Indonesia Gemar Impor Kedelai padahal Produsen Tempe Terbesar Dunia

produsen tempe terbesar dunia
Tempe, makanan kesukaan mayoritas rakyat Indonesia

Tempe telah menjadi makanan rakyat Indonesia karena hampir semua masyarakat Indonesia menyukai tempe. Indonesia juga dikenal sebagai produsen tempe terbesar dunia.

Sebagai bahan baku pembuatan tempe, tidak heran jika kedelai sangat banyak permintaannya di Indonesia. Kebutuhan akan kedelai setiap tahunnya adalah sekitar 3 juta ton. Sementara upaya budi daya dan supply kedelai di Indonesia  hanya mampu 500 hingga 750 ton per tahunnya.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat permerintah melakukan kegiatan impor. Kementerian Pertanian menyebutkan, peningkatan konsumsi kedelai dikarenakan menurunnya kemampuan beli masyarakat.

Bacaan Lainnya
DONASI

Baca juga: Perlukah Impor Garam Dilakukan?

Faktor ekonomi menyebabkan kemampuan masyarakat membeli protein hewani menurun. Oleh karena itu tempe menjadi pilihan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan protein.

Negara Indonesia memiliki produksi kedelai dalam negeri yang rendah sedangkan jumlah penduduk Indonesia terus bertambah banyak hal ini berakibat pada permintaan kedelai yang terus naik, namun area tanam yang semakin berkurang. Luas lahan panen terus menyusut dari 660,8 ribu hektar pada 2010 menjadi 285,3 ribu hektar pada 2019.

Produsen tempe kurang tertarik dengan kedelai lokal karena ketika produksi kedelai Indonesia meningkat, maka harga jualnya justru sangat minim karena tidak ada pengamanan harga dari pemerintah terhadap petani kedelai.

Baca juga: Mengkaji Kebijakan PPN 11% di Tengah Naiknya Harga Barang Pokok

Kebutuhan kedelai juga tidak dapat dipenuhi oleh kedelai lokal maka dari itu Indonesia melakukan impor kedelai dalam memenuhi pasokan dalam negeri.

Jika dilihat dari segi kualitas, kedelai impor mempunyai mutu dan standarisasi yang sangat baik hal ini berbeda dengan kualitas kedelai lokal. Kedelai impor menggunakan teknologi dan mekanisme yang canggih sementara kedelai lokal masih menggunakan sistem tradisional.

Penulis: Andy Muhamad Emrizal
Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Negeri Malang

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI