Sejak kecil saya sering mendengar anggapan bahwa matematika hanya cocok untuk orang pintar. Di sekolah, siswa dengan nilai tinggi sering diberi label jenius, sementara yang nilainya biasa saja dianggap tidak berbakat. Pola pikir ini tanpa sadar ikut terbawa hingga ke bangku kuliah.
Ketika pertama kali masuk Prodi Matematika sebagai mahasiswa semester 1, saya juga sempat meragukan diri sendiri. Apakah saya cukup pintar untuk berada di jurusan ini? Pertanyaan itu cukup sering muncul di awal perkuliahan. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari bahwa matematika di bangku kuliah tidak hanya soal kecerdasan, tetapi juga soal ketekunan dan kemauan untuk terus belajar.
Baca juga: Bertahan di Semester Pertama Matematika: Cerita Mahasiswa Baru Menghadapi Angka
Di pertemuan awal Metode Statistika, dosen saya tidak langsung membahas rumus. Ia justru menjelaskan bagaimana banyak orang keliru membaca data di media, mulai dari grafik ekonomi hingga angka kemiskinan. Dari situ saya memahami bahwa matematika bukan sekadar pelajaran kelas, melainkan alat untuk memahami realitas sosial.
Kalkulus A menjadi mata kuliah yang cukup menantang. Bukan karena rumusnya lebih sulit dari SMA, tetapi karena cara belajarnya yang berbeda. Mahasiswa dituntut membaca dan mencoba lebih dulu sebelum kelas. Di sinilah saya melihat bahwa mahasiswa yang bertahan bukan selalu yang paling pintar, tetapi yang paling konsisten.
Banyak teman seangkatan yang merasa tertinggal hanya karena membandingkan diri dengan orang lain. Padahal, setiap mahasiswa memiliki ritme belajar masing-masing. Menurut saya, perbandingan berlebihan justru menjadi penghambat terbesar dalam belajar matematika.
Mitos bahwa matematika hanya untuk orang jenius perlu diluruskan. Jika terus dibiarkan, masyarakat akan semakin takut pada angka. Padahal, hampir semua keputusan publik hari ini berdasarkan data. Rendahnya literasi numerasi bisa berdampak pada kesalahan memahami informasi penting.
Baca juga: Matematika yang Selalu Setia Menemani Kita dalam Kehidupan Sehari-hari
Sebagai mahasiswa matematika, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk ikut meluruskan pandangan ini. Tidak harus melalui penelitian besar, tetapi bisa dimulai dari tulisan, diskusi, atau penjelasan sederhana kepada lingkungan sekitar.
Beasiswa KIP-K yang saya terima menjadi motivasi tambahan untuk terus bertahan dan belajar. Saya ingin membuktikan bahwa kesempatan yang diberikan negara dapat dimanfaatkan dengan baik. Menurut saya, ketekunan adalah kunci utama untuk berkembang di jurusan matematika.
Semester pertama mengajarkan saya bahwa matematika bukan soal bakat semata. Ia adalah soal proses, kesabaran, dan kemauan untuk terus mencoba. Itulah pelajaran penting yang saya rasakan sebagai mahasiswa baru.
Penulis: Libran Abyan Pasha
Mahasiswa Prodi Matematika Universitas Pamulang
Aktif juga di Himatika (Himpunan Mahasiswa Matematika)
Editor: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












