Jujur kalian sering merasa capek ga sih, harus selalu tampil sempurna di media sosial seperti Instagram? Apalagi kamu seorang selebgram hijaber yang harus tampil on point dengan ootd syar’i, caption yang penuh inspirasi, karir cemerlang, dan lain-lain.
Ini dilakukan hanya untuk membentuk dan mempertahankan citra diri kita terlihat baik di mata semua orang.
Sangatlah penting bagi kamu seorang selebgram untuk menjaga citra diri karena terkadang ekspektasi followers itu tinggi, dan jika terjadi kegagalan menjaga citra tersebut akan mengakibatkan hujatan hingga rusaknya karir profesional sebagai selebgram.
Namun, sebagai manusia yang jauh dari kata sempurna yang terkadang melakukan kesalahan baik itu disengaja ataupun tidak tetap berakibat pada ekspektasi orang-orang yang sudah terbentuk terhadap diri pribadi.
Contoh kasus seperti skandal seorang selebgram hijaber berinisial “J” yang gagal menjaga citra sebagai publik figur, dalam unggahan dan perilaku pribadi yang dianggap bertentangan dengan personal branding sebagai selebgram hijaber.
Ia mendapat berbagai hujatan dari netizen hingga publik figur lainnya. Dampak dari kasus tersebut tak hanya membuat dunia karirnya hancur, namun juga kehidupan rumah tangganya juga ikut hancur.
Baca Juga: Wabah Self-Diagnosis di Media Sosial: Tantangan Baru Kesehatan Mental Indonesia
Ini hanya salah satu contoh kasus dampak dari kegagalan menjaga citra di publik, walaupun perilaku ini juga tidak dapat dibenarkan.
Saat ini media sosial seperti Instagram telah mengubah cara individu membangun dan mengelola citra diri. Bagi kamu seorang selebgram khususnya selebgram hijaber, sering menghadapi tekanan untuk menjaga citra diri yang ideal.
Kamu harus terus terlihat baik dan menginspirasi bagi netizen, padahal kamu juga ingin seperti orang lain yang menggunakan media sosial untuk meluapkan emosional seperti galau atau curhat tanpa harus dihakimi.
Ini dapat memengaruhi kesehatan mentalmu karena mempertahankan citra diri yang ideal di hadapan publik secara terus menerus dapat memicu kelelahan mental atau mental fatigue.
Maka dari itu second account atau akun kedua dalam Instagram dapat kamu gunakan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan profesional dan emosionalmu.
Bukan hanya sekadar buat iseng, second account bisa kamu gunakan sebagai strategi untuk survive di dunia digital yang paling ampuh untuk menjaga kesehatan mental di tengah gempuran untuk tampil sempurna.
Baca Juga: Doomscrolling: Ketika Konsumsi Informasi Berlebihan Mengancam Kesehatan Mental
Kamu dapat mengatur bagaimana dirimu ingin menyampaikan pesan dan menampilkan dirimu kepada berbagai kelompok audiens luas atau audiens yang dekat secara personal.
Yuk, kita bedah kenapa kok second account bisa jadi solusi untuk permasalahanmu dengan menggunakan pandangan Teori Dramaturgi!
Dalam Teori Dramaturgi yang tulis oleh Erving Goffman menggambarkan kehidupan sehari-hari sebagai pertunjukan teater di mana kita sebagai aktor yang berperan di atas panggung.
Teori ini memperkenalkan konsep front stage dan back stage yang membuat orang akan mengelola kesan di hadapan audiens yang berbeda.
Konsep ini menekankan identitas tidak akan selalu sama, sesuai dengan ekspektasi masyarakat dan konteks sosial.
Jika konsep ini diterapkan maka, akun instagram utama dapat kamu gunakan sebagai front stage yang menampilkan citra dirimu yang ideal.
Sedangkan, second account kamu gunakan sebagai back stage yang menampilkan citra dirimu berbeda yang dapat lebih bebas sesuai keinginan kamu karena kedua akun tersebut memiliki karakteristik audiens yang berbeda.
Di akun utama sebagai front stage, kamu sebagai selebgram harus konsisten menjalankan peran sebagai figur publik yang profesional dan patut dicontoh.
Baca Juga: Rahasia di Balik Pesona Tasya Farasya: Seberapa Kuat Personal Branding Mengubah Segalanya?
Tuntutan ini dapat bersifat ganda, pertama sebagai aspek komersial untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan dan kedua sebagai aspek moral untuk memenuhi ekspektasi netizen sebagai panutan dalam dunia hijaber.
Setiap unggahan mulai dari pakaian hingga narasi dipilih secara hati-hati agar tidak merusak citra ideal. Namun, ini akan menjadi risiko jika gagal dalam menjaga citra.
Misalnya, membuat kesalahan kecil yang dapat memicu kritik pedas dan cyberbullying dari netizen yang merugikan nilai personal branding kamu yang sudah dibangun sejak lama.
Tekanan untuk melakukan “akting” sempurna ini adalah sisi gelap dari popularitas yang tidak dapat dihindarkan dan secara langsung dapat mengancam kesehatan mental kamu.
Di second account sebagai back stage, kamu sebagai selebgram dapat menjadi dirimu sendiri dan dapat melepas peran sebagai figur publik.
Dalam akun ini kamu dapat melakukan segmentasi audiens yang membatasi siapa yang dapat melihat kontenmu, sehingga kamu dapat lebih jujur dan terbuka.
Second account digunakan sebagai tempat melepas emosi, berbagi keresahan, membangun hubungan sosial yang lebih intim dengan kelompok teman yang lebih kecil, atau berbagi momen yang tidak dapat kamu tampilkan di akun utama.
Hal ini sangat penting untuk mengurangi dampak stres yang ditimbulkan dari tekanan di akun utama.
Baca Juga: Rahasia Cara Membangun Personal Branding yang Kuat di Era Digital
Dari berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa kebanyakan orang menggunakan second account selain untuk privasi namun juga memberikan ruang bagi diri sendiri untuk dapat berekspresi secara lebih asli dengan menyeimbangkan ekspektasi masyarakat dan kebutuhan individu.
Oleh karena itu, bagi kamu seorang selebgram ini dapat kamu terapkan supaya kesehatan mental kamu terjaga.
Memprioritaskan kesehatan mental lebih penting daripada citra visual, bahkan bagi kamu yang menghasilkan keuntungan ekonomi dari citra tersebut.
Dari sini dapat dipelajari bahwa pentingnya ruang lain yang dapat digunakan sebagai back stage supaya dapat tetap survive di dunia digital saat ini.
Second account bukan hanya sekadar tren, melainkan solusi yang strategis untuk permasalahan kamu sebagai seorang selebgram.
Ini adalah praktik manajemen peran yang cermat, yang memastikan peran di front stage sebagai selebgram berjalan dengan baik sementara kebutuhan psikologis individu dipenuhi di back stage sebagai diri pribadi yang bebas.
Pada akhirnya, pendekatan ini mengingatkan bahwa setiap orang terlepas dari tingkat popularitasnya, tetap harus memegang kendali atas narasi diri sendiri dan memprioritaskan kehidupan pribadi dan kesehatan mental.
Penulis: Hafid Mahfud Yhanuar Syah Putra
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta
Dosen Pengampu: Mulia Ramdhan Fauzani, S.I.Kom., M.Sc.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













