Pengantar
Dalam kehidupan sosial, penampilan merupakan salah satu bentuk komunikasi nonverbal yang memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan kepada orang lain. Cara berpakaian tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga menjadi sarana untuk mengekspresikan identitas diri. Bagi mahasiswa, khususnya di lingkungan kampus, berpakaian menjadi bagian dari cara mereka menampilkan citra dan karakter pribadi.
Di era modern dan digital saat ini, konsep personal branding semakin berkembang dan tidak hanya diterapkan oleh tokoh publik, tetapi juga oleh mahasiswa. Melalui gaya berpakaian, mahasiswa secara tidak langsung membangun persepsi tertentu di mata orang lain. Oleh karena itu, representasi berpakaian mahasiswa menarik untuk dikaji sebagai bentuk personal branding dalam perspektif Ilmu Komunikasi.
Artikel ini bertujuan untuk membahas bagaimana cara berpakaian mahasiswa dapat merepresentasikan identitas diri sekaligus membentuk personal branding di lingkungan sosial dan akademik.
Sub Bagian I
1. Berpakaian sebagai Bentuk Komunikasi Nonverbal
Dalam kajian Ilmu Komunikasi, berpakaian termasuk ke dalam komunikasi nonverbal, yaitu penyampaian pesan tanpa menggunakan kata-kata. Pakaian mampu menyampaikan pesan mengenai kepribadian, status sosial, nilai, dan bahkan sikap seseorang. Pilihan warna, model, dan gaya berpakaian dapat membentuk kesan tertentu bagi orang yang melihatnya.
Mahasiswa, sebagai individu yang berada dalam lingkungan akademik dan sosial, menggunakan pakaian sebagai alat komunikasi untuk menunjukkan identitas diri. Misalnya, berpakaian rapi dan formal dapat mencerminkan kesan profesional dan serius, sedangkan gaya kasual dapat mencerminkan kesan santai dan terbuka.
2. Konsep Personal Branding dalam Ilmu Komunikasi
Personal branding merupakan proses membangun citra diri yang unik dan konsisten sehingga mudah dikenali oleh orang lain. Dalam konteks komunikasi, personal branding berkaitan dengan bagaimana seseorang mengelola pesan tentang dirinya kepada publik. Personal branding tidak hanya dibentuk melalui komunikasi verbal, tetapi juga melalui komunikasi nonverbal, salah satunya melalui cara berpakaian.
Baca juga: Rahasia Cara Membangun Personal Branding yang Kuat di Era Digital
Bagi mahasiswa, personal branding penting untuk membangun citra positif, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus. Cara berpakaian yang konsisten dan sesuai dengan identitas diri dapat membantu mahasiswa membangun kesan profesional, kreatif, atau intelektual.
Sub Bagian II
1. Representasi Berpakaian Mahasiswa sebagai Personal Branding
Representasi berpakaian mahasiswa sebagai personal branding dapat dilihat dari kesesuaian antara gaya berpakaian dengan identitas dan tujuan yang ingin ditampilkan. Mahasiswa yang ingin menampilkan citra akademis cenderung memilih gaya berpakaian yang rapi dan sopan. Sementara itu, mahasiswa yang ingin menonjolkan kreativitas sering memilih gaya berpakaian yang unik dan berbeda.
Selain itu, media sosial juga memperkuat peran berpakaian sebagai personal branding. Foto dan konten yang diunggah mahasiswa di media sosial sering menampilkan gaya berpakaian tertentu yang secara tidak langsung membentuk persepsi publik. Dengan demikian, berpakaian tidak hanya menjadi representasi diri di dunia nyata, tetapi juga di ruang digital.
Namun, personal branding melalui berpakaian perlu dilakukan secara bijak. Representasi diri yang berlebihan atau tidak sesuai dengan konteks akademik dapat menimbulkan kesan negatif. Oleh karena itu, mahasiswa perlu menyesuaikan gaya berpakaian dengan situasi dan nilai-nilai yang berlaku.
Simpulan
Cara berpakaian mahasiswa merupakan salah satu bentuk komunikasi nonverbal yang berperan penting dalam membangun personal branding. Melalui pakaian, mahasiswa dapat merepresentasikan identitas diri, nilai, dan citra yang ingin ditampilkan kepada lingkungan sosial dan akademik.
Dalam perspektif Ilmu Komunikasi, berpakaian tidak hanya sekadar penampilan, tetapi juga media penyampaian pesan. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memiliki kesadaran dalam mengelola cara berpakaian agar personal branding yang terbentuk bersifat positif, konsisten, dan sesuai dengan konteks.
Referensi
Cangara, H. (2014). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Rajawali Pers.
Mulyana, D. (2015). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nasrullah, R. (2017). Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Penulis: Ashabil Fida Alfarizi (L100220054)
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta
Dosen Pengampu: Mulia
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












