Pasca pandemi COVID-19 seluruh negara mengalami perubahan besar di berbagai sektor, salah satunya pada sektor pendidikan. Indonesia juga tidak lepas dari dampak pandemi yang melanda. Peralihan pembelajaran yang pada mulanya dilaksanakan secara luar jaringan (luring) menjadi dalam jaringan (daring) menimbulkan berbagai inovasi dalam pembelajaran. Walaupun begitu, permasalahan baru kembali melanda disaat pandemi sudah mereda. Motivasi siswa untuk belajar secara luring sudah menurun dan guru tak lagi mampu untuk menuntun.
Fenomena perilaku menyimpang di kalangan siswa ini semakin menjadi perhatian di dunia pendidikan. Berbagai tindakan seperti membolos, berkelahi, dan pelanggaran tata tertib lainnya sudah menjadi hal biasa dan dinormalisasikan. Guru sebagai pendidik diberatkan dengan berbagai tuntutan orang tua untuk mengubah perilaku anak yang bahkan mereka sendiri tidak sanggup untuk mengubahnya. Semakin dalam kita menyelami permasalahan ini, semakin sadar kita seberapa besar pengaruh lingkungan bagi siswa. Stimulus yang diterima seorang anak pastinya akan menentukan respon apa yang akan diberikan. Apakah tepat menyerahkan anak sepenuhnya pada guru? Dimana posisi orang tua dalam menunjang pendidikan anak?
Teori behavioristik menjadi salah satu pendekatan yang relevan dalam memahami fenomena ini. Dengan fokus pada hubungan antara stimulus dan respons, teori ini menawarkan cara untuk menjelaskan dan menangani perilaku menyimpang melalui pengaruh lingkungan.
Apa itu Teori Behavioristik?
Teori behavioristik memandang perilaku manusia sebagai hasil dari pembelajaran yang dipengaruhi oleh stimulus eksternal (Suputra, 2023). Konsep utama dalam teori ini adalah hubungan antara stimulus (apa yang diterima individu dari lingkungannya) dan respons (reaksi yang diberikan individu). Perilaku yang diperkuat dengan konsekuensi positif cenderung diulang, sementara perilaku yang menghasilkan konsekuensi negatif akan dihindari.
Ivan Pavlov memperkenalkan konsep classical conditioning, yang menunjukkan bahwa respons baru dapat dipelajari melalui asosiasi antara stimulus netral dan stimulus yang sudah dikenal. Sementara itu, B.F. Skinner mengembangkan operant conditioning, di mana penguatan positif atau hukuman digunakan untuk mengubah perilaku.
Dalam konteks pendidikan, teori ini berfokus pada hasil belajar yang konkret, yaitu perubahan perilaku yang dapat diamati dan diukur. Guru dan orang tua dapat memanfaatkan prinsip ini untuk membantu siswa mengembangkan perilaku positif.
Baca Juga: Sistem Sosial dalam Konteks Pengaruh Media Sosial terhadap Perilaku Sosial Remaja di Indonesia
Perilaku Menyimpang Siswa di Sekolah
Penyimpangan perilaku siswa di sekolah, seperti bolos, berkelahi, dan bullying, seringkali dipengaruhi oleh lingkungan sekitar mereka. Misalnya, kasus konflik siswa yang terjadi di salah satu sekolah dasar di Wonosobo menunjukkan bagaimana campur tangan orang tua yang tidak tepat, seperti menyalahkan guru yang justru memperburuk situasi. Dalam teori behavioristik, tindakan menyimpang ini dapat dijelaskan sebagai respons yang diperkuat oleh toleransi atau pengabaian dari lingkungan anak.
Lingkungan rumah yang kurang mendukung atau bahkan memberikan penguatan negatif, seperti memaklumi perilaku buruk anak tentunya turut berkontribusi pada terbentuknya kebiasaan buruk ini. Selain itu, lingkungan sekolah yang tidak kondusif juga dapat memicu perilaku menyimpang pada siswa.
Orang Tua sebagai Guru Pertama
Orang tua memiliki peran penting sebagai guru pertama dalam kehidupan anak. Mereka memberikan stimulus awal yang membentuk respons anak terhadap situasi di luar rumah. Menurut teori behavioristik, perilaku positif anak dapat terbentuk jika mereka menerima penguatan yang konsisten dari orang tua (Suputra, 2023).
Sebagai contoh, anak yang sering menerima pujian atas tindakan baik, seperti membantu pekerjaan rumah, akan cenderung mengulangi perilaku tersebut. Sebaliknya, jika perilaku negatif anak diabaikan atau bahkan ditoleransi, anak dapat menganggapnya sebagai tindakan yang dapat diterima. Oleh karena itu, konsistensi dalam memberikan penguatan positif sangat penting untuk membantu anak membangun perilaku yang baik.
Baca Juga: Peran Guru Sekolah Dasar dalam Mencegah Perilaku Menyimpang pada Muda Mudi Bangsa
Peran Guru dan Sekolah
Lingkungan sekolah juga memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk perilaku siswa. Guru, sebagai penggerak utama pembelajaran, dapat menerapkan prinsip-prinsip teori behavioristik dengan memberikan penguatan positif untuk perilaku baik dan hukuman yang bersifat mendidik untuk mengurangi perilaku buruk (Shahbana et al., 2020). Misalnya, memberikan penghargaan kepada siswa yang datang tepat waktu atau menyelesaikan tugas tepat waktu dapat memotivasi siswa lain untuk berperilaku serupa. Guru juga dapat memberikan hukuman pada siswa yang melanggar tata tertib di sekolah.
Sekolah tentunya menjadi tempat belajar anak selain di rumah. Apabila orang tua yang seharusnya menjadi guru pertama tidak memberikan stimulus yang baik, sekolah pun tidak dapat berbuat banyak. Selain itu, banyak kasus yang menunjukkan bahwa orang tua seringkali memojokkan guru dan sekolah karena menghukum perilaku menyimpang anak mereka. Hubungan antara orang tua dan pihak sekolah harus selalu dikomunikasikan agar terjalin rasa kesepahaman.
Teori behavioristik menawarkan perspektif yang relevan dalam memahami dan menangani perilaku menyimpang siswa. Dengan menerapkan prinsip-prinsip seperti penguatan positif dan hukuman yang mendidik, perilaku siswa dapat diarahkan ke arah yang lebih positif. Kolaborasi antara orang tua, guru, dan sekolah sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak secara holistik.
Penulis:
1. Mochamad Ibnu Humam Arief
2. Dr. Isnarto, M.Si.
3. Dr. Detalia Noriza Munahefi, S.Pd., M.Pd.
Mahasiswa Matematika Universitas Negeri Semarang
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru di Google News
Referensi
Bélanger, P. (2011). Three main learning theories. In Theories in Adult Learning and Education.
Nahar, N. I. (2016). Penerapan teori belajar behavioristik dalam proses pembelajaran. Nusantara: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 1, 64–74.
Shahbana, E. B., Farizqi, F. K., & Satria, R. (2020). Implementasi teori belajar behavioristik dalam pembelajaran. Jurnal Serunai Administrasi Pendidikan, 9(1), 24–33.
Suputra, P. I. M. (2023). Teori belajar behavioristik dalam pembelajaran. Jurnal Pendidikan, Sains, dan Teknologi (JPST), 02(2), 332–336.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












