Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia.
Sebagai generasi penerus bangsa, mahasiswa menjadi bagian terdepan dalam menghadapi perubahan ini.
Kehadiran internet, media sosial, kecerdasan buatan, hingga revolusi industri 4.0, melahirkan tantangan baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam konteks tersebut, muncul pertanyaan penting: Apakah Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi masih relevan di zaman teknologi?
Pertanyaan ini penting, sebab pendidikan tidak hanya berfungsi membentuk kompetensi intelektual, tetapi juga menanamkan nilai moral, etika, dan identitas kebangsaan.
Baca juga: Peran Pancasila dalam Menghadapi Pergaulan Bebas Generasi Muda akibat Globalisasi
Pendidikan Pancasila sering dipandang sekadar mata kuliah wajib yang harus diambil mahasiswa.
Namun, hakikatnya mata kuliah ini adalah fondasi untuk menanamkan nilai dasar kebangsaan, yaitu ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial.
Di era teknologi, nilai-nilai ini masih sangat dibutuhkan.
Dunia digital tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga masalah serius seperti penyebaran hoax, ujaran kebencian, individualisme, dan radikalisme.
Tanpa bekal pemahaman Pancasila, generasi penerus bangsa berpotensi terjebak dalam arus globalisasi yang mengikis identitas nasional.
Relevansi Pendidikan Pancasila juga terlihat dalam aspek etika digital.
Mahasiswa sebagai pengguna aktif teknologi perlu memiliki kesadaran moral dalam bermedia sosial, menghargai perbedaan, serta menjaga kebersamaan di ruang digital.
Pancasila dapat menjadi filter agar teknologi tidak menjauhkan manusia dari nilai kemanusiaannya.
Misalnya, sila kedua “Kemanusiaan yang adil dan beradab” relevan dalam mendorong etika penggunaan kecerdasan buatan agar teknologi dapat dipakai untuk kebaikan, bukan untuk merugikan sesama.
Selain itu, Pendidikan Pancasila dapat memperkuat karakter kebangsaan di tengah arus globalisasi.
Mahasiswa yang akrab dengan budaya populer asing tetap perlu memiliki pegangan nilai kebangsaan.
Identitas bangsa tidak boleh hilang hanya karena pengaruh teknologi.
Melalui penghayatan nilai Pancasila, mahasiswa dapat bersikap terbuka terhadap modernitas tanpa kehilangan akar budayanya.
Inilah yang membuat Pendidikan Pancasila tetap relevan, bahkan semakin penting, dalam membentuk pribadi unggul yang berdaya saing global sekaligus berkarakter Indonesia.
Tentu saja, cara penyampaian Pendidikan Pancasila perlu menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
Jika hanya mengandalkan ceramah monoton, mahasiswa bisa kehilangan minat.
Perguruan tinggi perlu berinovasi, adapun cara yang dapat dilakukan yaitu:
Pertama, dengan pembelajaran menggunakan media digital interaktif yang menarik dan relevan, seperti webinar dan menyediakan platform interaktif yang memungkinkan diskusi lintas kampus bahkan lintas negara.
Pendekatan ini tidak hanya membuat materi Pancasila lebih mudah diakses, tetapi juga menjadikan pembelajaran lebih dinamis dan kontekstual dengan perkembangan zaman.
Kedua, mengimplementasikan pembelajaran Pancasila berbasis masalah (problem-based learning) yang langsung mengaitkan dengan fenomena teknologi dan sosial media.
Misalnya, mahasiswa diajak menganalisis kasus penyebaran hoaks yang berdampak pada persatuan bangsa dan mencari solusi yang berlandaskan sila-sila Pancasila.
Pendekatan ini menumbuhkan kemampuan kritis sekaligus menjembatani nilai-nilai kebangsaan dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Ketiga, pengembangan karakter mahasiswa melalui aktivitas ekstrakurikuler yang mengedepankan nilai Pancasila dalam konteks digitalisasi.
Misalnya, komunitas anti-hoaks, kelompok diskusi etika teknologi, atau organisasi kemahasiswaan yang mengampanyekan penggunaan media sosial secara bertanggung jawab.
Kegiatan semacam ini memberi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan Pancasila secara nyata, bukan hanya di ruang kelas, tapi juga di dunia virtual sekalipun.
Baca juga: Identitas Nasional Bangsa Indonesia: Pengertian, Unsur, dan Faktor Pembentuknya
Selain itu, peran dosen sebagai pengajar Pendidikan Pancasila sangat penting untuk terus meningkatkan kompetensi dalam mengemas materi.
Dosen perlu dibekali kemampuan mengintegrasikan teknologi digital dalam proses pengajaran agar tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga membimbing mahasiswa memahami nilai Pancasila secara konkret dan aplikatif.
Dengan demikian, nilai Pancasila tidak hanya dapat dipahami secara teoritis, tetapi juga dapat dilaksanakan dalam keseharian mahasiswa, baik di ruang fisik maupun ruang digital.
Pada akhirnya, relevansi Pendidikan Pancasila bukan hanya soal keberlangsungan mata kuliah, melainkan bagaimana nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dalam diri mahasiswa.
Di zaman teknologi, tantangannya semakin kompleks, tetapi Pendidikan Pancasila yang dipahami dan diimplementasikan secara benar dapat menjadi benteng moral serta pedoman dalam menggunakan teknologi secara bijak dan beretika.
Baca juga: Memperkuat Ekonomi Indonesia Melalui Peningkatan Paten Teknologi: Sebuah Kebutuhan Mendesak
Dari uraian di atas, jelas bahwa Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi tetap relevan, bahkan semakin penting di era teknologi.
Nilai-nilainya menjadi petunjuk moral yang menjaga mahasiswa agar tidak terseret arus globalisasi yang meniadakan identitas dan etika.
Tantangan zaman digital justru menuntut hadirnya Pancasila sebagai landasan berpikir dan bertindak.
Yang perlu dibenahi adalah metode pembelajaran agar lebih kontekstual, kreatif, dan sesuai kebutuhan generasi muda.
Dengan demikian, Pancasila tidak hanya menjadi mata kuliah wajib, tetapi benar-benar menjadi pedoman hidup mahasiswa dalam menghadapi dunia yang terus berubah.
Penulis: Novi Latifah
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta
Editor: Anita Said
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













