Di tengah keramaian berita tentang perceraian selebriti, tak jarang kita disuguhi gambaran buruk tentang dampak pada anak. Banyak yang beranggapan bahwa “broken home” pasti membentuk anak dengan karakter yang lemah dan kepercayaan diri yang rendah.
Namun, kasus perceraian Gading Marten dan Gisella Anastasia (Gisel) pada tahun 2019 menunjukkan bahwa hal itu tidak selalu menjadi kenyataan — asalkan orang tua tetap menempatkan kepentingan anak di atas segala sesuatunya.
Perceraian, pada dasarnya, bukan hanya pemutusan hubungan antara dua dewasa. Ia membawa perubahan besar dalam kehidupan anak: pergeseran rutinitas, perubahan pola pengasuhan, dan ketidakpastian yang bisa mengganggu kebutuhan dasar rasa aman.
Anak yang tidak mendapatkan dukungan yang cukup cenderung menjadi sensitif, cemas, atau bahkan menyalahkan diri sendiri, yang berdampak pada pembentukan karakter dan kepercayaan diri mereka. Di sekolah, ini bisa muncul sebagai penurunan prestasi atau kesulitan bersosialisasi. (Infomasi sebagian diambil dari: https://www.wowkeren.com/berita/tampil/00520894.html )
Namun, kasus Gempi (anak perempuan Gading dan Gisel) menawarkan perspektif yang berbeda. Ketika perceraian terjadi, Gempi masih sangat kecil. Alih-alih terjebak konflik atau kehilangan kehadiran salah satu orang tua, keduanya sepakat menjalani co-parenting yang sehat.
Gading selalu menekankan bahwa “kebahagiaan Gempi” adalah prioritas utama, sedangkan Gisel juga sering menyatakan bahwa komunikasi baik antara keduanya tetap terjaga demi kenyamanan anak.
Baca juga: Si Anak Broken Home dan Kecemburuannya pada Anak Luqman
Hasilnya? Meskipun harus beradaptasi dengan perubahan rutinitas seperti berpindah rumah antar orang tua, Gempi terlihat tetap ceria, aktif, dan tumbuh dalam suasana yang penuh dukungan. Media sering menyoroti bagaimana ia mampu berinteraksi dengan baik dan tampak percaya diri dalam berbagai kesempatan.
Ini membuktikan bahwa perceraian tidaklah selalu merusak masa depan anak, apa yang lebih penting adalah bagaimana orang tua menangani situasi tersebut.
Kita tidak bisa menyangkal bahwa perceraian adalah peristiwa yang menyakitkan. Namun, kasus Gading dan Gisel mengajarkan kita bahwa dengan komitmen untuk co-parenting yang sehat, komunikasi yang terbuka, dan kehadiran yang konsisten, dampak negatif terhadap anak bisa dikurangi.
Anak tidak membutuhkan keluarga yang “utuh” secara bentuk, tetapi keluarga yang penuh cinta, dukungan, dan rasa aman, sesuatu yang masih bisa diberikan meskipun orang tuanya tidak lagi hidup bersama.
Semoga kasus ini bisa menjadi contoh bagi banyak pasangan yang sedang menghadapi keputusan sulit perceraian. Jadikan anak sebagai pusat perhatian, dan buktikan bahwa perceraian bukan akhir dari segalanya untuk masa depan mereka.
Penulis:
- Mahira Khairunnisa Kusuma
- Messi Samsari
- Syawalia Azzahrah Setyono
Mahasiswa PGSD, Universitas Pamulang
Dosen Pengampu: Ibu Irma Sofiasyari
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












