Manajemen Perpustakaan Modern: Kunci Bertahan di Era Serba Digital

Manajemen Perpustakaan Modern
Perpustakaan kini bukan sekadar deretan rak buku konvensional. Melalui sistem berbasis teknologi, kita menyimpan, mendistribusikan, dan menjaga keberlangsungan pengetahuan melampaui batas fisik. (Ilustrasi: Dok. MMI)

Perkembangan Teknologi Informasi

Perkembangan teknologi informasi memberikan dampak yang signifikan terhadap cara organisasi dalam mengelola pengetahuan. Perpustakaan tidak hanya menyediakan layanan konvensional, tetapi juga mengimplementasikan sistem berbasis teknologi untuk menyimpan, mendistribusikan, serta menjaga keberlangsungan pengetahuan.

Perpustakaan yang telah berinovasi di bidang digital adalah Perpustakaan Digital M. Zein, yang sejak tahun 2016 telah menghadirkan berbagai layanan digital seperti Mapeldig, Gobook, Mading digital, dan radio streaming.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional RI pada tahun 2023, hanya 45% perpustakaan di Indonesia yang telah mengimplementasikan sistem informasi digital dalam pengelolaannya (Perpusnas, 2023). Transformasi digital perpustakaan menjadi semakin krusial di era pasca-pandemi, di mana akses informasi jarak jauh dan layanan digital menjadi kebutuhan utama.

Data dari Kementerian Pendidikan menunjukkan peningkatan 300% dalam permintaan akses ke sumber daya digital perpustakaan selama periode 2020-2023. Tantangan yang dihadapi tidak hanya terbatas pada aspek teknologi, tetapi juga mencakup kesiapan sumber daya manusia, infrastruktur, dan standarisasi proses bisnis.

Dunia berkembang semakin pesat dalam sehari-harinya. Dengan perkembangan zaman yang semakin modern dan kemudahan untuk mengakses segala hal, seluruh elemen yang ada di dalam masyarakat dituntut untuk dapat beradaptasi. Hal ini bukan tanpa alasan, karena kebutuhan akan informasi dan kemudahan akses menjadikan masyarakat sangat bergantung terhadap akses informasi dan selalu ingin mengetahui informasi terbaru.

Baca juga: Perkembangan Teknologi Informasi: Internet of Things (IoT)

Sumber Daya Manusia: Kunci Bertahan di Era Digital

Manajemen merupakan bagian paling penting dari ilmu administrasi, yaitu merupakan inti administrasi. Secara sederhana, administrasi mengandung pengertian sebagai “suatu proses penyelenggaraan kegiatan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan”. Sementara manajemen merupakan pengendalian dan pemanfaatan semua faktor dan sumber daya (Sutarno, 2006).

Dalam manajemen, manusia merupakan salah satu sumber daya yang dapat berfungsi untuk mencapai tujuan. George Terry menyatakan bahwa management is a distinct process consisting of planning, organizing, actuating, and controlling, performed to determine and accomplish stated objectives by the use of human beings and other resources.

Baca juga: Transformasi Digital Tak Cukup dengan Teknologi: Pentingnya Strategi SDM dan Operasional

Pendapat ini juga didukung oleh Don Heleroegel, James A.I. Stones, dan Donald Mosky (Qalyubi, 2003). Oleh karena itu, sumber daya manusia (SDM) memainkan peran penting dalam perusahaan-perusahaan jasa. Perkembangan pemahaman khususnya manajemen perpustakaan di Indonesia tentu saja tidak terlepas dari peran aktif para pustakawan ataupun pemerhati dunia kepustakawanan.

Lasa Hs (2008) menyatakan bahwa perpustakaan merupakan sistem informasi yang di dalamnya terdapat aktivitas pengumpulan, pengolahan, pengawetan, pelestarian, penyajian, serta penyebaran informasi. Informasi meliputi produk intelektual dan artistik manusia.

Tulis-menulis merupakan penyebaran ide, pemikiran, ilmu, dan informasi yang bisa tembus dimensi waktu, geografi, ras, dan agama. Maka ilmuwan dan profesional (termasuk pustakawan) yang tidak menulis ibarat burung bersayap satu yang hanya bisa hinggap dari ranting satu ke ranting lain atau dari satu pohon ke pohon lain. Hal ini tentunya berbeda dengan ilmuwan dan profesional yang memiliki tulisan; mereka ibarat burung bersayap dua yang mampu terbang lintas benua.

Peran Pustakawan dalam Pelayanan Referensi Berbasis Virtual: Studi Kasus di Perpustakaan Nasional RI

Dalam melaksanakan aktivitas tersebut, diperlukan ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan formal atau nonformal di bidang perpustakaan, dokumentasi, dan informasi. Dalam pengertian ini, perpustakaan dititikberatkan pada sistem dan informasinya, meskipun juga memerlukan tempat.

Artinya, sistem kepustakawanan harus selalu berubah dan informasi kenyataan juga selalu berkembang. Perubahan ini memerlukan sumber daya manusia yang akan menggerakkan perubahan itu. Pemikiran Lasa Hs mengenai manajemen perpustakaan, khususnya tentang manajemen sumber daya manusia dalam kepustakawanan, menjadi fokus dalam pembahasan ini.

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemikiran Lasa Hs mengenai manajemen sumber daya manusia dalam kepustakawanan. Lasa Hs mulai aktif menulis sejak remaja. Pada awalnya beliau banyak menulis dengan topik keagamaan. Seiring perjalanan waktu, beliau konsen pada empat topik penulisan yaitu religi (agama), kepustakawanan, penulisan, dan manajemen.

Lasa Hs (2013) menyatakan bahwa manajemen perpustakaan adalah segala usaha pencapaian tujuan perpustakaan dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan informasi. Kebutuhan SDM untuk perpustakaan perlu direncanakan dengan mempertimbangkan faktor jenis kegiatan, kualitas dan kuantitas tenaga, spesialisasi, pemanfaatan teknologi informasi, dana, dan tingkat pendidikan.

Baca juga: Sunyi yang Bermakna: Perpustakaan di Tengah Hiruk Pikuk Digital

Oleh karena itu, kebutuhan SDM antara satu perpustakaan dengan perpustakaan yang lain tidak sama. Menurut Lasa Hs, perkembangan perpustakaan perguruan tinggi terlihat lebih nyata dibanding perpustakaan sekolah/madrasah. Beliau merasa mendengar “tangisan” perpustakaan tersebut. Karena hal ini, Lasa Hs menyampaikan pemikirannya mengenai SDM perpustakaan sekolah/madrasah yang dimungkinkan terdiri dari guru, pustakawan, tenaga fungsional lain, dan karyawan.

Guru pustakawan adalah guru sekolah yang mendapatkan pendidikan atau pelatihan bidang perpustakaan minimal berbobot 30 Satuan Kredit Semester. Posisi guru pustakawan adalah sebagai agen perubahan yang memengaruhi dan mengarahkan seluruh komponen sekolah untuk mencapai kualitas pendidikan serta membentuk lingkungan sekolah yang kondusif untuk proses belajar.

Oleh karena itu, guru pustakawan hendaknya memiliki lima kompetensi. Pertama, kompetensi personal, yaitu kemampuan individu dalam berkomunikasi dan bekerjasama untuk menciptakan nilai lebih dari penyelenggaraan suatu kegiatan. Kompetensi ini diperoleh melalui pendidikan, pengalaman, dan bersifat kepribadian.

Kedua, kompetensi manajemen, di mana guru pustakawan diharapkan mampu memahami visi, misi, tujuan, perencanaan SDM, anggaran, koleksi, dan pemberdayaan perpustakaan. Mereka juga harus memahami koordinasi kegiatan perpustakaan seperti pengolahan dan penjajaran yang kiranya dapat ditempuh dengan pengangkatan model paruh waktu.

Dengan demikian, seorang pustakawan dalam satu minggu dapat menangani beberapa perpustakaan sekolah. Dengan cara ini, perpustakaan sekolah semakin lama akan tertata sesuai ilmu perpustakaan dan berperan serta mengembangkan profesi pustakawan dalam penyusunan Standar Nasional Perpustakaan Sekolah.

Analisis Perpustakaan Beserta Sumber Daya Manusia

Perpustakaan merupakan salah satu lembaga atau pusat informasi yang menyediakan koleksi yang beraneka ragam dan memberikan pelayanan maupun fasilitas kepada pengunjung di lingkungan lembaga perguruan tinggi. Berdasarkan Undang-Undang No. 43 Tahun 2007, terdapat beberapa jenis perpustakaan:

  1. Perpustakaan Umum.

  2. Perpustakaan Khusus.

  3. Perpustakaan Perguruan Tinggi.

  4. Perpustakaan Sekolah.

  5. Perpustakaan Nasional.

Beberapa kegiatan layanan teknis meliputi: pengadaan koleksi, pengolahan bahan pustaka, preservasi bahan pustaka, dan alih media digital bahan pustaka. Sedangkan kegiatan layanan pengguna merupakan layanan yang diberikan pustakawan kepada pengguna dalam rangka memanfaatkan sumber daya yang ada (koleksi, layanan, sarana, dan prasarana).

Contoh layanan pengguna antara lain: layanan sirkulasi, referensi, koleksi terbitan berkala, koleksi langka, serta layanan koleksi digital dan multimedia (Surachman, 2015). Rachmawati (2008) menyatakan bahwa manajemen sumber daya manusia bertujuan untuk meningkatkan dukungan SDM guna meningkatkan efektivitas organisasi dalam rangka mencapai tujuan. SDM harus didefinisikan bukan dengan apa yang mereka lakukan, tetapi apa yang mereka hasilkan.

Perencanaan pengembangan SDM adalah hal yang penting demi meningkatkan kemampuan dan pengalaman tenaga perpustakaan. Perencanaan penambahan tenaga seringkali dilakukan karena masih kurangnya SDM yang ada. Namun, hambatan pengembangan SDM muncul karena perpustakaan tidak berdiri sendiri, melainkan berada di bawah naungan universitas (seperti contoh pada Universitas Kapuas Sintang) sehingga anggaran bergantung pada pihak yayasan pengelola.

Perpustakaan sebagai lembaga penyedia jasa informasi memerlukan teknologi informasi untuk memberikan pelayanan yang lebih baik. Berbagai kemudahan yang ditawarkan teknologi, baik berupa produk maupun metode, menjadi pilihan rasional untuk mengembangkan layanan. Selain untuk operasional teknis (automasi perpustakaan), teknologi juga diperlukan dalam merespons perkembangan media penyimpan informasi.

Solusi dan Rekomendasi

Supaya manajemen sumber daya manusia perpustakaan tetap terjaga dan mampu bertahan di era digital, perlu dilakukan langkah-langkah berikut:

Meningkatkan Kompetensi Guru Pustakawan (Personal dan Manajerial)

Guru pustakawan perlu terus meningkatkan kompetensi melalui pendidikan dan pelatihan agar mampu beradaptasi dengan teknologi dan kebutuhan layanan modern.

Melakukan Pengelolaan SDM secara Terencana

Mencakup perencanaan, pengembangan, dan evaluasi kinerja yang berorientasi pada hasil untuk meningkatkan efektivitas organisasi.

Mengoptimalkan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Automasi

Teknologi harus dioptimalkan baik dalam kegiatan teknis maupun layanan pengguna guna meningkatkan efisiensi.

Menerapkan Standar Nasional Perpustakaan Sekolah

Penguatan peran pustakawan dalam pengembangan profesi dan penerapan standar nasional agar pengelolaan tetap profesional dan relevan.

Baca juga: Tantangan dan Peluang Manajemen Perpustakaan di Era Digital

Penutup dan Saran

Manajemen sumber daya manusia dalam perpustakaan memiliki peran yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan layanan di era digital. Guru pustakawan sebagai agen perubahan dituntut memiliki kompetensi personal dan manajerial agar mampu mengelola perpustakaan secara profesional dan adaptif. Pemanfaatan teknologi informasi serta penerapan sistem automasi perpustakaan menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas layanan.

Sebagai saran, guru pustakawan perlu terus belajar melalui pendidikan dan pelatihan. Sekolah diharapkan memberikan dukungan penuh baik dari segi kebijakan, anggaran, maupun fasilitas. Pengelolaan SDM harus berorientasi pada hasil, dan inovasi layanan berbasis digital harus terus dikembangkan agar perpustakaan tetap relevan dan diminati oleh masyarakat di era modern.


Penulis: Shafwah Wardatunnimah
Mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta


Dosen Pengampu: Dr. Lolytasari, S.Ag., M.Si.


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses