Logika Bocor ‘Warisan Stunting’: Inovasi Mahasiswa Membongkar Sabotase SDGs

Logika Bocor 'Warisan Stunting': Inovasi Mahasiswa Membongkar Sabotase SDGs.

Sebuah kisah dibagikan di aplikasi Tiktok tidak lama ini, seorang ibu membagikan kejadian kurang mengenakkan yang menimpa anaknya. Sang anak mengalami batuk hebat, rewel sepanjang malam, hingga bibir dan kuku yang membiru. Dokter mendiagnosa anak tersebut terkena pneumonia.

Diagnosa tersebut meninggalkan tanda tanya besar kepada sang Ibu: bagaimana bisa anaknya terkena pneumonia, padahal ia rutin membersihkan rumah, memberikan ASI eksklusif, dan suaminya pun sudah “bijak” merokok di luar serta berganti pakaian setelahnya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Ternyata, ganti baju saja tidak cukup. Residu asap rokok yang tertinggal dapat menjadi penghambat utama dalam penyerapan nutrisi. Implikasinya, anak menghadapi ancaman kesehatan seperti stunting di kemudian hari.

Sibuk mengisi “ember kebutuhan gizi”, sementara di sisi lain residu asap rokok meracuni anak, membuat ember tersebut bocor dari dua sisi. Adapun upaya pemerintah yang gencar mengatasi stunting lewat perbaikan gizi, sanitasi, dan pelayanan kehamilan (sejalan dengan poin SDGs nomor  2 dan nomor 3) dapat tersabotase.

Warisan Asap Rokok Ketiga (Third Hand Smoke)

Third Hand Smoke (THS) disebut ‘warisan’ stunting karena dua alasan. Pertama, residu THS menempel kuat dan lama di lingkungan atau benda; sofa, karpet, mainan anak dan lainnya.

Kedua, dampaknya yang bersifat lintas generasi, di mana anak-anak harus ‘membayar’ harga dari paparan residu perokok. Tanpa tahu, tanpa mau, dan tanpa bisa menghindarinya. 

THS menjadi ancaman laten (tersembunyi) karena mengandung logam berat (timbal dan kadmium) hingga senyawa penyebab kanker (nitrosamin). Senyawa tersebut bersaing untuk menyabotase penyerapan nutrisi. Sabotase ini dapat dibagi menjadi dua:

1. Sabotase Internal (Kompetisi Gizi)

Logam berat yang diserap anak akan bersaing dengan mineral esensial pada tubuh (zat besi, seng, dan kalsium) yang dibutuhkan anak untuk tumbuh dan kembang. Kemudian, logam berat tersebut nantinya akan merebut jalur penyerapan nutrisi di usus atau berperan sebagai antinutrisi (gizi terhalang racun).

2. Sabotase Eksternal (Kerusakan Akut dan Kronis)

Ketika imunitas anak terganggu akibat terhirup atau tertelannya partikel THS, hal tersebut dapat membuat anak lebih rentan terhadap penyakit lainnya. Kemudian jika  anak sudah terjangkit infeksi atau penyakit, anak akan menolak makanan dan ASI.

Penolakan asupan, terbuangnya nutrisi (diare) ditambah dengan persaingan penyerapan nutrisi, hanya akan menciptakan gizi buruk akut. 

Alasan anak-anak atau batita menjadi kelompok yang rentan terpapar THS dikarenakan dua kondisi unik mereka; pola perilaku dan biologis.

  1. Tidak bisa memilih lingkungan;
  2. Memasukkan benda/ tangan ke mulut;
  3. Sistem imun dan organ yang belum matang;
  4. Ginjal belum optimal (ekskresi racun lebih lambat);
  5. Kebutuhan nutrisi tinggi (absorpsi nutrisi bersaing dengan logam berat);
  6. Frekuensi pernapasan yang lebih cepat (menghirup residu lebih banyak). 

Hal-hal krusial tersebut menjadi pendukung dalam percepatan absorpsi residu THS yang dapat mengganggu pertumbuhan, perkembangan kognitif, fungsi imunitas, dan sebagainya.

Baca Juga: Ayo Cegah Wasting pada Anak dengan Gizi Seimbang

Solusi Menutup Kebocoran Ember Gizi

Indonesia  sedang berusaha menurunkan angka stunting di 19,6% (dari target 14,2% pada tahun 2029).  Bukan sekadar angka, ini adalah taruhan untuk mencapai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu mengakhiri segala bentuk malnutrisi (SDG 2) dan menekan angka kematian balita (SDG 3).

Upaya ini tidak boleh tersabotase. Saya menyadari kesadaran publik adalah langkah awal, tetapi imbauan saja tidak cukup.

Sebagai mahasiswa yang menjunjung Tridharma Perguruan Tinggi, saya melakukan penelitian dan mengembangkan sebuah solusi inovasi bernama SniffySmoke

SniffySmoke adalah sistem deteksi dini residu THS (Asap Rokok Ketiga) berbasis Internet of Things (IoT). Sederhananya, ini adalah “hidung elektronik” yang menggunakan multisensor dan Artificial Intelligence (AI) untuk “mencium” dan menganalisis senyawa beracun (seperti formaldehida dan nikotin) yang menempel di permukaan benda secara real-time.

Ketika seorang ayah berpikir sudah aman karena merokok di luar, SniffySmoke akan membuktikan sebaliknya. Perangkat ini  mendeteksi residu yang menempel di sofa, mainan anak, atau karpet, lalu mengirimkan peringatan langsung ke aplikasi mobile.

Baca Juga: Penyebab dan Cara Pencegahan Terjadinya Stunting pada Balita

Ini adalah cara untuk mengubah ancaman laten (tersembunyi) menjadi data yang visible (terlihat), sekaligus implementasi langsung dari SDG 3.d (penguatan sistem peringatan dini kesehatan).

Inovasi seperti SniffySmoke tidak bisa berhenti sebagai gagasan inovasi. Berkaca dari inisiatif di luar negeri, pengembangan sistem deteksi dini adalah langkah logis berikutnya.

Untuk mengakselerasi implementasi inovasi ini, saya merasa jembatan kolaborasi sangat dibutuhkan, terutama dialog antara mahasiswa lintas-disiplin di tingkat nasional, ASEAN, bahkan global.

Inilah cara kita memastikan anak-anak dan orang di sekitar kita terhindar dari residu THS, sekaligus menjaga agar program gizi nasional dan SDGs tidak tersabotase. Bersama kita wujudkan penyerapan nutrisi terbaik untuk mencetak Generasi Emas Indonesia 2045.

Penulis: Aisyah Berlianti Afriandi
Mahasiswa Teknogi Informasi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya

 

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses