Ilmu kalam, atau yang juga dikenal sebagai teologi Islam, adalah salah satu disiplin ilmu yang memiliki sejarah panjang dan kompleks.
Pemahaman tentang ilmu ini sering kali terbatas pada definisinya semata. Namun, jika kita ingin menyelami sejarah timbulnya ilmu kalam, ada satu nama besar yang tak bisa dilewatkan: Harun Nasution.
Lewat karya-karyanya, terutama buku “Teologi Islam: Aliran-Aliran, Sejarah, Analisa, dan Perbandingan,” ia memberikan perspektif yang sangat kritis dan mendalam.
Menurut Harun Nasution, munculnya ilmu kalam tidak bisa dilepaskan dari persoalan-persoalan yang bersifat politis.
Pandangan ini menawarkan sebuah sudut pandang yang berbeda dari anggapan umum yang sering kali hanya menghubungkan asal usul ilmu kalam dengan isu-isu murni keagamaan. Jadi, mengapa Harun Nasution mengatakan kalau ilmu kalam ini berkaitan dengan politik? Mari kita bedah lebih dalam.
Baca juga: Sejarah Munculnya Aliran Aliran Ilmu Kalam
Peristiwa Politik sebagai Pemicu Lahirnya Ilmu Kalam
Dalam bukunya, Harun Nasution secara tegas menyatakan bahwa persoalan politik yang menjadi pemicu munculnya aliran dalam ilmu kalam adalah peristiwa pembunuhan Khalifah ketiga, Utsman bin Affan.
Peristiwa tragis ini kemudian berbuntut panjang dan memicu gejolak sosial serta politik yang luar biasa. Ketidakstabilan ini mencapai puncaknya ketika Muawiyah bin Abu Sufyan menolak mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib yang menggantikan Utsman.
Lahirnya 3 Kelompok Besar
Menurut pandangan Harun Nasution, persoalan kalam dipicu oleh persoalan-persoalan yang timbul dari konflik tersebut. Persoalan yang pertama kali muncul dan melatarbelakangi lahirnya ilmu kalam adalah perdebatan tentang status pelaku dosa besar.
Peristiwa ini melahirkan tiga kelompok besar:
1. Khawarij
Kelompok yang sangat radikal dan menganggap bahwa pelaku dosa besar, termasuk Utsman dan Ali, telah keluar dari Islam (kafir).
2. Murji’ah
Kelompok yang mengambil sikap sebaliknya, yaitu menangguhkan (irja’) penilaian terhadap pelaku dosa besar kepada Allah.
3. Syiah
Kelompok pendukung Ali yang meyakini bahwa hanya Ali dan keturunannya yang berhak menjadi khalifah.
Dari sinilah sejarah munculnya aliran ilmu kalam bermula. Ketiga kelompok ini tidak hanya berbeda secara politik, tetapi juga mengembangkan argumen teologis untuk mendukung posisi mereka.
Ini menunjukkan betapa kuatnya kaitan antara sejarah ilmu kalam dengan gejolak politik pada masa Khulafaur Rasyidin.
Baca juga: Ragam Aliran Ilmu Kalam dalam Sudut Pandang Pelaku Dosa Besar
Analisis Mendalam Pemikiran Harun Nasution tentang Ilmu Kalam
Pemikiran kalam Harun Nasution tidak hanya berhenti pada mengidentifikasi faktor pemicu. Ia juga memberikan analisis yang tajam tentang kondisi teologi Islam di Indonesia.
Menurutnya, teologi Islam di Indonesia pada umumnya adalah teologi Asy’ariyyah yang cenderung kurang filosofis dan mendalam. Pandangan ini menyebabkan kesan bahwa hanya teologi Asy’ariyyah yang valid, padahal Islam memiliki beragam aliran ilmu kalam dengan kekayaan intelektual yang luar biasa.
Untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif, Harun Nasution membagi bukunya menjadi dua bagian besar:
1. Sejarah Timbulnya Ilmu Kalam
Bagian ini berfokus pada sejarah lahirnya ilmu kalam dan faktor-faktor yang melatarinya. Ia menguraikan secara rinci sejarah kemunculan ilmu kalam yang dimulai dari perdebatan politis hingga berkembang menjadi perdebatan teologis yang mendalam.
2. Analisa dan Perbandingan Aliran
Bagian ini mengupas tuntas perbedaan pemikiran antara aliran-aliran besar dalam ilmu kalam, seperti Muktazilah dan Asy’ariyyah. Salah satu perbandingan yang paling menonjol adalah fungsi akal dan wahyu.
Menurut Harun Nasution, Mukatizilah adalah aliran yang sangat menghargai fungsi akal. Mereka berpendapat bahwa akal dapat digunakan untuk memahami kebenaran teologis dan bahkan dapat menentukan baik dan buruk.
Sementara itu, Asy’ariyyah lebih menekankan pada wahyu sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Perbedaan fundamental ini membentuk karakter teologis yang sangat berbeda di antara kedua aliran tersebut.
Baca juga: Pengaplikasian Ilmu Kalam dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Mendalami Pemicu-Pemicu Utama Lainnya
Selain faktor politik, Harun Nasution juga mengidentifikasi faktor lain yang menyebabkan lahirnya ilmu kalam:
1. Pengaruh Filsafat
Kontak umat Islam dengan pemikiran filsafat Yunani, terutama logika dan metafisika, memicu perdebatan teologis yang lebih mendalam. Ini merupakan faktor lain yang menyebabkan lahirnya ilmu kalam dan membuat perdebatan teologis menjadi lebih sistematis.
2. Kebutuhan untuk Mempertahankan Akidah
Ketika Islam berinteraksi dengan agama lain seperti Kristen dan Yahudi, umat Islam merasa perlu untuk merumuskan argumen yang rasional dan logis untuk mempertahankan keyakinan mereka.
3. Persoalan Internal Umat
Perang saudara, seperti Perang Jamal antara Ali bin Abi Thalib dan Aisyah (yang dibantu Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah), serta Perang Siffin antara Ali dan Muawiyah, menimbulkan pertanyaan-pertanyaan teologis yang mendesak.
Siapakah yang benar? Siapa yang berhak menjadi pemimpin? Pertanyaan-pertanyaan ini memaksa para ulama untuk merumuskan jawaban teologis, yang pada gilirannya memicu lahirnya aliran-aliran kalam.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, pandangan Harun Nasution tentang ilmu kalam memberikan perspektif yang kaya dan multidimensional. Ia tidak hanya melihat ilmu ini sebagai disiplin teoretis yang kering, melainkan sebagai produk dinamis dari interaksi antara politik, sosial, dan intelektual dalam sejarah Islam.
Menurut Harun Nasution, faktor yang menyebabkan lahirnya ilmu kalam tidak bisa dilepaskan dari persoalan politik yang dimulai dari peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan dan gejolak yang mengikutinya.
Pandangan ini mengajak kita untuk memahami bahwa sejarah ilmu kalam bukanlah sekadar deretan doktrin, tetapi juga cerminan dari pergolakan pemikiran yang mendalam.
Dengan menempatkan ilmu kalam dalam konteks sejarahnya, Harun Nasution memberikan kita pemahaman yang lebih utuh. Ia menunjukkan bahwa ilmu kalam adalah upaya umat Islam untuk menjawab tantangan zaman dengan menggunakan akal dan wahyu, dan hal ini menjadikan studi ilmu kalam menurut Harun Nasution sangat relevan hingga kini.
Penulis: Uswatun Khasanah
Mahasiswa IAIN Pekalongan
Editor: Diana Pratiwi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












