Pendahuluan
Fenomena Sunday Scaries semakin menarik perhatian sebagai pengalaman kecemasan yang sering dirasakan banyak orang, terutama pada sore hingga malam hari di hari Minggu.
Situasi ini terjadi ketika individu mengalami kecemasan, ketidaknyamanan, dan ketakutan yang mendalam menjelang akhir pekan dan sebelum kembalinya kegiatan kerja atau tugas penting seperti ujian dan presentasi.
Berdasarkan survei, sekitar 67 persen orang dewasa mengalami kecemasan secara rutin di hari Minggu sebelum memulai minggu kerja yang baru, meningkat menjadi 74 persen pada kelompok usia 18-24 tahun.
Hal ini menunjukkan bahwa fenomena ini bukan hanya sekadar kemalasan, melainkan merupakan respons psikologis yang nyata yang dapat memberikan dampak buruk jika tidak ditangani dengan benar.
Dari sudut pandang biopsikologi, Sunday Scaries bukan sekadar fenomena psikologis biasa, tetapi merupakan hasil dari interaksi antara sistem biologis dan psikologis dalam tubuh.
Aktivasi sumbu hypothalamus pituitary adrenal (HPA axis) mengakibatkan peningkatan kadar hormon kortisol, ketidakseimbangan neurotransmitter seperti serotonin dan GABA, serta aktivitas yang berlebihan pada amigdala—pusat emosi di otak—menjadi faktor utama penyebab timbulnya kecemasan.
Selain itu, korteks prefrontal yang mengontrol emosi juga berkontribusi pada pola pikir berulang dan overthinking yang dapat meningkatkan kecemasan tersebut.
Fenomena ini sering dialami oleh pelajar dan pekerja muda yang menghadapi stres akademik serta profesional, seperti persiapan ujian dan presentasi penting.
Dengan mengetahui aspek biologis dan psikologisnya, kita dapat menganggap Sunday Scaries sebagai suatu kondisi yang memerlukan penanganan komprehensif, bukan hanya sekadar isu emosional yang diabaikan.
Pendekatan biopsikologi menciptakan kesempatan untuk solusi yang lebih efisien dalam mengatasi kecemasan melalui pengelolaan stres, pola tidur, dan perubahan pola pikir.
Pembahasan
Fenomena Sunday Scaries adalah jenis kecemasan yang biasanya terjadi pada sore hingga malam Minggu, ketika seseorang mulai memikirkan hari Senin dan tuntutan untuk kembali ke rutinitas kerja atau menghadapi kegiatan penting seperti ujian dan presentasi.
Dari sudut pandang biopsikologi, fenomena ini melibatkan mekanisme neurobiologis yang rumit yang berlangsung di dalam otak serta sistem hormonal tubuh.
Salah satu mekanisme kunci adalah pengaktifan sistem sumbu hypothalamus-pituitary-adrenal (sumbu HPA), yang berfungsi sebagai jalur utama dalam respons terhadap stres dalam tubuh.
Ketika seseorang mengantisipasi tekanan kerja pada hari Senin, hipotalamus di otak mengeluarkan hormon CRH (hormon pelepas kortikotropin) yang mendorong kelenjar pituitari untuk mengaktifkan kelenjar adrenal dalam memproduksi hormon kortisol, hormon stres yang paling signifikan.
Baca Juga: Dukungan Psikologi sebagai Langkah Tepat Atasi Kecemasan Narapidana Wanita di Tahanan Polda Jatim
Kortisol selanjutnya meningkatkan energi tubuh untuk bertahan, tetapi jika dikeluarkan secara berlebihan dalam situasi stres psikologis seperti Sunday Scaries, dapat menyebabkan ketegangan fisik dan emosional yang tidak diperlukan
Di samping itu, sistem saraf otonom yang mengelola respons tanpa sadar juga berperan, di mana pengaktifan sistem simpatis memicu respons “fight or flight” dengan meningkatkan detak jantung, tekanan darah, serta keringat dingin.
Keadaan ini menimbulkan gejala fisik seperti detak jantung yang cepat, mulut kering, dan nyeri perut yang sering dialami saat merasakan kecemasan tersebut.
Sementara itu, area otak seperti amigdala, yang berperan sebagai pusat pemrosesan emosi, menjadi sangat aktif dan merespons secara berlebihan terhadap ancaman yang sebenarnya belum muncul, seperti presentasi hari berikutnya, sehingga menimbulkan rasa takut dan cemas yang sangat mendalam. Fenomena ini dikenal sebagai “penculikan amigdala,” di mana emosi negatif mendominasi proses pemikiran logis
Bagian otak lainnya yang berfungsi adalah korteks prefrontal (PFC), yang memiliki tugas mengatur perencanaan dan mengontrol emosi. Namun, saat menghadapi Sunday Scaries, PFC malah terperangkap dalam siklus berpikir berulang (rumination) dan overthinking yang memperburuk kecemasan.
Hippocampus juga berperan dalam mengingat pengalaman buruk masa lalu yang berkaitan dengan rutinitas kerja, sehingga memperkuat siklus kecemasan dan menyulitkan seseorang untuk melepaskan pikiran negatif itu.
Meskipun Sunday Scaries adalah reaksi normal terhadap stres psikologis sesekali, jika kecemasan ini berlanjut dan mengganggu aktivitas sehari-hari, hal tersebut bisa jadi indikasi adanya gangguan kecemasan klinis yang membutuhkan bantuan profesional.
Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengenali tanda-tanda dan memahami proses biologisnya agar dapat mengelola serta mencegah timbulnya kecemasan ini.
Strategi untuk mencegah dan menangani Sunday Scaries mencakup pengelolaan stres lewat aktivitas fisik seperti olahraga ringan, meditasi, teknik pernapasan, serta pengaturan pola tidur yang baik.
Kegiatan fisik, misalnya, mampu menurunkan level kortisol dan meningkatkan pelepasan endorfin yang bertindak sebagai pengurang stres alami tubuh.
Di samping itu, strategi kognitif seperti memodifikasi pola pikir negatif menjadi positif serta merencanakan pekerjaan dengan baik dapat membantu mengurangi kecemasan yang berlebihan.
Dengan menganalisis Sunday Scaries dari sudut pandang biopsikologi, kita bukan hanya memandangnya sebagai fenomena psikologis biasa, tetapi sebagai produk dari integrasi hubungan kompleks antara sistem saraf, hormon, dan fungsi otak yang berdampak pada perilaku serta kondisi mental manusia sehari-hari.
Pendekatan ini menciptakan kesempatan untuk penanganan yang lebih komprehensif dan efisien bagi individu yang mengalami kecemasan tersebut.
Kesimpulan
Fenomena Sunday Scaries adalah jenis kecemasan yang biasa dirasakan pada akhir pekan, terutama menjelang hari kerja atau kegiatan penting seperti ujian dan presentasi.
Dari sudut pandang biopsikologi, keadaan ini dipicu oleh pengaktifan sistem neurobiologis yang rumit, khususnya sistem sumbu hypothalamus-pituitary-adrenal (sumbu HPA) yang meningkatkan level hormon stres kortisol, serta ketidakseimbangan neurotransmitter seperti serotonin dan GABA.
Kegiatan yang berlebihan pada amigdala, yang berperan sebagai pusat pengolahan emosi, serta disregulasi korteks prefrontal yang menyebabkan overthinking dan rumination, merupakan faktor utama timbulnya gejala kecemasan itu.
Meskipun Sunday Scaries adalah reaksi wajar terhadap tekanan mental sebelum memulai minggu baru, jika berlangsung lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi ini bisa berpotensi berkembang menjadi gangguan kecemasan yang serius.
Karena itu, pemahaman yang mendalam mengenai mekanisme biopsikologisnya sangat penting untuk pengembangan strategi penanganan yang efektif.
Pendekatan menyeluruh yang mencakup pengelolaan stres secara fisik dan mental, seperti berolahraga, meditasi, dan pengelolaan pola pikir, menjadi kunci untuk mengurangi efek buruk dari fenomena ini
Kesimpulannya, pendekatan biopsikologi menawarkan pemahaman yang signifikan mengenai Sunday Scaries bukan hanya sebagai fenomena psikologis biasa, tetapi sebagai konsekuensi dari interaksi rumit antara sistem saraf dan hormonal tubuh yang memengaruhi kondisi mental dan perilaku manusia sehari-hari.
Pendekatan yang benar dan pemahaman yang akurat dapat membantu seseorang untuk lebih siap menghadapi tantangan minggu mendatang dengan kondisi mental dan fisik yang lebih baik
Penulis: Cahyawangi Yuhandini (F100250374)
Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
Dosen Pengampu: Bayu Suseno, M.Psi.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
Al Khalilah, Luthfia. “Sunday Scaries: Analisis Kecemasan Akhir Pekan dari Perspektif Biopsikologi.” Kumparan, 2025.
Kenali Istilah Sunday Scaries, Ketakutan dan Kecemasan di Hari Minggu. MetroTVNews, 2025.
Mengenal Sunday Scaries, Kecemasan terhadap Hari Minggu. Mediapijar, 2022.
Cemas Tiap Hari Minggu, Apa Itu Sunday Scaries? Tempo.co, 2022.
Maslach, Christina dan Susan E. Jackson. “The Measurement of Experienced Burnout.” Journal of Occupational Behavior, 1981.
Sapolsky, Robert M. Why Zebras Don’t Get Ulcers. 3rd Edition, Holt Paperbacks, 2004. (Membahas sistem stress HPA axis dan respons stres biologis).
Sapolsky, Robert M. Behave: The Biology of Humans at Our Best and Worst. Penguin Press, 2017. (Menjelaskan neurobiologi emosi dan perilaku manusia).
Smoller, Jordan W. “The Genetics of Stress-Related Disorders: PTSD, Depression, and Anxiety Disorders.” Neuroscience, 2016.
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












