Pancasila sebagai Jati Diri Filosofis Bangsa yang Abadi

pancasila sebagai sistem filsafat
Pancasila sebagai Jati Diri Filosofis Bangsa yang Abadi. Sumber: MMI.

Pancasila sering kali hanya dilihat sebagai dasar negara atau seperangkat aturan normatif, padahal di baliknya tersemat kerangka berpikir yang mendalam, menjadikannya sebuah sistem filsafat yang utuh dan relevan hingga kini.

Memahami Pancasila sebagai filsafat berarti melihatnya sebagai hasil perenungan jiwa para founding father yang mendalam, yang bertujuan mendapatkan pengertian mendasar dan menyeluruh tentang hakikat bangsa Indonesia.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Tiga Landasan Kebenaran Pancasila

Sebagai sistem filsafat, Pancasila tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh tiga landasan filosofis utama yang mencakup kesemestaan:

1. Landasan Ontologis (Hakikat)

Landasan ini membahas hakikat dari sila-sila Pancasila. Secara ontologis, Pancasila berpusat pada manusia sebagai subjek pendukung utama, yang memiliki kodrat sebagai makhluk jasmani-rohani, individu-sosial, dan makhluk Tuhan.

Dengan demikian, sila Ketuhanan Yang Maha Esa (kausa prima) menjadi dasar dan sumber nilai yang menjiwai keempat sila lainnya. Ini menegaskan bahwa nilai-nilai ke-Tuhan-an adalah fundamental bagi jati diri bangsa.

Baca Juga: Pancasila di Tengah Masyarakat yang Terlalu Rasional dan Minim Kepedulian

2. Landasan Epistemologis (Pengetahuan)

Epistemologi Pancasila berfokus pada asal, sumber, dan validitas pengetahuan dalam Pancasila. Pengetahuan Pancasila berakar pada nilai-nilai budaya bangsa Indonesia (kausa materialis). Ia memiliki susunan yang hirarkis-piramidal, di mana sila pertama menjadi dasar utama.

Pentingnya Landasan ini: ilmu pengetahuan harus berpijak pada moralitas manusia dan nilai religius, bukan bersifat bebas nilai. Keputusan politik, misalnya, harus berdasarkan kebijaksanaan dan kebenaran rasional, bukan kepentingan pribadi.

3. Landasan Aksiologis (Nilai)

Aksiologi membahas tentang nilai yang terkandung dalam Pancasila. Nilai-nilai Pancasila seperti Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan adalah nilai etik dan moral yang menjadi dasar seluruh kegiatan berbangsa dan bernegara.

Secara aksiologis, bangsa Indonesia adalah pendukung nilai-nilai ini, yang tercermin dalam sikap, perilaku, dan perbuatan.

Baca Juga: Budaya Gotong Royong dalam Perspektif Filsafat Pancasila

Relevansi dan Tantangan Abadi

Dalam pandangan Notonagoro, Pancasila adalah sistem filsafat yang menyeluruh dan mendasar karena berisi nilai-nilai yang menjadi dasar berpikir, bersikap, dan bertindak bangsa Indonesia.

Pancasila bukan adopsi ideologi luar seperti liberalisme atau komunisme; ia membahas hakikat manusia dan kehidupan sosial berdasarkan pandangan hidup bangsa sendiri.

Pancasila masih sangat relevan. Nilai-nilainya tetap menjadi pedoman dalam menghadapi tantangan sosial, politik, dan globalisasi.

  • Pendidikan karakter berbasis iman dan taqwa (Sila ke-1) dan program bantuan sosial (Sila ke-2) adalah contoh nyata implementasi nilai dasar di masyarakat.
  • Musyawarah desa/Musrenbang (Sila ke-4) dan pemerataan pembangunan lewat Dana Desa (Sila ke-5) menunjukkan upaya nyata dalam mewujudkan demokrasi dan keadilan khas Indonesia.

Namun, implementasi yang belum maksimal adalah tantangan terbesar. Kasus korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan adalah permasalahan yang sangat bertentangan dengan Pancasila sebagai sistem filsafat. Ini menunjukkan kegagalan:

  • Epistemologis: Keputusan diambil bukan berdasarkan kebijaksanaan, melainkan kepentingan pribadi/partai.
  • Aksiologis: Nilai kejujuran dan tanggung jawab belum dihayati secara mendalam.

Baca Juga: Fenomena Lelah jadi Baik di Masyarakat Kita: Tanda Luntur Etika Pancasila?

Pancasila sebagai sistem filsafat adalah cinta akan kebenaran sejati, sebagaimana makna dasar Philosophia (Cinta Kebijaksanaan). Ini adalah hasrat yang sungguh-sungguh akan kebenaran hakiki.

Di tengah dinamika dan tantangan seperti Kapitalisme dan Komunisme, serta masalah internal seperti korupsi, keutuhan Pancasila harus terus diperkuat. Kita tidak boleh hanya mengagungkannya sebagai simbol, tetapi harus menghayati nilai-nilai dasarnya, instrumentalnya, dan praktisnya.

Dengan menghayati Pancasila sebagai sistem filsafat, kita akan mampu menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang seutuhnya berketuhanan, berkemanusiaan, berpersatuan, berkerakyatan, dan berkeadilan sosial.

Penulis:

  1. Devina Febrianti
  2. Fitria Oktavia
  3. Gladys Alea
  4. Nur aila Helentia Anggaraeni
  5. Salsa Aulia
  6. Syafira Zahra Fadillah

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pamulang (Unpam)

Dosen Pengampu: Raistin Nur Abidin, M.Pd.

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses