Pengaruh Geopolitik & Militer Semakin Terasa di Kawasan Pasifik

Geopolitik dan Militer
Ilustrasi Kertas Map (Sumber: MMI)

Militer dan diplomasi global semakin mendominasi Pasifik, di mana negara kecil diwanti-wanti waspadai ketergantungan strategis.

Kawasan Pasifik Selatan kini menjadi pusat perhatian dunia sebagai arena baru persaingan geopolitik antara kekuatan besar.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Intensifikasi aktivitas militer, patroli laut, dan diplomasi keamanan menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas regional, kedaulatan negara-negara kecil pulau, serta implikasi jangka panjang bagi pembangunan dan keamanan kawasan. Di tengah dinamika global yang berubah cepat, Pasifik menjadi panggung utama kompetisi strategis antara China, Australia, dan sekutu Barat. [Siswoyo, 2025]

Pada 2 Desember 2025, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong memperingatkan bahwa Republik Rakyat Tiongkok (China) “semakin sering memproyeksikan kekuatan militer lebih jauh ke kawasan Pasifik, tanpa transparansi yang diharapkan oleh negara-negara tetangga.
[Reuters, 2025a]

Peringatan ini muncul setelah laporan pemantauan menunjukkan peningkatan signifikan aktivitas militer, kapal penelitian, dan patroli Tiongkok di wilayah barat laut Pasifik, termasuk area yang berdekatan dengan negara-negara pulau kecil.
[Reuters, 2025d]

Aktivitas kapal riset China juga terpantau meningkat sepanjang 2025, termasuk di jalur laut strategis yang sering digunakan oleh negara-negara Pasifik. Pemantauan internasional menunjukkan bahwa kapal-kapal tersebut beroperasi berdekatan dengan aktivitas militer Amerika Serikat, menandakan meningkatnya kompetisi intelijen dan pemetaan bawah laut di kawasan.
[Reuters, 2025d]

Di tengah tekanan eksternal ini, upaya kerjasama keamanan regional justru menghadapi hambatan. Melanesian Spearhead Group (MSG) — yang beranggotakan Solomon Islands, Papua New Guinea (PNG), Vanuatu, dan Fiji — menunda adopsi strategi keamanan maritim bersama pada pertengahan 2025.
[Reuters, 2025c]

Penundaan ini dipicu perdebatan internal mengenai hubungan dengan China, kekhawatiran dominasi eksternal, serta perbedaan kepentingan antarnegara anggota.

Sementara itu, Australia memperkuat anggaran pertahanan dan kemampuan militernya sebagai respons terhadap dinamika kawasan. Para pejabat Australia menilai bahwa ekspansi militer global, terutama dari China, “mendesak respons kolektif,” termasuk melalui modernisasi angkatan laut, pengembangan alutsista jarak jauh, dan peningkatan interoperabilitas dengan sekutu seperti Amerika Serikat dan Inggris melalui kerangka AUKUS.
[Reuters, 2025b; Siswoyo, 2025]

 

Analisis & Implikasi

1. Tekanan terhadap Negara-negara Pulau Kecil

Kehadiran militer asing dan meningkatnya patroli maritim menempatkan negara-negara Pasifik dalam posisi sulit: menerima bantuan dan investasi dari kekuatan besar atau mempertahankan kedaulatan dan otonomi kebijakan luar negeri.
[Reuters, 2025a; 2025d]

2. Ketidakpastian Kolektif Regional

Penundaan strategi keamanan bersama menunjukkan lemahnya konsensus internal. Tanpa kerangka keamanan yang solid, negara-negara Pasifik berisiko terpecah dalam menghadapi rivalitas global.
[Reuters, 2025c]

3. Risiko Perlombaan Militer

Modernisasi militer Australia dan sekutu dapat memperkuat blok pertahanan, tetapi juga berpotensi memicu eskalasi militer di kawasan.
[Reuters, 2025b; Siswoyo, 2025]

4. Dilema Pembangunan dan Kedaulatan

Negara-negara kecil harus menyeimbangkan kebutuhan pembangunan ekonomi, diplomasi, dan kemandirian keamanan agar kepentingan rakyat dan kedaulatan tidak tergadaikan oleh kekuatan eksternal.

Baca juga: Mengatasi Kemiskinan dengan Pendekatan Ekonomi Pembangunan

 

Penutup

Dengan meningkatnya ketegangan militer dan persaingan geopolitik di Samudra Pasifik, negara-negara kepulauan kini berada di garis depan kompetisi antar kekuatan besar. Untuk menjaga stabilitas dan masa depan kawasan, solidaritas regional, transparansi kebijakan, dan strategi keamanan mandiri menjadi semakin penting.

Hanya melalui pendekatan kolektif dan berkelanjutan, negara-negara Pasifik dapat memastikan bahwa pembangunan dan kedaulatan tetap terjaga di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

 

Penulis: Racheliberth G. Raunsai (2023031054005) 
Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Cenderawasih
Dosen Pengampu: Melpayanty Sinaga S.IP., M.A

 

Referensi

  1. Siswoyo, A. (2025). Pengembangan kapasitas militer Australia dalam menghadapi tantangan keamanan China tahun 2022–2024. Diplomacy and Global Security Journal, 2(2), 480–494. https://doi.org/10.36859/dgsj.v2i2.4618
  2. (2025, December 2). China’s military reaching further, more frequently into Pacific, says Australia. Reuters. https://www.reuters.com/world/china/chinas-military-reaching-further-more-frequently-into-pacific-says-australia-2025-12-02/
    (2025a)
  3. (2025, November 3). China’s military build-up demands response, Australia defence minister says. Reuters. https://www.reuters.com/world/china/chinas-military-build-up-demands-response-australia-defence-minister-says-2025-11-03/
    (2025b)
  4. (2025, June 26). Pacific islands delay security plan that could open door China. Reuters. https://www.reuters.com/world/china/pacific-islands-delay-security-plan-that-could-open-door-china-2025-06-26/
    (2025c)
  5. (2025, November 20). Chinese research ships, US military active north Pacific, monitor shows. Reuters. https://www.reuters.com/world/china/chinese-research-ships-us-military-active-north-pacific-monitor-shows-2025-11-20/
    (2025d)

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses