Keberadaan Ikan Larangan sebagai Budaya Lokal Masyarakat Minangkabau: Ikan Larangan Lubuak Landua di Kabupaten Pasaman Barat

Keberadaan Ikan Larangan sebagai Budaya Lokal Masyarakat Minangkabau: Ikan Larangan Lubuak Landua di Kabupaten Pasaman Barat
Sumber: https://jadesta.kemenparekraf.go.id/atraksi/ikan_larangan_surau_buya_lubuak_landua

Abstrak

Masyarakat Minangkabau memiliki berbagai macam budaya salah satunya dengan memelihara ikan larangan di sekitar tempat tinggal yang secara ekonomi memiliki nilai yang cukup tinggi jika dilepaskan dan juga bisa menjalin silaturahmi antar sesama masyarakat di berbagai kampung, jika ikan larangan tersebut sudah diperbolehkan untuk ditangkap.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana cara masyarakat mejaga keberadaan ikan yang ada di sungai supaya tidak mengalami kepunuhan yang disebabkan oleh pencemaran lingkungan dan cara mengelola wisata Lubuk Landua akan tetap dikunjungi wisatawan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Maksud dari ikan larangan ini merupakan ikan yang dilarang untuk ditangkap atau dikonsumsi masyarakat pada suatu daerah tertentu.

Kata kunci: Ikan larangan, Kearifan Lokal, Wisata

 

Abstract

The Minangkabau people have various kinds of culture, one of which is keeping prohibited fish around their homes which economically has quite high value if released and can also build relationships between fellow communities in various villages, if the prohibited fish are allowed to be caught.

This research aims to see how the community maintains the existence of fish in the river so that they do not experience extinction caused by environmental pollution and how to manage Lubuk Landua tourism so that it will continue to be visited by tourists.

The meaning of this prohibited fish is fish that is prohibited from being caught or consumed by the public. in a certain area.

Keywords: Prohibited fish, local wisdom, tourism

Baca Juga: Seberapa Penting Keamanan Pangan Berbasis Produk Perikanan

Pendahuluan

Semakin hari keadaan bumi kita semakin mengkhawatirkan akibat dari Pemanasan global, pencemaran lingkungan (udara, air dan tanah) dan penebangan liar. Akibat dari pencemaran dan kerusakan alam tersebut datangnya berbagai macam bencana alam seperti banjir, tanah longsor, kabut asap serta kekeringan (Atmodja, 1986).

Salah satu cara untuk dapat mengatasi dampak negatif tersebut ialah dengan cara melestarikan kebudayaan lokal mengenai pelestarian lingkungan seperti memelihara Ikan yang ada disungai. Memelihara ikan yang ada disungai juga memberikan dampak positif baik bagi lingkungan maupun masyarakat disekitarnya.

Diantaranya ialah dengan memelihara ikan yang ada di sungai ikan dapat berkembang biak dengan baik, hal tersebut bisa mendukung populasi ikan yang membantu menjaga ekosistem di perairan, contoh dampak positif bagi masyarakatnya ialah sungai tersebut bisa dijadikan tempat wisata yang tentunya bisa membantu perekonomian masyarakat disekitarnya

Sumatera Barat terkenal dengan Ranah Minangnya nan elok dan memiliki banyak sumber daya alam yang berlimpah memiliki kemampuan tersendiri dalam menjaga sumber daya alam agar tidak disalah gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Mereka mempunyai ide tersendiri untuk menjaga alam sekitarnya. Seperti contoh menjaga ikan-ikan yang ada di Lubuak Landua, Buya melakukan larangan terhadap ikan-ikan yang berada disekitar Lubuak Landua. Tradisi ikan larangan merupakan salah satu bentuk kebudayaan lokal masyarakat Sumatera Barat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Ikan larangan ini sendiri memiliki arti ikan yang dilarang untuk di ambil atau dikonsumsi karena siapa yang mengambil atau mengonsumi ikan larangan katanya akan mengalami musibah seperti terkena penyakit aneh, perut menjadi buncit ataupun musibah lainnya.

Ikan larangan ini tidak selamanya tidak bisa di ambil, ikan larangan bisa diambil jika adanya kesepakatan  yang disepakati bersama,orang yang membacakan doa tahlilan sebelumnya boleh melepaskan tahlilannya. Ketika doa tahlilan dibacakan masyarakat boleh memanen ikan bersama-sama. Setelah dirasa cukup maka doa tahlilan akan dibacakan lagi dan selanjutnya ikan terlarang untuk diambil.

Baca Juga: Pelatihan dan Pendampingan Diversifikasi Produk Perikanan Masyarakat Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang

Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa tujuan, yakni:

  1. Untuk mengetahui asal mula ikan Larangan Lubuak Landua
  2. Untuk mengetahui peran ikan dalam budaya lokal
  3. Untuk mengetahui peraturan adat ikan larangan Lubuak Landua
  4. Untuk mengetahui peran ikan larangan Lubuak Landua dalam kehidupan masyarakat

Pembahasan

Asal Mula Ikan Larangan Lubuak Landua

Asal mula ikan larangan Lubuak Landua adalah ketika Buya Lubuak Landua mendirikan surau di lokasi Lubuak Landua sekitar tahun 1921, setelah mendirikan surau tersebut Buya Lubuak Landua mulai memelihara ikan-ikan garing di aliran sungai.

Surau Lubuak Landua ini juga digunakan masyarakat untuk kegitan Suluak, yang dimaksud dengan Suluak disini ialah upaya mendekatkan diri kepada Allah sambil berdiam diri di masjid dengan mengurung diri ditempat yang berukuran kecil yang ditutupi kain agar lebih khusuk dalam menjalankan Suluak.

Ikan larangan Lubuak Landua merupakan bagian dari tradisi masyarakat Pasaman Barat yang sudah turun-temurun mulai dari Buya pertama yang bernama Syekh Maulana Muhammad Basyir hingga penerus yang keenam saat ini yaitu Khalifah Labay Nuzirman.

Ikan larangan Lubuak Landua ini berlangsung lebih dari 160 tahun. Tradisi ini dilakukan dengan mengambil ikan secara tradisional di aliran sungai yang diawasi. Ikan yang ditangkap biasanya jenis garing atau ikan air tawar.

Saat ini usia ikan yang ada di Lubuak Landua sudah beratus tahun, sehingga ikan-ikan yang ada disana berukuran besar dan sangat banyak, tetapi pada bulan Februari 2022 terjadi gempa bumi dimana pusat gempa bumi berada di Kecamatan Talamau yang jaraknya dekat dengan Lubuak Landua.

Gempa tersebut mengakibatkan air sungai yang keruh dan berlumpur sehingga ikan-ikan di daerah tersebut mati karena insang ikan menjadi terganggu oleh lumpur bekas longsoran yang mengalir ke sungai (Eriandi,2022). Tetapi saat ini ikan yang ada di Lubuak Landua sudah kembali seperti semula, karena pada saat bencana ikan-ikan yang masih hidup di pindahkan ke kolam di sekitar sana.

Baca Juga: Pentingnya Mengoptimalkan Ketersediaan Pangan yang Berkelanjutan di Indonesia

Peran Ikan dalam Budaya Lokal

Masyarakat sekitar Lubuak Landua memiliki tradisi yang disebut dengan mancokau atau menangkap ikan di Lubuk Landua yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Tradisi ini dilakukan dengan mengikuti beberapa aturan, di antaranya:

  1. Pemanenan ikan biasanya dilakukan setahun sekali, biasanya dilakukan setelah Idul Fitri. Penangkapan ikan Larangan hanya berlangsung hingga sore, jika dilakukan sampai malam itu akan mengganggu ekosistem ikan.
  2. Alat yang digunakan untuk menangkap ikan larangan biasanya menggunakan jaring atau jala dan senapan dengan anak panah besi.
  3. Masyarakat bersama-sama dalam mempersiapkan lokasi dengan membentuk pagar di sekitar sungai.
  4. Para niniak mamak turun ke sungai untuk melakukan lempar jala pertama.

Peraturan Adat Ikan Larangan Lubuak Landua

Ikan larangan Lubuak Landua tidak boleh diambil sembarangan, mengambil ikan larangan harus izin terlebih dahulu kepada Buya (jika diizinkan). Biasanya ikan larangan boleh diambil jika sudah disepakati bersama dan yang memimpin doa ialah Buya itu sendiri, tetapi Buya tersebut sudah meninggal dunia sehingga ikan-ikan yang berada di Lubuak Landua tidak boleh diambil sampai kapanpun dan sekarang ikan larangan Lubuak Landua dijadikan tempat wisata.

Konon katanya jika seseorang menangkap atau memakan ikan larangan seseorang itu akan mendapatkan musibah seperti perut menjadi buncit, mendapatkan penyakit yang aneh, dan lain-lain, sehingga masyarakat disana tidak berani melakukan hal tersebut.

Peran Ikan Lubuak Landua dalam Kehidupan Masyarakat

Bidang Ekonomi

Letak ikan larangan Lubuak Landua berdekatan dengan surau yang dijadikan tempat suluak, sehingga ikan larangan Lubuak Landua dijadikan tempat wisata. Masyarakat yang datang tidak hanya dari Sumatra Barat saja tetapi masyarakat daerah-daerah lain juga banyak yang melakukan suluak maupun yang hanya berkujunjung ke ikan Larangan Lubuak Landua. Sehingga perekonomian masyarakat disana sedikit terbantu.

Pemanfaatan dana dari hasil wisata ikan larangan Lubuak Landua digunakan untuk membantu orang yang kurang mampu didaerah sekitar sana, memberikan sumbangan untuk anak yatim dan pembangunan untuk surau Lubuak Landua.

Bidang Sosial

Peran ikan Larangan di bidang sosial yakni pada saat pengambilan ikan larangan masyakat bisa menjalin hubungan silaturahmi antar warga, perilaku gotong royong dan memupuk rasa kebersamaan satu sama lain.

Peran Pemerintah

Peran pemerintah yaitu menyediakan fasilitas berupa tempat parkir dan toilet. Pemerintah juga berperan untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam, serta memberikan edukasi kepada wisatawan tentang cara berwisata yang bertanggung jawab seperti tidak membuang sampah ke sungai, tidak mencelakai ikan-ikan yang ada disana dan lain-lain.

Baca Juga: Dukung Usaha Lele, Dosen dan Mahasiswa UST Berikan Pelatihan Keuangan Digital

Dari contoh diatas merupakan salah satu contoh kebudayaan yang ada di Sumatra Barat. Menurut  James L. Peacork  kebudayaan adalah suatu cara hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ikan larangan termasuk kedalam ruang lingkup kebudayaan lokal yang artinya kebudayaan yang ada dan berkembang dalam suatu kelompok masyarakat tertentu di daerah tertentu.

Kesimpulan

Tradisi ikan larangan di Lubuak Landua merupakan bagian dari kebudayaan lokal masyarakat Pasaman Barat yang telah berlangsung lebih dari 160 tahun. Ikan larangan ini bukan hanya berfungsi sebagai cara untuk melestarikan ekosistem perairan, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam dan sosial.

Pentingnya pemeliharaan ikan larangan di Lubuak Landua terletak pada beberapa aspek. Secara ekologis, pemeliharaan ikan ini membantu menjaga keberlanjutan populasi ikan dan ekosistem perairan.

Secara budaya, tradisi ini memperkuat ikatan sosial antar warga melalui kegiatan bersama seperti pemanenan ikan yang dilakukan dengan gotong royong. Selain itu, kegiatan ini memberikan manfaat ekonomi, dengan menarik wisatawan yang tertarik pada keunikan budaya dan alam Lubuak Landua.

Peraturan adat yang mengatur pemanenan ikan larangan juga menunjukkan bagaimana masyarakat setempat menjaga dan menghormati tradisi serta adat istiadat mereka. Dalam hal ini, peran pemerintah sangat penting untuk mendukung pelestarian tradisi ini melalui penyediaan fasilitas dan edukasi kepada masyarakat serta wisatawan, Dengan demikian, tradisi ikan larangan Lubuak Landua bukan hanya bagian dari warisan budaya, tetapi juga merupakan contoh pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

 

Penulis: Lativa Yohana
Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik, Universitas Andalas

 

Daftar Pustaka

Atmodja, I. (1986). Pencemaran Lingkungan dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Manusia. Jakarta: Penerbit Alam.

Eriandi, R. (2022). “Gempa Bumi di Pasaman Barat: Dampaknya Terhadap Ekosistem Lubuak Landua dan Pemulihan Ikan Larangan”. Jurnal Penelitian Lingkungan, 19(3)

Nuzirman, K. (2022). Ikan Larangan di Lubuak Landua: Sejarah, Tradisi, dan Kehidupan Sosial Masyarakat. Padang: Universitas Andalas.

Davian, V. (2022, Maret 3). Berusia ratusan tahun, berikut sejarah ikan larangan Lubuak Landua hingga kematian massal pascagempa. Harian Haluan.

Nurhidayah, E. (2023, November 26). Ikan larangan lubuak landua ikan sakti, benarkah? Kompasiana.

Editor: I. Khairunnisa

Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses