Manajemen Krisis dalam Komunikasi Korporat: Studi Kasus PT Pertamina (Persero) dalam Isu Pertamax Oplosan Tahun 2025

strategi komunikasi korporat
Manajemen Krisis dalam Komunikasi Korporat: Studi Kasus PT Pertamina (Persero) dalam Isu Pertamax Oplosan Tahun 2025. Sumber: Penulis.

Abstrak

Artikel ini membahas strategi manajemen krisis komunikasi yang diterapkan PT Pertamina (Persero) dalam menghadapi isu viral “Pertamax Oplosan” pada awal tahun 2025. Krisis reputasi ini mengancam kepercayaan publik terhadap produk dan citra perusahaan BUMN tersebut.

Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus dengan analisis deskriptif kualitatif berdasarkan publikasi jurnal, pernyataan resmi, dan media daring.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Hasil kajian menunjukkan bahwa Pertamina menerapkan strategi komunikasi krisis berbasis situational crisis communication theory (SCCT) dengan kombinasi respons denial dan rebuild, di mana perusahaan melakukan klarifikasi publik, pemeriksaan independen, serta kampanye transparansi kualitas BBM.

Strategi ini terbukti efektif dalam menurunkan tingkat disinformasi dan memulihkan kepercayaan publik secara bertahap.

Pendahuluan

Krisis komunikasi merupakan kondisi yang tidak dapat dihindari dalam operasional korporasi besar, terutama di era digital yang ditandai dengan kecepatan penyebaran informasi.

Pada Januari 2025, PT Pertamina (Persero) menghadapi krisis komunikasi yang serius akibat munculnya isu “Pertamax Oplosan” di media sosial.

Tuduhan tersebut memicu reaksi negatif publik dan mengancam citra perusahaan sebagai penyedia energi nasional yang terpercaya.

Fenomena ini menunjukkan pentingnya penerapan manajemen krisis komunikasi yang responsif, transparan, dan berbasis data.

Kajian Teori

Menurut Coombs (2007), Situational Crisis Communication Theory (SCCT) menjelaskan bahwa strategi komunikasi krisis harus disesuaikan dengan tingkat tanggung jawab organisasi terhadap krisis.

Dalam kasus tuduhan palsu (false rumor), pendekatan yang efektif adalah strategi denial (penyangkalan) disertai bolstering (penguatan citra). Sementara Fearn-Banks (2017) menekankan pentingnya rapid response dan konsistensi pesan dalam mengelola persepsi publik.

Baca Juga: Gaya Kepemimpinan Korporat dalam Menghadapi Misinformasi

Studi Kasus PT Pertamina

Krisis bermula dari unggahan viral di TikTok dan X (Twitter) yang menampilkan perbandingan warna bahan bakar Pertamax dengan bahan bakar lain, disertai narasi “Pertamax dioplos.”
PT Pertamina merespons dalam tiga tahap utama:

1. Tahap Reaksi Cepat (Rapid Response)

Dalam 24 jam, Pertamina mengeluarkan pernyataan resmi melalui kanal media sosial dan siaran pers, menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak benar dan telah dilakukan uji laboratorium oleh lembaga independen.

2. Tahap Verifikasi dan Edukasi Publik

Pertamina mengundang media dan lembaga konsumen untuk menyaksikan langsung proses distribusi dan pengujian BBM.

Kampanye #PertamaxAsliTerbukti diluncurkan di media sosial untuk memperkuat transparansi dan kepercayaan publik.

3. Tahap Pemulihan Reputasi (Reputation Rebuilding)

Perusahaan memperkuat komunikasi internal dan memperluas media engagement melalui wawancara eksklusif dengan Direktur Utama dan pakar energi.

Strategi ini berhasil menekan isu negatif dan memulihkan persepsi publik dalam dua minggu setelah krisis memuncak.

Baca Juga: Penerapan Situational Crisis Communication Theory (SCCT) dalam Komunikasi Korporat Roti’O pada Kasus Penolakan Pembayaran Tunai terhadap Konsumen Lansia

Kesimpulan

Krisis “Pertamax Oplosan” menunjukkan bahwa kecepatan dan akurasi dalam komunikasi korporat menjadi faktor kunci dalam mempertahankan reputasi di era digital.

Pertamina berhasil mempraktikkan manajemen krisis yang efektif dengan menerapkan strategi komunikasi berbasis data,transparan,dan berorientas ipublik. Kasus ini menjadi pembelajaran penting bagi perusahaan lain untuk selalu siap menghadapi potensi digital misinformation crisis melalui kesiapsiagaan komunikasi strategis.


Penulis: Alby Hamdallah (Nim: 231012600238)
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang


Dosen Pengampu: Dr. Surti Wardani, S.Sos., M.Si.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi 


Daftar Pustaka

Coombs, W. T. (2007). Protecting Organization Reputations During a Crisis: The Development and Application of Situational Crisis Communication Theory. Corporate Reputation Review.

Dwitama, A. R. (2025). Strategi Komunikasi Krisis Unilever Indonesia Dalam Menghadapi Tuduhan Boikot Pro-Israel. Jurnal Komunikologi, Universitas Esa Unggul.

Firdausi, M. K. A., & Mandalahi, L. (2025). Strategi Krisis Komunikasi PT Telkom Indonesia Dalam Menangani Gangguan Layanan Indihome. Jurnal Media Akademik

Fearn-Banks, K. (2017). Crisis Communications: A Casebook Approach. Routledge

Siregar, I. N., Adelia, C., & Nainggolan, E. (2025). Pendekatan Komunikasi Humas PT Pertamina (Persero) Dalam Meredam Dampak Viral Isu Pertamax Oplosan. Jurnal IKRAITH-Ekonomika, Universitas Persada Indonesia YAI. PDF

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses