Diet Ekstrem sampai Badan Menjadi Kurus untuk Memenuhi Standar Kecantikan: Apakah itu Sehat?

bahaya diet ekstrem
Diet Ekstrem sampai Badan Menjadi Kurus untuk Memenuhi Standar Kecantikan: Apakah itu Sehat? Sumber: Penulis.

Kita semua harus tahu bahwa melakukan sesuatu yang berlebihan seperti diet ekstrem itu tidak baik terhadap kesehatan tubuh kita, apalagi diet ekstrem tersebut membuat tubuh kita sangat kurus yang sangat berdampak terhadap kesehatan kita. Tetapi diet ekstrem tidak berdampak terhadap kesehatan seseorang saja, diet ekstrem ini juga bisa berdampak terhadap psikolgis yang dimana seseorang bisa mengalami gangguan makan. Nah masih banyak sekali masyarakat yang tidak tahu atau menyepelekan tentang gangguan makan, padahal ganggun makan ini adalah gangguan psikologis yang serius yang bisa berdampak terhadap kesehtan mental, kesehatan fisik, dan kehidupan sosial jadi kita harus tahu dan tidak menyepelekan jika seseorang mengalami gangguan makan. Gangguan makan juga terbagi menjadi tiga gangguan yaitu anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan binge eating disorder dan dalam artikel ini kita akan fokus membahas tentang anoreksia nervosa karena diet ekstrem adalah salah satu gejala dari gangguan anoreksia nervosa

Anoreksia Nervosa

Menurut buku Diagnostic and Statiscal Manual of Mental Disorders (DSM-5), Anoreksia nervosa adalah gangguan makan yang membuat seseorang sangat membatasi makanan yang membuat berat badannya sangat  rendah atau dibawah normal karena takut yang berlebihan untuk menjadi gemuk, meskipun sebenarnya tubuhnya sudah sangat kurus. Orang dengan kondisi ini biasanya tetap merasa dirinya gemuk, walaupun orang lain melihat tubuhnya sangat kurus. Perlu kita ketahui bahwa menegakkan diagnosis hanya boleh dilakukan oleh psikolog dan psikiater

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Gejala Anoreksia Nervosa

Terdapat tiga gejala dari gangguan Anoreksia Nervosa

  1. Pembatasan asupan energi (diet ekstrem)
  2. Takut gemuk / takut naik berat badan
  3. Gangguan persepsi tubuh

Ada juga gejala seperti suasana hati tertekan, menarik diri dari pergaulan, mudah tersinggung, insomnia, dan berkurangnya minat terhadap seks ketika berat bedan seseorang yang mengalami gangguan Anoreksia Nervosa sangat rendah.

Apa Penyebab Anoreksia Nervosa

  1. Tekanan psikologis, seperti rasa tidak puas dengan tubuh sendiri, takut gemuk, rendah diri, dan ingin terlihat sempurna.
  2. Pengaruh lingkungan, misalnya komentar negatif tentang tubuh, standar kecantikan yang mengutamakan tubuh kurus, konflik keluarga, atau kurangnya dukungan dari orang terdekat.
  3. Faktor biologis, yaitu gangguan pada zat kimia otak yang mengatur nafsu makan dan suasana hati sehingga membuat seseorang sulit makan dan mudah mengalami depresi.

Baca Juga: Tips Diet Sehat dan Cepat Kurus: Inilah Cara Alami Turunkan Berat Badan

Dampak Anoreksia Nervosa

  1. Gangguan pencernaan.
  2. Gangguan jantung.
  3. Masalah hormon.
  4. Penurunan berat badan berlebihan.
  5. Masalah tulang.

Upaya Pencegahan

Penerapan body positivity penting untuk mencegah tarjadinya gangguan makan. Gerakan ini mengajarkan bahwa setiap orang sebaiknya menghargai tubuhnya apa adanya, tanpa dibandingkan dengan standar kecantikan yang tidak realistis. Dengan mendorong penerimaan diri dan menghargai keberagaman bentuk tubuh, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat secara emosional. Ketika edukasi, empati, dan body positivity berjalan bersama, stigma tentang gangguan makan bisa semakin berkurang.

Jika ingin memiliki tubuh yang ideal sebaiknya melakukan hal yang sewajarnya saja dan tidak menyakiti diri sendiri, seperti olahraga yang tidak berlebihan, makan makanan yang sehat dan seimbang,

Penanganan Anoreksia Nervosa

Sebelum kita membahas tentang untuk gangguan anoreksia nervosa, perlu diingatkan lagi kalau diagnosis hanya bisa dilakukan oleh psikolog dan psikiater.  Nah untuk penaganan terhadap seseorang yang mengalami Anoreksia Nervosa adalah terapi kognitif-perilaku  (CBT-E) untuk membangun dan membentuk perilaku makan yang sehat dan mengatasi pemikiran yang berkaitan dengan gangguan Anoreksia Nervosa, terapi keluarga juga penting untuk memberikan dukungan dari orang terdekat, dan penggunaan obat sesuai anjuran profesional jika kondisi sudah terlalu buruk.

Mengakhiri Stigma Masyarakat yang Masih Salah tentang Gangguan Makan

Stigma tentang gangguan makan bisa berkurang ketika masyarakat memahami bahwa kondisi ini bukan sekadar “ingin kurus” atau “tidak mau makan”, tetapi masalah psikologis yang serius. Kita perlu menghindari komentar tentang bentuk tubuh orang lain dan menggunakan cara bicara yang lebih sensitif. Media sosial juga sebaiknya diisi dengan konten yang mendukung, bukan yang membuat orang merasa harus memiliki tubuh tertentu.

Baca Juga: 7 Tips Menjaga Berat Badan Ideal dan Manfaatnya

Kesimpulan

Anorexia nervosa bukan persoalan “ingin kurus,” tetapi kondisi serius yang memengaruhi tubuh dan pikiran sekaligus. Pemahaman yang tepat membantu kita melihat bahwa penyintas membutuhkan dukungan, bukan penilaian. Dengan mengenali gejala, faktor penyebab, dan dampaknya, ruang untuk empati dan bantuan menjadi lebih terbuka. Semakin banyak orang sadar, semakin besar peluang bagi mereka yang sedang berjuang untuk pulih.

Penulis:
1. Azarah Syafriatma (G1C124040)
2. Nur Muhammad Khoir (G1C124044)
3. M.Vinogy Ghifari Gazwan (G1C124072)
Mahasiswa Psikologi Universitas Jambi (UNJA)

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Daftar Pustaka

Kristianingtyas, E. R., & Kristinawati, W. (2025). HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DENGAN KECENDERUNGAN ANOREXIA NERVOSA PADA REMAJA PEREMPUAN. Journal of Innovation Research and Knowledge, 4(11), 8553-8562.

Azzahara, N. F., & Dhanny, D. R. (2021). Hubungan psikososial dan status gizi pada remaja wanita dengan anoreksia nervosa. Muhammadiyah Journal of Midwifery, 2(1), 1-9.

Gabriela, A., & Zen, N. S. (2020). Perancangan infografis bahaya anoreksia nervosa. vol, 2, 166-172.

American Psychiatric Association: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition. Arlington, VA, American Psychiatric Association, 2013.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses