Generasi Z kini menjadi pusat perhatian dalam dinamika politik Indonesia, baik di tingkat provinsi maupun kota.
Sebagai generasi yang tumbuh di era digital yang serba terbuka, mereka memegang peran penting dalam menentukan arah kepemimpinan dan kemajuan suatu daerah.
Pemilu pun menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan proses demokratisasi. Namun, di balik semangat perubahan yang sering mereka suarakan, muncul pertanyaan mendasar: Apakah mereka benar-benar akan berperan aktif dalam Pemilu, atau justru memilih diam?
Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencatat bahwa pemilih dari Gen Z berjumlah 46.800.161 orang, atau 22,85 persen dari total pemilih nasional.
Meski jumlahnya besar, KPU juga menunjukkan adanya penurunan partisipasi politik di kalangan Gen Z dibanding generasi milenial.
Padahal, dunia digital menjadi ruang bagi anak muda untuk mengekspresikan pendapat, mengkritik kebijakan, dan memperjuangkan isu yang mereka anggap penting.
Kehadiran tokoh publik di media sosial turut membuat politik terasa lebih dekat dengan keseharian mereka.
Di sisi lain, masih banyak Gen Z yang bersikap acuh terhadap proses politik. Tidak sedikit yang merasa bahwa satu suara tidak akan membawa perubahan.
Ketidakpercayaan terhadap institusi politik, praktik politik uang, hingga minimnya figur yang dianggap mewakili kepentingan anak muda menjadi faktor munculnya apatisme.
Bagi sebagian dari mereka, politik dianggap sebagai permainan elit yang jauh dari realitas masyarakat.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa Gen Z tengah berada dalam dilema. Mereka menginginkan perubahan, tetapi pada saat yang sama meragukan sistem yang berjalan.
Di sinilah literasi politik memegang peran penting. Sekolah, kampus, serta lembaga sosial perlu menyediakan ruang dialog yang terbuka agar anak muda memahami bahwa partisipasi politik tidak berhenti di bilik suara, tetapi berlanjut pada pengawasan terhadap jalannya pemerintahan.
Pemilu semestinya tidak hanya dimaknai sebagai rutinitas lima tahunan, melainkan sebagai momentum untuk menunjukkan bahwa suara generasi Z memiliki dampak nyata.
Bila sikap kritis mereka disalurkan ke tindakan konkret, perubahan bukan lagi sekadar harapan. Namun bila apatisme terus mendominasi, suara mereka berisiko tenggelam di tengah bisingnya kepentingan politik lama.
Pada akhirnya, pilihan ada di tangan Generasi Z sendiri: apakah mereka ingin menjadi penggerak perubahan, atau sekedar penonton pasif dalam perjalanan demokrasi bangsa?
Penulis: Nurhanisa Ramadhani
Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan, Universitas Mulawarman
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












