Sejarah Munculnya Aliran Khawarij adalah salah satu bab penting dalam perjalanan panjang umat Islam. Aliran ini muncul pada masa konflik politik awal Islam yang dikenal sebagai fitnah pertama.
Kemunculannya tidak hanya dipicu oleh perselisihan politik, tetapi juga oleh perdebatan teologis yang meninggalkan dampak besar dalam sejarah Khawarij dan perkembangan pemikiran Islam.
Kamu akan melihat bagaimana munculnya aliran Khawarij bermula dari pertentangan Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan, hingga lahirnya doktrin Khawarij yang menjadi ciri khas ekstremisme awal Islam.
Sebagaimana yang diketahui, banyak sekali aliran teologi atau ilmu kalam dalam dunia Islam. Kemunculan berbagai aliran tersebut dikarenakan adanya pemahaman tentang zat, sifat Tuhan, penciptaan alam semesta, dan lainnya.
Masing-masing aliran itu mempunyai pemahaman sendiri mengenai hal tersebut. Salah satunya yaitu aliran khawarij.
Secara etimologi kata khawarij berasal dari bahasa Arab, yaitu kharaja yang berarti keluar, muncul, timbul atau memberontak. Adapun khawarij secara terminologi ilmu kalam adalah suatu sekte/kelompok/aliran pengikut Ali bin Abi Thalib yang keluar meninggalkan barisan karena ketidaksepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima tahkim.
Aliran khawarij muncul setelah adanya peristiwa tahkim, yaitu sebagai upaya menyelesaikan peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah.
Peperangan kedua pihak itu terjadi disebabkan karena Mu’awiyah pada akhir 37 H, menolak mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Karena Ali bin Abi Thalib memindahkan ibu kotanya ke al-Kufah.
Setelah adanya penolakan tersebut Mu’awiyah segera menghimpun pasukannya untuk menghadapi kekuatan Ali sehingga terjadilah perang Siffin pada tahun 37 H/ 658 M. Tentara Ali di bawah pimpinan Malik Al -Asytar hampir mencapai titik kemenangan, karena bisa mendesak tentara Muawiyah.
Tetapi, Amru bin Asy panglima tertinggi dari pasukan Muawiyah ketika melihat pasukannya terdesak mundur, ia memerintahkan pasukannya untuk mengangkat tinggi-tinggi Al-Qur’an dengan ujung tombak sambil berkata Al-Qur’an yang akan menjadi hakim di antara kita.
Kemudian Ali mendapat desakan dari pasukannya untuk menerima ajakan tersebut. Tetapi sebagian di antara pasukan Sayyidina Ali ada yang tidak suka menerima ajakan tahkim itu, Akhirnya kaum ini membenci Ali r.a. karena dianggap lemah dalam menegakkan kebenaran. Kaum inilah yang dinamakan Khawarij.
Baca Juga: Sejarah Timbulnya Aliran-Aliran Ilmu Kalam
Latar Belakang Sejarah Munculnya Aliran Khawarij
Konteks Politik Pasca Pembunuhan Khalifah Utsman
Asal usul Khawarij tidak bisa dilepaskan dari kondisi politik pasca terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan pada tahun 656 M.
Pembunuhan ini memicu keterpecahan khilafah Islam dan menjadi awal mula konflik politik Islam awal. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan istilah fitnah pertama, di mana umat Islam terpecah dalam dukungan politik dan teologi.
Setelah wafatnya Utsman, Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi khalifah. Namun, penunjukan ini tidak diterima semua pihak.
Pertentangan Ali Muawiyah mulai memanas karena Muawiyah, yang saat itu menjabat sebagai gubernur Syam sekaligus kerabat Utsman, menuntut keadilan atas pembunuhan khalifah.
Muawiyah menolak baiat kepada Ali sebelum para pembunuh Utsman diadili. Dari sinilah konflik politik mulai berubah menjadi perseteruan terbuka.
Konflik antara Ali dan Muawiyah
Puncak pertentangan Ali Muawiyah terjadi pada Perang Siffin tahun 657 M. Perang ini bermula dari ketegangan politik yang terus meningkat hingga kedua kubu mengerahkan pasukan.
Ketika pertempuran semakin sengit, pasukan Muawiyah mengangkat mushaf Al-Qur’an di ujung tombak sebagai simbol seruan arbitrase atau tahkim.
Ali sebenarnya menolak usulan itu karena menilai penolakan arbitrase justru lebih sesuai dengan prinsip “la hukma illa lillah” (tidak ada hukum kecuali milik Allah).
Namun sebagian pasukan Ali memaksa untuk menerima arbitrase. Proses tahkim Ali Muawiyah inilah yang kemudian menjadi titik awal munculnya aliran Khawarij.
Bagi mereka yang menolak arbitrase, keputusan itu dianggap sebagai bentuk pengingkaran terhadap kedaulatan Allah. Dari sini lahir kelompok yang menyatakan diri keluar dari barisan Ali, yang nantinya dikenal dengan sebutan Khawarij.
Baca juga: Asal Usul Aliran Khawarij dan Eksistensinya pada Zaman Pemerintahan Khalifah Ali Bin Abi Thalib
Munculnya Kelompok Khawarij
Asal-usul Nama “Khawarij”
Munculnya aliran Khawarij memiliki kaitan erat dengan asal usul Khawarij sebagai kelompok yang menolak hasil arbitrase antara Ali dan Muawiyah.
Secara etimologis, istilah Khawarij berasal dari kata Arab kharaja yang berarti “keluar”. Dari sinilah lahir istilah Khawarij etimologi kharaja, yaitu mereka yang keluar dari barisan pasukan Ali.
Dalam sejarah Khawarij, mereka dikenal sebagai kelompok yang memisahkan diri karena menolak konsep penolakan arbitrase.
Mereka menegaskan bahwa hukum hanya milik Allah dan tidak boleh ditentukan lewat kesepakatan manusia. Pandangan ini kemudian membentuk ideologi Khawarij yang keras terhadap setiap bentuk kompromi politik.
Pemisahan dari Pasukan Ali
Pemisahan dari pasukan Ali terjadi setelah sebagian besar tentaranya merasa kecewa atas penerimaan arbitrase.
Mereka menyatakan diri keluar (khuruj) dari kepemimpinan Ali. Peristiwa ini menandai pembentukan Khawarij sebagai kelompok baru dalam konflik politik Islam awal.
Awalnya, kelompok ini membentuk basis di daerah Harura, sehingga mereka juga disebut al-Haruriyya. Dari sana, mereka menyebarkan propaganda dengan doktrin Khawarij yang menekankan fanatisme kesukuan Khawarij, paham takfir Khawarij, serta penolakan total terhadap tahkim.
Khawarij memandang setiap Muslim yang tidak sejalan dengan pandangan mereka sebagai kafir. Inilah salah satu bentuk ekstremisme awal Islam yang menjadikan mereka berbeda dengan kelompok lain.
Momentum Politik dan Ideologis
Momentum ideologis Khawarij sangat dipengaruhi oleh slogan terkenal mereka: “la hukma illa lillah” atau “tidak ada hukum selain milik Allah”. Bagi mereka, siapa pun yang menerima arbitrase telah menolak otoritas Allah dan otomatis kafir.
Doktrin Khawarij ini melahirkan ciri khas akidah Khawarij yang keras dan eksklusif. Mereka tidak segan melakukan pemberontakan Khawarij terhadap siapa pun yang dianggap menyeleweng dari ajaran politik Khawarij. Dalam konteks politik pasca Utsman, hal ini menambah keterpecahan khilafah Islam dan memperuncing konflik internal umat.
Dari sisi teologi Khawarij, mereka menafsirkan teks agama secara literal tanpa mempertimbangkan konteks sosial. Pemikiran ini menjadikan cakupan sosial Khawarij sangat sempit, serta mendorong munculnya fanatisme berlebihan.
Baca juga: “Khawarij” Aliran dalam Islam
Tokoh Awal dan Pertempuran Penting
Dzul Khuwaishirah dan Benih Awal Khawarij
Jika kita menelusuri lebih jauh sejarah Khawarij, akar ideologi mereka bisa dilacak sejak masa Rasulullah ﷺ. Salah satu tokoh yang sering disebut sebagai benih awal Khawarij adalah Dzul Khuwaishirah at-Tamimi. Ia dikenal sebagai sosok yang berani mengkritik langsung Rasulullah ketika pembagian harta rampasan perang.
Kritikan itu dianggap sebagai tanda awal fanatisme kesukuan Khawarij dan lahirnya mentalitas yang kelak menjadi ciri khas doktrin Khawarij. Meski Rasulullah menolaknya dengan tegas, sikap ekstrem ini menunjukkan pola pemikiran yang kemudian diwarisi oleh generasi berikutnya.
Pertempuran Nahrawan dan Pembunuhan Ali
Setelah munculnya al-Haruriyya yang memisahkan diri, pasukan Khawarij akhirnya bentrok dengan pasukan Ali. Puncaknya terjadi dalam pertempuran Nahrawan pada tahun 658 M.
Pada pertempuran itu, Ali berhasil mengalahkan kelompok Khawarij dengan jumlah korban Khawarij yang sangat besar. Namun meski kalah secara militer, ideologi Khawarij tetap hidup dan berkembang dalam bentuk sekte-sekte Khawarij setelahnya.
Dendam politik Khawarij tidak berhenti di Nahrawan. Mereka kemudian menyusun rencana untuk membunuh tiga tokoh besar sekaligus: Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sufyan, dan Amr bin Ash. Dari rencana itu, hanya pembunuhan Ali yang berhasil.
Pada tahun 661 M, Ali dibunuh oleh seorang Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam. Peristiwa tragis ini memperdalam keterpecahan khilafah Islam dan menegaskan bahaya pemikiran Khawarij bagi stabilitas politik Islam awal.
Pembunuhan Ali menjadi bukti nyata bahwa akidah Khawarij, dengan paham takfir Khawarij yang ekstrem, dapat menimbulkan dampak sejarah Khawarij yang besar. Dari sini lahir sekte-sekte Khawarij yang terus berkembang dengan variasi moderat hingga ekstrem.
Baca juga: Ragam Aliran Ilmu Kalam dalam Sudut Pandang Pelaku Dosa Besar
Doktrin dan Ajaran Khawarij
Doktrin Politik dan Akidah
Sejak awal pembentukan Khawarij, mereka menegaskan prinsip fundamental bahwa hukum hanya milik Allah. Slogan “la hukma illa lillah” bukan sekadar seruan politik, tetapi menjadi dasar teologi Khawarij yang membentuk seluruh arah pemikiran mereka.
Dalam akidah Khawarij, menerima arbitrase dianggap sebagai dosa besar. Oleh karena itu, mereka menjatuhkan paham takfir Khawarij terhadap siapa saja yang mendukung tahkim Ali Muawiyah.
Tak hanya lawan politik, bahkan sahabat Nabi pun tidak luput dari vonis kafir jika tidak sejalan dengan ideologi Khawarij.
Kamu bisa melihat bahwa ajaran politik Khawarij sangat kaku. Mereka menolak kompromi, tidak mengenal toleransi, dan menganggap perbedaan sebagai alasan untuk berperang. Hal ini menjadikan mereka salah satu contoh paling awal dari ekstremisme dalam Islam.
Ciri-Ciri Ideologis
Ideologi Khawarij memiliki beberapa ciri khas yang mudah dikenali. Pertama, mereka menafsirkan Al-Qur’an secara literal tanpa mempertimbangkan konteks sosial maupun sejarah. Kedua, mereka memiliki semangat egalitarian, menolak otoritas keturunan Quraisy, dan menganggap siapa pun bisa menjadi pemimpin selama memenuhi syarat keimanan menurut standar mereka.
Namun di sisi lain, fanatisme kesukuan Khawarij sering membuat cakupan sosial Khawarij menjadi sempit. Mereka mudah mengkafirkan orang lain, bahkan sesama Muslim. Itulah sebabnya lahir istilah bid’ah Khawarij, karena pola pikir mereka dianggap menyimpang dari jalan utama Islam.
Ajaran Praktis Khawarij
Dalam praktiknya, doktrin Khawarij melahirkan berbagai tindakan ekstrem. Mereka menghalalkan darah Muslim yang tidak sejalan, menganggap harta lawan sebagai rampasan perang, dan tidak segan melakukan pemberontakan Khawarij terhadap penguasa.
Namun tidak semua sekte Khawarij bersifat keras. Seiring perpecahan Khawarij, muncul kelompok Khawarij moderat seperti Ibadiyah yang lebih toleran, di samping kelompok Khawarij ekstrem seperti Azariqah. Dari sini terlihat betapa luas cakupan pemikiran Khawarij, mulai dari moderasi hingga fanatisme yang mengarah pada radikalisme.
Perpecahan dan Sekte-Sekte Khawarij
Seiring berjalannya waktu, perpecahan Khawarij tidak terelakkan. Setelah pertempuran Nahrawan dan pembunuhan Ali, para pengikut Khawarij mulai berbeda pendapat dalam menafsirkan teologi Khawarij dan ajaran politik Khawarij.
Akibatnya, muncul sekte-sekte Khawarij dengan variasi doktrin, mulai dari Khawarij ekstrem hingga Khawarij moderat.
Azariqah (Kelompok Paling Ekstrem)
Sekte Azariqah, yang dipimpin oleh Nafi’ bin al-Azraq, dikenal sebagai kelompok paling keras dalam sejarah Khawarij. Mereka memiliki ideologi Khawarij yang radikal: mengkafirkan semua Muslim di luar kelompok mereka, bahkan sampai pada tahap menghalalkan darah perempuan dan anak-anak.
Azariqah menganggap bahwa siapa pun yang tidak ikut dalam jihad mereka otomatis kafir. Inilah contoh nyata ekstremisme awal Islam, di mana paham takfir Khawarij berkembang hingga batas paling ekstrem. Karena kerasnya doktrin Khawarij versi Azariqah, mereka sering disebut sebagai ancaman besar bagi stabilitas politik Islam.
Al-Muhakkimah (Al-Muhakkima al-Ula)
Kelompok Al-Muhakkima al-Ula merupakan bentuk awal pembentukan Khawarij. Mereka dikenal karena menolak arbitrase dalam Perang Siffin dan menegaskan bahwa hanya Allah yang berhak menjadi hakim. Dari slogan inilah lahir istilah terkenal “la hukma illa lillah”.
Meskipun tidak seekstrem Azariqah, kelompok ini tetap menjadi dasar ideologi Khawarij yang menolak kompromi politik. Al-Muhakkima menandai lahirnya ajaran politik Khawarij yang berakar pada penolakan arbitrase.
Ajaridah
Sekte Ajaridah muncul dengan sikap yang relatif lebih moderat dibanding Azariqah. Mereka tidak secara otomatis mengkafirkan Muslim yang berbeda pandangan. Hijrah bagi mereka dianggap sebagai kebajikan, bukan kewajiban mutlak.
Dalam teologi ilmu kalam Khawarij, kelompok Ajaridah sering dipandang sebagai representasi Khawarij moderat. Meskipun tetap keras dalam hal dosa besar, mereka memberi ruang lebih luas bagi perbedaan sosial.
Najdat
Sekte Najdat muncul sebagai kelompok dengan pandangan khas: mereka membedakan antara dosa besar dan dosa kecil. Namun, dosa kecil yang dilakukan terus-menerus tetap dianggap membawa pelakunya kepada kekafiran.
Najdat juga menolak konsep taqiyah (menyembunyikan iman), karena dianggap bentuk kepura-puraan yang bertentangan dengan akidah Khawarij. Dari segi cakupan sosial Khawarij, Najdat masih cukup ketat, meski tidak seekstrem Azariqah.
Ibadiyah (Kelompok Moderat)
Ibadiyah adalah satu-satunya sekte Khawarij yang masih bertahan hingga sekarang. Berbeda dari sekte-sekte Khawarij lainnya, Ibadiyah dikenal sebagai Khawarij moderat. Mereka menolak tindakan kekerasan yang berlebihan, tidak menghalalkan darah Muslim di luar kelompok, dan menganggap dosa besar masih bisa diampuni dengan taubat.
Ibadi sebagai moderat menjadi contoh bahwa tidak semua ideologi Khawarij identik dengan radikalisme. Meskipun berasal dari akar sejarah Khawarij, mereka mampu beradaptasi dengan konteks sosial dan menghindari fanatisme berlebihan.
Shufriyah (Sufriyah)
Sekte Shufriyah mencoba membuat klasifikasi dalam hal dosa besar. Mereka membedakan antara dosa besar yang memiliki sanksi hukum duniawi dan yang tidak. Bagi mereka, pelaku dosa tidak otomatis kafir, sehingga pandangan ini sedikit lebih lunak dibanding Azariqah.
Meski demikian, bid’ah Khawarij masih terlihat dalam ajaran Shufriyah, karena tetap ada kecenderungan menilai iman orang lain dengan standar sempit.
Warisan dan Dampak Pemikiran Khawarij
Munculnya aliran Khawarij meninggalkan jejak yang sangat dalam dalam sejarah pemikiran Islam. Walaupun kelompok ini mengalami perpecahan Khawarij menjadi banyak sekte, doktrin Khawarij tetap menjadi bahan kajian ilmiah Khawarij oleh para ulama sepanjang zaman.
Dampak Teologis
Dalam teologi Khawarij, konsep paham takfir Khawarij menjadi warisan paling kontroversial. Mereka menekankan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir, sehingga harus diperlakukan layaknya musuh. Pandangan ini berbeda dari arus utama teologi Islam, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah, yang menganggap pelaku dosa besar tetap Muslim meski berdosa.
Pemikiran ini kemudian mendorong lahirnya diskusi dalam teologi ilmu kalam Khawarij dan menumbuhkan kajian panjang mengenai iman, kufur, dan dosa besar. Dengan demikian, meskipun dianggap sebagai bid’ah Khawarij, keberadaan mereka memperkaya wacana intelektual Islam.
Dampak Politik dan Sosial
Dari sisi politik, ajaran politik Khawarij menjadi salah satu faktor yang mempercepat keterpecahan khilafah Islam. Dengan ideologi Khawarij yang menolak kompromi, mereka sering melakukan pemberontakan Khawarij terhadap penguasa yang sah.
Cakupan sosial Khawarij pun sempit, karena mereka hanya mengakui kelompoknya sebagai representasi Islam sejati. Sikap ini memunculkan konflik politik Islam awal yang memakan banyak korban Khawarij maupun Muslim lain.
Namun, di sisi lain, ide egalitarian yang mereka bawa juga memengaruhi gerakan sosial. Konsep bahwa siapa saja bisa menjadi pemimpin tanpa harus dari Quraisy pernah menjadi inspirasi dalam revolusi Berber di Afrika Utara, yang memperlemah dominasi Dinasti Umayyah.
Khawarij di Zaman Modern
Meski banyak sekte Khawarij telah punah, warisan pemikiran mereka masih terasa hingga kini. Khawarij di zaman modern sering dijadikan contoh dalam pelajaran ekstremisme Islam. Banyak kelompok radikal yang menggunakan takfir dan kekerasan dianggap memiliki kemiripan dengan paham Khawarij.
Bahaya pemikiran Khawarij tidak hanya terletak pada kekerasan, tetapi juga pada intoleransi terhadap perbedaan. Dari sini, umat Islam bisa mengambil pelajaran ekstremisme Islam: radikalisme lahir ketika teks dipahami tanpa konteks, ketika fanatisme kesukuan Khawarij diutamakan, dan ketika kompromi ditolak secara mutlak.
Oleh karena itu, memahami konteks sejarah Khawarij penting agar umat Islam bisa menyeimbangkan antara toleransi dan radikalisme.
Kesimpulan
Sejarah Munculnya Aliran Khawarij bukan hanya tentang sebuah kelompok pemberontak dalam sejarah Islam, tetapi juga tentang bagaimana konflik politik bisa melahirkan ideologi yang berpengaruh hingga berabad-abad. Dari konteks politik pasca Utsman, perang Siffin, hingga tahkim Ali Muawiyah, kita melihat bagaimana penolakan arbitrase melahirkan pembentukan Khawarij.
Dengan doktrin Khawarij yang keras, mereka terpecah menjadi berbagai sekte, dari Khawarij ekstrem seperti Azariqah hingga Khawarij moderat seperti Ibadiyah. Perpecahan Khawarij ini menjadi cermin bahwa ideologi yang kaku dan tidak fleksibel akan sulit bertahan tanpa fragmentasi.
Dampak sejarah Khawarij terasa hingga kini, baik dalam teologi, politik, maupun sosial. Mereka menjadi pelajaran penting dalam memahami toleransi dan radikalisme. Dengan kajian ilmiah Khawarij, kita bisa lebih bijak melihat bahaya pemikiran Khawarij sekaligus mengambil hikmah untuk mencegah lahirnya ekstremisme di masa modern.
Pada akhirnya, memahami akar sejarah Khawarij membantu kita menguatkan nilai toleransi dalam Islam dan mencegah agar bid’ah Khawarij tidak terulang dalam bentuk baru di era sekarang.
Penulis: Zulfa Musyafatul Khusna
Mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
IAIN Pekalongan
Editor: Diana Pratiwi
*Artikel ini telah di-update pada tanggal 16 Agustus 2025
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













