cenderung miliki penyakit fisik kronis. Kompas. https://www.kompas.com/

Shi, Y., Li, H., Yuan, B., et al. (2025). Effects of multidisciplinary teamwork in non-hospital settings on healthcare and patients with chronic conditions: A systematic review and meta-analysis. BMC Primary Care, 26(12), 181. https://bmcprimcare.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12875-025-02814-0

Suwandono, A., Setiawan, D., & Puspitasari, I. (2020). Association between chronic diseases and depressive symptoms among adults in Indonesia: A cross-sectional study based on the Indonesian Family Life Survey 2014–2015. BMC Public Health, 20(1), 1187. https://doi.org/10.1186/s12889-020-09342-3

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses