Globalisasi di Layar, Kepentingan di Balik Layar

kepentingan global
Gambar: Dok. MMI

Di zaman sekarang, globalisasi tidak lagi terasa jauh atau hanya terjadi di ruang-ruang formal, seperti diplomasi antarnegara.

Kita bisa melihat dan merasakannya langsung lewat layar handphone.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Informasi dari berbagai belahan dunia bisa muncul di timeline kita hanya dalam hitungan detik.

Namun, di balik cepatnya arus informasi tersebut, tidak semua hal yang kita lihat benar-benar netral.

Ada kepentingan tertentu yang ikut bermain, baik dari negara, media, maupun aktor global lainnya.

Contoh yang paling jelas bisa dilihat dari konflik Gaza sejak Oktober 2023.

Konflik ini merujuk pada eskalasi kekerasan antara Hamas dan Israel, yang dipicu oleh serangan Hamas ke Israel dan kemudian dibalas dengan operasi militer besar oleh Israel di Gaza.

Baca Juga: Wujud Diplomasi Budaya Indonesia lewat Seni Pertunjukan Modern di Era Globalisasi

Namun, konflik ini tidak hanya berlangsung di lapangan, tetapi juga di media sosial, di mana berbagai narasi saling bersaing dan mempengaruhi opini publik global.

Di platform seperti TikTok, Instagram, dan X, konflik ini dibahas dengan sudut pandang yang sangat beragam.

Ada konten yang menyoroti sisi kemanusiaan, tetapi ada juga yang menekankan aspek keamanan.

Bahkan, dua konten yang membahas peristiwa yang sama bisa memberikan kesan yang sangat berbeda.

Dari sini terlihat bahwa media sosial bukan hanya tempat berbagi informasi, tetapi juga menjadi arena “pertarungan” narasi.

Siapa yang mampu menarik perhatian publik, dialah yang memiliki pengaruh lebih besar.

Jika dilihat dari perspektif Hubungan Internasional, fenomena ini menunjukkan adanya perubahan dalam cara negara berinteraksi.

Baca Juga: Fenomena Pergaulan Bebas di Era Globalisasi yang Mengancam Masa Depan Generasi Muda

Dulu, komunikasi antarnegara lebih banyak dilakukan melalui jalur resmi seperti diplomat.

Sekarang, negara juga “berbicara” melalui media sosial, baik lewat akun resmi pemerintah maupun melalui tokoh publik atau influencer.

Hal ini menjadi bagian dari strategi komunikasi global di era digital.

Untuk memahami mengapa isu seperti konflik Gaza bisa begitu besar dan mendominasi perhatian dunia, kita dapat menggunakan teori agenda-setting dari Maxwell McCombs dan Donald Shaw.

Teori ini menjelaskan bahwa media memiliki peran penting dalam menentukan isu apa yang dianggap penting oleh publik.

Artinya, semakin sering suatu isu muncul di media, semakin besar kemungkinan masyarakat akan menganggap isu tersebut sebagai hal yang penting.

Dalam kasus Gaza, karena isu ini terus muncul di media sosial dan diberitakan secara luas, akhirnya menjadi perhatian global.

Banyak masyarakat yang ikut bersuara, dan tekanan terhadap pemerintah di berbagai negara pun meningkat.

Baca Juga: Ketika Gaza Menjadi Medan Perang Narasi: Media Sosial dan Propaganda Kontemporer dalam Konflik Geopolitik

Dari sini terlihat bahwa media tidak hanya mempengaruhi opini publik, tetapi juga dapat berdampak pada kebijakan negara.

Hal ini penting dalam studi Hubungan Internasional karena menunjukkan bahwa aktor non-negara, seperti media, juga memiliki pengaruh nyata dalam dinamika global.

Di sisi lain, negara tidak tinggal diam. Beberapa negara mencoba mengontrol arus informasi, misalnya dengan membatasi konten atau menghapus unggahan tertentu.

Tujuannya biasanya untuk menjaga stabilitas dalam negeri.

Namun, di sinilah muncul dilema: sampai sejauh mana negara boleh mengontrol informasi tanpa melanggar kebebasan berpendapat?

Selain itu, media sosial juga menciptakan semacam “ruang publik global”.

Masyarakat dari berbagai negara dapat ikut berdiskusi, menyampaikan pendapat, bahkan menunjukkan solidaritas.

Namun, ruang ini tidak sepenuhnya bebas. Algoritma, buzzer, dan disinformasi tetap memengaruhi apa yang kita lihat dan bagaimana kita memahami suatu isu.

Baca Juga: Peran dan Kepentingan Amerika Serikat dalam Normalisasi Hubungan antara Uni Emirat Arab dan Israel: Abraham Accords 2020–2025

Sebagai mahasiswa Hubungan Internasional, hal ini menjadi penting untuk disadari.

Kita tidak bisa lagi melihat media hanya sebagai sumber informasi biasa.

Kita perlu lebih kritis, misalnya dengan mempertanyakan mengapa suatu isu bisa viral, siapa yang diuntungkan, dan sudut pandang apa yang tidak ditampilkan.

Dengan memahami teori seperti agenda-setting, kita bisa menyadari bahwa perhatian kita terhadap suatu isu sebenarnya bisa diarahkan.

Kesimpulannya, globalisasi di era digital memang terjadi di layar, tetapi apa yang kita lihat di layar belum tentu mencerminkan keseluruhan realitas.

Media telah menjadi bagian penting dalam dinamika politik global.

Oleh karena itu, kita tidak hanya perlu mengikuti arus informasi, tetapi juga memahami bagaimana informasi tersebut dibentuk, serta tidak langsung menerima begitu saja tanpa mencari fakta yang lebih lengkap.


Penulis: Madeline Chloe Thessalonica
Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional, UPN “Veteran” Jawa Timur
Aktif Juga sebagai Ketua Departemen Economy Creative Himaternal UPNVJT


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Sumber

  1. Mohn, E. (2024). Agenda-setting theory. EBSCO Information Services. https://www.ebsco.com/research-starters/communication-and-mass-media/agenda-setting-theory
  2. Ahmed, S. (2016). Social media and agenda setting: Implications on political agenda. Jurnal Komunikasi: Malaysian Journal of Communication. 32(1), 607–623. https://www.researchgate.net/publication/305391627_Social_Media_and_Agenda_Setting_Implications_on_Political_Agenda

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses