Pengaruh Influencer Politik di Instagram dan TikTok terhadap Pembentukan Opini Publik Pemilih Pemula

pemilih pemula dalam demokrasi
Pengaruh Influencer Politik di Instagram dan TikTok Terhadap Pembentukan Opini Publik Pemilih Pemula. Sumber: MMI.

Pendahuluan

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam bidang politik. Kehadiran media sosial sebagai ruang publik digital telah mengubah pola komunikasi politik yang sebelumnya bergantung pada media massa konvensional seperti televisi, radio, dan surat kabar. Saat ini, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan dan interaksi, tetapi juga menjadi medium utama penyebaran informasi politik serta pembentukan opini publik pemilih pemula di tingkat lokal maupun nasional.

Media sosial diartikan sebagai media berbasis daring yang memungkinkan penggunanya untuk berpartisipasi secara aktif, berbagi informasi, serta menciptakan dan mengelola konten (Cahyono, 2016). Karakteristik tersebut menjadikan media sosial memiliki peran yang signifikan dalam memengaruhi pembentukan persepsi dan sikap politik masyarakat. Persepsi yang terbentuk secara kolektif melalui ruang digital kemudian berkembang menjadi opini publik yang tercermin dalam sikap setuju, tidak setuju, atau ragu terhadap isu politik tertentu yang disampaikan oleh influencer (Saragih et al., 2024).

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Di Indonesia, Instagram dan TikTok merupakan dua platform media sosial yang paling populer di kalangan generasi muda. Data dari We Are Social menunjukkan bahwa pengguna Instagram di Indonesia mencapai 99,78 juta per Oktober 2025, sementara Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah pengguna TikTok terbanyak di dunia yaitu 194,37 juta pengguna per Juli 2025 berdasarkan laporan We Are Social dan Meltwater. Tingginya penetrasi kedua platform ini mengindikasikan bahwa generasi muda, khususnya pemilih pemula mahasiswa berusia 17–21 tahun lebih banyak memperoleh informasi politik dari konten digital dibandingkan dari sumber politik formal. Kondisi ini menunjukkan bahwa Instagram dan TikTok berperan strategis dalam membentuk pengetahuan serta opini politik pemilih pemula.

Pemilih pemula merupakan kelompok masyarakat yang baru pertama kali menggunakan hak pilihnya dalam pemilu (Setiawan & Djafar, 2024). Kelompok ini memiliki peran strategis dalam sistem demokrasi karena jumlahnya yang besar serta potensinya dalam menentukan arah politik. Namun, pemilih muda umumnya masih memiliki pengetahuan politik yang terbatas dan belum memiliki preferensi politik yang kuat sehingga menjadikan mereka lebih mudah dipengaruhi oleh konten influencer politik di media sosial.

Dalam konteks komunikasi politik digital, influencer politik muncul sebagai aktor penting dalam pembentukan opini publik. Influencer politik tidak hanya terdiri dari figur dengan jutaan pengikut tetapi juga micro-influencer. Micro-influencer adalah individu yang memiliki jumlah pengikut antara 10.000 hingga 50.000 akun (Prasetya, 2020). Micro-influencer kerap dipersepsikan lebih autentik dan dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari sehingga mampu merepresentasikan suara publik dan memiliki pengaruh tersendiri dalam membentuk serta menggerakkan opini publik. Opini publik sendiri diartikan sebagai pandangan atau pendapat kolektif masyarakat terhadap isu-isu tertentu yang berkembang dalam ruang publik.

Baca Juga: Pemilih Cerdas: Kunci Keberhasilan Pemilu yang Demokratis

Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam tulisan ini adalah sebagai berikut: (1) Bagaimana peran influencer politik di media sosial Instagram dan TikTok dalam membentuk opini publik pemilih pemula? (2) Mengapa micro-influencer memiliki kekuatan yang signifikan dalam menggerakkan opini publik pemilih pemula dibandingkan influencer politik berskala besar? (3) Bagaimana pengaruh influencer politik, khususnya micro-influencer, terhadap partisipasi politik dan kualitas demokrasi?

Tujuan penulisan esai ini adalah untuk memahami pengaruh influencer politik di media sosial terhadap pemilih pemula, menganalisis peran influencer politik di Instagram dan TikTok dalam membentuk opini publik pemilih pemula, menilai kekuatan micro-influencer dibandingkan influencer politik berskala besar, serta mengetahui pengaruh influencer politik khususnya micro-influencer terhadap partisipasi politik dan kualitas demokrasi.

Pembahasan

Peran Influencer Politik dalam Membentuk Opini Publik Pemilih Pemula

Media sosial Instagram dan TikTok berfungsi sebagai ruang publik digital tempat berlangsungnya proses pembentukan opini politik pemilih muda. Dalam perspektif teori ruang publik Jürgen Habermas, media digital memungkinkan warga negara untuk mengakses dan berinteraksi dengan berbagai aktor politik tanpa harus melalui institusi formal (Habermas, 1991). Dalam konteks ini influencer politik berperan sebagai penafsir isu politik maksudnya yaitu menyederhanakan informasi politik yang kompleks menjadi konten singkat, visual, dan mudah dipahami (Saragih et al., 2024).

Pengaruh influencer politik terlihat dari jenis konten yang dibagikan seperti video penjelasan kebijakan publik, klarifikasi isu politik yang sedang viral, ajakan partisipasi politik, dan konten opini terhadap calon presiden (capres). Konten opini capres umumnya berupa penilaian personal terhadap gaya kepemimpinan, perbandingan program kerja antar capres, maupun respons influencer terhadap debat politik. Melalui konten-konten tersebut influencer secara tidak langsung membentuk opini publik pemilih pemula dalam bentuk dukungan, kritik, atau sikap netral terhadap tokoh dan isu politik tertentu.

Pengaruh influencer politik terhadap pembentukan opini publik dapat bersifat positif maupun negatif, bergantung pada cara penyampaian dan kualitas informasi dalam konten. Pengaruh positif muncul ketika influencer menyajikan konten opini capres yang edukatif, disertai data pendukung, penjelasan program kerja, serta ajakan berpikir kritis sehingga mendorong pemilih pemula menilai calon pemimpin secara rasional. Sebaliknya, pengaruh menjadi negatif apabila opini capres disampaikan secara subjektif, emosional, atau tanpa dukungan data yang memadai, misalnya dengan menonjolkan citra personal semata atau menyerang pihak lain sehingga berpotensi membentuk opini publik yang keliru.

Peran influencer politik semakin kuat karena kemampuan mereka mengemas isu politik secara sederhana, visual, dan kontekstual dengan kehidupan sehari-hari generasi muda. Pesan politik tidak disampaikan dalam bentuk wacana normatif atau debat formal, melainkan melalui opini personal, narasi pengalaman, dan simbol visual yang mudah dipahami. Dalam konteks opini capres, influencer kerap mengaitkan pilihan politik dengan isu pendidikan, lapangan kerja, dan kesejahteraan masa depan, sehingga pesan politik terasa lebih relevan bagi pemilih pemula. Gaya komunikasi yang santai dan kedekatan emosional yang terbangun membuat informasi politik dari influencer lebih mudah diterima dibandingkan pesan dari aktor politik formal (Gaspersz et al., 2024).

Baca Juga: Partisipasi Aktif Generasi Muda dalam Pilkada sebagai Wujud Demokrasi

Kekuatan Micro-Influencer dalam Menggerakkan Opini Publik Pemilih Pemula

Kekuatan micro-influencer dalam menggerakkan opini publik pemilih pemula dibandingkan influencer berskala besar terletak pada tingkat kedekatan sosial dan kepercayaan audiens (Prasetya, 2020). Micro-influencer cenderung membangun hubungan yang lebih personal dan interaktif dengan pengikutnya melalui komunikasi dua arah. Dalam penyampaian opini capres, micro-influencer sering terlibat langsung dalam diskusi di kolom komentar atau siaran langsung sehingga audiens merasa pendapatnya dihargai. Interaksi ini menciptakan kesan keaslian (authenticity) yang memperkuat kepercayaan terhadap pesan politik yang disampaikan.

Dalam teori komunikasi politik oleh McNair menyatakan bahwa efektivitas pesan politik sangat dipengaruhi oleh posisi komunikator dan hubungan yang terbangun dengan audiens, aktor yang dipersepsikan dekat dan relevan oleh publik cenderung lebih efektif dalam menyampaikan pesan politik (McNair, 2011). Pandangan ini sejalan dengan (Traberg & Linden, 2022) yang menekankan bahwa tingkat kepercayaan terhadap komunikator merupakan faktor utama keberhasilan pesan meskipun influencer berskala besar memiliki jangkauan audiens yang luas pesan politik mereka sering dipersepsikan kurang personal. Sebaliknya, micro-influencer dengan jumlah pengikut yang lebih terbatas justru memiliki pengaruh yang lebih kuat dalam membentuk opini publik pemilih pemula.

Kekuatan micro-influencer juga dipengaruhi oleh kesesuaian latar belakang sosial dan pengalaman hidup dengan audiensnya. Micro-influencer umumnya berasal dari kelompok usia, lingkungan pendidikan, atau kelas sosial yang tidak jauh berbeda dengan pemilih pemula, sehingga pesan politik yang disampaikan terasa lebih relevan dan representatif. Dalam konteks opini capres, kesamaan pengalaman tersebut membuat audiens merasa bahwa pandangan politik micro-influencer mencerminkan aspirasi mereka sendiri. Kondisi ini memperkuat proses identifikasi sosial di mana pemilih pemula cenderung mengikuti dan mempercayai opini politik dari figur yang dianggap “satu suara” dengan mereka sehingga daya pengaruh micro-influencer dalam membentuk opini publik menjadi semakin kuat.

Pengaruh Micro-Influencer terhadap Partisipasi Politik dan Kualitas Demokrasi

Pengaruh influencer politik, khususnya micro-influencer, terhadap demokrasi bersifat ganda dan tidak sepenuhnya satu arah (Prasetya, 2020). Di satu sisi, micro-influencer berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran politik pemilih pemula melalui konten digital yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Konten opini capres yang disampaikan secara edukatif dapat mendorong pemilih pemula untuk mengenal calon pemimpin, memahami program kerja, serta terdorong untuk menggunakan hak pilihnya dalam pemilu.

Di sisi lain, dominasi influencer dalam ruang publik digital juga berpotensi menurunkan kualitas demokrasi, ketika opini publik lebih banyak dibentuk berdasarkan kepercayaan terhadap figur influencer tanpa proses verifikasi yang memadai kualitas diskusi publik dapat melemah, algoritma media sosial yang cenderung menampilkan konten serupa juga berpotensi menciptakan ruang gema (echo chamber) yaitu kondisi ketika individu hanya terpapar pada pandangan politik yang sejalan dengan keyakinannya sendiri (Cinelli et al., 2021). Akibatnya partisipasi politik memang meningkat secara kuantitatif tetapi belum tentu diiringi oleh kualitas deliberasi publik yang matang.

Baca Juga: Pandangan Teoritis: Keterlibatan Pemilih Muda dalam Pilkada 2024

Penutup

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa influencer politik di media sosial Instagram dan TikTok memiliki peran signifikan dalam membentuk opini publik pemilih pemula. Melalui berbagai jenis konten khususnya konten opini capres influencer mampu menyederhanakan isu politik yang kompleks menjadi informasi yang lebih mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan generasi muda. Dalam konteks ini, micro-influencer menunjukkan pengaruh yang lebih kuat dibandingkan influencer berskala besar karena tingkat kedekatan, kepercayaan, serta kesamaan latar belakang sosial dengan audiensnya.

Pengaruh micro-influencer terhadap partisipasi politik pemilih pemula bersifat ganda. Di satu sisi, konten politik yang disajikan secara edukatif dapat meningkatkan kesadaran politik, mendorong penggunaan hak pilih, serta memperkuat keterlibatan awal pemilih pemula dalam proses demokrasi. Di sisi lain, apabila opini politik disampaikan secara subjektif dan tanpa verifikasi yang memadai, pengaruh influencer berpotensi menurunkan kualitas diskusi publik dan membentuk opini politik yang dangkal.

Saran

Berdasarkan temuan tersebut, disarankan agar influencer politik, khususnya micro-influencer, lebih mengedepankan penyampaian konten politik yang edukatif, faktual, dan berimbang agar dapat berkontribusi positif terhadap kualitas demokrasi, diperlukan upaya peningkatan literasi politik dan literasi digital bagi pemilih pemula agar mereka mampu menyikapi konten politik secara kritis dan tidak menerima opini influencer secara pasif, bagi peneliti selanjutnya kajian mengenai pengaruh influencer politik dapat dikembangkan dengan mempersempit ruang lingkup wilayah atau menggunakan pendekatan empiris untuk mengukur pengaruh influencer secara lebih mendalam.

Penulis:
1. Delvina Dwi Fitria (D1B023047)
2. Najwa
Salwaa Tifani (D1B023045)
3. Delvina Junita (D1B023049)
4. Muhammad
Jibran (D1B023048)
5. Muhammad Latif (D1B023046)

Mahasiswa Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Bengkulu

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Daftar Pustaka

Cahyono, A. S. (2016). Pengaruh Media Sosial Terhadap Perubahan Sosial Masyarakat di Indonesia. Publiciana, 9(1), 140–157. https://doi.org/https://doi.org/10.36563/publiciana.v9i1.79

Cinelli, M., Francisci, G. De, Galeazzi, A., Quattrociocchi, W., & Starnini, M. (2021). The echo chamber effect on social media. 118(9), 1–8. https://doi.org/10.1073/pnas.2023301118/-/DCSupplemental.y

Gaspersz, R., Pelamonia, M., Izaak, D., & Yoris, J. (2024). Peran Influencer Media Sosial Dalam Membentuk Opini Publik: Systematic Literature Review Pada Studi Kasus di Indonesia. 6(2), 253–266.

Habermas, J. (1991). The Structural Transformation of the Public Sphere. The MIT Press.

McNair, B. (2011). An Introduction To Political Communication (J. Curran (ed.); 5th ed.). Routledge.

Prasetya, M. R. (2020). Self-presentation dan kesadaran privacy micro-influencer di instagram. JURNAL STUDI KOMUNIKASI, 4(1), 239–258. https://doi.org/10.25139/jsk.v4i1.2301

Saragih, J., Purba, M., Manik, M., Aulia, N. D., Wulandari, W., & Sihaloha, O. A. (2024). Peran Influencer Instagram dalam Membentuk Opini Publik dan Partisipasi Politik. Journal Education and Government Wiyata, 2(4), 396–406.

Setiawan, H. D., & Djafar, T. M. (2024). Partisipasi Politik Pemilih Pemula dalam Pelaksanaan Demokrasi di Pemili 2024. Populis : Jurnal Sosial Dan Humaniora, 8(2), 201–213.

Traberg, C. S., & Linden, S. van der. (2022). Birds of a feather are persuaded together: Perceived source credibility mediates the effect of political bias on misinformation susceptibility. Personality and Individual Differences, 185. https://doi.org/doi.org/10.1016/j.paid.2021.111269.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses