Kolam Susu untuk Anak Cucu

Alam
Pesona pantai Indonesia

Judul lagu: Kolam Susu

Ciptaan: Yok Kueswoyo

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Rilis: 1970

Bukan lautan hanya kolam susu

Kail dan jalan cukup menghidupimu

Tiada badai tiada topan kau temui

Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Baca Juga: Merangkak ke Saku Angkasa

Lirik sederhana ini begitu terpatri dalam benakku, bagaimana tidak, bapakku yang beliau seorang petani sering mendendangkannya manakala menggarap sawah atau sesekali saya dengarkan juga versi aslinya dari radio TARUNA JAYA di jam-jam menjelang sore sambil memperhatikan kerbau bapak yang sedang merumput.

Saya seorang anak desa yang besar bersama rimbunnya pohon-pohon, luasnya bukit-bukit menjadi arena bermain yang begitu tidak terbatas gemuruh ombak pagi sore.

Menjadi nyanyian merdu yang mengantarkan jiwa menghitung usia. Lirik lagu ini terasa begitu nyata karena memang begitu adanya setiap akhir pekan tiba saya begitu riang karena akan diajak serta oleh bapak untuk menemui sang pantai, tak banyak bekal yang saya bawa hanya sebongkah nasi timbel, beberapa cengek dan sejumput garam.

Sandal jepit ada di antara barang bawaan, tidak dikenakan untuk semetara hingga setelah melewati beberapa bukit barulah sampai di jalan beraspal, sandal jepit pun mulai difungsikan. Tidak terasa lelah yang ada hanya suka cita melihat ujung dunia.

Bukan Lautan Hanya Kolam Susu, beginilah negeriku tercinta, sang pencipta lagu begitu manis menggambarkan kenyataan negeri ini di tahun 1970 manakala lagu ini dilahirkan. Takkan ada penghuni pertiwi yang kurang gizi, takkan ada anak bangsa yang kelaparan.subur makmur melimpah anugerah dari sang Kuasa.

Sepanjang perjalanan menuju pantai terus ku dendangkan lirik ini berharap kenyataan ini akan tetap abadi sampai anak cucu nanti.

Kail dan Jala Cukup Menghidupimu, begitu bijaksananya bangsa ini kala itu hidup bersahaja penuh kesederhanaan hidup selaras dengan alam. Mengambil manfaat tanpa merusak, menikmati tanpa menyakiti.

Begitu kaki ini bersua dengan hamparan pasir dan ku lihat bapak segera menyiapkan jala, aku tidak dapat menahan diri untuk bercanda dengan segerombolan kayakas (kepiting pantai), ku kejar mereka tapi tidak satupun berhasi ku tangkap. Bahagianya……

Tiada Badai Tida Topan Kou Temui, yang tidak dapat kau taklukkan. Sang maestro lagu ingin menyampaikan betapa bangsa Indonesia kala itu sangatlah perkasa, cerdas, dan pantang menyerah.

Baca Juga: Kampung Adat Segunung dengan Sejuta Warna di Dalamnya

Terampil mengasah potensi sehingga pertiwi pun dengan senang hati memberi. Gemuruh ombak pantai selatan tak menggentarkan langkah bapak. Leparan demi lemparan jala entahlah berapa kali saya takkan pernah sanggup menghitungnya karena saya fokus saja memungut hasil tangkapan bapak. Bahagianya………..

Ikan dan Udang Mengampiri Dirimu, bagiku Yok Koeswoyo tidak berlebihan dalam mencipta lagu ini karena memang ini adanya, aku saja seorang anak yang berumur 8 tahunan bisa dengan mudah menangkap ikan dan udang-udang yang sengaja datang mengerubuni sebagian kaki mungilku yang terendam air muara pantai.

Ku tangkap mereka ku lepas lagi, kutangkap yang lain dan ku lepas lagi. Takkan ku ingin membawa mereka hidup-hidup untuk ku pajang di dalam toples karena bapak bilang inilah tempat hidup mereka, biarkan mereka bahagia dan berkembang kalau sudah besar-besar baru boleh ditangkap untuk sekadar makan. Bahagianya……

Bahagianya kala itu sebelum tahun 2000.

Orang Bilang Tanah Kita Tanah Syurga, tapi hasil buminya kini entah kemana, kudengar kini banyak anak negeri yang kekurangan gizi.

Orang Bilang Tanah Kita Tanah Syurga, tapi kulihat hanya kapal-kapal saja yang bertebaran berkelap-kelip di sepanjang malam. Tiada ikan tiada udang yang kami nikmati saat ini hanya makanan olahan yang katanya mengandung sari ikan.

Praktis dan mudah disajikan kami pun kenyang tanapa mengganggu waktu emak dan bapak karena sarapan kami ada di gerobak abang-abang pinggir jalan.

Orang Bilang Tanah Kita Tanah Syurga, lirik ini masih sering aku dengar hingga kini. Versi asli dari musisi Koes Plus ataupun yang sudah diaransemen ke versi lainnya, lirik tidak berubah tapi bagiku kini isinya terasa hambar.

Entahlah, apa karena tidak lagi kulihat lautan yang seperti dulu atau karena tak mudahnya kurasakan lagi menikmati hasil alam sendiri. Entahlah….

Baca Juga: Sensasi Berakhir Pekan di Pullman Ciawi Hills Resort Spa Bogor

Mak! Bapak! Ajarkan aku cara menggunakan jala milik kakek moyang ini.

Mak! Bapak! Ajarkan aku mengecap ikan dan udang segar yang langsung dimbil dari rumahnya di lautan kita ini.

Mak! Bapak! Izinkan aku untuk tetap merasakan bahagianya berada di tanah ini yang katanya tanah syurga.

Mak! Bapak! Izinkan aku untuk melihat bagaimana tongkat kayu yang kau tancapkan dapat menjadi makanan.

Mak! Bapak! Izinkan aku untuk melihat bagaimana batu-batu ini dapat menjadi tanaman.

Mak! Bapak! Izinkan aku untuk mewarisi kolam susu ini dan restui aku untuk dapat mewariskannya pula kepada anak cucu ku.

Penulis:

Nita Rosanti
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Surya Kancana

Editor: Ika Ayuni Lestari     

Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses