Ketika pandemi Covid-19 melanda di seluruh dunia, kegiatan masyarakat seketika menjadi kegiatan di rumah. Tidak sedikit pihak yang dirugikan, bahkan bisa dibilang satu negara mengalami kerugian. Jumlah pekerja yang terkena PHK meningkat drastis secara tiba-tiba hingga mencapai 1,2 juta pekerja.
Pemerintah pun membatasi aktivitas yang melibatkan interaksi manusia, hanya yang urgensinya mendesak dapat dilakukan di luar rumah dengan protokol kesehatan yang sangat ketat.
Diterapkannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) maupun PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) oleh pemerintah membuat semua aktivitas harus dilakukan di rumah. Akibatnya, masyarakat memiliki waktu luang yang banyak.
Rasa bosan terhadap hal yang itu-itu saja yang bisa dilakukan di rumah membuat orang-orang mencari hiburan yang bisa dilakukan di rumah. Segala media sumber hiburan yang berlangsung berubah menjadi bentuk daring. Salah satu tempat paling mudah untuk mendapatkan hiburan adalah dari media sosial.
Media sosial tidak memerlukan interaksi langsung, di manapun kapanpun media sosial sangat mudah diakses dengan modal gadget dan internet. Maka, ada 2 sisi pengguna media sosial. Posisi yang pertama yakni menjadi penonton, kedua adalah menjadi content creator.
Naiknya nilai penggunaan media sosial membuka peluang bagi content creator untuk mendapatkan platform dalam berkarya. Dengan itu, sebuah sektor pekerjaan yang sebenarnya sudah cukup lama ada menjadi lebih terbuka dan meningkat peminatnya.
Kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan pendapatan demi bertahan hidup di masa pandemi membuat orang-orang berbondong-bondong ingin menjadi content creator.
Kesempatan ini nampak terlihat seperti kesempatan emas untuk membantu masyarakat kembali pulih dari keadaan ekonomi yang tidak bisa menunjang kehidupan. Namun, risiko tidak berhasil menjadi content creator tetap sangat tinggi karena banyaknya pesaing untuk menjadi content creator.
Seorang content creator dituntut harus bisa memiliki kreativitas yang tinggi untuk menunjang pekerjaan mereka. Content creator dibutuhkan untuk membuat konten yang kreatif/ unik bahkan bisa membuat menjadi sebuah tren dan melahirkan sebuah budaya populer.
Selain menarik pengikut-pengikut baru dan juga meningkatkan views video, mereka juga harus bisa mempertahankan jumlah pengikut dan views. Hal tersebut membuat content creator harus bisa berinovasi dengan konten mereka agar bisa semenarik mungkin.
Secara umum, budaya pop harus mudah diakses, menarik perhatian orang banyak, relatif murah untuk diproduksi, tidak butuh tingkat kecerdasan luar biasa untuk menikmatinya (ringan), mudah disebarkan, direproduksi, dan diinterpretasi ulang. Nilai-nilai itu lah yang penting untuk dihasilkan seorang content creator.
Content creator menghasilkan pendapatan mereka dari beberapa sumber, contohnya adalah sponsor, paid promotion, dan lain-lain. Pengaruh yang diberikan seorang content creator terhadap audience membuahkan hubungan timbal balik dengan perusahaan yang ingin mendapat untung dengan menjual produk.
Maka content creator dianggap sebagai strategi marketing yang efektif bagi perusahaan. Kemampuan content creator untuk menarik customer layak dikatakan sebagai influencer. Pendapatan mereka dari sumber-sumber tersebut, bergantung pada berapa jumlah penonton yang bisa dibawa.
Semakin banyak penonton konten, berarti semakin banyak juga orang yang menonton iklan, baik yang dibawakan oleh pembuat konten maupun yang dibawakan oleh platform media.
Ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia, salah satu platform media yang naik daun merupakan TikTok. Dengan berkembangnya media sosial TikTok, muncul fitur baru yang dapat berguna bagi penonton dan menguntungkan untuk pembuat konten.
Hal tersebut merupakan program affiliate di mana pembuat konten bisa menawarkan produk dengan ditautkan di konten. Kemudian pembuat konten bisa mendapatkan komisi dari penjualan produk tersebut.
Salah satu fitur yang sangat besar merupakan live streaming di mana secara langsung penjual/ pembuat konten dapat menjualkan produknya dengan ikut berinteraksi dengan penonton/ pembeli.
Inovasi yang dilakukan TikTok mengubah bentuk penjualan di marketplace, di mana biasanya penjual hanya membuat listing di marketplace. Dengan cara itu pembeli belum bisa melihat produk secara langsung (real), hanya bergantung dengan foto dan deskripsi penjual serta komentar ulasan dari pembeli sebelumnya.
Setelah munculnya fitur live stream, pembeli dapat bertanya hal-hal terhadap produk yang dijual kepada penjual secara langsung di saat itu juga, serta dapat mengandalkan live review atau ulasan secara langsung.
Salah satu content creator yang bisa dibilang berhasil dalam membangun karier sebagai influencer adalah Natasha Surya. Natasha Surya merupakan seorang ibu rumah tangga yang berhenti bekerja untuk lebih fokus kepada rumah tangganya. Namun ketika terjadi pandemi Covid-19 muncul waktu luang lebih.
Ia memanfaatkan waktu tersebut untuk membuat konten review produk. Ternyata, dengan konten yang dibuat, Natasha Surya sukses menjadi content creator yang terkenal hingga meraup 1,7 juta pengikut. Selain review produk, Natasha juga menggunakan platform TikTok untuk menjadi host Live E-commerce.
Posisi sebagai host mengasah kemampuan seorang content creator dalam mengajak penontonnya untuk membeli sebuah produk yang ditawarkan. Beberapa perusahaan yang puas akan hasil yang dibawa oleh Natasha Surya pun tidak ragu untuk menjadikan Natasha Surya sebagai Brand Ambassador.
Salah satunya adalah Polki Indonesia, sebuah perusahaan yang menjual produk kebersihan. Berkat konten Natasha, para pengguna TikTok kini dapat menemukan produk yang membuat kebersihan menjadi suatu hal yang praktis.
Natasha Surya menjadi cerminan bagi kisah sukses dan juga sebuah tanda bukti bahwa memanfaatkan teknologi untuk menjadi content creator merupakan sebuah opsi pekerjaan yang cukup baik dan juga cukup mudah diakses untuk orang dari semua perjalanan hidup dikarenakan tidak ada kualifikasi minimal yang dibutuhkan.
Sekarang, dalam satu kali live Natasha Surya bisa mendapatkan penjualan hingga 1 miliar lebih hanya dengan durasi 2 jam live. Walaupun terdengar mudah, belum tentu semua orang dapat melakukan pekerjaan tersebut. Menjadi host live merupakan sebuah tantangan, dibutuhkan keahlian untuk bisa mendapatkan hal tersebut.
Namun semua orang tentu bisa belajar dan memulai sendiri dengan perkembangan teknologi di masa kini. Pencapaian yang dicapai oleh Natasha Surya juga membutuhkan usaha, di mana ia harus bisa membuat konten dan live yang menarik sehingga bisa menarik perhatian pembeli.
Meskipun masih ada sebagian orang yang memandang sebelah mata profesi content creator, namun seiring dengan perkembangan teknologi dan media sosial, profesi ini semakin dipandang sebagai profesi yang profesional. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya content creator yang sukses dan mampu menghasilkan pendapatan yang tinggi.
Kini sudah terbukti bahwa pekerjaan sebagai content creator bisa dibilang pekerjaan yang dihargai. Dibuktikan oleh salah satu content creator Natasha Surya, berkarya sebagai content creator yang memanfaatkan kegiatan dan keperluan di rumah dapat menjadi sebuah penghasilan.
Perjuangan masyarakat untuk bangkit dari pandemi merupakan sebuah inspirasi dan pintu harapan bagi pulihnya kondisi ekonomi negara. Berkomitmen dan memiliki daya juang yang besar menjadi modal bagi kita untuk membangun masa depan yang lebih baik untuk generasi-generasi selanjutnya.
Penulis:
1. Farrel Timothy Mokolensang
2. Nicolas River Estey
3. Luna Ayuviani Prameswari
Siswa Jurusan IPS SMA Kolese Gonzaga
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













