Fenomena Revenge Spending dan Dampaknya terhadap Permintaan Agregat di Indonesia pada Tahun 2019-2023

Revenge Spending
Fenomena Revenge Spending dan Dampaknya terhadap Permintaan Agregat di Indonesia pada Tahun 2019-2023. Sumber: MMI.

Pendahuluan

Revenge spending adalah fenomena ketika konsumen meningkatkan pengeluaran secara signifikan setelah periode pembatasan, sebagai bentuk kompensasi atas kebutuhan dan keinginan yang tertahan selama lockdown. Menurut Clicksuasion LABS (2024), perilaku ini muncul ketika masyarakat “merayakan” berakhirnya pembatasan dengan kembali makan di luar, berbelanja, atau bepergian, dan istilah ini populer di Tiongkok sebagai respons terhadap kebosanan serta frustasi saat karantina. Setelah pandemi COVID-19, perilaku ini meningkat karena masyarakat ingin meredakan stres dan kejenuhan, sekaligus didorong optimisme pemulihan ekonomi dan meningkatnya mobilitas di pusat perbelanjaan serta tempat rekreasi.

Berdasarkan data dari Berita Resmi Statistik  No. 13/02/Th. XXVII (2024); Berita Resmi Statistik  No. 14/02/Th. XXV (2022), terlihat bahwa konsumsi masyarakat sangat dipengaruhi pandemi. Pada 2019 PK-RT tumbuh 5,04 persen, lalu turun tajam menjadi –2,63 persen pada 2020. Pemulihan mulai terjadi pada 2021 dengan pertumbuhan 2,02 persen dan menguat pada 2022 menjadi 4,94 persen. Tren positif berlanjut pada 2023 ketika konsumsi tumbuh 4,82 persen, mencerminkan pemulihan daya beli dan normalisasi pola belanja pasca-pandemi. Perubahan pola ini juga terlihat dalam pergeseran aktivitas ekonomi, termasuk sektor e-commerce dan pariwisata yang mengalami naik-turun signifikan selama masa pandemi hingga pemulihan. Hal ini dapat dilihat melalui grafik berikut.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Grafik 1. Dampak Pandemi terhadap Sektor E-Commerce dan Pariwisata, 2019–2023

Sumber: Bank Indonesia (2025); Mella Anisa et al. (2025).

Grafik 1 menunjukkan e-commerce terus meningkat pada 2019–2023 karena pergeseran belanja ke platform digital selama pandemi, sementara PDB Pariwisata Langsung jatuh tajam pada 2020 dan baru pulih bertahap sejak 2021 seiring dibukanya kembali perjalanan. Ini menegaskan bahwa pandemi memberi dampak berbeda pada kedua sektor: e-commerce naik akibat substitusi konsumsi, sedangkan pariwisata pulih ketika mobilitas kembali normal.

Fenomena revenue spending sendiri menimbulkan tantangan bagi keberlanjutan permintaan agregat. Liu & Cai (2024) menyebut lonjakan konsumsi ini hanya bersifat sementara, IMF Staff (2022) mencatat risiko inflasi jika permintaan pulih lebih cepat dari produksi. Dengan demikian, meski membantu pemulihan awal, revenge spending tidak sepenuhnya stabil dan dapat menimbulkan tekanan ekonomi baru. Fenomena revenge spending penting dikaji karena berpengaruh langsung terhadap konsumsi rumah tangga, konsumsi rumah tangga merupakan komponen terbesar dalam pembentukan PDB Indonesia (Ramadhan et al., 2025). Lonjakan belanja pasca-pandemi mampu mendorong pemulihan ekonomi dan meningkatkan permintaan agregat, sehingga menjadi pendorong pertumbuhan jangka pendek. Namun, dorongan belanja ini bersifat sementara karena dipengaruhi emosi dan kebutuhan kompensasi pasca-pembatasan, sehingga berpotensi melemah ketika kondisi psikologis konsumen kembali stabil.

Selain itu, peningkatan permintaan yang tidak sejalan dengan kapasitas produksi dapat menimbulkan tekanan inflasi, sebagaimana dijelaskan dalam teori Keynes dan mekanisme efek pengganda. Dampaknya juga tidak merata, karena peningkatan konsumsi lebih kuat pada kelompok pendapatan menengah ke atas yang berpotensi memperlebar ketimpangan ekonomi. Oleh karena itu, kajian mengenai revenge spending penting tidak hanya untuk memahami kontribusinya terhadap pemulihan ekonomi, tetapi juga untuk mengantisipasi risiko makro seperti inflasi, konsumsi berlebihan, serta ketidakmerataan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga: Digital Marketing sebagai Upaya Menarik Konsumen Saat Lockdown di Era Pandemi Covid-19, Bagaimana Caranya?

Pembahasan

Fenomena revenge spending dapat dianalisis menggunakan teori Permintaan Agregat (AD), khususnya pada komponen konsumsi rumah tangga (C) sebagai pendorong utama aktivitas ekonomi. Komponen permintaan agregat yaitu konsumsi, investasi, belanja pemerintah, dan ekspor bersih, yang dapat dirumuskan sebagai berikut:

AD = C + I + G + (X – M)

Pada saat pasca pandemi COVID 19 peningkatan konsumsi menjadi salah satu faktor pendorong dalam memulihkan ekonomi Indonesia. Menurut teori Keynesian ketika terjadi peningkatan belanja atau konsumsi akan meningkatkan permintaan agregat yang pada akhirnya juga berpengaruh pada peningkatan output nasional melalui mekanisme multiplier effect (efek pengganda) (Rohman et al., 2024). Mekanisme multiplier effect terjadi ketika terdapat peningkatan pengeluaran akibat dari fenomena revenge spending yang meningkatkan pendapatan masyarakat kemudian dibelanjakan kembali sehingga menimbulkan perputaran pengeluaran. Proses mekanisme tersebut sangat dipengaruhi oleh marginal propensity to consume (MPC) yaitu perbandingan besarnya tambahan konsumsi yang terjadi akibat peningkatan pendapatan (Fikri et al., 2014).

Setelah masa pembatasan sosial berakhir, nilai MPC masyarakat cenderung meningkat karena terdapat beberapa kebutuhan yang tertahan (pent-up demand) selama pandemi COVID 19, sehingga setiap adanya tambahan pendapatan langsung digunakan untuk pengeluaran konsumsi di beberapa sektor, mulai dari sektor ritel, pariwisata, maupun hiburan. Selain itu, perilaku revenge spending juga berkaitan dengan aspek psikologis seperti consumer confidence index (indeks keyakinan konsumen), yaitu peningkatan keyakinan atau kepercayaan konsumen terhadap kondisi ekonomi sehingga memperkuat keinginan masyarakat untuk berbelanja (Yuslin, 2022). Faktor emosional, atau rasa “balas dendam” terhadap periode yang panjang saat pembatasan sosial, serta dorongan untuk menikmati kembali konsumsi, semakin memperbesar pengeluaran konsumtif masyarakat. Dengan demikian, teori permintaan agregat, teori Keynesian, MPC, serta psikologi konsumen menjelaskan peran revenge spending sebagai salah satu pendorong dalam pemulihan ekonomi Indonesia.

Berdasarkan data neraca rumah tangga indonesia 2021-2023 pengeluaran konsumsi akhir rumah tangga Indonesia, terjadi kenaikan secara signifikan setelah pascapandemi COVID-19 (BPS, 2024). Pada  tahun 2022 pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 10.161,73 triliun rupiah yang meningkat menjadi 11.109,57 triliun rupiah. Peningkatan konsumsi tersebut menjadi bukti bahwa telah terjadi perbaikan daya beli masyarakat setelah berakhirnya pembatasan sosial akibat pandemi. Hal itu sesuai dengan fenomena Revenge spending, yaitu peningkatan pengeluaran setelah adanya pembatasan. Mengingat Pengeluaran konsumsi akhir rumah tangga merupakan pengeluaran terbesar, kontribusi dari pengeluaran konsumsi akhir tersebut rata-rata diatas 81% selama periode 2021–2023. Selain itu, fenomena Revenge spending juga ditandai dengan kenaikan ritel, pariwisata atau hiburan.

Berdasarkan data survei penjualan eceran Bank Indonesia, kinerja ritel diperkirakan tetap kuat pada agustus 2023 ((BI), 2023). Hal tersebut tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Agustus 2023 sebesar 204,4, atau tumbuh positif sebesar 1,3% (yoy). Pada juli 2023,IPR tercatat sebesar 203,3, yang secara tahunan meningkat 1,6% (yoy). Temuan ini diperkuat oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia yang menyebut bahwa penjualan ritel yang tumbuh tinggi di tengah tantangan global perlihatkan daya beli masyarakat mulai kembali pulih (PEREKONOMIAN & INDONESIA, 2022). Pada sektor wisata domestik Indonesia, tahun 2022 mengalami kenaikan sejalan dengan turunnya tren penularan COVID-19. Hal ini ditandai dengan kenaikan jumlah perjalanan wisnus sebesar 19,82 persen dibanding tahun sebelumnya,sebanyak 734,86 juta perjalanan wisnus di tahun 2022. Pariwisata domestik di indonesia didominasi arus wisata perjalanan di pulau jawa, salah satunya di jawa timur dengan peningkatan kedatangan wisata paling besar di tahun 2022 sebesar 134,61 persen dibandingkan 2019 (BPS, 2023).

Fenomena Revenge spending Indonesia jika dibandingkan dengan Tiongkok, bisa dilihat dari pengeluaran konsumsi dan juga peningkatan penjualan ritel, namun dengan skala pemulihan yang berbeda.Di Indonesia pada tahun 2023 konsumsi tumbuh 4,82 persen, sedangkan di Tiongkok berdasarkan data NBS (National Bureau of Statistics), pengeluaran konsumsi per kapita nasional mencapai 12.739 yuan, tumbuh nominal 8,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (NBS, 2023). Setelah dikurangi faktor harga, pertumbuhan riilnya mencapai 7,6 persen. Jika dibandingkan dari penjualan ritel, di Indonesia pada tahun 2023  yang tercermin dari IPR tercatat sebesar 203,3, yang secara tahunan meningkat 1,6% (yoy).Sedangkan di Tiongkok,penjualan ritel barang konsumsi Tiongkok 7,2 persen tahun 2023, total penjualan eceran barang konsumen mencapai 47,15 triliun yuan (sekitar 6,63 triliun dolar AS) tahun lalu. Dengan demikian, meskipun kedua negara mengalami  Revenge Spending, pemulihan konsumsi masyarakat tiongkok lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia.

Fenomena Revenge Spending pada tahun 2024 terindikasi mengalami perlambatan yang ditandai menurunnya konsumsi dan juga penjualan ritel. Berdasarkan tabel Laju Pertumbuhan PDB menurut Pengeluaran (Seri 2010)  dari BPS, kuartal III/2024 konsumsi rumah tangga mengalami pertumbuhan 4,91% (yoy),sedangkan pada kuartal yang sama di tahun 2023 konsumsi rumah tangga tumbuh 5,05, hal itu menunjukan perlambatan pertumbuhan konsumsi (BPS, 2010). Pada penjualan ritel, berdasarkan survei penjualan eceran oleh Bank Indonesia, pada september 2024 IPR tercatat sebesar 210,6 atau sebesar 4,8% (yoy), lebih rendah dibandingkan Agustus 2024 yang tumbuh 5,8% (yoy) (Indonesia, 2024) Secara bulanan, penjualan eceran pada September 2024 terkontraksi 2,5% (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 1,7% (mtm).

Baca Juga: Tantangan Politik Ekonomi Regional di Asia Tenggara: Integrasi dan Dinamika Pasca-Covid-19

Fenomena Revenge spending memiliki pengaruh terhadap indikator makro seperti, pertumbuhan PDB, inflasi, tabungan atau investasi masyarakat. Jika dilihat dari sudut pandang konsumsi, saat terjadi kenaikan pengeluaran konsumsi di tahun 2022 dan 2023, PDB pada tahun tersebut juga ikut naik 11.710,2  triliun menjadi 12.301,5 triliun rupiah atas dasar harga konstan. Perekonomian di Indonesia juga didominasi oleh PK-RT yang menyumbangkan lebih dari setengah penerimaan PDB secara total yang meningkat 54,04 persen di tahun 2024 meningkat dibanding tahun 2023 sebesar 53,18 persen (BPS, 2025). Pengaruhnya terhadap inflasi, pada tahun 2022 bulan desember inflasi naik menjadi 5,51 persen dibandingkan pada bulan yang sama di tahun 2022 hanya sebesar 1,87 persen (BPS, 2022). Berdasarkan Neraca perdagangan rumah tangga Indonesia tahun 2021-2023, tabungan bruto pada tahun 2022 mengalami peningkatan sebesar 46,21 persen menjadi 1.392,87 triliun rupiah dibanding tahun 2021 (BPS, 2024).

Fenomena revenge spending di Indonesia perlu dimanfaatkan sebagai momentum pemulihan daya beli masyarakat. Pemerintah mendorong konsumsi melalui dukungan pada sektor ritel, UMKM, dan pariwisata. Pada sektor ritel, diterbitkan PMK No.77/PMK.010/2021 yang memberikan insentif PPnBM 100% untuk kendaraan bermotor di bawah 1.500cc guna merangsang pembelian produk otomotif dalam negeri (Fiskal, 2022). Pada sektor UMKM, digitalisasi diperkuat agar pelaku usaha dapat meningkatkan pemasaran, manajemen stok, dan akses pembiayaan. Pada sektor pariwisata, penggunaan transaksi digital semakin luas sehingga mempercepat perputaran ekonomi. Selain itu, pengendalian inflasi tetap diperlukan melalui stabilisasi harga kebutuhan pokok dan peningkatan produksi domestik. Pelaku usaha didorong memanfaatkan perubahan perilaku belanja dengan promosi dan penguatan produk lokal, sementara masyarakat diharapkan berbelanja secara bijak dan mendukung produk dalam negeri. Sinergi ini diharapkan membuat efek positif revenge spending berkelanjutan tanpa memicu inflasi berlebih.

Penutup

Kesimpulan

Fenomena revenge spending di Indonesia terjadi karena respons psikologis dan ekonomi pasca-pandemi COVID-19, ketika masyarakat kembali membelanjakan pendapatan yang sebelumnya tertahan selama masa pembatasan. Perilaku ini terbukti mendorong pemulihan konsumsi rumah tangga komponen terbesar dalam pembentukan PDB yang kemudian meningkatkan permintaan agregat melalui mekanisme multiplier effect sebagaimana dijelaskan oleh teori Keynesian. Data BPS menunjukkan lonjakan konsumsi, ritel, dan perjalanan wisata sejak 2022-2023, meskipun pemulihan tersebut bersifat sementara dan mulai menunjukkan perlambatan pada tahun 2024. Dampak revenge spending tidak hanya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memiliki risiko inflasi ketika permintaan meningkat lebih cepat dari kapasitas produksi. Selain itu, fenomena ini lebih dominan pada kelompok berpendapatan menengah ke atas, sehingga berpotensi menyebabkan kesenjangan konsumsi antar kelompok ekonomi. Dengan demikian, meskipun revenge spending memberikan dampak terhadap pemulihan ekonomi nasional, dalam jangka panjang memerlukan kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga, memperkuat daya beli jangka panjang, serta mendorong konsumsi yang produktif dan merata agar kontribusinya terhadap permintaan agregat tetap optimal tanpa menimbulkan tekanan ekonomi baru.

  1. Revenge spending memberikan dorongan positif terhadap permintaan agregat jangka pendek.
  2. Dampaknya tidak sepenuhnya berkelanjutan karena bersifat emosional dan sementara.
  3. Jika tidak diimbangi dengan produksi dan kebijakan ekonomi yang tepat, berpotensi menimbulkan inflasi dan ketimpangan konsumsi.

Baca Juga: Pengaruh Covid-19 terhadap Perkembangan Ekonomi Politik Negara Indonesia

Saran

Berdasarkan hasil pembahasan mengenai fenomena revenge spending dan dampaknya terhadap permintaan agregat di Indonesia, terdapat beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak agar pemulihan ekonomi pasca-pandemi dapat berlangsung secara berkelanjutan tanpa menimbulkan tekanan makroekonomi yang berlebihan. Adapun saran tersebut disampaikan sebagai berikut.

  1. Pemerintah perlu menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan barang kebutuhan pokok agar lonjakan konsumsi tidak memicu inflasi. Selain itu, dukungan bagi UMKM, ritel, dan pariwisata perlu diperkuat melalui insentif dan digitalisasi. Kebijakan fiskal yang terarah juga diperlukan untuk menjaga daya beli kelompok berpendapatan rendah.
  2. Masyarakat diharapkan mengelola pengeluaran secara bijak dengan memprioritaskan kebutuhan utama serta menyeimbangkan konsumsi, tabungan, dan investasi. Mengutamakan produk lokal juga penting guna mendukung UMKM dan memperkuat perekonomian domestik.

Penulis: Kelompok 5
1. Hanifa Putri Khairani (2410101010)
2. Ribkhi Khalimatum M. (2420101050)
3. Adrian Yosep Ravi A. (2420101052)
4. Brian Adriansah (2420101062)
5. Dwi Yanti (2440101134)
Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Universitas Tidar

Dosen Pengampu: Muh Syaiful Bakhri, S.E., M.E.

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Daftar Pustaka

(BI), B. I. (2023). Survei Penjualan Eceran Agustus 2023: Penjualan Eceran Diprakirakan Tetap Kuat. 11 September. https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2524923.aspx

Bank Indonesia. (2025, March 23). Transaksi Ecommerce Indonesia 2019-2024. Kontan.Co.Id. https://pusatdata.kontan.co.id/infografik/88/Transaksi-Ecommerce-

BERITA RESMI STATISTIK  No. 13/02/Th. XXVII, 5 Februari 2024. (2024, February 5). Ekonomi Indonesia Triwulan IV-2023 Tumbuh 5,04 Persen (y-on-y). BADAN PUSAT STATISTIK. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2024/02/05/2379/ekonomi-indonesia-triwulan-iv-2023-tumbuh-5-04-persen–y-on-y-.html

BERITA RESMI STATISTIK  No. 14/02/Th. XXV, 7 Februari 2022. (2022, February 7). Ekonomi Indonesia Triwulan IV 2021 Tumbuh 5,02 Persen (y-on-y). BADAN PUSAT STATISTIK. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2022/02/07/1911/ekonomi-indonesia-triwulan-iv-2021-tumbuh-5-02-persen–y-on-y-.html

BPS. (2010). laju-pertumbuhan-pdb-menurut-pengeluaran. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTA4IzI=/-seri-2010–4–laju-pertumbuhan-pdb-menurut-pengeluaran–persen-.html

BPS. (2022). Inflasi Bulanan. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MSMy/inflasi–umum-.html

BPS. (2023). Pemulihan Pariwisata Domestik Indonesia 2022. 33.

BPS. (2024). Neraca Rumah Tangga Indonesia 2021-2023. 13, 2024.

BPS. (2025). PRODUK DOMESTIK BRUTO INDONESIA MENURUT PENGELUARAN.

Clicksuasion LABS. (2024). Spending is the best revenge. Clicksuasion LABS. https://www.clicksuasion.com/revenge-spending/

Fatkhu Rohman , Santso Ardiyanto, L. F. (2024). ANALISIS PERMINTAAN AGREGAT DAN PENAWARAN AGREGAT Lailatul Fitriah Santo Ardiyanto Penelitian makroekonomi menawarkan pemahaman mendalam tentang tren perekonomian suatu negara secara keseluruhan . Anda dapat memahami bagaimana tindakan pemerintah , termas. 1(4), 282–290.

Fiskal, B. K. (2022). LAPORAN TAHUNAN BADAN KEBIJAKAN FISKAL TAHUN 2021.

IMF Staff. (2022, April). World  Economic  Outlook War Sets Back the Global Recovery. International Monetary Fund (IMF). https://www.imf.org/en/publications/weo/issues/2022/04/19/world-economic-outlook-april-2022

Indonesia, B. (2024). Survei Penjualan Eceran Oktober 2024: Penjualan Eceran Diprakirakan Tetap Tumbuh Siaran Pers. 12 November. https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2624924.aspx

Liu, Y., & Cai, L. (2024). Consumption Habits in Revenge-Buying: A Conceptual Model Integrating Protection Motivation Theory and the Concept of Attitudes. Systems, 12(10). https://doi.org/10.3390/systems12100413

M.Fikri, Amri Amir, E. A. (2014). Analisis Konsumsi Masyarakat Indonesia Sebelum dan Setelah Krisis Ekonomi. 1(3), 165–170.

Mella Anisa, Wahyu Puji Lestari, Sri Murdaningrum, Anggoro Widyapuji Putro, & Erica Indryani. (2025). Tourism Satellite Account Indonesia 2019-2023. BADAN PUSAT STATISTIK BPS-STATISTICS INDONESIA. https://www.bps.go.id/id/publication/2025/06/30/9882e9804970a1d1b9a69be3/tourism-satellite-account-indonesia-2019-2023.html

NBS. (2023). Households’ Income and Consumption Expenditure in the First Half Year of 2023. 18 Juli. https://www.stats.gov.cn/english/PressRelease/202307/t20230726_1941522.html

PEREKONOMIAN, K. K. B., & INDONESIA, R. (2022). Penjualan Ritel yang Tumbuh Tinggi di Tengah Tantangan Global Perlihatkan Daya Beli Masyarakat Mulai Kembali Pulih. 17 Agustus. https://www.ekon.go.id/publikasi/detail/4449/penjualan-ritel-yang-tumbuh-tinggi-di-tengah-tantangan-global-perlihatkan-daya-beli-masyarakat-mulai-kembali-pulih

Ramadhan, D. T., Meliala, S. B., Salwa, F., Samri, Y., & Nasution, J. (2025). Peranan Konsumsi dalam Perekonomian Makro Indonesia dan Implikasinya dalam Perspektif Ekonomi Islam. Jurnal Ekonomi Syariah, 03(01). https://doi.org/10.52029/gose.v3i1.341

Yuslin, H. (2022). IEB JOURNAL Islamic Economics and Business Journal. 4(1), 27–39.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Daftar Isi dan Poin-Poin Artikel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses