Memahami Konsep Motivasi dalam Perspektif Psikologi dan Konsep Niat dalam Perspektif Islam

Memahami Konsep Motivasi dalam Perspektif Psikologi dan Konsep Niat dalam Perspektif Islam
Sumber: pixabay.com

Motivasi menjadi salah satu topik terpenting bagi psikolog. Sebab, sebuah perilaku sangat berpengaruh dalam mengendalikan dampak serta akibat terhadap kehidupan manusia. Penentu perilaku yang dihasilkan dapat berasal dari dalam diri sendiri maupun dari luar diri seseorang.

Maka dari itu, teori motivasi sangat dipengaruhi oleh aspek mana yang menjadi fokus masing-masing ahli. Disini penulis lebih awal akan menjelaskan konsep motivasi dalam perspektif psikologi menurut teori Ryan & Deci (2008).

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Konsep Motivasi dari Perspektif Psikologi

Teori determinasi diri Deci & Ryan (2008) menjelaskan bahwa dalam teori determinasi diri, perbedaan yang paling terlihat terletak pada motivasi mandiri (motivasi otonom) dan motivasi yang dikendalikan.

Motivasi otonom mencakup motivasi intrinsik dan ekstrinsik yang telah diinternalisasi oleh individu. Sebaliknya, motivasi yang dikendalikan melibatkan regulasi eksternal di mana perilaku seseorang dipengaruhi oleh hadiah atau hukuman dari luar.

Berdasarkan sumbernya, motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: 1) Motivasi Intrinsik, yang bersumber dari dalam diri individu. Ketika seorang siswa memiliki motivasi intrinsik, mereka terlibat dalam tugas tanpa mencari pengakuan atau insentif eksternal.

Misalnya, jika seorang atlet memperoleh kesenangan dan kepuasan dari berlatih bola basket, hal ini menunjukkan bahwa motivasinya bersifat intrinsik. 2) Motivasi Ekstrinsik, yang bersumber dari luar, disebut motivasi ekstrinsik, didorong oleh faktor eksternal, bukan keinginan internal.

Individu dengan motivasi seperti ini cenderung melakukan tindakan dengan tujuan memperoleh imbalan dari lingkungannya, seperti kompensasi uang, piala, sertifikat, atau bentuk pengakuan lainnya.

Teori motivasi determinasi diri  mengungkapkan bahwa individu mengalami motivasi intrinsik ketika perilaku mengikuti kebutuhan akan kompetensi, otonomi, dan keterhubungan, tetapi ketika perilaku mengungkapkan keinginan untuk mencapai nilai-nilai lain seperti reputasi, uang, pengakuan, dan sebagainya, maka perilaku tersebut bersifat motivasi Ekstrinsik.

Determinasi diri pada dasarnya terjadi ketika beberapa kebutuhan dasar seseorang terpenuhi secara memadai. Menurut Deci dan Ryan, kebutuhan dasar tersebut memiliki tiga faktor antara lain:

Kemampuan/Kompetensi

Kompetensi merupakan cara efektif untuk menghindari situasi yang muncul di lingkungan. Dalam bidang pendidikan, istilah ini mengacu pada  hasil yang baik dalam proses belajar mengajar, dan dalam beberapa hal berkaitan erat dengan penyelesaian ujian yang berhasil dan cermat.

Otonomi

Ini adalah dorongan yang  menjadi penting bagi kehidupannya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Otonomi dalam konteks motivasi mengacu pada kemampuan individu untuk mengendalikan dan mengarahkan motivasi mereka sendiri tanpa bergantung sepenuhnya pada faktor eksternal atau dorongan dari orang lain.

Keterhubungan (Pergaulan)

Ada keinginan universal untuk bergaul dengan orang lain dan merasa terhubung dengan suatu kelompok. Kebutuhan ini berfokus pada kemampuan untuk berinteraksi, berhubungan, berpartisipasi, mencintai dan peduli terhadap orang lain.

Baca Juga: Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Masyarakat Perspektif Al-Quran

Selanjutnya penulis akan menguraikan konsep niat dalam perspektif islam menurut Imam Al-Ghazali

Konsep Niat dari Perspektif Islam

Menurut al-Ghazali (1980) terdapat beberapa elemen pembentukan niat dalam melakukan sesuatu tingkah laku, Kekuatan utama perilaku adalah kehendak, yang dipengaruhi oleh dua hal: ilmu dan kemampuan. Dalam konteks ilmu, Allah SWT  yang pertama memberikan ilmu kepada manusia.

Ilmu adalah hal pertama yang timbul dalam hati manusia. Namun, pengetahuan itu sendiri tidak akan memunculkan niat tanpa adanya dorongan. Sebagai contoh, seseorang mungkin menyadari pentingnya makanan untuk kelangsungan hidup.

Tetapi jika tidak ada dorongan untuk makan, tubuh tidak akan bergerak untuk mencari makan. Dengan demikian, pengetahuan tentang pentingnya makanan tidak akan bermanfaat jika tidak ada keinginan yang menggerakkan. Oleh karena itu, kehendak diperlukan dalam membentuk niat.

Kehendak yang pasti dilihat dalam dua keadaan. Pertama, melalui keputusan hati untuk mengazamkan suatu tindakan baik dan mendapat pahala. Kedua, melalui keputusan untuk bertindak dengan menggunakan anggota badan, yaitu dengan menggerakkan anggota badan untuk melakukan apa yang telah diinginkan.

Kehendak adalah ketika seseorang menggunakan akalnya untuk menilai sesuatu dan menyimpulkan bahwa itu adalah baik untuk dirinya, lalu muncul keinginan dan kehendak untuk melakukannya (al-Ghazali, 1977). Namun, ilmu dan keinginan saja tidak cukup untuk melakukan suatu tindakan kecuali jika ada kemampuan, yaitu energi dan kemampuan fisik untuk melakukannya.

Kecenderungan dan keinginan tidak akan bisa dilaksanakan tanpa adanya kemampuan untuk menggerakkan anggota badan. Sebagai contoh, seseorang yang lumpuh tidak akan bisa memenuhi keinginannya untuk berlari karena kakinya tidak dapat bergerak.

Jadi, Kesimpulan mengenai elemen pembentukan niat dalam perspektif islam adalah tentang bagaimana kita membuat keputusan untuk melakukan sesuatu, ada dua hal utama yang kita perlukan: pengetahuan dan kemampuan.

Pengetahuan membantu kita mengerti apa yang perlu kita lakukan, sedangkan keinginan untuk melakukannya mendorong kita untuk menggunakan kemampuan kita dalam bertindak.

Konsep Motivasi dalam Perspektif Psikologi dan Konsep Niat dalam Perspektif Islam memiliki hubungan yang erat dan saling melengkapi dalam memahami dorongan yang mengarahkan perilaku manusia. Keduanya berperan penting dalam membentuk tindakan, baik dalam konteks individual maupun spiritual.

Baca Juga: Apa Perbedaan Pandangan Psikologi Islam dan Psikologi Barat?

Berikut adalah benang merah yang menghubungkan kedua konsep tersebut:

Definisi dan Esensi

Motivasi dalam Psikologi

Dorongan internal yang menggerakkan seseorang untuk bertindak atau berperilaku dalam cara tertentu. Ini mencakup kebutuhan, keinginan, tujuan, & insentif yang mempengaruhi perilaku.

Niat dalam Islam

Keinginan atau tekad dalam hati seseorang untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu, terutama dalam konteks ibadah dan amal. Niat adalah penentu keikhlasan dan diterimanya amal dalam Islam.

Tujuan dan Arah

Motivasi

Mengarahkan perilaku untuk mencapai tujuan tertentu, baik itu tujuan jangka pendek maupun jangka panjang. Tujuan ini bisa bersifat material, sosial, atau emosional.

Niat

Mengarahkan tindakan untuk mencapai ridha Allah dan mendapatkan pahala. Tujuan utama dari niat dalam Islam adalah untuk memastikan bahwa setiap tindakan dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan syariat.

Pengaruh terhadap Perilaku

Motivasi

Memengaruhi seberapa keras seseorang bekerja untuk mencapai tujuan mereka, seberapa konsisten mereka dalam usaha mereka, dan bagaimana mereka menghadapi hambatan.

Niat

Memengaruhi kualitas dan keikhlasan dari tindakan seseorang. Dalam Islam, amal yang dilakukan tanpa niat yang benar dianggap tidak memiliki nilai di sisi Allah.

Implikasi Praktis

Motivasi

Memahami motivasi penting untuk membantu individu mencapai potensi penuh mereka, mengatasi hambatan, dan meningkatkan kesejahteraan mental.

Niat

Menjaga niat yang baik dan benar adalah kunci untuk mendapatkan keberkahan dalam hidup dan memastikan setiap tindakan berkontribusi pada keselamatan akhirat.

 

Penulis: Zahrul Husna
Mahasiswa Jurusan Konsentrasi Psikologi Pendidikan Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Referensi

Mokthar, Mohammad Zulfakhairi bin. “Penilaian Terhadap Konsep Niat Dalam Teori Niat Bertingkah Laku (Tra) Dari Perspektif Konsep Niat Dalam Islam.” Jurnal Al-Sirat 18, no. 1 (2019): 19–32.

Utomo, Ardyansyah Arief Budi. “Peranan Intrinsic and Extrinsic Motivation Dalam Meningkatkan Prestasi Olahraga,” 2018. https://osf.io/preprints/inarxiv/kz7fc/.

 
Editor: I. Khairunnisa

Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses