Tekanan Akademik dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Peserta Didik pada Jenjang SD

tekanan akademik
Tekanan Akademik dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Peserta Didik pada Jenjang SD. Sumber: MMI.

Pendidikan akademik adalah suatu ilmu yang wajib setiap orang miliki, dari jenjang paling dasar, seperti; Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan jenjang pendidikan selanjutnya.

Pendidikan ini sangat penting untuk dijalani, diperjuangkan, dan diterima dengan baik. Agar kita sebagai manusia yang akan menjadi penerus bangsa, dapat memiliki ilmu yang tinggi dan pemikiran yang lebih luas.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Pada pendidikan Sekolah Dasar merupakan suatu pondasi yang sangat penting karena ditahap ini anak mulai dibentuk cara belajar, pembentukan karakter dan kebiasaan sosial anak. Tapi perlu diketahui, anak-anak di usia ini masih dalam tahap perkembangan psikologis, jadi perasaan mereka sangat sensitif.

Mereka sangat perlu lingkungan yang nyaman, guru yang bisa membimbing dengan baik, dan dukungan penuh dari orang sekitar.

Dan menurut World Health Organization (WHO) Kesehatan Mental adalah kondisi kesejahteraan mental yang memungkinkan seseorang mengatasi tekanan hidup, menyadari kemampuan mereka, belajar dan bekerja dengan baik, serta berkontribusi bagi komunitas mereka. Kesehatan mental memiliki nilai intrinsik dan instrumental, serta merupakan hak asasi manusia.

Pada hasil observasi dilapangan, ada orang tua yang mengeluh akan tugas anaknya berupa pembuatan Power Point, yang menyebabkan orang tuanya kesulitan menangani akan tugas anaknya tersebut.

Baca Juga: Dampak Bullying terhadap Perkembangan Psikologis, Sosial, dan Akademik Peserta Didik

Hal ini juga dikarenakan anaknya yang masih berada di jenjang SD belum terlalu memahami cara membuat Power Point seperti apa, serta belum terlalu bisa berpikir secara luas dan menyeluruh.

Pada kenyantaan pada zaman sekarang yang semakin berkembang, banyak anak SD justru harus menghadapi tekanan setiap hari, terutama dari tugas yang menumpuk, suasana belajar yang kurang nyaman, atau bahkan dari lingkungan bermain mereka.

Pada tuntutan akademik seperti; Tugas harian, ujian, presentasi, beban belajar yang berlebihan, dan adanya batasan waktu untuk menyelesaikan tugas, hal ini dapat memicu stres pada siswa.

Menurut kami untuk anak SD yang sudah belajar presentasi tersebut kurang relevan. Karena pada masa SD, anak sedang belajar bagaimana cara mengungkapkan emosionalnya, pembentukan karakter dan mulai bersosial dengan teman-temannya.

Maka dengan adanya tugas presentasi, anak SD menjadi stres, karena tidak terlalu paham mengenai presentasi. Bahkan gurunya pun belum tentu menjelaskan secara detail satu-persatu mengenai tahapan pembuatan presentasi. Serta adanya tugas yang berlebihan, membuat anak stres.

Karena pada zaman sekarang, anak SD mulai belajar dari jam 07.00 pagi s/d 14.00 siang, yang menyebabkan kelelahan, pikiran tidak fresh, menurunnya kesehatan. Belum lagi setelah selesai sekolah, anak diminta orang tuanya untuk mengikuti les.

Baca Juga: Sekolah Terbaik Bukan Fokus pada Akademik Saja

Hal ini menyebabkan juga anak yang merasa kelelahan fisik yang menyebabkan emosi dan dapat mengganggu kesehatan mental pada anak. Dan hal ini sering orang tua tidak sadari.

Menurut Lev Vygotsky, anak memiliki Zone of Proximal Development (ZPD), yaitu jarak antara kemampuan yang sudah bisa dilakukan sendiri dan kemampuan yang bisa dicapai dengan bantuan orang dewasa atau teman yang lebih mampu.

Jika tugas yang diberikan terlalu sulit dan berada di luar ZPD anak seperti membuat presentasi Power Point yang belum mereka pahami maka anak akan mengalami kebingungan dan tekanan.

Sebaliknya, jika tugas diberikan sesuai kemampuan dan disertai bimbingan (scaffolding), anak akan merasa lebih mampu, percaya diri, dan nyaman dalam belajar.

Oleh karena itu, beban tugas pada siswa SD harus disesuaikan dengan tahap perkembangan dan didukung pendampingan yang tepat agar tidak menimbulkan stres dan gangguan kesehatan mental.

Menurut Jean Piaget, anak usia Sekolah Dasar berada pada tahap operasional konkret, yaitu tahap di mana anak hanya mampu memahami hal-hal yang bersifat nyata dan sederhana. Mereka belum siap menerima materi yang terlalu abstrak atau teknis, seperti pembuatan presentasi menggunakan PowerPoint.

Baca Juga: Stres Akademik dan Dampaknya pada Prestasi Belajar Siswa

Jika anak dipaksa mengerjakan tugas di luar tahap perkembangannya, hal tersebut dapat menimbulkan kebingungan, tekanan, bahkan stres.

Oleh karena itu, beban belajar anak SD harus disesuaikan dengan tahap perkembangannya agar proses belajar menjadi lebih efektif, menyenangkan, dan tidak mengganggu kesehatan mental mereka.

Cara penanggulangan tekanan akademik pada anak SD, dapat dikurangi dengan menyesuaikan beban belajar yang diberikan guru. Anak pada usia ini masih berkembang, sehingga tugas yang terlalu banyak atau terlalu sulit bisa membuat mereka mudah lelah dan stres.

Guru perlu memberi tugas yang lebih ringan, menyenangkan, dan sesuai kemampuan anak, serta mengurangi kegiatan seperti presentasi dengan pembuatan Power Point yang belum tentu mereka kuasai. Pembelajaran juga sebaiknya dibuat lebih santai melalui permainan edukatif atau kegiatan kreatif.

Lingkungan kelas yang nyaman dan guru yang memahami kondisi emosional siswa sangat membantu anak merasa lebih tenang saat belajar.

Terutama Peran orang tua juga sangat penting dalam menjaga keseimbangan aktivitas anak. Orang tua sebaiknya tidak memaksakan anaknya ikut banyak les, jika anaknya sudah terlihat lelah, karena mereka tetap membutuhkan waktu untuk istirahat, bermain, dan bersosialisasi.

Baca Juga: Prokrastinasi Akademik: Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Guru dan orang tua juga perlu memahami pentingnya kesehatan mental dan mengenali tanda-tanda stres pada anak. Sekolah dapat menyediakan ruang konseling atau tempat curhat sederhana agar anak merasa aman ketika ingin bercerita.

Dengan kerja sama yang baik antara pihak sekolah dan keluarga, tekanan akademik dapat berkurang sehingga anak bisa belajar dengan lebih nyaman dan bahagia. Peran orang tua sangat penting dalam menjaga keseimbangan aktivitas anak agar tidak terbebani secara akademik.


Penulis:
1. Humaira Tunnisa
2. Nevi Rihaadatul Ais
3. Khairunisa Nabila Sava Maulidia
4. Bikroh Syarifah Adia Meka
Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pamulang  


Dosen Pengampu: Irma Sofiasyari, S.Pd., M.Pd.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi 


Daftar Pustaka

World Health Organization. (2022). Mental health: Fact sheet. https://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs220/en/

Jones, D. H. T. (2005). Elementary education: A reference handbook. Santa Barbara, California: ABC-CLIO,Inc

Mcleod, S. (2025). Teori Perkembangan Kognitif Vygotsky. Simply Psychology. https://doi.org/10.5281/zenodo.15680745

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses