Pada tahun 2016, masyarakat Inggris sepakat untuk keluar dari Uni Eropa setelah pemungutan suara dari survei selama 10 Tahun. Brexit atau “British Exit” adalah proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa.
Keluarnya Inggris dari Uni Eropa tentunya bukan tanpa alasan, melainkan karena beberapa faktor yang tidak menguntungkan Inggris itu sendiri selama menjadi anggota dari Uni Eropa.
Dilansir dari Kompas.com dengan judul “Brexit: Latar Belakang dan Proses Keluarnya Inggris dari Uni Eropa” Inggris bergabung dengan Komunitas Ekonomi Eropa (EEC) pada 1973. Dan pada waktu itu Inggris bergabung dengan tujuan ingin menjadi pasar bebas Eropa serta ingin meningkatkan Kerja sama dengan negara-negara di Eropa.
Lantas faktor-faktor apa yang membuat pemerintah serta Masyarakat Inggris memilih untuk keluar dari Uni Eropa?
1. Ketidakpuasan Inggris terhadap Kebijakan Uni Eropa
Ketidakpuasan Yang dirasakan oleh Masyarakat, Aktor Politik serta non-politik mempengaruhi keinginan agar mereka memiliki kedaulatan akan Negaranya sendiri. dengan Inggris menjadi bagian dari Uni Eropa, itu berarti Inggris harus terikat dengan segala kebijakan yang dibuat oleh Uni Eropa.
Namun sayangnya regulasi yang dibuat Uni Eropa sangat ketat, sehingga Inggris jadi kehilangan kebebasan untuk membuat Keputusan sendiri tanpa Intervensi dari badan legislatif dan hukum Uni Eropa.
2. Anggaran Besar terhadap Uni Eropa
Inggris merasa bahwa Kontribusi Finansial yang dikeluarkan untuk membayar keanggotaan pada Uni Eropa tidak sebanding dengan apa yang didapat.
Mengambil data dari statista.com dengan judul “Net contributions to the budget of the European Union from the United Kingdom from 1973 to 2019” anggaran Tahunan yang di kontribusikan Inggris kepada Uni Eropa mencapai angka paling tinggi 11,6 juta british poundsterling di tahun 2015.
Tapi faktanya dengan anggaran sebanyak itu, Inggris merasa sebaiknya ditujukan untuk pengembangan sektor-sektor di negara sendiri. daripada dana digunakan untuk membayar membership tahunan dan tidak mendapat keuntungan dari situ.
3. Isu Imigran
Isu-isu mengenai imigran adalah salah satu yang paling sensitif jika dikaitkan dengan Masyarakat Inggris. Salah satu kebijakan yang diberlakukan oleh Uni Eropa yaitu “Common Visa” dimana negara-negara anggota Uni Eropa bisa berpindah atau tinggal di Negara anggota lainnya.
Tetapi kebijakan itu menuai kontra dari masyarakat Inggris, karena dengan adanya lonjakan jumlah imigran yang datang untuk bekerja, atau untuk faktor keamanan pastinya akan mempengaruhi banyak bidang, seperti mempersempit lapangan pekerjaan, dan membebani sistem kesejahteraan sosial.
Baca Juga: Islam di Inggris: Sejarah, Perkembangan dan Tantangan
Berdasarkan data yang didapat dari Office for National Statistics dengan judul Long-term international migration, provisional: year ending December 2022, angka imigran dari penduduk negara-negara di Uni Eropa mencapai 326,000 pada desember 2019.
Dari beberapa faktor yang sudah dipaparkan, Keputusan Brexit menjadi puncaknya. Dilansir dari p2k.stekom.ac.id dengan judul ”Brexit”, Referendum Brexit dilakukan untuk menjadi bahan putusan apakah Inggris akan tetap menjadi bagian dari Uni Eropa atau tidak.
Referendum ini diikuti oleh 30 juta pemilih, partisipasi total di dalamnya mencapai 71,8% dari penduduk yang punya hak pilih dan hasilnya sendiri adalah 51,9% memilih untuk keluar dari Uni Eropa dan 48,1% memilih untuk tetap tergabung dengan Uni Eropa.
Suara dominan pada penduduk yang ingin agar inggris keluar dari Uni Eropa. Keputusan itu dikarenakan keinginan para penduduk agar inggris bisa bebas dari kontrol Uni Eropa dan memajukan negaranya sendiri tanpa kerja sama regional yang mengikat anggotanya dengan segala regulasi.
Dampak keluarnya Inggris dari Uni Eropa
Faktanya Setelah Inggris resmi keluar dari Uni eropa. Mata uang poundsterling jatuh karena ketidakstabilan politik dari inggris sendiri, prediksi penurunan kebijakan moneter oleh Bank of England untuk mendukung ekonomi semakin memperburuk sentimen, sehingga mendorong para investor untuk menjual poundsterling.
Dilansir dari artikel Greater London Authority dengan judul “New report reveals UK economy is almost £140billion smaller because of Brexit” Rata-rata penduduk Inggris kehilangan pendapatan hampir £2.000 pada tahun 2023, sementara rata-rata penduduk London kehilangan pendapatan hampir £3.400 tahun lalu dinyatakan juga bahwa terdapat hampir dua juta lapangan pekerjaan lebih sedikit di Inggris Raya akibat Brexit.
Dilansir juga dari artikel The House of Commons Library dengan judul “Statistics on UK-EU trade” bahwa Ekspor barang Inggris ke UE menurun tajam pada Januari 2021 setelah berakhirnya masa transisi Brexit, dan pada tahun 2023, ekspor barang ke UE 11% di bawah level 2019
Penurunan pertumbuhan ekonomi tersebut membuat beberapa studi memperkirakan bahwa Brexit akan menghambat pertumbuhan ekonomi inggris dalam jangka waktu yang Panjang
Begitu juga dengan peningkatan biaya impor yang menjadi akibat dari pound Inggris melemah. Dengan Brexit tentunya ada regulasi baru yang diterapkan Inggris.
Yaitu, pembatasan akses ke pasar uni eropa. Banyak bisnis Inggris yang bergantung pada ekspor dari Uni Eropa. Dan dengan adanya kebijakan ini tentunya membuat impor menjadi mahal.
Baca Juga: James, WNA asal Inggris jadi Mualaf setelah kenal Mahasiswa Brawijaya
Sementara itu dampak politik yang paling menonjol dari keluarnya Inggris dari Uni Eropa ini terlihat dari polarisasi antara pro terhadap Brexit dan kontra terhadap Brexit. Ketegangan akibat hal ini membuat kondisi politik yang tidak selalu stabil dalam negara
Seperti contohnya partai konservatif yang terus mengelukan adanya referendum sebelum diumumkan referendum di 2016, membuat perdana Menteri inggris disaat itu, yaitu David Cameron mengizinkan padahal dia sendiri tidak pro terhadap Brexit, tapi dikarenakan hasil dari referendum itu sendiri yang membuat David Cameron mengundurkan diri dan diganti oleh Theresa may yang ingin agar inggris tetap memiliki hubungan dagang dengan Uni Eropa dan tidak sepenuhnya putus dengan Uni Eropa.
Boris Johnson hadir sebagai perdana Menteri yang mendukung penuh keluarnya inggris dari Uni Eropa, dengan memutuskan Inggris dan Uni Eropa dari semua bidang.
Dikarenakan perbedaan dari setiap perdana Menteri dalam memandang permasalahan ini, membuat ketidakpastian dalam pengambilan Keputusan Brexit dan Uni Eropa.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, walaupun terdapat banyak tantangan yang harus dialami Inggris dari beberapa sektor karena keluar dari Uni Eropa, banyak juga hal positif yang bisa dilihat dari sisi yang berbeda. Seperti kebebasan inggris dalam mengatur sektor perdagangannya sendiri, tentu saja berpengaruh bagi tatanan global dan untuk inggris sendiri.
Karena dengan hal itu inggris tidak lagi terikat dengan kebijakan-kebijakan Uni Eropa, sehingga bisa mengembangkan potensi-potensi dalam ber-inovasi sehingga dapat meningkatkan daya saing Inggris di mata dunia.
Selain itu juga memberikan peluang bagi Inggris untuk memperkuat kerja sama di kawasan Asia-Pasifik dan negara-negara berkembang melalui kesepakatan perdagangan bilateral dan berbagai kerjasama internasional.
Penulis: Keren Angelica Ferina Assa
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Kristen Satya Wacana
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













Super, menambah wawasan Dunia. di tunggu ulasan ulasan lainnya.
Super, menambah wawasan Dunia.