Hari ini saya mendapatkan kabar yang, kalau dipikir-pikir, cukup menguras mental. Sehingga demi mengurangi ketegangannya, saya mengajak teman-teman yang hanya dua orang itu untuk nongkrong, sekalian berbagi tawa, bercerita kanan-kiri, Ke sana-kemari.
Saat itu, ada sebongkah keinginan untuk membagikan apa yang membebani mental ini, namun keinginan itu terpental ketika menyadari pola bercerita dalam lingkaran pertemanan pria. Disadari atau tidak, pria jarang menceritakan beban perasaannya. Kalaupun iya, pria itu akan membungkus narasinya sedemikian rupa; sedemikian rapi untuk menutupi bahwa ia sudah melanggar hukum.
Hukum bahwa pria tidak bercerita.
Alih-alih tenggelam dalam lautan perasaan dan termakan pikiran sialan, saya malah bertanya kenapa hal ini bisa terjadi? Apakah karena sebuah hukum ‘tak tertulis yang mengkonstruksi budaya berbahasa?
Baca juga: Pria dan Perawat: Sebuah Keseimbangan yang Rapuh oleh Konstruksi Gender di Dunia Timur dan Barat
Budaya Berbahasa
Dari bukunya yang berjudul Language and Culture, Karen Risager mengatakan bahwa budaya, sedikit tidaknya, mempengaruhi bagaimana bahasa itu dikonstruksi. Konstruksi dari bahasa, mulai dari kalimat hingga kata, dipengaruhi oleh budaya di mana bahasa itu berasal.
Kalian pikir alasan dari Bahasa Indonesia tidak memiliki pemisahan “dia” perempuan dan laki-laki itu karena apa? Ya budaya, lah! Tidak sampai di sana saja, budaya juga mempengaruhi bagaimana individu di dalamnya menggunakan bahasa mereka.
Bagaimana kita menyampaikan maksud, entah itu sindiran, pujian, atau kasih sayang, dipengaruhi oleh budaya.
Budaya mendorong aktivitas verbal yang diterima secara etika dan menyaring yang tidak diterima secara etika.
Contohnya, budaya mendorong kita untuk memuji, memperhalus kalimat imperatif, dan berbahasa sopan. Di lain sisi, beberapa budaya melarang individu-individunya melakukan hal sebaliknya.
Parahnya, nih! beberapa budaya melarang pria untuk mengungkapkan perasaan.
Sudah tentu bukan sebuah larangan tertulis; melainkan larangan yang hanya memiliki konsekuensi – sebuah konsekuensi sosial budaya di mana pria itu dinilai tidak seperti peruntukannya.
Kontruksi Sosial Budaya: Seharusnya Pria Itu Seperti Apa, Sih?
Pria adalah tinta berwarna merah di atas kanvas “bermerk” Sosial. Tinta itu mewarnai masyarakat dengan warna merahnya – menyala, berani, cerah, kadang menerangi.
Warna merah itu tidak boleh pudar, kemudian berubah menjadi warna merah muda; sebuah warna dari tinta yang dipegang wanita – indah, lucu, dan anggun.
Analogi di atas cukup menggambarkan seperti apa pria seharusnya, setidaknya melalui konstruksi sosial budaya yang diamini masyarakat luas, seluas penjuru dunia.
Situs web yang bertajuk Bright Side pernah membahas hal itu dan mendukung analogi di atas. Selain itu, situs web tersebut menambahkan bahwa konstruksi sosial bukan satu-satunya penyebab pria jadi sok kuat. Namun, hukum itu juga dikonstruksi oleh psikologi.
Pria cenderung membedakan pikiran rasional dengan perasaan emosional. Secara rasional, mereka menekan diri untuk melakukan hal-hal yang “memelihara tinta merahnya”.
Dan dengan mengungkapkan perasaan emosionalnya, mereka menganggap tindakan itu akan beresiko dalam memudarkan “warna pria”; mengubahnya menjadi merah muda.
Mereka menuntut diri mereka untuk memelihara warna merah. Namun dengan bercerita tentang apa yang mereka rasa, pria menganggap dirinya akan dianggap lemah.
Dapat disimpulkan bahwa pria hanya berkonsentrasi terhadap kegiatan yang memelihara kejantanannya, kegiatan yang membuat harga dirinya meningkat.
Menariknya, kegiatan ini tergambar dalam gaya bahasa seorang pria; gaya yang mereka peluk dan gaya yang mereka tendang.
Baca juga: Pemberdayaan Perempuan melalui Novel Ancika: Pencerahan Feminis di Dunia Sastra
Gaya Bahasa Pria: Yang dipeluk dan Yang ditendang
Dalam bukunya yang berjudul Analysing Casual Conversation, Eggins and Slade pada tahun 1997 menyebutkan ada empat jenis gaya bercerita, namun dua diantaranya sangat stereotipe terhadap jenis kelamin. Dua gaya bahasa itu adalah naratif dan anekdot.
Cerita naratif adalah cerita yang memiliki klimaks dan penyelesaian di akhir ceritanya. Sebuah tipikal cerita di mana tokohnya mampu menyelesaikan apa yang menjadi krisis di dalam cerita itu.
Pria, menurut John Corbett, seorang profesor ilmu linguistik, cenderung untuk aktif dalam cerita jenis ini. Sebuah cerita yang bisa memelihara kejantanannya, cerita yang bisa memberi makan warna merahnya.
Di lain sisi, cerita anekdot adalah cerita yang juga berfokus pada krisis namun dibalut dengan candaan dan tanpa harus menyertakan penyelesaian.
Dengan bercerita dengan gaya ini, pencerita akan membuka sisi lemah emosionalnya tanpa memiliki kesempatan untuk meningkatkan kejantanannya.
Masih menurut John Corbett, wanita dominan bercerita dengan gaya ini.
Sebuah perbedaan gaya bahasa dalam bercerita ini membuka tabir baru. Tabir yang tertutup oleh ketidakmampuan orang-orang dalam menyelami perilaku sosial.
Tabir yang menutup fakta bahwa ada dua preferensi berbeda dalam bercerita. Ketika pria ingin ditahu kejantananku melalui konflik yang bisa ia selesaikan; wanita ingin ditahu sisi lemahnya agar ia lebih mendapat kehangatan.
Pria bukan tidak bercerita; namun, mereka bercerita hanya jika menyalakan merahnya.
Namun, apakah kita akan terus mewarisi gagasan seperti ini? Merawat hukum ‘tak tertulis yang dikonstruksikan oleh sosial budaya hingga lupa merawat diri sebagai manusia.
Jika Pria Terus Diam, Untuk Apa Mulut Tercipta?
Toksik maskulinitas adalah istilah yang menggambarkan bagaimana masyarakat sosial menekan pria agar terlihat maskulin dengan cara yang tidak seharusnya, salah satunya adalah dengan memendam apa yang mereka rasakan.
Istilah ini menggambarkan tekanan yang diemban oleh pria, sebuah tekanan yang tidak seharusnya menekan, melainkan menyadarkan.
Memendam apa yang kita rasakan seharusnya bukan merupakan tekanan, melainkan kesadaran.
Kita terkadang lupa bahwa kita manusia, terdiri dari beragam warna yang bukan merah saja, berbaur dengan banyak warna hingga menghasilkan warna yang bukan hanya merah muda.
Merasakan perasaan bukan berarti lemah; sebaliknya, berarti kita masih manusia yang bisa lelah.
Hingga saat paragraf ini dikonstruksi, saya masih memendam apa yang menjadi alasan saya menulis. Tidak bercerita kepada siapa pun tentang apa pun.
Baca juga: The Impact of Gadget Use on Children’s Social Development
Bukan karena saya masih menganut hukum itu, sebuah hukum yang alasannya sudah saya jabarkan di atas. Saya memendam karena tersadar satu fakta, bahwa saya manusia.
Memiliki perasaan wajar adanya, takut akan respon yang hadir juga tak ada bedanya.
Hingga saat paragraf ini dituliskan, saya menyadari satu hal lagi, pria tidak seharusnya “tidak bercerita”. Namun kita harus sadar bahwa kita manusia, dan…
jika pria terus diam, untuk apa mulut tercipta? Jika dengan bercerita kita merasa lebih menjadi manusia, kita harus melakukannya.
Penulis: I Made Chandra Arya Putra
Editor: Anita Said
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














