Pancasila di Era Milenial: Menjaga Ideologi Bangsa di Tengah Arus Perubahan

pancasila di era milenial

Pancasila, sebagai ideologi dan dasar negara, memegang peran krusial dalam menyatukan bangsa Indonesia yang majemuk. Sejak awal kemerdekaan, Pancasila telah menjadi pedoman hidup berbangsa dan bernegara.

Namun, seiring berjalannya waktu dan munculnya tantangan baru, pertanyaan pun muncul: bagaimana relevansi Pancasila di era milenial ini? Apakah generasi muda saat ini masih menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, ataukah ideologi ini hanya sebatas hafalan tanpa makna?

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Fenomena sosial yang terjadi belakangan ini, seperti “ujian praktik pernikahan” yang sempat viral, menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap pemahaman nilai-nilai Pancasila.

Meski generasi milenial dan Gen Z telah diajarkan Pancasila sejak bangku sekolah, bahkan sejak bangku sekolah dasar hingga menengah atas, seakan-akan pemahaman mendalam tentang ideologi bangsa ini masih menjadi tantangan.

Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa Pancasila di era milenial sangat penting, tantangan yang dihadapi, serta bagaimana kita dapat menanamkan kembali nilai-nilainya agar tidak hanya menjadi formalitas, melainkan pandangan hidup sejati.

Baca juga: Pancasila sebagai Sistem Etika bagi Masyarakat Indonesia

Pancasila, Lebih dari Sekadar Hafalan Sejak Dini

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, Pancasila sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem pendidikan. Sejak sekolah dasar, kita terbiasa menghafal kelima sila, memahami lambang Garuda, dan setiap minggu mengucapkannya dengan lantang dalam upacara bendera.

Lembaga pendidikan memainkan peran besar dalam membentuk karakter bangsa yang menjunjung tinggi ideologi pemersatu ini.

Namun, pengajar Pancasila dan para ahli seringkali berargumen bahwa pemahaman Pancasila saat ini masih sebatas di luar hati, hanya dalam kadar hafalan.

Berbeda dengan generasi di awal kemerdekaan, yang memiliki kepercayaan utuh dan mendalam terhadap kesaktian Pancasila.

Bagi mereka, Pancasila bukan sekadar teks, melainkan nilai-nilai yang sudah melekat di tengah-tengah kehidupan rakyat, yang kemudian digali dan dirumuskan kembali oleh Bung Karno.

Tantangan utama saat ini adalah mengubah hafalan menjadi keyakinan. Pancasila di era milenial harus diinternalisasi sebagai nilai-nilai batin yang menuntun setiap tindakan dan keputusan.

Generasi muda tidak bisa hanya pasif, menikmati hasil kemerdekaan, tetapi juga harus menjadi garda terdepan dalam menjaga dan mengamalkan Pancasila.

Baca juga: Pancasila Mengikuti Perkembangan Zaman: Pancasila sebagai Ideologi Terbuka?

Mengapa Generasi Milenial Adalah Kunci Utama?

Mengapa peran pemuda, khususnya generasi milenial, begitu sentral dalam menjaga Pancasila? Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 menunjukkan bahwa populasi generasi milenial mencapai 33,75% dari total penduduk Indonesia.

Angka ini setara dengan sekitar 90 juta jiwa dan merupakan kontribusi signifikan dalam struktur usia produktif.

Dengan jumlah yang besar, generasi milenial memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan, inovator, dan promotor bangsa.

Mereka memiliki semangat, kreativitas, dan energi yang luar biasa untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Seperti yang disampaikan oleh Yudi Latief, Pancasila adalah titik keseimbangan bagi negara majemuk dan menjadi penentu arah masa depan bangsa multikultural ini.

Oleh karena itu, posisi generasi milenial sangat penting untuk menggali kembali potensi filosofis, historis, dan yuridis Pancasila.

Baca juga: Implementasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Bidang Sosial Budaya untuk Membangun Karakter Bangsa di Era Generasi 5.0

Pancasila di Era Digital: Tantangan dan Peluang

Keberadaan Pancasila di era milenial tidak bisa dipisahkan dari perkembangan teknologi. Kemudahan akses dan kecepatan informasi menjadi tantangan sekaligus peluang bagi generasi muda.

Fakta menunjukkan bahwa penggunaan internet sangat identik dengan generasi milenial, yang umumnya berusia 10 hingga 34 tahun. Di kalangan pelajar dan mahasiswa, tingkat penetrasi internet mencapai 69,8% hingga 89,7%.

Ini berarti, pesan-pesan Pancasila kini harus disampaikan melalui medium yang relevan bagi mereka, yaitu media sosial dan platform digital.

Namun, di sisi lain, arus informasi yang begitu cepat juga membawa risiko, termasuk penyebaran paham radikalisme, intoleransi, dan ideologi lain yang bertentangan dengan Pancasila.

Generasi milenial harus memiliki fondasi Pancasila yang kuat di hati mereka agar mampu menyaring informasi, menepis hoaks, dan melawan narasi-narasi yang merusak persatuan. Rata-rata fokus perhatian generasi milenial yang singkat, yaitu sekitar 12 detik, menuntut pendekatan baru dalam edukasi Pancasila yang lebih menarik, ringkas, dan mudah dicerna.

Baca juga: Resensi Buku: Pendidikan Pancasila untuk Perguruan Tinggi

Tantangan Eksternal yang Mengancam Pancasila

Selain tantangan internal, Pancasila di era milenial juga menghadapi ancaman dari berbagai kelompok yang ingin merusak atau mengganti ideologi negara.

Survei Cyrus tahun 2019 menunjukkan bahwa sebagian responden menganggap beberapa kelompok, seperti ISIS, HTI, dan PKI, bertentangan dengan Pancasila. Ancaman ini tidak bisa dianggap remeh, karena dapat mengikis fondasi kebangsaan.

Di tengah polemik RUU HIP (Haluan Ideologi Pancasila) dan tantangan dari pihak-pihak yang dianggap anti-Pancasila, generasi milenial harus tetap waspada dan proaktif.

Mereka tidak bisa hanya menjadi penonton, melainkan harus turun tangan membela Pancasila dengan cara yang konstruktif dan sesuai dengan semangat zaman.

Baca juga: Gen Z dan Pancasila: Antara Kebebasan dan Batasan Moral

Peran Negara dan Solusi untuk Menguatkan Pancasila

Menyadari pentingnya menjaga ideologi bangsa, negara telah mengambil langkah strategis. Pembentukan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) adalah salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut.

BPIP bertugas membantu Presiden merumuskan kebijakan, mengoordinasikan pembinaan ideologi, serta menyelenggarakan pelatihan dan standardisasi pendidikan Pancasila.

Lembaga ini bekerja sama dengan kementerian/lembaga, pemerintahan daerah, dan berbagai organisasi masyarakat untuk memastikan nilai-nilai Pancasila terus tertanam kuat, terutama di kalangan generasi muda. BPIP juga memberikan rekomendasi terhadap regulasi yang dinilai bertentangan dengan Pancasila.

Namun, peran BPIP dan lembaga-lembaga lainnya tidak akan maksimal tanpa partisipasi aktif dari masyarakat. Solusi fundamental untuk menjaga Pancasila di era milenial terletak pada diri bangsa itu sendiri, khususnya pada setiap individu.

Baca juga: Peran Pancasila dalam Pengembangan Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi)

Menginternalisasi Pancasila melalui Keteladanan dan Aksi Nyata

Pancasila tidak boleh lagi hanya sebatas formalitas atau identitas yang terukir di dada. Problem nasional terbesar saat ini adalah bagaimana mengubah nilai-nilai Pancasila dari sekadar teori menjadi aksi nyata. Generasi milenial harus mampu menjadikan “ruh Pancasila” benar-benar tertanam di dalam hati mereka.

Ruh Pancasila itu adalah keteladanan. Keteladanan dalam mengamalkan setiap sila, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam skala yang lebih besar, adalah kunci untuk menepis segala bentuk penyelewengan.

1. Sila Pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa)

Keteladanan dalam toleransi beragama dan menghormati perbedaan keyakinan.

2. Sila Kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab)

Keteladanan dalam memperlakukan sesama dengan adil, tanpa memandang suku, ras, atau golongan.

3. Sila Ketiga (Persatuan Indonesia)

Keteladanan dalam menjaga persatuan, menghindari perpecahan, dan mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.

4. Sila Keempat (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan)

Keteladanan dalam berdemokrasi yang sehat, menghargai musyawarah, dan bijaksana dalam mengambil keputusan.

5. Sila Kelima (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia)

Keteladanan dalam memperjuangkan keadilan, membantu yang lemah, dan berpartisipasi dalam pembangunan yang merata.

Dengan menginternalisasi nilai-nilai ini, generasi milenial akan menjadi benteng kokoh yang menjaga Pancasila. Mereka akan menjadi duta-duta Pancasila yang bukan hanya hafal teksnya, tetapi juga mengaplikasikannya dalam setiap aspek kehidupan.

Baca juga: Konservasi dan Keadilan Sosial Raja Ampat dalam Perspektif Pancasila

Kesimpulan

Pada akhirnya, keberhasilan Pancasila di era milenial sangat bergantung pada komitmen dan kesadaran kolektif.

Menjaga ideologi bangsa ini adalah tugas kita bersama, dan generasi milenial memiliki peran paling vital untuk memastikan api Pancasila terus menyala terang, membimbing Indonesia menuju masa depan yang gemilang.

Meskipun Pancasila menghadapi berbagai tantangan, baik dari arus informasi digital maupun dari kelompok-kelompok yang ingin merusak keutuhan bangsa, kekuatan sejati Pancasila terletak pada kemampuannya untuk beradaptasi dan terus relevan.

Pendidikan yang tidak hanya berfokus pada hafalan, melainkan pada pengamalan nilai-nilai, menjadi kunci.

Generasi milenial, dengan segala potensi dan keunikan mereka, adalah harapan bangsa. Dengan menjadikan Pancasila sebagai panduan hidup yang sejati, bukan sekadar identitas formalitas, mereka akan mampu menciptakan Indonesia yang lebih kuat, bersatu, dan berkeadilan.

Jadi, Pancasila tidak akan pernah lekang oleh zaman, asalkan setiap anak bangsa, terutama generasi milenial, mau merawat dan menjadikannya sebagai napas dalam setiap langkahnya.

Pancasila Jaya !!! Pancasila milik kita !!!

Penulis: Nur Senoaji
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Daftar Pustaka

Aji, T. P. (2019). Peran Generasi Milenial Bagi NKRI. Dipetik 16 Juni  2020, dari setkab: https://setkab.go.id/peran-generasi-milenial-bagi-nkri-2/

Daud, A. (2019). Survei Cyrus: 70% Responden Dukung Pancasila sebagai Ideologi Bangsa. Dipetik 16 Juni  2020, dari https://katadata.co.id/berita/2019/08/09/survei-cyrus-70-responden-dukung-pancasila-sebagai-ideologi-bangsa

Fadhila, N. (2020). Generasi Milenial Terhadap Nilai-Nilai Pancasila. Dipetik 16 Juni 2020, dari yooreka: https://yooreka.id/take-a-break/generasi-milenial-terhadap-nilai-nilai-pancasila/

Presiden Teken Perpres, UKP PIP Jadi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. (2018). Dipetik 17 Juni  2020, dari setkab: https://setkab.go.id/presiden-teken-perpres-ukp-pip-jadi-badan-pembinaan-ideologi-pancasila/

Romdhoni, H. (2020). Generasi Milenial Harus Menjadi Agen Perubahan Menebarkan Nilai Luhur Pancasila. Dipetik  16 Juni  2020, dari inanews: https://www.inanews.co.id/2020/01/generasi-milenial-harus-menjadi-agen-perubahan-menebarkan-nilai-luhur-pancasila/

Rozyanti, A. P. (2019). PANCASILA DI MATA GENERASI MILENIAL. Dipetik 16 Juni  2020, dari binus: https://binus.ac.id/character-building/pancasila/pancasila-di-mata-generasi-milenial/

SetKabRI, H. (2018). Presiden Teken Perpres, UKP PIP Jadi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Dipetik 17 Juni 2020, dari setkab: https://setkab.go.id/presiden-teken-perpres-ukp-pip-jadi-badan-pembinaan-ideologi-pancasila/

Susanti. (2020). Sensus Penduduk 2020, Sensus Era Digital. Dipetik 16 Juni 2020, dari bandungkota.bps: https://bandungkota.bps.go.id/news/2020/01/07/15/sensus-penduduk-2020–sensus-era-digital—.html

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

1 Komentar