Kekerasan dalam rumah tangga sering dipahami sebagai peristiwa yang tersembunyi dan berlangsung di ruang privat, karena korban dibungkam oleh rasa takut terhadap stigma sosial (Rakovec, 2014).
Namun, dalam novel Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, kekerasan itu tidak hadir sebagai bayangan samar, melainkan sebagai kenyataan yang terlihat, terdengar, dan dialami oleh tokoh Salva, seorang anak yang berusia enam tahun.
Sosok ”papa” tidak hanya digambarkan sebagai fitur otoriter, tetapi sebagai pelaku kekerasan fisik yang secara nyata memukul “mama”, menjadikan rumah yang seharusnya menjadi ruang aman sebagai tempat paling berbahaya bagi Salva.
Melalui sudut pandang Salva, pembaca tidak hanya diajak menyaksikan kekerasan sebagai peristiwa, tetapi juga merasakan dampaknya pada cara seorang anak memahami dunia.
Teknik membaca yang digunakan dalam memahami novel ini adalah intensive reading dan critical reading.
Intensive reading diterapkan karena novel menuntut pembacaan yang cermat dan bertahap terhadap bahasa, simbol, serta struktur naratif untuk memahami perkembangan karakter dan konflik batin tokoh secara mendalam (Cárdenas, 2020).
Sementara itu, critical reading digunakan untuk menafsirkan makna tersirat dengan cara mengevaluasi gagasan, menarik kesimpulan, serta memahami maksud penulis berdasarkan pengetahuan sebelumnya (Shihab, 2011).
Pemilihan kedua teknik ini memungkinkan pembacaan novel tidak hanya berhenti pada pemahaman cerita, tetapi juga pada pengkritisan pesan dan nilai yang dikandungnya.
Pada bagian awal novel Di Tanah Lada berfokus pada pengenalan tokoh Salva dan lingkungan keluarga yang penuh kekerasan.
Kekerasan domestik ditampilkan secara nyata melalui tindakan fisik ayah terhadap ibunya, yang disaksikan secara langsung oleh Salva.
Ide pokok pada bagian ini adalah runtuhnya makna rumah sebagai ruang aman serta terbentuknya ketakutan dan trauma sejak dini dalam diri Salva.
Bagian tengah novel ide pokok bergeser pada upaya pelarian dan pencarian jalan keluar terhadap kekerasan.
Pertemuan Salva dengan P, seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun, menghadirkan arah baru dalam cerita, yakni perjalanan sebagai upaya melarikan diri terhadap kondisi hidup mereka berdua yang penuh kekerasan dan penindasan.
Pada bagian akhir novel, ditampilkan dua kemungkinan akhir cerita yang berbeda, yakni akhir yang sedih dan akhir yang lebih bahagia, yang dibiarkan berdampingan sebagai pilihan makna bagi pembaca.
Baca Juga: Refleksi Pembelajaran Teori Sastra: Menemukan Cara Baru Membaca Teks dan Realitas
Pada bagian ini, Salva mengungkapkan pandangannya tentang “lada” melalui gagasan membuat kamus versinya sendiri, di mana lada tidak dimaknai sebagai sesuatu yang pedas dan menyakitkan, melainkan sebagai tempat yang menumbuhkan kebahagiaan.
Pemaknaan ini mencerminkan cara pandang anak dalam mengolah pengalaman pahit menjadi harapan sebagai bentuk strategi bertahan hidup, sebagaimana dikemukakan Qizi (2025) bahwa tokoh anak dalam fiksi kerap mentransformasikan trauma dan kekerasan menjadi sumber kemampuan untuk bertahan.
Dengan menghadirkan akhir terbuka novel ini menempatkan pembaca sebagai penentu makna, apakah cerita dipahami melalui akhir yang tragis atau melalui akhir yang lebih optimistis.
Struktur naratif novel Di Tanah Lada mengikuti perjalanan hidup tokoh utama, Salva, yang diwujudkan melalui petualangannya bersama P menuju “tanah lada”, yakni rumah nenek yang berada di seberang pulau.
Perjalanan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga simbolik, karena merepresentasikan upaya Salva melarikan diri dari ruang domestik yang penuh kekerasan menuju harapan akan ruang yang lebih aman.
Alur cerita bergerak secara progresif mengikuti pengalaman dan ingatan Salva, sehingga pembaca diajak menyusuri dunia yang dilihat dan dirasakan langsung oleh tokoh anak.
Sudut pandang yang dominan digunakan dalam novel ini adalah orang pertama dari perspektif Salva.
Pilihan sudut pandang ini memperkuat kesan kepolosan, keterbatasan pengetahuan, serta kerentanan tokoh utama karena pembaca hanya dapat memahami peristiwa melalui apa yang dilihat dan dirasakan oleh Salva.
Baca Juga: Superioritas yang Membusuk: Kritik Identitas dan Kolonialisme dalam Novel Salah Asuhan
Sebagaimana dikemukakan Morini (2011), narasi orang pertama membentuk keintiman antara narator dan pembaca, sehingga persepsi pembaca terhadap peristiwa sangat dipengaruhi oleh sudut pandang tokoh yang bercerita.
Oleh karena itu, struktur teks tidak bertujuan menyajikan gambaran yang objektif, melainkan realitas sebagaimana dipahami oleh seorang anak, sehingga pembaca perlu membaca secara kritis untuk menangkap makna kekerasan dan konflik yang tersirat.
Gaya bahasa dalam Di Tanah Lada ditandai oleh penggunaan asosiasi dan metafora yang kuat, terutama dalam penggambaran tokoh ayah yang kerap diasosiasikan dengan sosok “monster” atau “hantu”.
Metafora ini merefleksikan ketakutan dan trauma Salva terhadap figur ayah sebagai pemegang otoritas dalam keluarga.
Selain itu, penulis memanfaatkan pengulangan kata atau frasa (repetisi) untuk menekankan situasi kekerasan dan tekanan psikologis yang dialami tokoh utama.
Penggunaan repetisi tersebut menciptakan ritme yang menegangkan dan menegaskan bahwa kekerasan terjadi secara berulang, sejalan dengan pandangan Onič dan Kacijan (2020) bahwa pengulangan dalam teks naratif dapat memperkuat tekanan psikologis dan menyoroti relasi kuasa antara pelaku dan korban.
Bahasa yang digunakan pun cenderung sederhana, mencerminkan cara berpikir anak, namun tetap tajam dalam menampilkan realitas kekerasan melalui perumpamaan yang lahir dari ketakutan dan kebingungan tokoh utama.
Baca Juga: Resensi Novel: Laut Bercerita
Tujuan penulisan Di Tanah Lada tidak dapat dilepaskan dari posisi Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie sebagai penulis yang kerap mengangkat tokoh anak dalam karya-karyanya.
Ketertarikan ini berangkat dari kegelisahan penulis terhadap pandangan masyarakat yang sering kali tidak menganggap anak-anak sebagai subjek yang penting.
Anak diposisikan hanya sebagai “suara-suara muda” yang pendapat dan pengalamannya tidak perlu didengar.
Melalui novel ini, penulis berupaya menghadirkan suara anak sebagai pusat narasi. Pengalaman Salva menjadi medium untuk menunjukkan bahwa anak-anak memiliki perspektif yang sah dan bermakna dalam memahami realitas, termasuk realitas yang penuh kekerasan.
Dengan demikian, tujuan penulis bukan sekadar menceritakan kisah petualangan anak, melainkan menggugat cara pandang orang dewasa yang mengabaikan pengalaman dan trauma anak-anak.
Sebagai karya sastra, Di Tanah Lada tidak menyampaikan argumen secara eksplisit sebagaimana teks ilmiah, tetapi membangun gagasannya melalui narasi, sudut pandang, dan pengalaman tokoh.
Argumen utama novel ini adalah bahwa anak-anak merupakan subjek yang rentan terhadap kekerasan dan pengabaian, sekaligus memiliki pengalaman batin yang kompleks dan layak untuk didengar.
Baca Juga: Membaca Dunia lewat Mata Sastra
Argumen tersebut dibangun secara konsisten melalui perjalanan hidup Salva, relasinya dengan figur ayah yang represif, serta upaya pelarian simbolik menuju “tanah lada” sebagai ruang harapan.
Kualitas argumen novel ini terletak pada koherensi antara bentuk dan isi. Penggunaan sudut pandang anak, bahasa yang sederhana, serta metafora seperti ayah sebagai monster atau hantu memperkuat pesan tentang trauma dan ketakutan tanpa perlu penjelasan normatif.
Repetisi peristiwa dan frasa yang menandai kekerasan juga mempertegas bahwa pengalaman tersebut bersifat berulang dan membentuk kesadaran tokoh.
Meskipun tidak disertai data atau rujukan teoretis, kekuatan argumentatif novel ini muncul dari representasi pengalaman yang meyakinkan dan emosional, sehingga pembaca dapat menarik kesimpulan kritis secara mandiri.
Dalam konteks akademik, novel Di Tanah Lada memiliki relevansi yang kuat, khususnya dalam kajian sastra, humaniora, dan ilmu sosial.
Novel ini dapat dianalisis melalui pendekatan psikologi sastra untuk memahami dampak trauma pada anak, sosiologi sastra untuk mengkaji relasi kuasa dalam keluarga, serta kajian anak yang menempatkan anak sebagai subjek narasi.
Selain itu, novel ini menunjukkan fungsi sastra sebagai medium kritik sosial yang efektif dalam menyampaikan realitas kekerasan domestik dari perspektif yang kerap terpinggirkan, sejalan dengan pandangan Lestari dan Dewi (2025) bahwa sastra mampu menyuarakan kritik sosial melalui penyampaian emosi dan gagasan yang mendorong refleksi pembaca.
Dengan demikian, Di Tanah Lada tidak hanya memiliki nilai estetis sebagai karya sastra, tetapi juga nilai akademik sebagai teks yang membuka ruang diskusi kritis mengenai posisi anak, kekerasan, dan suara yang selama ini diabaikan dalam struktur sosial.
Novel Di Tanah Lada dapat dibaca sebagai representasi kritik terhadap budaya patriarki dan relasi kuasa dalam keluarga yang masih kuat dalam konteks sosial Indonesia.
Figur ayah yang digambarkan sebagai sosok menakutkan dan represif mencerminkan posisi otoritas orang dewasa, khususnya ayah yang sering kali tidak dapat digugat.
Dalam banyak budaya, kekerasan dalam keluarga kerap dianggap sebagai urusan privat, sehingga suara anak cenderung diredam atau diabaikan.
Melalui sudut pandang Salva, novel ini memperlihatkan dampak dari normalisasi kekerasan tersebut terhadap kondisi psikologis anak.
Secara sosial, pengalaman Salva merepresentasikan realitas banyak anak yang tumbuh dalam lingkungan tidak aman, tetapi tidak memiliki ruang untuk mengartikulasikan penderitaan mereka.
Ketidakmampuan Salva untuk sepenuhnya memahami kekerasan yang dialaminya justru menegaskan posisi anak sebagai subjek yang rentan.
Dalam konteks ini, perjalanan Salva bersama P menuju tanah lada dapat ditafsirkan sebagai bentuk resistensi simbolik sebuah upaya mencari ruang aman dan identitas di luar struktur keluarga yang menindas.
Petualangan tersebut bukan sekadar pelarian fisik, melainkan refleksi kebutuhan anak akan perlindungan, pengakuan, dan kebebasan.
Baca Juga: Angkatan 2000an Disebut sebagai Sastra Indonesia Mutakhir, Mengapa?
Dari perspektif budaya, metafora ayah sebagai monster atau hantu menunjukkan cara anak memahami kekerasan melalui imajinasi. Metafora ini membantu anak mengolah rasa takut yang sulit dijelaskan secara rasional.
Dalam sastra anak dan sastra bertema trauma, penggunaan figur monster berfungsi menghubungkan pengalaman batin tokoh dengan pemahaman pembaca, karena ketakutan dihadirkan dalam bentuk yang lebih dapat dipahami (Maynes, 2020).
Dengan demikian, Di Tanah Lada menempatkan pengalaman anak sebagai pusat penceritaan, bukan sekadar latar cerita.
Dalam konteks akademik, Di Tanah Lada relevan dibaca sebagai teks yang mengkritisi cara pandang yang terlalu berpusat pada orang dewasa dalam sastra dan kajian sosial.
Novel ini menunjukkan bahwa anak bukan subjek pasif, melainkan individu yang memiliki kesadaran, ingatan, dan pengalaman emosional yang kompleks.
Pandangan ini sejalan dengan pendekatan kajian anak (child studies) yang menekankan bahwa anak memiliki kemampuan untuk memahami, menafsirkan, dan memberi makna terhadap pengalaman hidupnya sendiri sebagai bagian dari realitas sosial (Oberg & Ellis, 2006).
Secara reflektif, novel ini mengajak pembaca untuk mempertanyakan kembali posisi dan tanggung jawab orang dewasa dalam relasi dengan anak.
Kekerasan yang dialami Salva tidak hanya disebabkan oleh individu, tetapi juga oleh sistem sosial yang membiarkan kekerasan tersebut berlangsung tanpa intervensi.
Dengan demikian, Di Tanah Lada tidak hanya menghadirkan kisah personal, tetapi juga kritik struktural terhadap masyarakat yang gagal melindungi anak-anaknya.
Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa Di Tanah Lada berfungsi sebagai teks sastra yang memiliki daya kritis tinggi.
Novel ini mengaitkan pengalaman individual dengan konteks budaya dan sosial yang lebih luas, sekaligus membuka ruang refleksi akademik mengenai posisi anak, kekerasan, dan suara yang terpinggirkan.
Oleh karena itu, respons kritis terhadap novel ini menegaskan bahwa sastra memiliki peran penting sebagai medium refleksi, kritik, dan kesadaran sosial.
Penulis: Nadine Hawra Fitriazzahra (25112074033)
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












