Gaya Komunikasi Sosial Mahasiswa dalam Jaringan Digital melalui Platform WhatsApp

gaya komunikasi mahasiswa
Gaya Komunikasi Sosial Mahasiswa dalam Jaringan Digital melalui Platform WhatsApp. Gambar: MMI.

Abstract

The development of digital technology has changed the way students interact socially. Online communication platforms such as WhatsApp have now become the main means of building interactions and maintaining relationships between individuals. This study discusses students’ social communication styles in utilizing WhatsApp as a digital interaction space. Students adapt their communication behavior in the digital world by combining formal and informal styles, using emojis and stickers as forms of nonverbal expression, and expressing new ways of communicating online. This encourages students and educational institutions to make the most of communication technology to strengthen social solidarity on campus. WhatsApp is not only used to exchange information, but also as a place for the formation of social identity and interpersonal relationships. However, there are also negative impacts, such as a decrease in emotional closeness.

Keywords: WhatsApp, Digital Communication Style, Student Social Relationships, Online Social Interaction, Interpersonal Relationships.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Abstrak

Perkembangan teknologi digital mengubah cara mahasiswa menjalin interaksi sosial, platform komunikasi daring seperti WhatsApp kini menjadi sarana utama dalam membangun interaksi dan menjaga hubungan antarindividu. Penelitian ini membahas gaya komunikasi sosial mahasiswa dalam memanfaatkan WhatsApp sebagai ruang interaksi digital. Mahasiswa menyesuaikan perilaku komunikasinya di dunia digital dengan memadukan antara gaya formal dan informal, menggunakan emoji serta stiker sebagai bentuk ekspresi nonverbal, dan mengekspresikan cara baru dalam berkomunikasi daring, serta mendorong mahasiswa dan institusi pendidikan untuk memanfaatkan teknologi komunikasi secara maksimal untuk memperkuat solidaritas sosial di lingkungan kampus. WhatsApp tidak hanya digunakan untuk bertukar informasi, tetapi juga menjadi tempat pembentukan identitas sosial dan hubungan antarpribadi. Namun, muncul pula dampak negatif seperti berkurangnya kedekatan emosional.

Kata Kunci: WhatsApp, Gaya Komunikasi Digital, Hubungan Sosial Mahasiswa, Interaksi Sosial Daring, Relasi Interpersonal.

Baca Juga: Komunikasi Lintas Budaya antara Mahasiswa Perantau dan Masyarakat Lokal di Sekitar Kampus

Pendahuluan

Nasrullah (2015) mengatakan bahwa media sosial merupakan perantara online yang memungkinkan pengguna untuk mempresentasikan diri atau berkomunikasi, bekerja sama, berbagi, serta berinteraksi dengan pengguna lain. Penggunaan media sosial dalam hubungan pertemanan di masa kini sangatlah mudah. Semakin banyaknya teknologi modern saat ini, memudahkan manusia untuk dapat berteman dengan seseorang yang jauh daerahnya dari tempat tinggal mereka. Media sosial dijadikan alat baru oleh manusia untuk berkomunikasi di zaman modern ini dan membantu kita dalam menjalin hubungan pertemanan.

Kehadiran aplikasi WhatsApp sebagai media komunikasi baru, sangat membantu siapapun penggunanya dengan mengalih fungsikan baik untuk kegiatan belajar mengajar, mengirim dan menerima pesan tanpa kantor pos, bertukar kabar tidak hanya mendengar suara tetapi WhatsApp mampu memberikan fitur terbaik yakni dapat berbicara tatap muka yang dimana fitur tersebut dinamai dengan panggilan video serta dapat terhubung antara 2 sampai 6 orang (Ayamga, 2023; Kosasih, 2024; Osei, 2023; Schwartz, 2024). Bagi mahasiswa WhatsApp berfungsi tidak sekadar sebagai media pertukaran pesan, melainkan telah berubah menjadi tempat pembentukan identitas sosial dan pengelolaan hubungan antarpribadi dalam konteks akademik maupun non-akademik. Fitur-fitur yang ditawarkan platform ini sangat lengkap, mulai dari pengiriman pesan multimedia, panggilan audio-visual, hingga kemampuan membentuk grup komunikasi untuk keperluan mahasiswa. Di kehidupan sehari-hari, mahasiswa memanfaatkan WhatsApp untuk berkoordinasi mengenai tugas perkuliahan, berdiskusi dan mengatur agenda pertemuan, hingga menyebarluaskan informasi penting terkait aktivitas kemahasiswaan. WhatsApp ini juga menjadi sarana penting bagi organisasi dan akademik mahasiswa.

Di sisi lain, penggunaan WhatsApp dalam berkomunikasi dengan mahasiswa tidak terlepas dari beberapa masalah yang perlu dipelajari. Komunikasi berbasis teks yang mendominasi platform ini memiliki keterbatasan yang melekat, terutama terkait elemen-elemen komunikasi nonverbal seperti ekspresi wajah, modulasi suara, dan bahasa tubuh yang berperan penting dalam menyampaikan makna secara menyeluruh dan mencegah miskomunikasi. Ketiadaan konteks nonverbal ini berpotensi memicu kesalahpahaman dalam pengambilan makna pesan, yang pada gilirannya dapat menimbulkan masalah dalam hubungan sosial. Selain itu, fenomena informasi yang berlebihan akibat volume pesan yang banyak dalam grup WhatsApp dapat mengganggu fokus akademik mahasiswa dan menimbulkan tekanan untuk berusaha selalu responsif terhadap setiap notifikasi yang masuk.

Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi gaya komunikasi sosial mahasiswa dalam menavigasi ruang digital melalui platform WhatsApp. Dengan mengadopsi pendekatan kualitatif, kajian ini berupaya mengidentifikasi pola-pola adaptasi komunikatif mahasiswa, strategi yang mereka kembangkan dalam mengelola relasi sosial digital, serta bagaimana mereka mengonstruksi identitas dan membangun kohesi sosial melalui medium teknologi. Pemahaman mendalam tentang dinamika komunikasi digital mahasiswa ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dalam kajian komunikasi interpersonal di era digital, sekaligus menawarkan wawasan yang lebih mudah untuk jenjang pendidikan tinggi dalam mengoptimalkan pemanfaatan teknologi komunikasi untuk memperkuat ekosistem sosial-akademik di lingkungan kampus.

Baca Juga: Pola Komunikasi Mahasiswa Perantau dalam Adaptasi Lingkungan Sosial di Kampus

Pembahasan

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Gaya Komunikasi Sosial di WhatsApp

Kebanyakan orang saat ini telah menggunakan aplikasi WhatsApp sebagai sarana komunikasi berbasis digital. Terutama pada mahasiswa yang pasti sudah menggunakan aplikasi WhatsApp dalam kehidupan sehari-harinya sebagai tempat komunikasi baik kepada teman, dosen, maupun keluarga. Aplikasi WhatsApp dipilih karena dapat membuat komunikasi secara instan yang juga memungkinkan adanya pertukaran informasi secara gampang, baik untuk tujuan akademik maupun sosial di lingkungan kampus. Aplikasi WhatsApp diyakini dapat memberi kemudahan kepada mahasiswa dalam mengerjakan tugas kelompok serta koordinasi dalam berorganisasi, dimana pada aplikasi WhatsApp ini dapat kita temui berbagai macam fitur-fitur seperti pesan pribadi, pesan grup, berbagi file, pesan suara, panggilan telepon, dan panggilan video yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan para mahasiswa. Sehingga pada situasi inilah yang mendorong gaya komunikasi yang dihasilkan terkesan lebih singkat, langsung, dan tidak terlalu formal karena mahasiswa menyesuaikan gaya komunikasi dengan tuntutan perubahan zaman. Hal ini dapat dilihat dari adanya faktor internal dan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi gaya komunikasi yang digunakan oleh mahasiswa dalam menggunakan aplikasi WhatsApp.

1. Faktor Internal (Dorongan dari dalam Diri)

Faktor internal merupakan cerminan dari adanya kondisi psikologis yang terjadi dalam karakter pribadi dari dalam diri mahasiswa itu sendiri. Faktor internal ini dapat membentuk kecenderungan secara alami pada mahasiswa sehingga mereka dapat memilih bagaimana cara berkomunikasi melalui media WhatsApp. Adapun beberapa faktor internal yang meliputi yaitu:

a. Motif Komunikasi

Motif komunikasi merupakan motif dasar berupa sebuah dorongan untuk bersosialisasi, bertukar informasi, dan juga membangun relasi hubungan. Hal ini dapat berupa mahasiswa yang memiliki kebutuhan yang tinggi untuk melakukan interaksi sosial sehingga mereka biasanya dapat lebih aktif dalam mengirim pesan, membalas pesan dengan cepat, dan dapat menggunakan gaya komunikasi yang lebih ekspresif. Begitupun sebaliknya pada mahasiswa yang hanya ingin menggunakan media WhatsApp sebagai tujuan akademik sehingga mereka lebih cenderung melakukan komunikasi secara singkat, padat, dan lebih formal.

b. Faktor Emosional

Faktor emosi juga turut memberi warna pada pesan yang ingin dikirim oleh mahasiswa. Contohnya saat berada dalam situasi hati yang gembira, mahasiswa dapat cenderung menggunakan emoji, stiker, pesan suara, dan juga menggunakan gaya bahasa yang lebih santai. Namun, apabila situasi hati sedang tidak baik seperti stress dan lelah juga dapat membuat gaya komunikasi menjadi lebih singkat dan kaku. Sehingga intensitas emosi yang ada sangat mempengaruhi gaya penyampaian pesan melalui WhatsApp yang dilakukan oleh mahasiswa.

c. Persepsi Interpersonal Mahasiswa

Persepsi interpersonal ini berkaitan dengan bagaimana cara mahasiswa memandang siapa yang menjadi lawan komunikasinya melalui WhatsApp tersebut. Jika lawan komunikasinya adalah teman dekatnya maka mahasiswa akan lebih cenderung menggunakan bahasa yang non-formal, singkatan, ataupun juga humor. Apabila lawan komunikasinya senior atau dosen biasanya mahasiswa akan lebih berhati-hati dalam menggunakan kata-kata,  menghindari penggunakan emoji yang berlebihan dan menunjukkan adanya sikap sopan.

2. Faktor Eksternal (Lingkungan sekitar)

Faktor eksternal dapat muncul dari adanya situasi komunikasi, hubungan sosial, dan adanya kondisi teknis yang mempengaruhi gaya komunikasi yang terbentuk oleh mahasiswa melalui WhatsApp. Adapun beberapa faktor eksternal yang meliputi yaitu:

a. Hubungan Komunikator dan Komunikan

Adanya relasi dan juga lawan bicara ternyata sangat menentukan gaya bahasa yang digunakan oleh mahasiswa. Seperti dalam komunikasi hanya dengan teman sebaya biasanya menggunakan bahasa yang lebih santai, spontan, dan menggunakan singkatan. Namun, berbeda apabila terhadap senior atau dosen yang membuat mahasiswa akan lebih menjaga kosa kata bahasa dan juga struktur pesan yang digunakannya sebagai bentuk rasa kesopanan.

b. Fitur Aplikasi yang Terdapat pada WhatsApp

Pada aplikasi WhatsApp terdapat berbagai fitur yang dapat digunakan untuk membuat variasi dalam gaya berkomunikasi. Contohnya yaitu fitur seperti pesan suara, panggilan suara, dan juga panggilan video yang memungkinkan para mahasiswa dapat memilih bentuk komunikasi sesuai yang dibutuhkannya. Serta juga adanya fitur stiker, GIF, dan emoji yang dapat membantu mahasiswa berkomunikasi sehingga lebih dapat menunjukkan ekspresi emosi yang sulit disampaikan melalui pesan teks. Dan adanya fitur pesan grup yang memudahkan untuk penyebaran informasi lebih cepat kepada banyak orang tanpa mengirim secara satu per satu.

Baca Juga: Komunikasi Mahasiswa dengan Dosen dan Masyarakat dalam Sikap dan Perilaku

Sehingga dari adanya berbagai faktor tersebut baik internal maupun eksternal sangat mempengaruhi bagaimana gaya bahasa yang akan digunakan oleh mahasiswa dalam berkomunikasi menggunakan aplikasi WhatsApp. Selain itu kebanyakan mahasiswa juga mendapatkan informasi mengenai perkuliahan daring, berbagi materi perkuliahan, bertanya mengenai tugas kepada teman ataupun dosen, dan banyak hal lainnya yang dapat dilakukan oleh mahasiswa dengan menggunakan aplikasi WhatsApp tersebut. Sehingga pemahaman mengenai faktor-faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap kelancaran berkomunikasi yang akan dilakukan.

Pola Interaksi yang Terbentuk dalam Komunikasi Sosial Mahasiswa melalui Grup maupun Pesan Pribadi di WhatsApp

WhatsApp adalah aplikasi pesan untuk ponsel atau handphone. WhatsApp merupakan aplikasi pesan dimana kita bertukar pesan kepada orang lain tanpa menggunakan pulsa, karena WhatsApp menggunakan paket data internet. Aplikasi WhatsApp memang dianggap sebagai solusi perkuliahan. Tetapi, dalam melaksanakan proses perkuliahan melalui aplikasi WhatsApp, hambatan dapat terjadi saat melakukan presentasi. Para mahasiswa atau dosen tidak dapat menampilkan materi presentasi dengan baik, karena aplikasi WhatsApp dirancang untuk bertukar pesan, sekedar bertanya kabar dan saling bercengkrama. Hambatan lain yang mungkin dirasakan adalah pengajar tidak dapat melihat wajah dari pesertanya sehingga untuk saling mengenal dan meningkatkan hubungan baik antara kedua belah pihak dapat terhambat.

Penggunaan aplikasi WhatsApp juga dinilai dapat mempengaruhi keaktifan para mahasiswa dalam melaksanakan pembelajaran secara daring, karena para mahasiswa tidak terlihat apakah ikut terlibat dalam proses pembelajaran atau tidak. Wajah para mahasiswa tidak terlihat oleh dosen dan hanya muncul saat melakukan absensi dan memungkinkan para mahasiswa hanya hadir saat mata kuliah dimulai dan akan berakhir, proses komunikasi pembelajaran melalui aplikasi WhatsApp yang seperti ini secara tidak langsung akan membuat mahasiswa tidak ingin terlibat pada proses pembelajaran dan mengasingkan dirinya sendiri karena tidak mengetahui apa yang sedang dibahas dan dipelajari (Hamanda dkk., 2023).

Pola interaksi mahasiswa yang memanfaatkan WhatsApp terbentuk melalui dua area komunikasi, yakni grup dan percakapan pribadi, yang masing-masing menyuguhkan karakter komunikasi dan cara berbicara yang berbeda. Dalam konteks grup, interaksi yang terjadi biasanya memiliki sifat formal dan terarah karena berfungsi untuk menyampaikan informasi seputar perkuliahan, seperti jadwal, perubahan arahan, atau koordinasi tugas kelompok. Pola ini memiliki ciri khas pesan yang singkat, jelas, dan sering kali fokus pada aspek fungsional, sejalan dengan pemikiran komunikasi. Namun kehadiran dosen yang tergabung dalam grup tidak sepenuhnya kaku. Dalam beberapa keadaan, grup malah menunjukkan interaksi yang lebih santai dengan pemakaian stiker, humor, atau percakapan ringan, terutama saat suasana berada di luar konteks akademis. Ragam ini menunjukkan bahwa grup WhatsApp berperan sebagai ruang komunikasi yang luwes di mana mahasiswa dapat beralih antara gaya formal dan informal sesuai dengan kebutuhan situasional, seperti yang diuraikan dalam teori pergantian kode dalam komunikasi digital (Androutsopoulos, 2013).

Tidak seperti dalam pesan grup, komunikasi di dalam pesan pribadi menunjukkan cara berkomunikasi yang lebih personal dan mendalam. Para mahasiswa seringkali memanfaatkan pesan pribadi untuk bertanya mengenai penjelasan tambahan mengenai materi, mengonfirmasi instruksi agar tidak terjadi kesalahpahaman atau mengajukan pertanyaan yang mungkin terasa lebih pribadi atau personal. Penelitian ini memperkuat pendapat Walther (2011) bahwa teknologi digital memfasilitasi pembangunan hubungan interpersonal yang lebih mendalam melalui interaksi yang lebih terfokus dan bersifat pribadi. Pesan pribadi juga berfungsi sebagai tempat bagi mahasiswa untuk mengungkapkan kekhawatiran atau masalah mengenai studi, mengekspresikan perasaan emosional, atau meminta dukungan dari teman dekat, sehingga cara komunikasinya menjadi lebih ekspresif, spontan, dan mencerminkan kedekatan dalam hubungan pertemanan. Pemakaian bahasa di pesan pribadi juga lebih bervariasi, seperti penggunaan singkatan, emoji, atau ungkapan santai, yang menunjukkan adanya tingkat kenyamanan yang lebih tinggi di antara individu (Dresner & Herring, 2010).

Perbedaan dalam karakteristik antara grup dan percakapan pribadi ini menunjukkan bahwa mahasiswa memilih cara berkomunikasi berdasarkan situasi dan tujuan yang ingin dicapai. Grup menjadi sarana yang efektif untuk komunikasi umum dan koordinasi bersama, sedangkan percakapan pribadi lebih tepat untuk interaksi yang memerlukan kejelasan, privasi, atau hubungan personal. Pola ini juga menunjukkan bahwa WhatsApp tidak hanya berfungsi sebagai media komunikasi akademis, tetapi juga sebagai sarana dan ruang sosial dimana mahasiswa didukung untuk menjalin hubungan antarindividu (Church & de Oliveira, 2013), meningkatkan kenyamanan dalam berkomunikasi, dan memenuhi kebutuhan emosional di dalam lingkungan digital. Oleh karena itu, pola interaksi yang terbentuk melalui WhatsApp mencerminkan bagaimana mahasiswa dapat beradaptasi terhadap tuntutan komunikasi modern yang mengutamakan efisiensi, kecepatan respon dan fleksibilitas dalam berbagai kondisi (Rambe & Bere, 2013).

Penerapan etika komunikasi digital yang konsisten dapat meningkatkan keterampilan berbicara mahasiswa dan membangun kepercayaan dalam interaksi akademik. Hal ini menunjukkan komunikasi yang santun tidak hanya memperlancar hubungan akademik tetapi karakter kepercayaan diri mahasiswa yang juga terbentuk. Aspek etika dalam komunikasi akademik juga tidak dapat dilepaskan ketika menggunakan WhatsApp. Mahasiswa sebagai pengguna utama harus memiliki pemahaman yang mendalam agar dapat menggunakan ruang komunikasi ini secara bijak. Di sisi lain, lembaga pendidikan juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan arahan dan pedoman yang jelas untuk membentuk komunikasi akademis yang sehat dan professional (Faisal dkk, 2025).

Baca Juga: Cara Mengajar Dosen yang Tidak Disukai Mahasiswa: Apa Solusinya?

Perbedaan Gaya Komunikasi Sosial Mahasiswa Berdasarkan Konteks Komunikasi Akademik dan Pertemanan di Platform WhatsApp

Perkembangan teknologi digital mengubah cara mahasiswa menjalin interaksi sosial mereka, terutama dalam urusan akademik. WhatsApp dan berbagai platform komunikasi daring lainnya sudah menjadi alat utama untuk membangun dan mempertahankan hubungan antarindividu, baik untuk diskusi mata kuliah, kolaborasi tugas kelompok, maupun komunikasi dengan dosen. Dalam dunia digital, mahasiswa menyesuaikan cara berkomunikasi mereka dengan menggabungkan gaya formal dan informal, memakai emoji serta stiker untuk mengekspresikan perasaan tanpa kata-kata, dan membentuk cara-cara baru dalam komunikasi daring.

Hal menarik dari pengamatan terhadap mahasiswa adalah bagaimana mereka mengatur strategi komunikasi tergantung siapa lawan bicaranya. Kalau sesama teman, gaya komunikasinya jauh lebih santai, bahasa gaul, singkatan-singkatan, emoji bertebaran, respons cepat dan spontan. Tapi begitu berkomunikasi dengan dosen, cara bicaranya berubah drastis dan lebih formal, pakai sapaan yang sopan (Pak/Bu, Bapak/Ibu), pilih kata dengan hati-hati, dan emoji pun dipakainya seminimal mungkin. Jadi mahasiswa secara sadar menyesuaikan tempat komunikasi mereka supaya pesannya diterima dengan baik, bergantung pada konteks dan orang yang diajak bicara.

WhatsApp memang platform yang sangat memudahkan untuk komunikasi akademik, bisa diakses kapan saja dari mana saja, ada fitur grup untuk diskusi terstruktur, dan mendukung berbagai jenis konten (Zuraidah dkk., 2021). Namun tidak bisa dipungkiri ada sisi negatifnya juga. Ketergantungan pada komunikasi digital membuat kedekatan emosional antarmahasiswa berkurang, belum lagi muncul kecemasan karena merasa harus selalu siap merespons pesan dengan cepat. Supaya komunikasi akademik digital bisa lebih baik, mahasiswa perlu ingat soal etika dan punya literasi digital yang bagus. Mereka harus paham prinsip-prinsip dasar seperti menghormati privasi orang lain, memastikan informasi yang dibagikan itu benar, hindari bahasa atau tindakan yang tidak pantas, dan tetap sopan saat berbagi informasi (Nasrullah, 2022).

Variasi dalam gaya komunikasi sosial siswa di WhatsApp sangat dipengaruhi oleh konteks hubungan pertemanan mereka. Menurut konsep dalam buku tentang Komunikasi Digital, komunikasi digital memiliki karakteristik seperti kecepatan, fleksibilitas, asinkronisitas, multimedia, dan jejak digital yang dapat diarsipkan untuk waktu yang lama. Karakteristik ini menyebabkan mahasiswa menyesuaikan gaya komunikasi mereka agar berbeda berdasarkan kedekatan hubungan, jumlah orang yang terlibat, dan norma sosial yang berlaku dalam lingkaran pertemanan.

Dalam hubungan pertemanan yang sangat dekat, mahasiswa cenderung menggunakan gaya komunikasi yang jauh lebih informal, spontan, dan ekspresif. WhatsApp juga memungkinkan mereka untuk menggunakan pesan suara yang panjang, stiker, dan emoji serta bahasa informal dalam bentuk akronim dan bahasa gaul yang hanya dipahami dalam lingkaran sebaya tertentu. Pengetahuan tentang jejak digital yang dapat dibuat masih mempengaruhi perilaku mereka. Mahasiswa berusaha lebih selektif dalam kapan dan dengan siapa mereka akan berbagi informasi pribadi karena mereka sadar bahwa pesan dapat disimpan, diteruskan, atau diambil gambarnya tanpa sepengetahuan mereka. Yang penting juga adalah menjaga keseimbangan antara komunikasi digital dengan tatap muka langsung, karena seperti yang disampaikan Hamdan (2018), interaksi langsung tetap diperlukan untuk menciptakan hubungan yang lebih dekat dan bersahabat.

Berbeda dengan hubungan pertemanan yang kurang dekat, ada sisi pengendalian dan pengukuran yang lebih tinggi pada gaya komunikasi. Di sini, mahasiswa lebih berhati-hati dalam mencampurkan bahasa formal dan informal, penggunaan emoji, serta bahasan yang terlalu pribadi. Dalam konteks ini, kesopanan digital lebih diperhatikan, termasuk dalam hal ketepatan waktu, pemilihan dan pengorganisasian kata, serta cara orang membalas suatu komentar. Ada lebih banyak berpikir dalam komunikasi karena mahasiswa merasa ada lebih banyak batasan sosial dibanding dalam pertemanan yang lebih akrab.

Buku Komunikasi Digital menyatakan bagaimana transformasi nilai dan norma yang dibawa oleh teknologi mengakibatkan Komunikasi Digital memiliki seperangkat aturannya sendiri. Ini terlihat dari bagaimana mahasiswa mengatur waktu respon mereka. Mereka mencari cara untuk menentukan kapan diperbolehkan untuk merespons pesan dengan cepat dan kapan tepat untuk membutuhkan waktu dalam merespons. Dalam hubungan dekat, membutuhkan waktu untuk merespons pesan biasanya tidak dianggap sebagai masalah besar.

Berdasarkan hubungan yang ada, tempat, dan sifat komunikasi, serta kesadaran serta etika digital, ada pengaruh utama dalam komunikasi sosial yang terjadi di WhatsApp. Komunikasi yang lebih ekspresif dan fleksibel terjadi di antara mahasiswa yang mempunyai resiprokal hubungan, sedangkan di dalam kelompok yang lebih besar, komunikasi menjadi lebih formal, hati-hati, dan teratur. Komunikasi harus di filter dengan kesadaran bahwa komunikasi tersebut dapat menyebar ke publik.

Baca Juga: Pancasila Sebagai Landasan dalam Gaya Hidup Masyarakat Indonesia

Penutup

Kesimpulan

Dengan adanya perkembangan teknologi digital sangat membawa berbagai pengaruh yang signifikan dalam cara berkomunikasi serta membangun hubungan sosial. Terutama dalam menggunakan platform WhatsApp yang pada saat ini telah menjadi sebuah media komunikasi yang umum digunakan oleh mahasiswa dalam lingkungan kampus. WhatsApp bukan hanya sekedar suatu media komunikasi digital yang berfungsi sebagai sarana untuk saling bertukar pesan, tetapi juga berguna untuk koordinasi akademik, serta penguatan hubungan interpersonal. Dengan adanya fitur-fitur yang mendukung pada aplikasi WhatsApp seperti pesan teks, voice note, panggilan suara, panggilan video, hingga grub untuk berdiskusi, sehingga mahasiswa dapat memilih dan menyesuaikan cara berkomunikasi yang ingin mereka gunakan.

Faktor internal dan juga eksternal dapat memengaruhi bagaimana mahasiswa dapat merespon pesan, memilih gaya bahasa yang ingin digunakan, dan juga bagaimana untuk mengekspresikan diri mereka dalam berkomunikasi. Dalam komunikasi akademik seperti kepada dosen, mahasiswa cenderung menggunakan gaya komunikasi yang formal, menjaga kesopanan tata bahasa, dan juga menghindari adanya penggunaan emoji yang berlebihan. Sebaliknya, dalam konteks pertemanan yang bersifat santai, gaya komunikasi yang digunakan oleh mahasiswa cenderung lebih santai, spontan, singkatn dan ekspresif dengan banyak pemakaian stiker ataupun emoji.

Pola interaksi yang terbentuk melalui WhatsApp juga menunjukkan adanya perbedaan komunikasi antara di grub dan di chat pribadi. Grub WhatsApp pada umumnya digunakan untuk menyampaikan pengumuman, koordianasi tugas, atau diskusi akademik sehingga gaya komunikasi yang digunakan lebih terstruktur dan fungsional. Sementara itu, penggunaan chat pribadi menjadi wadah komunikasi yang lebih mendalam, personal, dan penuh dengan kedekatan secara emosional dibandingkan dengan pesan pada grub WhatsApp.

Secara keseluruhan, dengan menggunakan media komunikasi digital berupa WhatsApp telah menjadi ruang penting yang dapat membentuk komunikasi mahasiswa di era digital seperti saat ini. Dengan adanya pemahaman yang baik dari mahasiswa terhadap factor-faktor yang mempengaruhi gaya komunikasi, pola interaksi, serta etika digital, maka mahasiswa dapat memanfaatkan secara maksimal teknologi komunikasi ini serta juga dapat mengetahui dampak positif serta negatifnya. Hal ini bertujuan agar mahasiswa dapat menciptakan ruang komunkasi secara daring yang lebih sehat, aman, dan produktif.

Penulis:
1. Sausan Yurika Azzahra (25011305905)
2. ⁠Senja Rahmadani (25011101689)
3. ⁠Rika Rahmawati (25011102818)
4. Novita Herlyana Putri (25011100238)
5. ⁠Julia Narawasti (25011206938)
6. ⁠Febe Arastama (25071104568)
7. ⁠Five Yurines Monika Sinaga (25011305481)
8. ⁠Nayla Putri Alita Sulastio (25011104503)
9. ⁠Nesha Meiriel Putri (25071206919)
10. ⁠Ere Mardella Arbiani, S.Pd., M.Pd.
Mahasiswa Universitas Riau Pekanbaru

Dosen Pengampu: Ere Mardella Arbiani, S.Pd., M.Pd.

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Daftar Pustaka

Androutsopoulos, J. (2013). Code-switching in computer-mediated communication. Pragmatics of Computer-Mediated Communication, 9, 667–694.

Asari, A. dkk (2023). Komunikasi digital. Jawa Tengah Penerbit Lakeisha

Ayamga, M.  (2023).  Developing Institutions and Inter-Organizational Synergies through Digitalization and Youth Engagement in African Agriculture: The Case of “Africa Goes Digital.” Land, 12(1). https://doi.org/10.3390/land12010199

Bouhnik, D., & Deshen, M. (2014). WhatsApp goes to school: Mobile instant messaging between teachers and students. Journal of Information Technology Education: Research, 13, 217–231.

Church, K., & de Oliveira, R. (2013). What’s up with WhatsApp? Comparing mobile instant messaging behaviors with traditional SMS. Proceedings of the 15th International Conference on Human-Computer Interaction with Mobile Devices and Services, 352–361.

Dresner, E., & Herring, S. C. (2010). Functions of the nonverbal in CMC: Emoticons and illocutionary force. Communication Theory, 20(3), 249–268.

Faisal, F., Irawati, I., & Wahyudin, W. (2025). Analisis media sosial WhatsApp dan etika komunikasi mahasiswa STKIP Taman Siswa Bima. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(3).

Hamanda, D., Azhar, A. A., & Naldo, J. (2023). Efektivitas komunikasi interpersonal pembelajaran dalam jaringan mahasiswa. Algebra: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Sains, 3(3).

Hamdan. (2018). Industri 4.0: Pengaruh Revolusi Industri Pada Kewirausahaan Demi Kemandirian Ekonomi. Jurnal Nusamba, 3(2).

Kosasih, C. E. (2024). Comparing the effect of LINE-based and WhatsApp-based educational interventions on reproductive health knowledge, attitudes, and behaviors among Triad adolescents: A quasi-experimental study. Belitung Nursing Journal, 10(1), 87–95. https://doi.org/10.33546/bnj.3033

Kurniawan, D., Sosial, M., Messenger, W., & Belakang, L. (2020). Minat mahasiswa Dalam Menggunakan. 8(4), 37-49.

Nasrullah, R. (2015). Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sositeknologi.Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Nasrullah, R. (2022). Manajemen Komunikasi Digital. Jakarta: Kencana.

Osei, O. E. (2023). Sustaining Ghanaian Transnational Parent–Child Relationships through WhatsApp: A Youth-Centric Perspective. Handbooks of Sociology and Social Research, 97–111. https://doi.org/10.1007/978-3-031-15278-8_7

Prasasty, T. A. (2023). CYBERSPACE: Perubahan gaya komunikasi pada lingkar pertemanan (studi kasus mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Jember dalam WhatsApp Group). MediaKom: Jurnal Ilmu Komunikasi, 7(1), 59–75. https://doi.org/10.3258/mediakom.v7i01.2346

Prihantoro, E., Ramadhani, R. W., Haryanti, D. A., & Ningsih, T. W. R. (2022). Analisis faktor pendukung knowledge sharing menggunakan WhatsApp dan Line group saat pandemi Covid-19. Jurnal Manajemen Komunikasi, 6(2), 200–220. https://jurnal.unpad.ac.id/manajemen-komunikasi/article/view/32241

Rambe, P., & Bere, A. (2013). Using mobile instant messaging to leverage learner participation and transform pedagogy at a South African University of Technology. British Journal of Educational Technology, 44(4), 544–561.

Schwartz, L. (2024). Scientific Reports Generation WhatsApp: inter-brain synchrony during face-to-face and texting communication. Scientific Reports, 14(1).  https://doi.org/10.1038/s41598-024-52587-2

Walther, J. B. (2011). Theories of computer-mediated communication and interpersonal relations. The Handbook of Interpersonal Communication, 4, 443–479.

Zuraidah, D. N., Apriyadi, M. F., Fatoni, A. R., Al Fatih, M., & Amrozi, Y. (2021). Menelisik Platform Digital Dalam Teknologi Bahasa Pemrograman. Teknois: Jurnal Ilmiah Teknologi Informasi Dan Sains, 11(2), 1–6.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses