Implementasi Nilai Keteladanan Ki Hadjar Dewantara dalam Membangun Motivasi Internal Anggota Biddokkes POLDA DIY

Implementasi Nilai Keteladanan Ki Hadjar Dewantara

Pelayanan kesehatan adalah pilar penting dalam sebuah organisasi, terutama organisasi dengan tingkat stres dan risiko tinggi seperti Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI). Di lingkungan POLDA DIY, Biddokkes menjadi garda terdepan dalam menjaga kesiapan fisik, mental, dan dukungan medis operasional bagi seluruh jajaran. Kualitas pelayanan Biddokkes sangat bergantung pada motivasi dan kinerja profesional para anggotanya.

Tantangan kepemimpinan di Biddokkes sangat kompleks. Pimpinan dituntut tidak hanya menjalankan fungsi manajerial struktural ala kepolisian, tetapi juga fungsi leadership klinis yang berbasis humanisme dan profesionalisme medis. Seringkali, tuntutan kedisiplinan komando berbenturan dengan etos kerja profesional kesehatan yang menuntut otonomi dan pengembangan diri. Untuk menjembatani tantangan ini, dibutuhkan model kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai luhur dan humanis.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Salah satu konsep kepemimpinan yang kaya akan nilai dan relevansi kontekstual adalah Trilogi Kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara (KHD): Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Trilogi ini menawarkan model kepemimpinan transformasional yang berfokus pada pengembangan diri dan pemberdayaan bawahan, sehingga dapat diimplementasikan secara konkret oleh pimpinan Biddokkes POLDA DIY untuk meningkatkan motivasi internal anggota dan mendongkrak kinerja pelayanan kesehatan mereka.

Baca juga: Menghidupkan Nilai-Nilai Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara dalam Perkuliahan Magister Manajemen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (MM-UST)

Trilogi Kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara (KHD)

Trilogi KHD bukanlah sekadar semboyan pendidikan, melainkan filosofi manajemen kepemimpinan yang utuh, yang telah terbukti relevan dalam berbagai sektor (Mujahid dkk. 2022).

Ing Ngarsa Sung Tuladha (Di Depan Memberi Teladan): Prinsip ini menempatkan pemimpin sebagai role model moral dan profesional. Di konteks Biddokkes, keteladanan ini mencakup integritas dalam pengelolaan anggaran, disiplin dalam prosedur medis, dan etika komunikasi dengan pasien (anggota Polri lain).

Ing Madya Mangun Karsa (Di Tengah Membangun Kemauan/Inisiatif): Prinsip ini mendorong kolaborasi dan inisiatif dari bawahan. Pemimpin bertindak sebagai fasilitator yang membuka ruang bagi ide dan inovasi dalam pelayanan.

Tut Wuri Handayani (Di Belakang Memberi Dorongan): Prinsip ini adalah dukungan moral dan empowerment. Pemimpin memberikan kepercayaan dan coaching agar anggota berani mengambil tanggung jawab dan mengembangkan diri (Wardani dkk. 2024).

Kinerja dan Motivasi Internal dalam Konteks Kepolisian

Motivasi kerja adalah dorongan psikologis yang menentukan arah, intensitas, dan ketekunan seseorang dalam mencapai tujuan. Bagi anggota Polri di Biddokkes, motivasi internal (yang bersumber dari kepuasan, rasa bangga, dan panggilan profesi) jauh lebih krusial daripada motivasi eksternal (gaji/kompensasi) (Setia Wibowo 2022). Motivasi internal yang kuat menghasilkan Organizational Citizenship Behavior (OCB) atau perilaku kewargaan organisasi yang tinggi (Hidayati dkk. 2022), yang berarti anggota bersedia melakukan lebih dari tuntutan formal tugas (misalnya, melayani di luar jam dinas atau berinisiatif dalam kegiatan Bakti Kesehatan).

Baca juga: Pendidikan Islam Ki Hajar Dewantara dan Relevansinya dengan Kampus Merdeka Belajar

Ing Ngarsa Sung Tuladha: Fondasi Kualitas dan Motivasi Biddokkes

Dalam konteks Biddokkes POLDA DIY, prinsip Ing Ngarsa Sung Tuladha menjadi kunci utama. Pimpinan bukan hanya boss yang memerintah, tetapi pamong (pengayom) yang menjadi cerminan standar profesionalisme tertinggi  (Dianingsig dkk. 2024). Seorang pimpinan Biddokkes harus memimpin tidak hanya sebagai Perwira Polisi, tetapi juga sebagai Dokter atau profesional medis yang kompeten.

Integritas dan Etika Medis: Pimpinan wajib mencontohkan kejujuran dalam pelaporan data kesehatan, penegakan diagnosis yang objektif, dan transparansi pengadaan alat kesehatan. Hal ini menumbuhkan kepercayaan anggota bahwa standar etika medis tidak akan dikorbankan demi kepentingan administrasi kepolisian. Disiplin dan Update Kompetensi: Pimpinan harus menjadi yang terdepan dalam mengikuti pelatihan, seminar, dan prosedur medis terkini. Ketika pimpinan menunjukkan komitmen pada keahlian klinis, anggota akan terdorong secara internal untuk meningkatkan kompetensi mereka sendiri. Ini menciptakan budaya organisasi yang berbasis pada kualitas pelayanan dan bukan sekadar rutinitas birokrasi.

Keteladanan Among (Mengayomi) dan Humanisme

Kepemimpinan yang humanis (Among) sangat penting dalam sektor kesehatan. Pimpinan Biddokkes yang baik harus memperlihatkan empati kepada anggota Polri yang sakit, serta kepada anggota Biddokkes sendiri. Keteladanan dalam bersikap tenang, sabar, dan berseri-seri dalam menghadapi beban kerja tinggi (yang didukung oleh konsep Candra Brata, seperti disinggung dalam studi kasus KHD), akan memberikan rasa aman dan keyakinan pada bawahan. (Mujahid dkk. 2022). Ketika anggota melihat pimpinan Biddokkes (misalnya, Kepala Rumah Sakit Bhayangkara) memperlakukan pasien (anggota Polri lainnya) dengan empati tinggi, mereka akan meniru standar pelayanan tersebut. Keteladanan inilah yang secara langsung meningkatkan motivasi internal anggota untuk memberikan pelayanan terbaik, karena mereka merasa menjadi bagian dari misi kemanusiaan, bukan sekadar unit tugas (Des dkk. 2024).

Meskipun Ing Ngarsa Sung Tuladha adalah fondasi, kinerja optimal dan inovasi pelayanan di Biddokkes POLDA DIY hanya dapat dicapai melalui sinergi dari seluruh Trilogi KHD. Setelah fondasi keteladanan terbentuk, pimpinan Biddokkes harus menciptakan lingkungan di mana inisiatif dihargai. Misalnya: mengadakan focus group discussion (FGD) rutin untuk menerima masukan anggota mengenai optimalisasi layanan Medical Check Up (MCU). Mendorong tim medis Biddokkes untuk merancang program edukasi kesehatan mental (psikologi) bagi anggota Polri yang bertugas di lapangan. Inisiatif ini secara langsung menciptakan sense of belonging dan rasa kepemilikan anggota terhadap program kerja (motivasi), yang berujung pada peningkatan produktivitas dan inovasi pelayanan.

Dalam pelayanan kesehatan, kesalahan sekecil apa pun dapat berdampak fatal. Prinsip Tut Wuri Handayani berperan sebagai safety net psikologis. Dukungan Pengembangan Karir: Pimpinan harus aktif mendukung anggota yang ingin melanjutkan spesialisasi atau pelatihan tertentu, terutama di bidang forensik atau kedokteran kepolisian. Kepercayaan dan Delegasi: Memberikan kewenangan penuh kepada dokter atau perawat untuk mengambil keputusan klinis (autonomi), sambil tetap diawasi dan diberikan konsultasi. Dukungan ini menumbuhkan rasa percaya diri dan tanggung jawab profesional yang tinggi, yang merupakan indikator motivasi internal yang kuat (Wardani dkk. 2024).

Baca juga: Model Kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara sebagai Strategi Pengelolaan Tim Kerja yang Produktif di Era Modern

Kesimpulan dan Saran

Trilogi Kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara, dengan fokus utamanya pada Ing Ngarsa Sung Tuladha, menawarkan model kepemimpinan berbasis nilai yang sangat relevan dan aplikatif di lingkungan Biddokkes POLDA DIY. Keteladanan pimpinan dalam integritas, profesionalisme klinis, dan humanisme (among) merupakan katalisator paling efektif untuk membangun Motivasi Internal anggota, mengubah rasa tertekan menjadi komitmen dan kebanggaan profesi serta meningkatkan Kinerja Pelayanan Kesehatan yang tidak hanya disiplin (ala Polri) tetapi juga berkualitas, inovatif, dan humanis (ala profesional medis).

Sehingga saran untuk implementasinya adalah agar POLDA DIY, melalui SDM dan Biddokkes, perlu menyelenggarakan pelatihan kepemimpinan untuk Pejabat Biddokkes yang secara eksplisit mengintegrasikan Trilogi KHD dengan Etika Profesi Kedokteran Kepolisian. Kemudian pada pimpinan wajib secara rutin terlibat aktif dalam kegiatan klinis dan bakti kesehatan (seperti dicontohkan Pusdokkes Polri dalam kegiatannya tahun 2025), bukan sekadar duduk di balik meja, untuk menunjukkan teladan pelayanan. Dan pada indikator penilaian kinerja anggota Biddokkes harus memasukkan aspek soft skill kepemimpinan Among dan etika profesional, sejalan dengan prinsip Trilogi.


Penulis: Adita Choiri Fadhila (2024301075)
Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa


Editor: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka (2022-2025)

Des, Deswarta, Sanusi Ariyanto, dan Desmawati. 2024. “Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Berorganisasi pada Siswa SMAN 11 Pekanbaru.” JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT: IJTIMA’ 1 (1): 28–31. https://doi.org/10.25299/ijtima.2024.16767.

Dianingsig, Dianingsih, Nurkhasanah Nurkhasanah, Retnani Anisah, Harni Harni, dan Soedjono Soedjono. 2024. “Analisis Implikasi Konsep Sistem Among Dan Trikon Pendidikan Ki Hajar Dewantara di Madrasah Ibtidaiyah.” Jurnal Inovatif Manajemen Pendidikan Islam 3 (2): 199–211. https://doi.org/10.38073/jimpi.v3i2.1661.

Hidayati, Siti, Syamsul Hadi, Kusuma Chandra Kiranaa, dan Hardika Dwi Hermawan. 2022. “Trilogi Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara dan Kompensasi terhadap Organizational Citizenship Behavior melalui Etos Kerja.” EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN 4 (3): 4651–67. https://doi.org/10.31004/edukatif.v4i3.3008.

Mujahid, Shoffan, Mochamad Rifqi Hananto, Nugroho Hasan, Rifqi Amrulah Fatah, dan David Indra Cahya. 2022. “Restorasi Kepemimpinan Nasional Berlandaskan Nilai Luhur Budaya Bangsa: Studi Kasus Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara.” Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series 5 (1): 231. https://doi.org/10.20961/shes.v5i1.57801.

Setia Wibowo, Cahyono. 2022. “ANALISIS GAYA KEPEMIMPINAN KI HAJAR DEWANTARA, KOMPETENSI DAN KOMPENSASI TERHADAP KINERJA DAN MOTIVASI GURU DI SMA MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA.” UPAJIWA DEWANTARA 6 (1): 42–50. https://doi.org/10.26460/mmud.v6i1.12607.

Wardani, Indah Kusuma, Aviandri Cahya Nugroho, Milan Sabekti, dan Sofyan Anif. 2024. Dewantara “Ing Ngarso Sun Tuladha Ing Madya Mangun Karsa Tut Wuri Handayani” Untuk Menunjang Pelaksanaan. 13 (2).

 

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses