Implementasi “Tri Kon” Ki Hajar Dewantara: Strategi Kinerja Holistik Anggota SPN Selopamioro Polda DIY Menuju Polri yang Humanis

tri kon ki hajar dewantara
Topi Polisi (Foto: Dok. MMI)

Tuntutan publik terhadap Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk mewujudkan kinerja yang profesional, presisi, dan humanis semakin menguat pascareformasi birokrasi (“Polri, 2025,” t.t.).

Guna merespons tantangan tersebut, lembaga pendidikan Polri, khususnya Sekolah Polisi Negara (SPN) Selopamioro Polda DIY, memegang peran fundamental dalam mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Setelah program pendidikan dan pelatihan dilaksanakan diharapkan adanya peningkatan kinerja anggota Polri dalam memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat dengan baik dan benar.

Program pendidikan dan pelatihan dianggap bisa membawa manfaat yang cukup besar bagi Polres Magelang Kota seperti meningkatkan disiplin Anggota Polri dan meningkatkan efisiensi waktu dalam melaksanakan pekerjaannya (Makbul dkk. 2023).

Artikel ini mengkaji bagaimana filosofi pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu konsep Tri Kon yang meliputi Kontinyu, Konvergen, dan Konsentris, dapat diimplementasikan sebagai kerangka strategi kinerja holistik bagi anggota SPN Selopamioro Polda DIY.

Tujuan akhirnya adalah menransformasi kinerja institusi menjadi lebih humanis, adaptif, dan berakar pada nilai-nilai kebangsaan.

Baca Juga: Kinerja dan Motivasi Kerja Pegawai Biddokkes POLDA DIY: Sinkronisasi Strategi SDM Berbasis Trikon untuk Optimalisasi Pelayanan Kesehatan Polri

Salah satu tokoh pendidikan yang memberikan pengaruh besar dalam pendidikan nasional adalah Ki Hajar Dewantara.

Beliau mengembangkan konsep Trikon yang menjadi landasan penting dalam pendidikan di Indonesia.

Trikon, yang terdiri dari tiga asas utama, yakni kontinuitas, konvergensi, dan konsentrisitas, berfungsi sebagai panduan (Setiawan dan Anas Ahmadi, 2024).

Meskipun awalnya ditujukan bagi sistem pendidikan, konsep ini memiliki relevansi tinggi dalam manajemen strategi dan pengembangan organisasi, termasuk Polri.

Asas Kontinyu berarti pengembangan kinerja harus berkelanjutan, berkesinambungan, dan terencana, tidak terputus-putus (never-ending improvement).

Dalam konteks SPN Selopamioro, Kontinyu menuntut bahwa setiap program pelatihan dan evaluasi kinerja anggota harus menjadi siklus perbaikan yang sistematis dan terstruktur dari waktu ke waktu (“Polri, 2025,” t.t.).

Asas Konvergen menekankan perlunya keterbukaan dan adaptasi. Strategi sebagai pendukung peningkatan kinerja suatu organisasi, tidak bisa lepas dari kinerja yang dicapai oleh suatu organisasi dan perilaku anggota organisasi tersebut.

Baca Juga: Implementasi Nilai Keteladanan Ki Hadjar Dewantara dalam Membangun Motivasi Internal Anggota Biddokkes POLDA DIY

Organisasi Polri sebagai suatu bagian dari organisasi publik yaitu Pemerintah Indonesia telah menunjukkan kinerja memberikan dampak positif terhadap stabilitas kehidupan sosial dan politik bangsa Indonesia.

Di mana dinamika kehidupan sosial dan politik berjalan lebih cepat dari pada perubahan struktur dan mekanisme kerja dalam organisasi Polri (Andira dkk. 2022).

Asas Konsentris memastikan bahwa pengembangan kinerja, meskipun mengambil inspirasi luar (Konvergen), harus tetap berakar pada identitas, budaya, dan nilai-nilai luhur institusi (Polri) serta kearifan lokal (DIY).

Konsentris adalah penyeimbang agar modernisasi kinerja tidak menghilangkan jati diri anggota sebagai Bhayangkara yang humanis dan beretika (Rahmawati, 2023).

Asas Kontinyu diterapkan untuk menghilangkan budaya kerja yang statis dan mendorong anggota SPN Selopamioro pada siklus perbaikan tanpa henti.

Sistem Manajemen Kinerja (SMK) anggota Polri yang diatur dalam Peraturan Kepolisian terbaru (“Polri, 2025,” t.t.) adalah wujud nyata dari Kontinyu.

Penilaian kinerja tidak lagi bersifat insidental, melainkan melalui siklus yang terstruktur: perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi.

Baca Juga: Dukungan Psikologi sebagai Langkah Tepat Atasi Kecemasan Narapidana Wanita di Tahanan Polda Jatim

Anggota SPN wajib menyusun kontrak kinerja individual (IKI) yang merupakan kelanjutan dan peningkatan dari target semester sebelumnya (“Polri, 2025,” t.t.).

Proses ini memastikan bahwa kinerja anggota selalu dalam lintasan peningkatan, bukan sekadar pemenuhan tugas rutin.

Asas Konvergen adalah strategi agar SPN Selopamioro tidak menjadi lembaga yang insuler (tertutup), melainkan dibutuhkan perbaikan kurikulum dengan meningkatkan kompetensi siswa, meliputi 1) Berpikir kritis; 2) Kreativitas dan inovasi; 3) Keterampilan interpersonal dan komunikasi; 4) Teamwork dan kolaborasi; 5) Percaya diri (Teknowijoyo dan Marpelina, 2022).

Implementasi Konvergen diwujudkan melalui adopsi teknologi pelatihan modern. Melalui pelatihan, lembaga kepolisian membekali petugas mereka dengan pengetahuan dan keterampilan untuk merespons berbagai situasi yang dihadapi saat bertugas.

Pelatihan berbasis skenario merupakan metode yang mapan untuk mempersiapkan petugas menghadapi berbagai situasi selama pelatihan dan mereplikasi insiden tugas yang realistis dan nyata (Kleygrewe dkk. 2024). 

Anggota SPN Selopamioro, khususnya Gadik, didorong untuk menggunakan Learning Management System (LMS) dan platform digital untuk menyampaikan materi, memastikan proses pendidikan sejalan dengan tuntutan zaman digital.

Baca Juga: Mahasiswa Mataram Gedor Mapolda NTB: Adili Pelanggaran HAM 22 Mei ke Mahkamah Internasional

Konvergen menuntut SPN Selopamioro untuk aktif mencari praktik terbaik. Terbangunnya kemitraan dengan masyarakat dan bersinergi polisional interdepartemen dan lembaga negara dalam menciptakan keamanan dalam negeri secara berkelanjutan (Besar, t.t.).

Hasil benchmarking ini harus dianalisis dan disesuaikan sebelum diterapkan, sebagai jembatan menuju Konsentrisitas. Konvergen juga berarti keterbukaan terhadap kritik dan masukan.

Kinerja anggota SPN Selopamioro dalam pelayanan publik dan pengabdian masyarakat harus dievaluasi melalui survei kepuasan publik secara berkala.

Oleh karena itu, hakikat ilmu pengetahuan menuntut adanya keterbukaan terhadap kritik dan proses pembuktian ulang dalam setiap teori ilmiah.

Hal ini berarti bahwa ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang statis, tetapi suatu proses yang terus berkembang seiring dengan penemuan-penemuan baru yang lebih mendalam.

Dalam konteks ini, ilmu pengetahuan harus senantiasa terbuka terhadap perubahan, serta siap untuk merevisi atau memperbaharui teori yang sudah ada jika ditemukan bukti baru yang lebih valid.

Dengan demikian, hakikat ilmu pengetahuan adalah pencarian tanpa akhir terhadap kebenaran, yang terus bergerak maju, berkembang, dan diperbaharui seiring berjalannya waktu (Erizona dkk. 2024).

Penegakan hukum yang humanis dan profesional adalah tantangan kompleks yang memerlukan pendekatan holistik.

Baca Juga: Pemilu Berdarah, Aliansi Mahasiswa Ummat Gedor Mapolda dan KPU NTB

Dalam hal ini, pendekatan humanistik pada kebijakan penegakan hukum menekankan pembelajaran berbasis pengalaman dan model voluntaristik dari sifat manusia, berbeda dengan pendekatan konvensional yang bersifat deterministik (Daeng dan Sintha Dewi, 2024). 

Keberadaan SPN Selopamioro di Daerah Istimewa Yogyakarta menuntut kinerja Konsentris yang berakar pada budaya Jawa yang humanis dan mengayomi.

Anggota SPN didorong untuk menanamkan filosofi kepemimpinan Ki Hajar Dewantara, “Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” dalam interaksi harian dengan peserta didik dan masyarakat.

Nilai karakter sangat penting bagi pimpinan Polri, mengingat sikap atau perbuatan yang ditunjukkan akan menjadi tauladan bagi staf dan anggotanya.

Karakter kebhayangkaraan yang merupakan karakter yang harus menyatu sebagai seorang Polri. Di dalam karakter tersebut memiliki nilai-nilai Brata Dedikasi Sejati.

Di mana terdapat nilai-nilai yang wajib ada dalam diri seorang Polri. Nilai-nilai tersebut yang juga menjadi dasar adanya usaha pembentukan kebiasaan baik, jujur, disiplin, menunjukkan nilai-nilai ketuhanan (Sutrisno, 2023).

Konsentris diwujudkan dalam penguatan etika profesi Polri. Dalam konteks reformasi birokrasi, ini berarti secara konsentris memperkuat nilai-nilai anti-korupsi, anti-kekerasan, dan pelayanan tanpa diskriminasi.

Terwujudnya postur Polri sebagai sosok penolong, pelayan, dan sahabat masyarakat serta penegak hukum yang jujur, benar, adil, transparan dan akuntabel serta beretika guna memelihara KAMTIBMAS diwilayah dengan kondusif didukung sinergitas polisional dalam rangka pembangunan (Arifin dkk. 2022).

Kurikulum harus memasukkan sesi pembinaan mental dan rohani yang fokus pada tanggung jawab moral sebagai pelayan masyarakat.

Baca Juga: HMI Cabang Pontianak Kecam Tindakan Represif Polisi pada Dua Kader HMI dan Tuntut Polri Evaluasi

Selanjutnya untuk menjaga konsistensi dari ”jati diri” polisi, Tri Brata juga perlu dijabarkan pada program pencapaian, baik di bidang ”pembinaan” terutama komponen kurikulum pendidikan dan latihan, juga di bidang manajemen sumber daya manusia, dan di bidang ”operasional” pada peran, samapta, bimas, lalu-lintas, reserse, intelijen, Polisi Perairan dan Polisi Udara, serta Brigade Mobil.

Penjabaran dirumuskan dengan perhitungan waktu dan anggaran untuk jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang.

Tanpa penjabaran Tri Brata ke dalam program pencapaian akan sulit mewujudkan Polisi Dalam Arus Pluralisme dan Post Modern Menuju Bingkai Bhineka Tunggal Ika (Umar, 2019).

Penerapan Tri Kon secara sinergis menciptakan strategi kinerja holistik di SPN Selopamioro yang kontinyu menjadi fondasi yang menjamin Keteraturan Kinerja dan sistem evaluasi yang stabil, kemudian konvergen menjadi pendorong Inovasi Kinerja dan kemampuan adaptasi terhadap tantangan modern (misalnya, kejahatan siber) serta Konsentris menjadi jangkar Integritas Kinerja Kultural yang memastikan setiap profesionalisme dibalut etika dan humanisme (Setiawan dan Anas Ahmadi, 2024).

Kinerja Holistik yang dihasilkan dari sinergi Tri Kon ini secara langsung mendukung visi Polri PRESISI dan sasaran strategis untuk meningkatkan kepercayaan publik.

Baca Juga: Mewujudkan Capstone Keberlanjutan: Kontribusi Mahasiswa IPB dalam Mendorong UMKM Banyumas

Sehingga dengan strategi kinerja holistik anggota SPN Selopamioro Polda DIY yang diimplementasikan berlandaskan filosofi Tri Kon Ki Hajar Dewantara merupakan pendekatan manajerial dan kultural yang esensial.

Asas Kontinyu menjamin perbaikan kinerja yang berkelanjutan; Konvergen menjamin anggota adaptif dan menguasai teknologi; dan Konsentris menjamin kinerja tetap berakar pada etika, integritas, dan kearifan lokal.

Dengan demikian, SPN Selopamioro tidak hanya mencetak lulusan yang profesional, tetapi juga anggota yang secara humanis siap mengayomi masyarakat, sesuai dengan cita-cita Polri masa depan.


Penulis: Sumarlan (2024301070)
Mahasiswa Magister Manajemen, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka 

Andira, Ayu, Rosdianti Razak, dan Nurbiah Tahir. 2022. STRATEGI PENINGKATAN KINERJA KEPOLISIAN DALAM MEMBERIKAN PELAYANAN PUBLIK DI KEPOLISIAN SEKTOR GALESONG KABUPATEN TAKALAR. 3.

Arifin, Muhammad, Muhammad Tahir, dan Ihyani Malik. 2022. BUDAYA KERJA KEPOLISIAN DALAM PELAYANAN KEPADA MASYARAKAT DI POLRES ENREKANG. 3.

Besar, Markas. t.t. HANJAR PENDIDIKAN POLRI.

Daeng, Andrea Nevada, dan Dyah Adriantini Sintha Dewi. 2024. “Penegakan Kode Etik Polisi Terhadap Pengaruh Citra Institusi Kepolisian.” Borobudur Law and Society Journal 3 (2): 68–78. https://doi.org/10.31603/11760.

Erizona, Wawan, Azmi Fitrisia, dan Siti Fatimah. 2024. “STUDI LITERATUR : ILMU PENGETAHUAN BERDASARKAN KONSEP, CIRI, STRUKTUR, DAN HAKIKAT ILMU.” CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan 4 (4): 671–79. https://doi.org/10.51878/cendekia.v4i4.4008.

Kleygrewe, Lisanne, R. I. Vana Hutter, Matthijs Koedijk, dan Raôul R. D. Oudejans. 2024. “Virtual Reality Training for Police Officers: A Comparison of Training Responses in VR and Real-Life Training.” Police Practice and Research 25 (1): 18–37. https://doi.org/10.1080/15614263.2023.2176307.

Makbul, Siti, Awal Satrio Nugroho, dan Zulkifli Zulkifli. 2023. “UPAYA MENINGKATKAN KINERJA ANGGOTA POLRI BAGIAN SUMBER DAYA MANUSIA DI POLRES MAGELANG KOTA.” Jurnal Riset Manajemen Akuntansi Indonesia 1 (1): 81–98. https://doi.org/10.32477/jrima.v1i1.662.

“Polri,2025.” t.t.

Setiawan, Dinda Ayuni dan Anas Ahmadi. 2024. “Implementasi Prinsip Trikon Ki Hajar Dewantara sebagai Perwujudan School Well-Being di SMPN 12 Surabaya.” Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan 6 (2): 156–72. https://doi.org/10.29303/kopula.v6i2.5255.

Sutrisno, Sutrisno. 2023. “Gaya Kepemimpinan Kapolri dan Nilai Karakter Pada Masa Kemerdekaan Sampai Orde Baru (Tahun 1945-1998).” Herodotus: Jurnal Pendidikan IPS 6 (2): 132. https://doi.org/10.30998/herodotus.v6i2.14480.

Teknowijoyo, Felixtian, dan Leni Marpelina. 2022. “Relevansi Industri 4.0 dan Society 5.0 Terhadap Pendidikan Di Indonesia.” Educatio 16 (2): 173–84. https://doi.org/10.29408/edc.v16i2.4492.

Umar, Bambang Widodo. 2019. “Peran dan Posisi Polri Merawat Kebhinnekaan dalam Arus Modernisme, Pluralisme, dan Postmodernisme.” Jurnal Ilmu Kepolisian 11 (1): 8. https://doi.org/10.35879/jik.v11i1.97.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses