Perubahan iklim telah menjadi konsekuensi terburuk atas perkembangan peradaban manusia yang dihadapkan oleh teknologi.
Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), kerugian global akibat perubahan iklim saat ini telah mencapai USD 430,1 miliar pada 2020–2021. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat hingga USD 2.328 triliun pada 2025–2100 (Statista, 2025).
Jika diibaratkan, uang sebanyak ini dapat membeli 1,86 triliun porsi nasi goreng. Cukup untuk memberi makan seluruh umat manusia yang ada di bumi selama 6 abad lamanya.
Kabar baiknya adalah jumlah kerugian ini dapat dikendalikan. Jika kenaikan suhu global tidak sampai mencapai 1,5°C, potensi kerugian dapat ditekan hingga USD 1.062 triliun. Maka tak heran, jika dunia kini mulai menghitung langkah untuk mewujudkan pergerakan ekonomi yang lebih hijau.
Salah satunya adalah melalui agenda Sustainable Development Goals (SDGs 2030). Agenda SDGs tidak hanya menjadi fondasi atas aksi-aksi pelestarian lingkungan, tetapi juga memastikan pertumbuhan ekonomi berjalan secara inklusif dan berkelanjutan.
Sehingga, untuk mewujudkan hal tersebut sektor keuangan memiliki andil yang sangat besar untuk menjadi akselerator dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Bank Indonesia melalui prinsip Green Macroprudential Policy meluncurkan berbagai inisiatif untuk mempercepat transisi ekonomi hijau, salah satunya adalah pengadaan kalkulator hijau.
Kalkulator Hijau adalah sebuah aplikasi mobile yang dirancang untuk dapat membantu menghitung jumlah emisi karbon secara mudah dan gratis untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pelaporan emisi gas rumah kaca (GRK).
Aplikasi ini dirancang untuk memantau aktivitas ekonomi dan keberhasilan transisi ekonomi hijau, membantu mempermudah dalam pemenuhan kebutuhan laporan keberlanjutan (disclosure) yang disyaratkan oleh regulator dan pasar global, serta membuka akses investasi dan pendanaan hijau yang lebih luas.
Sehingga, inovasi ini tidak hanya menjadi salah satu instrumen aktif edukasi publik yang dapat membantu masyarakat dalam memahami secara lebih dalam mengenai dampak aktivitas ekonomi terhadap keberlanjutan lingkungan dan membuka akses finansial yang lebih berkelanjutan untuk pelaku usaha (termasuk UMKM).
Sehingga, dengan pemahaman ini, pengambilan keputusan finansial dapat dilakukan dengan lebih bertanggung jawab dan ramah lingkungan.
Selain itu, Kalkulator Hijau juga menjadi sarana yang penting dalam membangun ekosistem literasi keuangan hijau di Indonesia.
Dalam hal ini, Bank Indonesia tidak hanya sekadar menjalankan perannya dalam menjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga memastikan bahwa aliran pembiayaan mengarah kepada sektor-sektor prioritas yang mendukung pencapaian SDGs.
Upaya ini selaras dengan Roadmap Keuangan Berkelanjutan Indonesia 2021-2025 yang menargetkan peningkatan inklusi keuangan hijau dan penguatan kapasitas lembaga keuangan dalam menilai risiko lingkungan.
Maka dari itu, kehadiran Kalkulator Hijau dapat menjadi jembatan penghubung antara kebijakan nasional dan partisipasi publik dalam mewujudkan ekonomi rendah karbon.
Dengan demikian, kesadaran akan green financial akan dapat terus meningkat. Seiring dengan meningkatnya kesadaran penuh terhadap setiap keputusan finansial, secara perlahan tapi pasti, pelaku usaha akan dapat membangun sistem manajemen yang berkelanjutan dengan mengacu pada keseimbangan 3P (profit, planet, and people).
Baca Juga: Krisis Tanah Akibat Iklim: Ancaman bagi Keamanan Manusia di Indonesia
Hal ini menjadi pondasi penting atas implementasi SDGs poin 12 (Responsible Consumption and Production) dan SDGs poin 13 (Climate Action).
Melalui terbentuknya kesadaran bahwa aktivitas ekonomi dan lingkungan harus berjalan beriringan, diharapkan dapat mendorong perilaku produksi dan konsumsi yang lebih bertanggung jawab. Sehingga, langkah nyata menuju ekonomi hijau yang inklusif dan kuat bukan lagi hanya sekadar wacana global.
Tak hanya itu, Kalkulator Hijau juga telah menjadi tanda atas sebuah langkah nyata untuk mengkonversikan komitmen SDGs ke dalam tindakan-tindakan konkret.
Dampaknya bahkan dapat meluas hingga ke berbagai dimensi SDGs lainnya, seperti SDGs poin 8 (Decent Work and Economic Growth) dan SDGs poin 17 (Partnerships for the Goals).
Melalui kesadaran akan pentingnya keberlanjutan, rasa tanggung jawab akan tumbuh dan mengakar dalam nurani individu untuk dapat berperan aktif. Kesadaran ini dapat mendorong inisiatif untuk menjalin kolaborasi lintas sektor, di mana menjadi kunci penting dalam memperluas adopsi ekonomi hijau.
Sehingga, dalam jangka panjang, inisiatif seperti ini dapat memperkuat ketahanan ekonomi, meningkatkan inovasi, dan menumbuhkan budaya bisnis yang lebih etis dan berkeadilan.
Menakar untuk menumbuhkan kesadaran, menata dengan partisipasi aktif, dan melangkah bersama menjadi esensi sebuah perjalanan menuju Indonesia yang berkelanjutan. Setiap perubahan besar akan dimulai dari perubahan-perubahan kecil yang dilakukan secara terus menerus dan kolektif.
Kesadaran yang diiringi oleh komitmen yang kuat menjadi kunci penting dalam mewujudkan perubahan. Tanpa aksi yang nyata, SDGs hanya menjadi agenda global yang tidak memiliki dampak.
Keberhasilan dalam mencapai SDGs bergantung pada sejauh mana setiap masyarakat dapat selaras dan saling mendukung untuk memperkuat ekonomi berkelanjutan, demi Indonesia yang lebih tangguh dan berdaya.
Penulis: Hanna Lailatul Fadhila
Mahasiswa Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












